My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Nasi Bento


__ADS_3

Sementara itu Aletta yang di tarik. oleh Alice ke area parkir mobil pun, langsung bertanya pada kakaknya saat mereka masuk kedalam mobil.


"Kak... apa kakak tidak patah hati? abang Aslan mau menikah loh? atau kakak sudah punya cowo ya sekarang ini, sudah move on gitu dari abang Aslan"Aletta mengoceh.


" Diamlah Aletta... aku tidak punya pacar atau apa pun, mereka segera menikah dan jangan mengatakan apa pun pada mereka oke"ucap Alice pelan.


Aletta pun akhirnya terdiam dia tahu kakaknya saat ini. sedang tidak baik-baik saja bila membahas tentang pernikahan Aslan, dia takut bila dirinya terus membahas tentang Aslan hati kakaknya semakin tersakiti.


Alice menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil tersebut menuju ke apartemennya.


...🌞🌞🌞...


Ke esokan harinya.


Aslan yang sedang berada di kantor nya, dan sedang memeriksa berkas yang telah dikerjakan oleh Zaed kemarin dengan seriusnya, Tiba-tiba kedatangan seseorang ke ruangannya.


"Tuan Muda ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" ucap seorang sekertaris nya.


"Siapa? " Aslan terlihat bingung.


"Namanya tuan Giovano dari perusahaan X tuan" jelas sekertaris tersebut.


"Mau apa dia kesini? " gumam Aslan.


"Baiklah suruh dia masuk" ucap Aslan pada sekertaris nya.


Gio datang tanpa sepengetahuan dari Zaed dan tetap nekat menemui Aslan di kantor nya.


Gio pun di persilahkan masuk oleh sekertaris dan dia pun melangkah memasuki ruangan CEO.


"Selamat pagi" sapa Gio.


"Ini sudah menjelang siang, kau mau apa kesini? " tanya Aslan ketus.


"Ada yang ingin aku bicarakan pada mu" ucap Gio yang masih berdiri dan tidak di persilahkan duduk oleh Aslan.


Aslan tetap menatap dokumen yang ada ditangan nya.


Gio pun menarik nafasnya sebelum berbicara dengan Aslan, karena dia tak menyangka kalau Aslan itu sangat sombong, dia membiarkan dirinya masuk ke ruangannya tapi dirinya di acuhkan seperti ini, bila bukan karena Laura dirinya tidak akan sudi untuk bertemu dengan pria sombong ini.


"Kenapa kau diam saja? aku masih banyak pekerjaan, apa kau tidak punya pekerjaan hingga menghabiskan waktu mu di ruangan ku dengan berdiri menatap ku bekerja? " singgung Aslan.


Gio semakin menarik nafas dalam, karena Aslan benar-benar menyebalkan di matanya.


Saat Gio ingin berbicara tiba-tiba pintu ruangan Aslan terbuka ternyata itu Zaed yang muncul dari balik pintu, Zaed langsung membelalakan matanya saat melihat Gio sedang berdiri di dalam ruangan Aslan.


"Elu ngapain kesini? " bisik Zaed.


"Ada apa Zay? " tanya Aslan yang melihat gelagat sahabatnya dan orang yang paling dia benci sedang berbisik di depannya.


"Eh... tidak tuan muda saya hanya ingin memberikan ini pada anda" Zaed memberikan sebuah buku pada Aslan, itu buku yang dia pesan kemarin padanya, buku yang di minta Nina agar dia tidak merasa bosan saat di rumah sakit.

__ADS_1


"Ah... iya dia pasti suka dengan ini" wajah Aslan langsung terlihat bahagia saat melihat buku yang di berikan Zaed padanya.


Zaed langsung menarik tangan Gio agar meninggalkan ruangan Aslan, Zaed tahu benar apa maksud dan tujuan Gio datang menemui Aslan hari ini.


Zaed membawa Gio ke ruangan nya, dan mereka pun berbicara disana.


"Kan udah gue bilang jangan temui Aslan jangan bilang apa-apa sama dia ngerti nggak sih lu?! " Zaed geram dengan sahabatnya ini.


"Tapi gue mau bebasin Laura Zay gue mau dia cabut tuntutan nya itu" jelas Gio.


"heh elu fikir cuma elu yang pengen Laura bebas gue juga mau, tapi bukan sekarang saatnya, dia harus menjalani hukuman nya dulu dan kita tunggu Aslan tenang dulu" jelas Zaed.


"Terus sampai kapan dia akan tenang Zay sampai kapan? " tanya Gio kesal.


"Nanti gue kabarin ke elu gue janji tapi bukan waktu dekat ini Gio... "


"Ck gue tahu elu sekarang udah jadi budak Aslan tapi kenapa elu setega ini sama sahabat elu sendiri Zay" singgung Gio.


"Apaan sih lu, Aslan dan gue bersahabat Gio... sama kaya elu sama gue, dia nggak pernah anggap gue budak seperti yang ada di fikiran elu itu" Zaed bahkan menyukai wajah Gio karena kesal.


"Sekarang keluar lue dari kantor ini jangan kesini lagi apa lagi buat nemuin Aslan dan ngomongin kasus itu" usir Zaed.


"Heuh... elu benar-benar udah berubah Zay... elu benar-benar udah jadi budak dia dengan berdalih persahabatan cih... dasar penjilat" singgung Gio sebelum dirinya meninggalkan ruangan Zaed.


Zaed yang mendengar itu mencoba menahan amarahnya pada sahabatnya ini karena dirinya tak mungkin mengajak Gio berkelahi di kantor, bisa panjang urusannya.


"Dasar kurang ajar, kalau bukan di kantor gue bungkem mulut elu pake vas bunga ini Gio" Zaed kesal.


Saat Zaed sedang kesal tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk, ternyata itu adalah sekertaris nya.


"Ada apa? " tanya Zaed kesal.


"Maaf tuan ada seorang gadis yang ingin menemui anda dan dia memaksa" jelas sekertaris tersebut.


Zaed mengernyitkan dahinya.


Tapi tiba-tiba munculah seorang gadis dari balik tubuh sekertarisnya.


"Kak... kenapa aku sulit sekali menemui? " celetuknya.


Zaed langsung tersenyum saat melihat sosok yang di maksud oleh sekertaris nya tersebut.


"Biarkan dia masuk" ucap Zaed datar.


Sang sekertaris pun memberikan jalan pada Aletta, dan gadis itu pun berlari kecil memasuki ruangan Zaed, di tangannya dia membawa goodie bag.


Zaed melihat kearah tangan Aletta yang memegang goodie bag tersebut.


"Kau bawa apa? " tanya Zaed datar.


"Tara.... aku bawa sarapan untuk kakak, aku tahu kalau kakak itu tidak pernah sarapan pagi, tapi kakak selalu makan saat jam-jam seperti ini pagi menjelang siang seperti ini" Aletta membuka isi goodie bagnya dan mengeluarkan sebuah kotak makan bersusun tiga.

__ADS_1


Dia lalu membuka kotak makan tersebut dia membuat nasi bento untuk Zaed dan juga salad dan dessert untuk Zaed dan semua yang di sediakan Aletta itu semua adalah makanan kesukaan Zaed.


Mulai dari nasi bento dengan lauk chicken katsu dan telur gulung, dan salad dan sebagai hidangan penutup Aletta membuat cup cake pisang keju kesukaan Zaed.


Zaed tersenyum saat melihat hidangan yang ada di depannya saat ini, dia tidak menyangka gadis kecilnya ini sangat mengerti diri nya.


Aletta memang pandai memasak, bahkan dia bersekolah tata boga di luar sana untuk memperdalam ilmunya.


"Tada..... ini semua aku buat khusus untuk kakak ku tersayang" ucap Aletta dengan ceria.


Zaed. hanya tersenyum saja mendengar dan melihat senyum ceria dari gadis kecil nya.


"Terima kasih adik ku sayang" Zaed mengacak lembut rambut Aletta dan Aletta hanya tersenyum saja.


"Kakak makan ya... "


"Kau sendiri apa sudah makan? " tanya Zaed.


Aletta hanya mengangguk saja pertanda dirinya sudah makan.


Zaed pun membaca doa dahulu sebelum makan dan langsung melahap chicken katsu dengan nasinya, Aletta tersenyum ceria saat melihat Zaed makan dengan lahap.


"Oo iya kau kesini dengan siapa? " tanya Zaed.


"Dengan kak Alice sekarang kakak ada di ruangan Abang" jelas Aletta.


"Oo begitu, masakan mu selalu enak Aletta" puji Zaed.


"Hihi kakak ini bisa saja, aku masih harus banyak belajar kak... aku ingin menjadi chef yang serba bisa" jelas Aletta.


"Aletta bila ada seorang pria yang mencintai mu dan akan menjadikan mu istri nya, apa kau akan melepaskan impian mu? " tanya Zaed tiba-tiba dia bahkan menatap gadis itu dalam.


Aletta hanya memiringkan kepalanya saja karena bingung dengan pertanyaan Zaed.


"HehehHehehe kakak aku ini masih 16tahun mana ada yang mau menikah dengan bocah seperti aku"jawab Aletta polos.


" Kan kakak bilang seumpama bila ada bagaimana? "tanya Zaed lagi.


" Aku akan bilang pada pria itu, bila dia serius mencintai ku maka tunggulah aku hingga aku meraih cita-cita ku, pintalah pada Tuhan agar aku di jaga olehnya agar hati ku hanya miliknya dan menjadi jodoh satu-satunya dalam hidupnya "jawab Aletta polos.


Dia mengatakan itu dengan polosnya namun. memiliki arti yang dalam oleh Zaed, hingga Zaed pun tersenyum lebar pada gadis kecil itu.


" Baiklah aku kan menunggu mu dan meminta pada tuhan"ucap Zaed sambil mengelus kepala Aletta.


Aletta bingung saat Zaed mengatakan itu, Zaed menyadari kalau saat ini Aletta kebingungan.


"Sudah jangan di fikirkan" ucap Zaed lembut dan dia pun memakan kembali makanan nya.


Aletta pun tersenyum ceria kembali saat melihat Zaed menikmati makanan nya. tanpa Aletta tahu dan sadari kalau saat ini hati Zaed sedang bergembira saat mendengar perkataan gadis kecilnya itu, karena itulah yang ingin dia dengar saat dirinya menyatakan cinta pada gadis kecil ini nantinya, yang entah kapan akan dia utarakan isi hatinya itu pada gadis kecilnya ini.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2