My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Aslan Kecewa


__ADS_3

Siang hari Aslan keluar dari ruangan nya, dan berpapasan dengan Zaed.


"Mau kemana tuan muda apa anda mau makan siang? " tanya Zaed.


"Hem... gue mau makan sendirian, elu bukannya udah makan tadi, pas Aletta dateng bawain bekal" ucap Aslan santai.


Zaed hanya tersipu saja saat mendengar Aslan mengatakan itu.


"Ya sudah gue keluar dulu elu handle semua kerjaan ya sebelum gue balik kantor" ucap Aslan santai dia pun berjalan ke arah lift.


"Baik tuan muda, pasti anda ingin sekalian kerumah sakit kan? " tanya Zaed.


Aslan tak menjawab pertanyaan Zaed dan langsung masuk ke dalam lift tersebut meninggalkan Zaed sendirian di lorong kantor.


Di dalam lift Aslan langsung menelpon seseorang dia akan mengadakan pertemuan dengan orang tersebut di tempat lain, dia ingin menyelidiki kasus Nina sendirian kali ini, karena dia merasa ada yang tidak beres dengan kasus ini, karena begitu sulitnya menemukan pelakunya padahal bukti-bukti sudah cukup lengkap, tapi kenapa pelaku kejahatan itu masih saja belum tertangkap.


Aslan akhirnya turun tangan sendiri dan tak memberi tahu hal ini pada Zaed dan papahnya.


Aslan berjalan menuju mobil yang sudah menunggu nya di depan pintu kantor, dia menyuruh supirnya untuk tidak mengantarnya dia ingin mengendarai mobil itu sendirian, dia sama sekali tak ingin ada orang dari pihak papahnya yang tahu tentang kepergiannya siang ini dan akan menemui siapa.


Supir pun hanya membukakan pintu mobil dan membiarkan tuan mudanya pergi tanpa diantar oleh nya.


Aslan melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, dan menembus keramaian kota di siang hari ini.


Mobil yang di kendarai Aslan malaju di kota yang sangat ramai ini, bahkan siang ini bukan hanya mobil Aslan yang berjajar dan berbaris terjebak macet dia siang hari ini karena sebagian orang keluar makan siang dari kantornya.


Cuaca yang panas dan sinar mentari yang begitu terik hingga terlihat seperti ada air yang menggenang di udara karena begitu panasnya suhu udara siang ini di kota besar ini.


"Astaghfirullah udah macet panas lagi, kayanya gue salah ambil jalur nih, seharusnya gue nggak lewat jalan ini, seharusnya lewat jalan lain huft" keluh Aslan.


Dan sekitar tiga puluh menit Aslan akhirnya bisa terbebas dari kemacetan jalanan dan saat ini dirinya sedang duduk berhadapan dengan seorang yang dia sewa untuk menyelidiki kasus kekasihnya, orang yang terpercaya dan juga cerdas.

__ADS_1


"Bagaimana? " tanya Aslan pada laki-laki paruh baya yang ada di hadapan nya ini.


"Tuan muda sebenarnya pelaku tersebut sudah di penjara, tak lama kasus itu terjadi" jelas pria tua tersebut.


"Apa?! " Aslan terkejut.


"Lalu kenapa semuanya tak bicara pada ku, siapa pelaku tersebut, ini pasti ada kaitannya dengan ku hingga mereka merahasiakan semua dari ku" gumam Aslan.


"Siapa nama pelaku itu dan di penjara di kantor kepolisian mana, aku ingin bertemu dengan pelaku tersebut untuk mengetahui alasan nya yang berbuat setega itu pada kekasih ku" tanya Aslan pada pria tua itu.


"Namanya Laura Tuan dan menurut informasi yang saya dapat.... " ucapan pria tua itu terhenti ketika Aslan membuka telapak tangannya untuk menghentikan orang itu berbicara.


Wajah Aslan berubah kejam saat mendengar nama tersebut, dia sangat tahu apa yang menjadi alasan wanita itu mencelakai kekasihnya hingga senekat itu, seharusnya dia juga menaruh curiga pada wanita tersebut , tapi waktu kemarin dirinya sama sekali tidak menaruh curiga pada wanita itu.


Aslan mengepalkan tangannya kencang dia akhirnya tahu alasan Zaed tidak memberi tahu pelaku kasus ini dan maksud kedatangan Gio tadi pagi keruangan nya.


"Sialan... semuanya kenapa membohongi ku, awas saja kalian semua akan menerima akibatnya karena berani membohongi ku silakan kau Zay... " Aslan geram.


Dan pria tua itu pun memberikan alamatnya, dan Aslan langsung mengeluarkan sebuah amplop coklat dari kantung jasnya dan memberikan kepada laki-laki tersebut.


"Ini bayaran anda dan Terima kasih telah membantu saya" ucap Aslan saat memberikan amplop tersebut.


Aslan langsung berdiri dan meninggalkan kafe tersebut dan langsung berjalan ke area parkir dan mengendarai mobilnya menuju kantor polisi yang di maksud oleh orang tersebut.


Di sepanjang jalan Aslan begitu kecewa dengan Zaed dan papahnya karena bisa-bisanya mereka merahasiakan ini semua dari nya, seolah Laura itu lebih penting dari dirinya.


"Kenapa Zay... kenapa... pah... apa dia sebegitu penting di mata kalian hingga kalian merahasiakan semua ini dari ku, kalian tahu dengan begini tak ada ke adilan untuk Nina" ucap Aslan lirih dia benar-benar kecewa sangat kecewa pada sahabat nya dan juga orang tuanya.


Mobil yang dikendarai Aslan pun akhirnya tiba di area parkir kantor kepolisian, dan Aslan langsung masuk ke dalam kantor polisi dan meminta bertemu dengan tahanan yang bernama Laura.


Aslan pun di minta menunggu Laura di ruang tunggu dan Aslan pun menunggu kedua Laura disana, tak lama Laura datang bersama petugas yang berjaga disana.

__ADS_1


Laura terkejut saat melihat kedatangan Aslan yang mengunjungi nya.


"Aslan... " ucapnya pelan.


Aslan menatap nya tajam, Laura tahu tatapan itu, dia sudah menduga akan seperti ini, Laura duduk diskusi berhadapan dengan Aslan.


Aslan masih menatapnya tajam.


"Kenapa elu bisa segila ini Ra?! " tanya Aslan penuh penekanan.


"Heuh... elu bilang gue gila? heheh gue cuma mau mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik gue Aslan" ucap Laura sinis.


"Milk elu? apaan yang elu maksud dengan milik elu hah?! " sentak Aslan.


"Ya elu Aslan elu cuma milik gue, gue udah berusaha ngerebut elu, tapi elu sama sekali nggak berpaling dari gue dan gue ambil jalan lain, gue bayar orang untuk buat dia cacat tapi... tapi elu tetap nggak berpaling dari dia dan malah makin lengket gue iri dan nggak Terima dia orang baru yang elu kenal sedang sama gue... gue kenal elu lebih dulu dari pada dia"Laura akhirnya mengakui semua kejahatan yang dia perbuatan termasuk dalam kecelakaan yang dialami Nina hingga itu membuat Aslan semakin geram.


"Jadi elu yang ngerencanain kecelakaan Nina? elu benar-benar gila Laura, sejak kapan elu jadi psikopat betul hah?! " Aslan kesal.


"Sejak gue di kecewain oleh dunia ini Aslan hiks... semua yang gue rencanain yang d


gue cita-citain semuanya berantakan dan nggak ada yang berhasil hingga gue iri dan nggak mau lihat orang yang deket sama gue jadi berhasil gue nggak Terima semua orang berhasil sedangkan gue gagal sendirian hiks... hiks "Laura menangis tersedu.


" Seharusnya elu bukan di penjara tapi harusnya elu masuk ke rumah sakit jiwa Ra, gue nggak akan nyabut tuntui gue, meski papah dan Zay bersimpuh di kaki gue, gue yakin mereka belum tahu kejahatan elu yang lain selain masukin racun ke tabung infusan Nina "Aslan berdiri dari kursi dan bersiap pergi.


" Oo.. .iya apa elu juga minta sama. pacar elu itu untuk menemui gue, pasti dia minta gue untuk nyabut tuntutan kasus ini dan ngebebasin elu dari sini heuh jangan harap gue bakalan luluh dengan permohonan dari penjahat dan pembohong macam kalian"ucao Aslan sinis sebelum dirinya pergi dan berjalan meninggalkan Laura di ruangan tersebut.


"Gio... dia menemui Aslan? " gumam Laura dua sungguh tak percaya Gio melakukan hal itu di luaran sana.


Aslan berjalan dengan langkah cepat menuju area parkir. dan dengan sangat kesal. Aslan mengendarai mobil tersebut perasaan marah dan kecewa saat ini sedang melanda hatinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2