
Bugh...
"Dasar bajingan beraninya kau membohongi gadis polos ini" Aslan marah bahkan saat ini terlihat begitu jelas kemarahan di wajah tampan itu.
Pria yang di pukul Aslan kebingungan kenapa dirinya tiba-tiba di pukul, dan siapa yang di maksud Aslan yang dia bohongi.
Zaed dan Wiwid yang baru tiba pun hanya menutup mulut mereka karena terkejut melihat Aslan yang berada disana dan langsung memukul orang.
"Sayang... kau tidak apa-apa? " tanya wanita itu lembut dan membantu pria itu berdiri.
"Siapa kau kenapa kau memukul suami ku?! " tanya wanita itu kesal.
"Suami? " Aslan bingung.
Nina dengan wajah kesal mendekat pada Aslan kini dia berdiri di depan Aslan dan....
Plak...
Nina menampar pipi Aslan.
"Ada masalah apa dengan mu tuan muda kenapa kau memukul kakak ku tiba-tiba" Nina emosi bahkan tangannya bergetar saat ini.
"Kakak? " Aslan bingung dia lalu melihat pria itu dan Nina bergantian dan Aslan baru menyai kalau mereka berdua memang agak mirip.
"Iya kakak... " celetuk Zaed dan Wiwid.
Zaed sudah tahu cerita dari Wiiwd saat dijalan kalau kemarin malam saat Nina kecewa dengan Aslan, Nina bertemu dengan kakaknya yang memang sedang mengadakan pertemuan dengan para seniman lukis di alun-alun oleh karena itu kemarin malam Nina dan Wiwid berjalan-jalan di alun-alun karena ingin bertemu dengan kakaknya.
Dan sang kakak yang melihat Adiknya menangis di pinggir jalan mencoba membantunya dan menenangkannya.
Aslan menoleh ke arah suara kedua temannya itu yang mengatakan kata "kakak" berbarengan.
"Kalian sudah tahu?! " tanya Aslan kesal.
Dan mereka berdua hanya mengangguk saja, Aslan langsung merasa serba salah, dia lalu melihat ke arah Nina tapi wajah Nina dan mata Nina sudah menunjukkan kemarahan.
"Maaf aku tak tahu" ucap Aslan lembut.
Tapi tak di hiraukan oleh Nina dia kesal pada Aslan karena selalu saja bersikap kasar.
__ADS_1
Aslan mendekat pada kakak Nina dan mengulurkan tanganya dia ingin meminta maaf.
"Maafkan saya kak, saya tidak tahu kalau anda adalah kakaknya Nina" ucap Aslan merasa bersalah.
Kakak Nina melihat kearah adiknya yang masih cemberut karena marah, sang kakak tersenyum melihat itu.
Sang kakak menyambut jabatan tangan Aslan dan tersenyum.
"Tidak apa-apa aku tahu alasan mu karena kau sangat mencintai adik ku hingga tak rela dirinya disakiti oleh orang lain" ucap kakak Elang lembut.
Nina melotot ke arah kakaknya karena mengatakan itu dengan ringannya.
Dan itu membuat kak Elang jadi tergelak melihat tingkah lucu adiknya itu.
Sedangkan Aslan tersipu malu saat mendengar kak Elang mengatakan itu.
"Sayang siapa dia? "tanya istri Elang lembut.
" Seseorang yang mencintai Nina "jelas Elang.
" Kakak sudah cukup sebaiknya kakak obati luka kakak dulu"Nina menghentikan pembicaraan Elang dan istrinya.
Sementara Aslan mendekat pada Nina dan menatap tajam gadis itu, dia minta penjelasan dari Nina.
"Kenapa tidak kau jelaskan tadi saat di kantor kalau dia adalah kakak mu hem? " ucap Aslan penuh penekanan.
"Tidak perlu aku jelas kan apa hubungan ku dengannya, karena kita juga tidak ada hubungan apa-apa" ucap Nina ketus.
Aslan langsung kebingungan dan tidak tahu harus berbicara apa, karena semua yang di katakan oleh Nina itu semua benar karena mereka memang tidak mempunyai hubungan apa-apa.
"Dan buka kah anda sudah ada yang memiliki, bukankah semalam anda sudah memilih dia? jadi untuk apa anda seperti ini? "lanjut Nina masih dengan kata-kata ketus nya.
" Kau salah faham"elak Aslan dia mencoba menjelaskan pada Nina tentang semuanya.
"Apa?! salah faham? hemf jelas-jelas anda melepaskan tangan ku dan berjalan ke arah wanita itu dan masih anda bilang aku salah faham? "
"Dengar kan aku dulu" Aslan mencoba sabar menghadapi Nina saat ini karena dia tahu bila mengikuti emosi permasalahnnya tidak akan pernah selesai.
"Iya Nin sebaiknya elu dengerin dulu Aslan, karena sebenarnya dia langsung nyariin elu kemarin malam saat sadar tangannya udah nggak megang tangan elu" jelas Zaed.
__ADS_1
"Terserah kalian mau bela dia silahkan tapi bukti di depan mata aku sudah cukup membuktikan kalau dia itu memilih wanita itu bukan aku" ucap Nina ketus.
Nina langsung melangkah ingin meninggalkan stand lukisan kakaknya tapi langkah terhenti dengan satu ucapan Aslan.
"Kau cemburu? " tanya Aslan.
"Bila kau cemburu maka cemburu lah aku senang mendengar nya karena cemburu itu tanda cinta"Aslan tergelak saat melihat Nina berhenti melangkah.
Nina berhenti melangkah tapi dia tak menoleh ke arah ah Aslan karena dia tak mau menujukan wajah cemburu nya di depan Aslan meski dirinya mengelak untuk membenarkan kata-kata Aslan kalau dia itu sedang cemburu. hingga akhirnya Nina pun berjalan cepat meninggalkan stand lukisan kak Elang, perasaannya saat ini campur aduk, ada kesal, senang dan cemburu yang sepertinya semua perasaan dihati nya saat ini bercampur menjadi satu.
Wiwid dan Zaed meminta Aslan untuk mengejar Nina dan mencoba menyelesaikan permasalahan mereka berdua, agar mereka berdua bisa lebih dekat lagi.
"Tanpa elu suruh juga gue bakalan kejar" ucap Aslan sewot dia pun segera mengejar langkah Nina yang memang belum terlalu jauh dari tempat semula.
Dan saat ini Aslan sudah dapat men-sejajarkan langkahnya bersama dengan langkah Nina.
"Hai... masih marah? " goda Aslan tapi Nina masih terdiam.
Tapi hatinya seolah berteriak.
Aaaaa tuan muda jangan ikuti aku, aku ini sedang menyembunyikan rasa malu ku pada mu.
"Nina" Aslan menarik pergelangan Nina hingga langkah keduanya berhenti.
"Maaf karena aku telah membuat mu kecewa kemarin, tapi sungguh bukan maksud ku memilih dia di saat aku melepaskan tangan ku dari mu" jelas Aslan.
"Tak apa tuan muda itu hak anda, dengan siapa anda sekarang atau nanti bukan urusan saya,sebenarnya sakit mengatakan ini tapi ini harus aku katakan karena kita memang tidak bisa bersama"
"Nina maaf kan aku beri aku kesempatan lagi untuk membuktikan kalau aku sungguh-sungguh pada mu" ucap Aslan serius bahkan saat ini dirinya memasang wajah iba.
Nina menghela nafasnya dalam.
"Aku sudah memaafkan anda, tapi maaf kita tidak bisa lebih dari ini, aku tak ingin punya hubungan apa-apa dengan anda" ucap Nina lembut.
"Kenapa apa kau tidak mencintai ku? lantas kenapa saat itu kau korbankan dirimu untuk melindungi ku hingga kau hampir kehilangan nyawa mu ha! " Aslan mulai emosi.
"Itu semua karena aku menganggap kau itu teman ku hanya itu Aslan tidak lebih" jelas Nina selembut mungkin.
Aslan melepaskan pegangan tangannya dari Nina,ini untuk kesekian kalinya dirinya di tolak oleh gadis ini, dia pun berjalan meninggalkan Nina sendirian baginya, ini sudah cukup dirinya ditolak berkali-kali, dirinya sudah tak ingin lagi mengejar cinta Nina apa lagi sampai harus mengemis cinta gadis itu, hatinya sudah hancur dan tak bisa di obati lagi.
__ADS_1
Bersambung.