My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Menjemput Aletta


__ADS_3

Zaed berjalan di bandara dan mencari Aletta, tak di temukannya gadis itu di tempat orang-orang yang biasa menunggu jemputan di bandara, Zaed akhirnya menelpon nomor yang tadi Aletta gunakan untuk menelpon nya.


Suara sambungan telepon tersambung terdengar di telinga Zaed.


"Aletta dimana kamu? " Zaed langsung bertanya keberadaan Aletta.


Aletta langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya karena di semprot oleh Zaed.


"Ck nunggu kakak lama jadi aku ke restoran dulu aku lapar kak" rengek Aletta.


Zaed mengusap wajahnya kasar karena mendengar rengekan gadis kecil tersebut.


"Restoran mana? " tanya Zaed.


"Dekat bandara kok aku sharelok ya... " Aletta mematikan sambungan telepon dan langsung mengirimkan Sharelok pada Zaed.


"Anak itu benar-benar selalu saja buat khawatir" gerutu Zaed yang berjalan ke arah mobilnya untuk menjemput Aletta di sebuah restoran.


Zaed pun mengendarai mobilnya ke arah restoran tersebut dan ketika sampai disana, matanya terlbelalak saat melihat Aletta sedang mengobrol dengan akrab nya dengan seorang pria asing.


"Apa-apaan anak itu ck dasar" Zaed menggerutu dan berjalan ke sebuah meja yang terdapat dia orang yang terlihat asik mengobrol dengan akrab nya.


Itulah yang selalu membuat Zaed dan Alice khawatir karena Aletta itu mudah akrab dengan orang asing yang baru pertama kali dia temui, mereka khawatir karena takut Aletta terjebak oleh pria-pria yang tak bertanggung jawab yang akan memanfaatkan kepolosan nya.


Zaed berjalan dengan cepat ke arah meja tersebut, dan langsung berdehem saat telah dekat dengan meja tersebut.


"Ehm... " Zaed berdehem.


Aletta langsung menoleh ke arah suara tersebut dan dia lani tersenyum ruang saat melihat kehadiran Zaed, dan tanpa basa basi lagi Aletta langsung memeluk tubuh Zaed, Aletta menganggap Zaed sudah seperti kakak kandung nya sendiri sama seperti Aslan dan Alice.


"Kakak aku rindu... " ucap Aletta yang memeluk tubuh Zaed tiba-tiba.


"Ehm.... Aletta... jangan begini malu ini tempat umum, dan lagi pula kenapa kamu mengobrol sembarangan dengan orang asing hem? " ucap Zaed datar dan berusaha melepaskan pelukan Aletta.


"Hem... habisnya aku bosan menunggu kakak, jadi aku ajak saja dia ngobrol hehehe" Aletta tertawa lebar menunjukkan wajah tanpa dosanya.

__ADS_1


"Astaghfirullah ya sudahlah, ayo ikut kakak Alice tadi telpon dia meminta aku mengantar mu kerumah sakit" Zaed menarik tangan Aletta dan membiarkan orang asing yang tadi sedang mengobrol dengan Aletta hanya bisa bengong saja.


"Ke rumah sakit aku sehat kakak kenapa aku harus kerumah sakit? " tanya Aletta polos.


"Ck kakak mu kan bekerja disana Aletta apa kamu lupa? " jelas Zaed.


"Ah... iya aku lupa kakak ku kan dokter pemula ya hehehe, kenapa tidak langsung ke apartemen saja kak? " tanyanya lagi.


"Dia maunya kamu kesana mungkin nanti setelah dia selesai bekerja dia akan membawa mu ke apartemen" jelas Zaed yang membawa Aletta ke area parkir restoran.


"Kan ada kak Zay, kakak kan bisa menjaga aku di apartemen bila kak Alice khawatir" ucapnya polos.


Zaed semakin gemas saja dengan kelakuan Aletta.


"Justru bika dengan ku kakak mu semakin khawatir Aletta" gumam Zaed yang tak dapat di dengar oleh Aletta.


Zaed membuka pintu mobilnya dan membiarkan Aletta masuk. kedalam nya terlebih dahulu, dan Zaed berputarengitari depan mobil dan membuka pintu bagian kemudi, Zaed memasang seat belt nya dan melihat Aletta tidak mengenakan Seat belt nya, hingga akhirnya Zaed memasangkan seat belt tersebut. saat Zaed memasangkan seat belt tersebut Zaed tak sengaja menatap buah yang baru tumbuh itu, hingga dia akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Astaghfirullahalazim, dia ternyata sudah besar sekarang ya... tapi kelakuannya kenapa masih akh... ck...


"Ya ampun... dia ini kebiasaan, ck sampai kapan kau ini menganggap aku ini kakak mu, apa kau tak sadar aku ini pria dewasa loh kenapa kau tidak takut pada ku sama sekali sih" Zaed mengusap wajah Aletta lembut dia menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah Aletta.


Zaed pun menjalankan mobilnya dan menuju rumah sakit tuan Herald, dan Aletta dengan tenangnya tertidur di kursi sebelah Zaed.


Aletta bisa terlelap tidur apa lagi di tambah dengan musik yang di putar oleh Zaed, Zaed sangat tahu Aletta bisa tertidur lelap saat mendengar musik clasic oleh karena itu Zaed memutar musik tersebut di sepanjang perjalanan nya menuju rumah sakit.


Hingga mobil sampai ke area parkir rumah sakit Aletta masih terlelap, Zaed tak bisa menggendongnya ke ruangan Alice karena Alice bisa murka, bila adiknya di sentuh oleh pria lain.


Hingga akhirnya Zaed menelpon Alice untuk membangunkan Aletta, Alice langsung berlari ke arah area parkir rumah sakit saat Zaed mengatakan kalau. adiknya tertidur dan sulit di bangunkan.


Alice mengetuk jendela mobil Zaed dan Zaed langsung membuka pintu tersebut, Alice langsung membangunkan Aletta yang terlelap dengan menggoyahkan badan Aletta.


"Letta Aletta bangun ck kamu kenapa pake tidur sih?! " Alice kesal.


Karena adiknya tak kunjung bangun jugaeski sudah di goncangkan tubuhnya oleh Alice.

__ADS_1


Alice melirik ke arah Zaed dan akhirnya dengan terpaksa meminta Zaed menggendong adiknya sampai ke ruangannya.


"Tapi jangan macem-macem sialan" Alice sewot.


"Ck ya kalo gue nggak boleh pegang adek lu mending elu suruh orang lain dah" Zaed pun kesal karena menghadapi kelakuan seorang kakak yang posesif.


"Ah.... gila ajah lu sama elu ajah gue nggak percaya apa lagi sama orang lain sialan" Alice ngomel lagi.


Hingga akhirnya dirinya mau tak mau mengijinkan Zaed mengendong Aletta, Zaed pun menggendong tubuh Aletta dengan cara bridal style. Zaed dan Alice berjalan di lorong rumah sakit menuju ruangan Alice dan saat di lorong tangan Aletta tiba-tiba memeluk leher Zaed.


Mata Alice langsung terbelalak melihat itu, ingin rasa nya dia langsung memukul kepala Zaed saat itu juga tapi tidak dia lakukan karena itu perbuatan adiknya sendiri, meski Alice tahu Aletta sering memeluk Zaed namun itu sebagai bentuk wujud kasih sayang Aletta sebagai seorang adik kepada kakaknya, tapi Alice juga tahu kalau Zaed menganggap Aletta itu bukan sekedar adiknya saja tapi ada rasa tertentu yang dia sembunyikan selama ini pada Aletta.


Mereka pun sampai ke ruangan Alice dan Zaed langsung menaruh tubuh Aletta di sofa ruangan tersebut dengan perlahan dan lembut, Alice bukan nya tidak setuju kalau Zaed menyukai adiknya tapi karena Aletta saat ini masih terlalu muda bahkan usianya saja belum genap 17tahun.


Alice percaya bila Zaed mampu menjaga dan mengasihi Aletta bahkan menjadikan Aletta ratu dalam hidupnya, tapi masa depan Aletta masih cukup panjang bila dia di sibukan oleh urusan cinta saat ini.


Zaed yang di lihatin oleh Alice langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa? " tanya Zaed.


"Nggak apa-apa" Alice menjawab santai.


Zaed pun berjalan ke arah pintu dan ingin keluar dari ruangan Alice dia ingin pulang dan beristirahat karena dia merasa pekerjaan nya hari ini sudah selesai.


Tapi saat Zaed melangkah ke arah pintu langkahnya terhenti.


"Zay apa elu akan menunggu Aletta hingga dia tumbuh menjadi wanita yang pantas bersanding sama elu? " tanya Alice.


Zaed menoleh ke arah Alice dan tersenyum pada sahabatnya itu.


"Apa menurut elu saat ini dia belum pantas bersanding sama gue? " Zaed malah bertanya balik.


"Sialan lu udah tahu adek gue masih kecil, elu mau jadi fledofil? " Alice kesal namun menahan suara nya karena takut membuat Aletta terkejut saat tidur.


Bersambung.

__ADS_1


'


__ADS_2