
Seorang gadis berlari dengan nafas yang tersengal-sengal menuju sebuah kostan dimana tinggal seorang calon CEO tempatnya berkerja.
Saat sampai disana sang gadis menanyakan dimana kamar Aslan dan Zaed berada kepada salah satu penghuni kostan tersebut.
"Mas maaf dimana kamar Aslan? heeehhhhheehh" Dengan nafas yang tersengal-sengal dan dada yang naik turun gadis itu mencoba berbicara dengan orang lain.
"Disana mba" tunjuk orang yang di tanya tersebut.
Gadis itu langsung berlari ke arah yang di tunjukan oleh orang tersebut.
tok... tok tok tok tok.
Gadis itu mengetuk pintu kayu tersebut dengan sangat terburu-buru, hingga sangat penghuni kamar langsung membuka pintu karena kesal.
"Ada apa sih? " Aslan keluar dengan wajah kesal. lebih kesal lagi saat melihat siapa orang yang ada di balik pintu tersebut.
"Ngapain elu kesini?! " tanya Aslan ketus.
"Lan..... tolong Lan.. Nina Lan hehheeehhhhhe" Wiwid berbicara dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Nina kenapa?! " Aslan langsung panik. saat mendengar nama Nina disebutkan oleh Wiwid.
"Nina di heeeeehhhheeehhhh di.... "
"Di apain cepetan elu ngomong?! " Aslan bertambah kesal.
"Nina di culik" Akhirnya Wiwid bisa menyampaikan juga apa yang di maksudnya.
"Hah.... " bukan Aslan saja yang terkejut tapi Zaed yang ada disana juga ikut terkejut.
"Siapa yang nyulik Nina? " Aslan panik.
"Kata orang itu dia dari kelompok yang namanya.... The Cow" Wiwid mencoba mengingat.
"The Crow kali? " Zaed mencoba membenarkan.
"Ah... iya itu mereka tadi bawa Nina paksa ke mobil warnanya hitam semua pas dia lagi keluar beli nasi goreng" jelas Wiwid.
"Dan mereka berpesan elu suruh jemput Nina di markas mereka" jelas Wiwid.
"Bangsat dasar pengecut, awas ajah kalo sampai mereka berani nyentuh cewe gue sehelai rambut ajah gue hancurin mereka semua" Aslan sudah gelap mata.
sementara Wiwid dan Zaed bengong mendengar Aslan mengucapkan kalau Nina adalah cewenya.
__ADS_1
"Zay... cepet siap-siap kita ke markas mereka" sentak Aslan.
"Emangnya mereka itu siapa sih kenapa harus nyulik Nina? " Wiwid bertanya dengan polosnya.
"Udah elu diem ajah nggak perlu kepo" Ucap Zaed dengan. santainya.
"Zay buruan sialan nanti Nina di apa-apain sama mereka lagi" sentak Aslan.
"Iya... iya... Wid elu tunggu ajah di kostan elu, biar kita yang urus masalah Nina"ucap Zaed.
" Iya tolongin Nina ya... Zay... "Wiwid memohon.
Zay pun hanya mengangguk dan Aslan segera menarik kerah bajunya agar Zaed segera bergegas pergi bersama nya.
Aslan langsung menaiki motor gedenya yang di simpan di garasi tempat kostan tersebut dan suara knalpot pun berdentum dengan kerasnya saat mesin motor tersebut di nyalakan.
Brooom....
motor yang di kendarai Aslan dan Zaed pun meninggalkan kostan tersebut dengan kecepatan di atas rata-rata.
Wiwid yang melihat itu jadi kebingungan sendiri.
"Sejak kapan mereka punya motor gede begitu? itu motor kan harganya mahal banget? minjem punya siapa nya mereka? " gumam Wiwid karena dia berfikir dari mana Zaed dan Aslan mempunyai uang sebanyak itu karena mereka hanya buruh pabrik. bila mereka. mampu membeli. motornya besar juga bukan motor yang berjenis seperti motor sport begitu.
Aslan mengendarai mi dengan kecepatan layaknya pembalap di sirkuit, diikuti oleh Zaed yang sudah memberitahu kelompok gengnya untuk menyerang markas The Crow.
Sialan kenapa bisa kecolongan gini sih... sial.
Memegang erat stang motor nya dengan kencang.
Nin tunggu gue, gue bakalan selametin elu, plis jangan terjadi apa-apa.
Aslan terus berdoa dalam hatinya agar tidak terjadi sesuatu pada Nina.
Dentuman suara kenalpot pun bersahutan di luar sebuah gudang tua, itulah markas The Crow.
"Woi.... setan... keluar lu sialan, jangan beraninya sama cewe kurang ajar kalo berani hadapin gue langsung! " teriak Aslan dari luar gudang.
krekkkk.
pintu gudang terbuka dan terlihat beberapa anggota geng sedang tersenyum meremehkan Aslan karena sudah mau masuk kedalam jebakan mereka.
"Mana temen gue sialan" ucap Aslan emosi.
__ADS_1
"Heheh temen elu lagi di ajak senang-senang sama si bos" ucap salah satu anak buah mereka dengan tatapan meremehkan.
Aslan kesal. dan langsung mencaci maki dia meng absen semua anggota kebun binatang tangannya mengepal kuat dan langsung tanpa aba-aba lagi dia langsung menyerang. orang yang berbicara dengannya hanya dengan tangan kosong, Aslan sama sekali tidak melakukan persiapan saat tahu Nina di culik hingga dirinya tak membawa senjata apapun juga untungnya kelompoknya membawa persenjataan lengkap hingga yang lainnya bisa membantu Aslan menyerang markas lawan.
Baku hantam pun terjadi di luar semua anggota geng the Crow pun keluar dari sarang mereka dan mulai menyerang dan baku hantam antar geng.
"Lan.... cepet elu masuk selametin Nina disini serahin sama kita semua" teriak. Zaed yang sedang baku hantam.
Dan tanpa fikir panjang Aslan berlari ke dalam tapi langkah nya memang tidak mudah ada beberapa orang yang menghadangnya tapi anak buah Aslan membantu Aslan hingga Aslan bisa masuk ke persembunyian ketua geng The Crow.
Aslan mendobrak pintu yang ia yakini itu adalah tempat Nina disekap.
Dan benar saja saat Aslan berhasil mendobrak pintu tersebut dilihatnya Nina sedang terbaring di sebuah tempat tidur tangan dan kaki di ikat bahkan mulutnya di perban agar Nina tidak bisa berteriak, lebih parahya lengan baju Nina sobek dan terlihat kancing bagian dada terlepas hingga menunjukkan penutup dada Nina.
Wajah Aslan lansung memerah saat melihat itu.
"Anjing elu apain cewe gue bangsat" Aslan langsung menyerang ketua The Crow.
Bugh.
sebuah pukulan mendarat di wajah ketua The Crow tapi sangat ketua hanya tertawa sini s saat di pukul oleh Aslan.
Nina yang melihat Aslan sangat marah jadi ketakutan dan menangis, Aslan langsung membantu Nina melepaskan ikatan tangan dan kaki Nina dan langsung memakaikan jaketnya pada Nina.
"Hiks... hiks... " Nina menangis.
"Shussuuu jangan menangis plis jangan menangis sayang... " ucap Aslan lirih.
"Hahaha Aslan... Aslan ternyata elu lembek juga, sekarang apa elu masih bisa menjadi pahlawan dia setelah ini? " ucap ketua The Crow yang langsung mengambi Stik baseball yang ada di kamar tersebut dan langsung melayangkan stik tersebut ke arah kepala Aslan.
Namun Nina dengan sigapnya langsung memeluk Aslan dan memutar tubuh mereka dan....
Krak... tes...
Kepala Nina lah yang terkena pukulan hingga stik baseball tersebut patah, data langsung mengalir dari kepala bagian belakang Nina.
"Dasar cewe goblok mau-maunya mati konyol cuma buat ngelindungin si Aslan" ucap ketua geng The Grow.
Aslan yang melihat kepala Nina bersimbah darah dan Nina yang tak sadarkan diri langsung mengamuk dan langsung menyerang musuh nya dengan membabi buta.
Saat Aslan hampir kehilangan kendali, Zaed, Kodok dan Beni masuk. keruangan tersebut. Zaed terkekut saat melihat keadaan Nina yang begitu mengenaskan, dan melihat Aslan yang kalap dan hampir membunuh ketua The Crow.
Bersambung.
__ADS_1