
Sementara itu di kantor tuan Herald mendapatkan laporan dari asistennya kalau Aslan telah menikahi Nina di kantor tuan Sanders.
Tuan Herald memijat-mijat keningnya karena pusing dengan kelakuan anaknya, ngamuk marah-marah di kantor, bawa kabur anak orang selagi masih jadi pasien dirumah sakit dan sekarang menikah dadakan.
"Astaghfirullahalazim anak itu benar-benar keterlaluan" geram tuan Herald.
"Telpon tuan Sanders aku ingin bicara dengannya kenapa. dia mengijinkan anak nakal itu menikahi putrinya" pinta tuan Herald pada asistennya.
Asistennya pun menekan nomor telpon tuan Sanders dan suara sambungan telepon terhubung pun terdengar dan tak lama di angkat lah oleh tuan Sanders.
Kedua orang ayah itu pun akhirnya berbicara lewat sambungan telepon.
"Tuan Sanders kenapa anda mengijinkan putra saya menikahi putri anda secara mendadak seperti ini? " tanya tuan Herald dengan sabar.
"Putra anda sangat menyanyi putri saya dan saya bisa melihat kesungguhan nya dari sikap dan perilaku nya pada anak saya tuan, seharusnya anda bangga punya putra sepertinya karena di usianya yang masih di bilang muda dia sudah mau bertanggung jawab" jelas tuan Sanders.
"Bukan begitu tuan tapi, mereka belum pernah mengetahui halang rintang seperti apa yang terjadi di dalam mahligai rumah tangga, apa lagi Aslan bilang kalau dia ingin mandiri dan tidak mau mengandalkan bantuan saya, saya takutnya putri anda nantinya akan kecewa padanya"jelas tuan Herald.
"Putri saya adalah anak yang tangguh tuan saya percaya mereka bisa melalui segela kesulitan itu. meski memang saya tak rela bila putri saya menderita saat berumah tangga, tapi ini sudah menjadi pilihan nya, saya hanya bisa mendukung dan berdoa saja, karena bila di tentang saya takut kedua anak itu malah lebih nekat tuan dan itu tidak akan baik" jelas tuan Sanders.
Tuan Herald menghela nafasnya dalam dia pun membenarkan perkataan tuan Sanders, dia sangat mengerti sifat Aslan, anak itu pasti akan lebih nekat dan akan membuat Nina lebih menderita karena kenekatannya, hingga akhirnya tuan Herald pun sepaham dengan tuan Sanders.
Mereka sepakat untuk tetap mengawasi perkembangan rumah tangga anaknya itu dari kejauhan, dan meminta bantuan seseorang untuk mengawasi mereka berdua, hingga bila terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua, kedua orang tua ini bisa langsung bertindak.
...🌞🌞🌞...
Di sisi lain sepasang pengantin baru ini, sudah berada di sebuah kereta, mereka berencana keluar kota, keduanya duduk bersebelahan di dalam sebuah kereta ekspres.
"Sayang... maaf ya... saat ini kau aku ajak susah dahulu, tapi aku janji aku aja selalu ada untuk mu sayang, dan aku akan bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan kita" ucap Aslan lembut.
Nina hanya tersenyum dan memeluk tubuh suaminya itu dia percaya pada Aslan kalau laki-laki itu akan berusaha keras demi mereka berdua oleh karena itu Nina pun mensuport Aslan dengan sentuhan-sentuhannya agar Aslan merasa dirinya tak sendirian.
Kereta ekspres itu pun melaju menuju kota yang mereka tujuan, Aslan sudah menghubungi rekannya yang berada disana, kebetulan kota tersebut adalah kota tempat nya menimba ilmu di saat dirinya kuliah dulu, hingga dirinya pun saat ini mempunyai banyak teman disana, tak lupa Aslan pun memesan pada temannya untuk membelikan kursi roda untuk istrinya agar bisa bertemu tanpa di gendong selalu oleh Aslan, bukan Aslan keberatan untuk menggendong Nina namun Nina juga tak suka selalu di perlakukan seperti itu, hingga Aslan meminta temannya untuk membelikan kursi roda dan juga mencarikan mereka tempat tinggal disana.
__ADS_1
Kereta ekspres itu pun akhirnya tiba di kota tujuan, Aslan menggendong Nina untuk keluarga dari dalam. gerbong kereta untungnya orang yang menjadi penumpang di kereta ini tak terlalu banyak hingga mereka tidak perlu berdesakan saat keluar gerbong kereta.
Aslan membawa Nina dan mencari keberadaan temannya yang sudah menunggu nya. di ruang tunggu Stasiun.
Teman Aslan yang melihat Aslan menggendong seorang wanita pun akhirnya mendekat padanya dan mendorong kursi roda, Aslan menurunkan Nina dan menaruhnya di kursi roda tersebut dan berjalan ke area parkir stasiun bersama temannya.
"Istri lu kenapa Lan? " tanya temannya itu.
"Dia kecelakaan beberapa hari yang lalu, dan kakinya habis operasi dan belum siap jalan mangkanya harus pake kursi roda dulu" jelas Aslan.
"Ooo begitu" temannya pun hanya mengangguk saja.
"Oia kenalin gue Kai teman kuliah Aslan dulu" Kai mengulurkan tangannya ke hadapan Nina.
Aslan langsung menepis tangan Kai, hingga Kai tertawa karena melihat kelakuan Aslan, dia tahu Aslan cemburu dengannya.
"Astaghfirullah Lan.... gue cuma mau kenalan doang nggak macem-macem kok" ledek Kai.
Nina hanya tersenyum saja melihat kecemburuan suaminya ini.
"Udah hayo mana tempat tinggal buat kita, katanya elu udah nemu" Aslan mengajak Kai secepatnya ke tempat tinggal mereka yang baru.
"Oke ikut gue" ajak Kai dia pun membuka pintu mobilnya dan membiarkan Aslan masuk bersama Nina dan membawa mereka menuju tempat tinggal yang baru.
Sebuah rumah sewa yang sederhana dengan harga sewa yang cukup terjangkau.
"Nggak apa-apa kan kita tinggal disini dulu" ucap Aslan lembut pada Nina ketika mereka sampai di sebuah rumah sewaan sederhana.
"Tidak apa-apa kak" ucap Nina lembut.
"Oia kak Kai... Terima kasih karena sudah banyak membantu kami" Nina berterima kasih pada Kai.
"Sama-sama cantik" ucap Kai menggoda.
__ADS_1
"Hus... sembarangan lu istri gue itu" Aslan sewot.
"Hahaha biasa ajah sih Lan... " Kai tertawa dia senang sekali menggoda temannya itu.
"Oia semua udah gue transfer ya... ke rekening elu dan thanks udah mau di repotin" Aslan akhirnya berterima kasih.
"Ya sama-sama elunjuga dulu sering nolongin gue kok, ya udah istirahat dah lu sama istri lu pasti kalian capek sudah malam juga, gue balik dulu ya.... besok gue harus kerja" Kai pamit pada mereka berdua.
Kai pun meninggalkan rumah sewaan itu, dan kini tinggal lah Aslan dan Nina, Kai sudah menyiapkan semuanya disana, karena dirumah sewa tersebut sudah ada kasur meski itu hanya kasur lantai, lemari kecil dan isinya meski pun itu hanya beberapa helai, dan parahnya Kai hanya menyediakan keperluan Aslan jadi pakaian yang ada di dalam lemari tersebut hanya pakain Aslan saja.
Melihat itu Aslan nampak kesal.
"Dasar bodoh... udah gue bilang gue kesini sama istri gue dia malah nyiapin buat gue doang tapi buat istri gue nggak dasar otak cuma separo begitu tuh" gumam Aslan di depan lemari.
Nina yang melihat itu langsung bertanya.
"Ada apa kak? " tanya Nina.
"Sayang... maaf di dalam lemari hanya ada pakaian untuk aku saja, besok kita beli untuk mu ya... malam ini kamu pakai baju ku saja dulu ya tidak masalah kan? " Jelas Aslan lembut.
"Iya tidak apa-apa, aku biasa kok pakai baju kebesaran hehe" Nina tetawa kecil.
"Hihi cupu ku" Aslan memeluk istrinya tapi di cubit oleh Nina karena dia kesal dikatai cupu oleh suaminya.
"Aw sakit sayang"
"Habisnya kakak ngatain aku cupu lagi" rengek Nina.
"Itu panggilan sayang aku sama kamu tahu sebenarnya hihi" Aslan terkikik.
Nina yang mendengar penjelasan suaminya akhirnya ikut tersenyum dia senang ternyata memang selama ini Aslan hanya menyembunyikan perasaannya di depannya karena belum siap menyatakan cintanya, hingga bukan rayuan atau pujian yang Aslan berikan untuk Nina saat dirinya mendekati Nina tapi ejekan dan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Aslan, menyebalkan memang tapi itulah cara Aslan mencintai Nina dulu.
Bersambung.
__ADS_1