
"ZAY..... " teriak Aslan panik hingga suaranya menggema di area parkir tersebut.
"Sayang sebentar ya aku lihat Zaed dulu" Aslan ingin meninggalkan Nina di tepi area parkir tapi tangannya di tahan oleh Nina karena Nina juga ingin melihat keadaan Zaed hingga Aslan pun akhirnya mengajaknya melihat keadaan sahabatnya itu.
Mobil yang menabrak Zaed meninggalkan lokasi dan itu tak di perdulikan oleh Aslan yang terpenting saat ini adalah keadaan sahabatnya.
Aslan dan Nina berjalan cepat ke arah Zaed yang masih tergeletak jauh dari mereka.
"Zay... Zay.... " Aslan panik.
Zaed yang masih sadarkan diri meski darah bercucuran di keningnya.
"Zay... Zay... " Aslan langsung merengkuh tubuh sahabatnya.
Zaed tersenyum pada Aslan karena tangan sahabatnya kini meraihnya.
"Bertahan Zay... gue bakalan hubungin Abang Ryan" Aslan merogoh kantung jasnya.
Greb...
Tangan Aslan di genggaman oleh Zaed.
"Lan... maafin gue ya... " ucap Zaed terbata.
"Ck... apaan sih lu, kenapa minta maaf, udah diem jangan banyak ngomong gue panggil ambulan dulu sama abang gue" sentak Aslan.
Zaed hanya tersenyum saja melihat reaksi sahabatnya, dia tahu Aslan masih menganggap nya sahabatnya hanya saja orang ini memang sulit menunjukkan perasaan sebenarnya pada orang lain.
"Bang... Zaed kecelakaan bang tolong panggil ambulans ke sini bang, kita ada di area parkir hotel" ucap Aslan panik saat menelpon dokter Ryan.
dokter Ryan yang mendapat berita seperti itu, langsung memanggil ambulans dari rumah sakit nya untuk segera datang ke hotel.
dokter Ryan langsung berlari ke area oarkir untuk memeriksa keadaan Zaed, dan memberikan pertolongan pertama, bahkan yang berlari ke area parkir itu bukan hanya dokter Ryan tapi beberapa keluarga dan teman-teman pun ikut serta dengan dokter Ryan.
Aletta juga ikut dengan rombongan dokter Ryan. dia juga sangat cemas saat mendengar dokter Ryan berteriak kalau Zaed kecelakaan di area parkir.
Saat semuanya berlari ke arah Zaed, Zaed hanya tersenyum saja, pada Aslan karena sudah pasti seperti ini heboh dan itu sudah bisa di tebak oleh Zaed.
"Kak Zay... hiks... apa yang terjadi kak hiks... hiks... " Aletta menangis tersedu saat melihat keadaan Zaed.
Pandangan Zaed sudah mulai kabur saat ini hingga kesadaran nya pun hilang, bahkan dia hanya samar-samar mendengar Aletta dan Aslan berteriak memanggil namanya.
"Zay.... Zay... bangun Zay... bangun" teriak Aslan panik saat melihat matanya sahabatnya itu tertutup.
"Kak Zay... bangun hiks... hiks... hiks... " jerit Aletta.
__ADS_1
Dan semua yang ada disana pun hanya menatap sedih melihat kejadian itu.
"Sudah tenang dia baik-baik saja hanya saja dia pingsan karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit, dan sepertinya kakinya juga patah kita harus segera membawanya ke rumah sakit" jelas dokter Ryan.
Tak lama ambulans pun tiba dan Zaed segera di bawa memasuki ambulans oleh tim medis, Aslan pamit pada istrinya untuk menemani sahabatnya di ambulans.
Nina pun tersenyum pada Aslan dan membiarkan Aslan bersama Zaed di ambulans.
Nina tersenyum karena kejadian ini Aslan dan Zaed dapat bersahabat kembali, persahabatan antar mereka berdua bisa terjalin kembali.
Aslan yang menemani Zaed di ambulans pun terus memanggil nama Zaed agar Zaed mendengar suaranya.
"Zay... elu kuat Zay... plis bangun Zay bangun plis.... gue belum minta maaf sama elu Zay... plis bangun plis kuat dan plis maafin gue" ucap Aslan lirih.
"Hihi elu nangis Lan? " tanya Zaed.
Aslan merasa di kerjai oleh sahabatnya pun memasang wajah kesal dan berpura-pura cuek padahal dia senang karena sahabatnya tidak kenapa-kenapa.
"Diem lu sialan" Aslan kesal karena sahabatnya ternyata pura-pura pingsan.
"Hihi maaf tuan muda karena membuat Anda bersedih tapi ini betul-betul sakit akh" Zaed menahan kesakitan sejak tadi.
"Gue akan menyelidiki siapa pelaku penabrakan itu Zay elu tenang ya... " ucap Aslan.
"Thanks kenapa? " Aslan bingung.
"Thanks karena sudah maafin gue padahal kesalahan gue itu besar loh" ucap Zaed.
"Ck.... iya seharusnya gue nggak maafin elu secepat ini ya... " Aslan kesal.
"Hihi emang dasar gengsian lu nggak sama Nina nggak sama gue" ledek Zaed.
"Kenapa bawa-bawa istri gue? " Aslan bingung dia tak sadar kalau sikap gengsian dirinya itu sudah di ketahui oleh sahabatnya.
Saat mereka mengobrol di dalam ambulans mereka bahkan sampai tak sadar kalau ambulans sudah sampai di rumah sakit.
Tubuh Zaed langsung diturunkan bersama Brankar dan Zaed langsung di bawa ke ruang IGD untuk ditangani oleh tim medis dan dokter, kaki Zaed yang patah pun langsung di pasang gips agar tulangnya terbentuk kembali.
Aslan menunggu Zaed di luar ruangan, tak lama Nina datang bersama Aletta yang langsung menanyakan keadaan Zaed.
"Dia baik-baik ajah cuma kakinya patah, sebentar lagi juga dia di pindahkan ke ruangan rawat" jelas Aslan.
"Hiks... kenapa ada orang yang menabrak kak Zay sih bang? " tanya Aletta sambil menangis.
"Tenang nanti akan abang selidiki siapa dalang yang menabrak itu, karena sepertinya incaran orang itu bukan Zaed tapi aku dan Nina" Aslan nampak berfikir.
__ADS_1
Aslan kesal dia tadi tak sempat melihat siapa orang yang mengendarai mobil tersebut.
"Nggak akan gue biarin orang itu lolos dan bebas di luaran sana" Aslan geram.
Nina yang melihat suaminya sudah nampak emosi pun mencoba menenangkan suaminya dia menggenggam tangan suaminya, dan mengelus pundak suaminya.
Sedangkan Aletta masih menangis mengkhawatirkan Zaed.
Aslan pun menepuk pundak adik sepupunya itu Agar tenang.
Tak lama Brankar yang membawa Zaed pun keluar dari IGD dan membawanya ke ruang rawat, Aslan, Nina dan Aletta mengikuti tim medis yang membawa Brankar Zaed.
Zaed tersenyum pada Aletta dan meraih tangan gadis itu mereka berpegangan tangan sampai ke ruanga VVIP.
Aslan yang melihat itu hanya menggeleng pelan saja dan Nina hanya tersenyum saja.
Saat semua perawat telah melihat kondisi Zaed sudah baik-baik saja, para perawat pun meninggalkan ruang rawat VVIP.
Zaed tersenyum pada Aletta saat melihat mata gadis itu sembab.
"Kau menangis? " tanya Zaed lembut.
Aletta hanya mengangguk polos saja.
"Kau takut aku mati? " tanya Zaed lagi dan Aletta pun hanya mengangguk saja.
Zaed tersenyum pada gadis itu.
"kayanya kita ganggu nih sayang kita keluar ajah yuk" celetuk Aslan.
Zaed tertawa lepas saat melihat sahabatnya seperti itu.
"Lan... udah sih gitu ajah ngambek" singgung Zaed.
"Ck... udah dikasih kesempatan malah di sia-siain" Aslan asal bicara.
"Ngaco lu kesempatan mau ngapain? " Zaed sewot.
sementara Zaed dan Aslan berbicara Aletta kebingungan sendiri tidak mengerti apa yang di bicara oleh kedua orang ini.
"Kalian ini membicarakan apa sih? kesempatan apa? terus apa memang nya yang membuat bang Aslan dan kak Nina menggangu kalian tidak mengganggu kok kan sejak tadi kalian diam saja" ucap Aletta polos.
Aslan menepuk jidat 🤦♂️ sedang Zaed hanya tersenyum saja karena kepolosan Aletta.
Bersambung.
__ADS_1