
Mobil yang di kendarai Aslan akhirnya tiba di depan pintu kantor, Aslan membuka pintu kemudi dan dia pun langsung keluar dari dalamnya dan langsung melemparkan kuncinya ke pada petugas keamanan yang menerima dengan gelagaban karena melihat wajah tuan mudanya terlihat sangat menyeramkan.
Ada apa dengan tuan muda sepertinya dia terlihat marah sekali.
Batin petugas keamanan.
Aslan berjalan cepat menuju lift bahkan dia tak sabar menunggu pintu lift terbuka hingga dia trus menekan tombol lift tersebut.
Dan saat pintu lift terbuka dia pun segera masuk kedalam nya dan seolah kesal dengan semua yang telah dia ketahuu siang ini hingga wajahnya pun semakin terlihat merah karena marah.
Lift yang dia masuki pun telah tiba di lantai yang dia tuju, Aslan pun kekuatan dari dalam lift tersebut dan langsung berjalan cepat din lorong kantor, dia tak memasuki ruangannya tapi dia langsung berjalan ke ruangan Zaed dan tanpa mengetuk pintu tersebut dia pun langsung membuka pintu ruangan Zaed dengan penuh amarah hingga pintu kaca tersebut hampir saja pecah karena pukulan Aslan yang kuat hingga meretakan pintu kaca yang tebal tersebut.
Aslan berusaha menahan emosinya tapi tetap tidak bisa hingga dia pun tak mengeluarkan semua tenaga nya saat mendobrak pintu tm ruangan Zaed.
Zaed terkejut dengan kedatangan bos sekaligus sahabatnya ini ke ruangannya, dan terlihat amarah di mata Aslan, Zaed bingung dan tanpa aba-aba Aslan langsung berlari ke arah Zaed dan....
Bugh.... bugh.... bugh...
Tiga pukulan di layangkan ke arah wajah Zaed, hingga Zaed tersungkur ke lantai.
Zaed memegangi wajahnya dia mengusap darah yang keluar dari sudut bibir nya.
"Tuan muda anda kenapa? " tanya Zaed bingung.
"Kenapa elu setega ini sama gue Zay... apa salah gue sama elu Zay apa?! " Aslan berteriak di akhir katanya.
Zaed masih bingung dengan perkataan dan kelakuan tuan muda nya yang tiba-tiba seperti ini.
"Apa maksud anda tuan muda saya tidak mengerti? " Zaed masih bingung.
Aslan mengambil vas bunga yang ada di meja kerja Zaed dan....
Prang....
Vas bunga terus pecah karena di lempar oleh Aslan ke arah dinding, dada Aslan naik turun karena mencoba menahan emosinya agar tidak meledak-ledak, akal sehatnya masih memikirkan persahabatan nya dengan Zaed dia masih menganggap Zaed adalah sahabat baiknya.
Aslan menatap tajam ke arah Zaed.
Tak lama Tuan besar Herald yang mendengar keributan di ruangan Zaed datang bersama asistennya dan berapa terkejutnya mereka melihat ruangan Zaed yang sudah berantakan karena ulah Aslan.
"Ada apa ini Aslan" tanya tuan Herald.
__ADS_1
Aslan langsung menatap tajam ke arah papahnya karena dia juga merasa terkhianati oleh orang tuanya sendiri.
"Papah juga sama saja, kenapa kalian seperti ini pada ku hah?! " Aslan ngamuk.
"Lan... elu kenapa tiba-tiba ngamuk begini sih? " Zaed berusaha bersabar dan kali ini dia membahasakan dirinya sebagai sahabatnya bukan sebagai asisten nya.
"Kenapa kalian merahasiakan kalau Laura adalah pelaku kejahatan itu hah kenapa?! " bentak Aslan pada Zaed.
Lutut Zaed terasa lemas saat mendengar ucapan Aslan.
"Lan.... maafin gue Lan tapi bukan maksud gue ngerahasiain ini dari elu tapi... "
"Tapi apa?! apa hah... elu lebih memilih dia dari pada gue begitu kan? kenapa Zay... kenapa? apa elu suka sama dia hah sampe segitunya elu ngebelain dia Zay" Aslan semakin ngawur.
"Bukan begitu Lan... "
"Asal elu tahu yang bikin kaki Nina sampe kaya begitu itu juga dia Zay... dia nyuruh orang buat nyelakain Nina Zay apa elu buta Zay... sahabat elu itu udah berubah jadi iblis betina bodoh?! " bentak Aslan pada Zaed.
Zaed dan tuan Herald yang mendengar perkataan Aslan langsung terkejut.
"Gue kecewa sama elu Zay... kecewa banget elu bukan sahabat gue lagi Zay... bukan... sahabat elu itu perempuan gila itu dan laki-laki nggak tahu diri itu mereka sahabat elu, bukan gue" Aslan lalu pergi meninggalkan ruangn Zaed tanpa menatap ke arah papahnya.
"Aku nggak mau dengar apa pun, aku mundur dari perusahaan papah, aku mau mandiri bersama istri ku nanti, aku nggak mau bawa-bawa nama papah dalam kehidupan aku" ucap Aslan dingin sebelum dia meninggalkan ruangan Zaed.
Tuan Herald tertegun saat mendengar perkataan Anaknya, dirinya tak bisa berkata-kata lagi karena dirinya tahu sifat anaknya yang sangat keras tak bisa membujuk Aslan disaat dirinya sedang emosi seperti ini, karena percuma dan tak akan di dengar kan olehnya.
Aslan berjalan cepat kearah lift dia lalu menekan tombol untuk turun dari lantai tersebut, saat pintu lift terbuka Aslan pun berjalan keluar dari kantor dan pergi meninggalkan kantor tanpa mobil atau pun motornya.
Aslan naik tadi online menuju rumah sakit, dia berencana untuk membawa Nina pergi jauh dari sini, dia tak mau melibatkan Nina dengan keluarga nya lagi, dia ingin menjalani rumah tangga dengan Nina hanya berdua saja tanpa ikut campur urusan orang tuanya.
Tadi online yang membawa Aslan pun tiba di rumah sakit dan Aslan segera membayar dan turun dari dalam tadi tersebut dan berjalan memasuki rumah sakit, dia berjalan dengan cepat di lorong rumah sakit dan menuju ruang VVIP.
Sesampainya dia ruang VVIP dia langsung mendekati brankar Nina disana ada Wiwid yang menjaga Nina, dan tanpa bicara apa pun Aslan tiba-tiba langsung melepas infusan yang masih menancap di tangan Nina.
"Tuan Muda kenapa? "Wiwid kebingungan.
" Diam kau?! "ucap Aslan dingin.
" Kak ada apa? "tanya Nina yang juga kebingungan dengan sikap kekasihnya.
" Ikut aku ya... nanti aku ceritakan semuanya, kau tidak perlu di rawat lagi kita pergi dari sini"ucap Aslan lembut dia lalu menggendong Nina dengan cara bridal style dan membawa Nina keluar dari ruang rawatnya.
__ADS_1
"Kau pulang lah Wid dan jalani hari-hari mu seperti biasanya dan Terima kasih karena sudah menjaga calon istri ku selama ini" ucap Aslan pada Wiwid.
"Baik tuan muda" ucap Wiwid yang sebenarnya masih kebingungan dengan sikap Aslan yang tiba-tiba seperti ini.
Aslan menggendong Nina di sepanjang lorong rumah sakit, semua mata tertuju padanya yang menggendong seorang gadis seperti itu di lorong rumah sakit, Aslan pun menurunkan Nina di depan halte rumah sakit mereka menunggu taxi online yang di pesan Aslan.
"Kak kita mau kemana? " tanya Nina bingung.
Saat Aslan mau menjawab tiba-tiba taxi online yang Aslan pesan pun tiba dan Aslan akhirnya menunda berbicara dengan Nina dan memilih untuk masuk kedalam taxi.
Saat di dalam taxi baru lah Aslan berbicara.
"Sayang apa kau masih mau dengan ku bila aku bukan seorang CEO lagi? " tanya Aslan tiba-tiba dia bahkan menganggap kedua tangan Nina.
Nina tersenyum pada Aslan saat mendengar Aslan mengatakan perkataan itu.
"Aku akan tetap bersama mu apa pun yang terjadi karena kau pun selalu ada untuk ku di saat aku membutuhkan sandaran kak" ucap Nina lembut.
Aslan membelai wajah kekasihnya.
"Terima kasih ya sayang... sekarang kita temui ayah mu dan segera menikah dan kita tinggal kan kota ini kalau perlu negara ini sekalian" ucap Aslan yang membuat Nina semakin terkejut.
"kakak itu kenapa? kenapa mendadak seperti ini hem? " tanya Nina lembut dia bahkan membelai wajah Aslan.
"Saat ini tidak ada yang bisa aku percaya selain kamu sayang, jadi aku mohon jangan khianati kepercayaan ku ya? " pinta Aslan.
Nina hanya mengangguk saja Aslan pun akhirnya tersenyum pada Nina begitu pun sebaliknya.
Di sisi lain di rumah sakit dokter Ryan yang mendapatkan kabar kalau Aslan membawa kabur Nina langsung pusing bukan kepalang mengahadapi kalakuan adiknya yang selalu semaunya sendiri.
Tiba-tiba dokter Ryan mendapatkan telpon dari tuan Herald menanyakan keberadaan Aslan dan dokter Ryan pun bercerita kalau Aslan dengan nekat nya membawa kabur Nina dari rumah sakit, hingga membuat tuan Herald semakin pusing saja dengan anak bungsunya itu.
"Astaghfirullah Aslan apa-apaan sih anak itu dia bawa kabur anak orang, entah kemana dia membawa anak gadis itu hem errrrr" tuan Herald geram sendiri.
"Tuan besar tenang saja saya sudah menyuruh satu orang kepercayaan kita untuk mengikuti tuan muda dan kita akan mendapatkan informasi dari nya nanti kemana tuan muda pergi" jelas tuan Zainul.
"Huft... anak itu keras kepala sekali Zain aku bingung harus mendidiknya seperti apa, aku bukan membela Laura tapi aku tahu dia pasti akan lebih gila dari ini bila dia tahu lebih awal sebelum Laura di penjara, bisa-bisa dia yang masuk penjara karena dia yang akan membunuh Laura bila dirinya tahu sejak awal"ucap Tuan Herald kesal.
sementara sang asisten hanya mengangguk dan membenarkan perkataan tuan besar nya ini.
Bersambung.
__ADS_1