My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Sikap Yang Berbeda


__ADS_3

Zaed tergelak saat mendengar omelan Alice.


"Lagian gue masih muda Lice, gue bukan Aslan yang kebelet mau nikah dan bikin cucu buat tuan besar" gerutu Zaed.


Alice langsung tertawa geli saat mendengar ucapan Zaed, dia tak menyangka kalau sahabatnya ini bisa berfikir seperti itu tentang sepupunya.


"Udah lah... gue mau balik dulu, gue capek banget hari ini, cape fisik dan juga fikiran" keluhannya.


Alice pun mempersilahkan Zaed untuk pulang dan beristirahat di rumahnya, dia sangat mengerti tentang pekerjaan Zaed saat ini menjadi asisten Aslan bukanlah hal yang mudah, dia harus bisa menghandle semuanya bila Aslan tidak bisa datang ke kantor seperti hari ini.


Alice menatap adiknya yang masih terlelap di sofa.


"Hem... kalian sungguh beruntung karena di cintai oleh orang-orang seperti itu, kau dan juga Aslan sungguh beruntung Aletta" gumam Alice.


Alice pun meninggalkan Aletta sendirian dan pergi bekerja lagi di UGD.


Malam semakin larut, Alice pun telah selesai bekerja, dan kembali ke ruangannya dan di dapati. adiknya itu sudah bangun dari tidurnya.


Aletta melihat kakaknya masuk ke ruangannya dan langsung bertanya bagaimana dirinya bisa sampai ke ruangan kakaknya padahal tadi dia tertidur di mobil Zaed.


Alice mencebik saat adiknya bertanya pertanyaan konyol semacam itu.


"Ish... kenapa kakak malah cemberut, apa aku tidur sambil berjalan tadi hingga aku bisa sampai di ruangan ini? " tanya Aletta polos.


"Mana ada orang tidur sambil berjalan bodoh!" Alice sewot.


"Terus bagaimana aku bisa sampai disini kak? " tanyanya dengan tampang polosnya.


Astaghfirullahalazim Zay begini mau elu jadiin istri?. 🤦‍♀️


Batin Alice.


"Kak.... kakak.... kenapa kakak malah memegangi kepala, apa kakak pusing mau aku pijat? " Aletta malah ngoceh tak karuan.


"Sudah-sudah ayo kita pulang ke apartemen, oia kamu berapa hari libur sekolah dan mau merepotkan Zaed? " tanya Alice.


"Dua minggu kak" jawabnya polos.


"Ooo ya sudah apa Zaed sudah tahu kalau kau akan berada disini selama itu? " tanya Alice.


"Belum... tapi aku kesini bukan ingin menghabiskan liburan ku dengan kak Zay" jelasnya.


"Lah terus dengan siapa? kakak sudah bekerja dan repot bila harus meladeni mu" tanya Alice bingung.

__ADS_1


"Aku akan berlibur dengan teman ku kak namanya Gani" jelas Aletta polos.


"Gani? anak laki-laki? sejak kapan kau berteman dengan anak laki-laki hah?! " Alice ngomel.


"Sejak dia minggu yang lalu aku kenal dia dari sosial media, kita janji akan ketemuan nanti di kota ini" jelas Aletta polos.


"Astaghfirullah Aletta nggak Aletta itu bahanya kakak nggak akan kasih ijin ke kamu untuk ketemuan sama orang yang nggak jelas" omel Alice.


"Kakak ish... kita itu cuma berteman kak nggak lebih dari itu" rengek Aletta.


"Nggak Aletta sekali nggak tetap nggak, atau aku akan hukum kamu nantinya" ancam Alice.


Aletta langsung cemberut saat mendengar ancaman kakaknya. karena Aletta tahu kakaknya ini tidak pernah main-main bila sudah mengancam pasti akan di wujudkan ancaman itu bila dia tidak menurut.


Alice sangat tegas pada Aletta karena adiknya itu sangat polos dia takut terjadi hal yang tidak baik. pada adiknya di usianya yang masih belia.


"Tapi kakak boleh berteman dengan anak cowo seperti kak Zaed" ucapnya merajuk.


"Zaed berbeda Aletta dia, itu Laki-laki yang bisa menjaga sahabatnya, kakak kenal dia sejak kami SMP jadi kakak tidak takut padanya"jelas Alice.


Aletta mencebik saat mendengar perkataan kakaknya.


" Kakak tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada mu Aletta, bila kau kenapa-kenapa kakak pasti akan merasa menyesal seumur hidup kakak dan kakak juga tidak bisa membayangkan murkanya orang itu seperti apa bila terjadi sesuatu yang buruk. pada dirimu "jelas Alice lembut.


Aletta nampak berfikir siapa orang di maksud oleh Alice itu.


" Ck... ada lah seseorang yang sangat menyanyi mu seperti kakak dan kak Aslan "jelas Alice dia tidak mau memberitahu Aletta siapa orang yang di maksud olehnya.


Alice dan Aletta pun berjalan di lorong rumah sakit, dan saat mereka sedang berjalan mereka berdua melihat Aslan sedang berjalan mendorong kursi roda yang di duduki Nina, Aletta yang melihat itu langsung berlari ke arah Aslan, Alice ingin mencegahnya pun tidak bisa karena anak itu langsung nyelonong saja ke arah Aslan.


"Abang.... " pekik Aletta.


Aslan yang melihat Aletta mendekat padanya langsung membelalakan matanya karena terkejut dengan kedatangan adik sepupunya itu.


Aletta nampak. kegirangan saat melihat Aslan bahkan dia langsung memeluk tubuh Aslan padahal tangan Aslan sedang memegang pegangan kursi roda Nina.


Nina yang melihat itu terlihat bingung hingga dia terdiam seribu bahasa, Alice yang bisa membaca situasi langsung berjalan cepat kearah mereka dan menarik tangan Adiknya.


"Aletta.... " Alice geram.


"Kakak kenapa? " tanyanya polos.


Alice tersenyum canggung pada Nina.

__ADS_1


"Maaf ya Nin... ini adik ku dia baru datang tadi dari luar negeri dan langsung diantar Zaed kesini, karena aku tidak mungkin membiarkan nya sendirian di apartemen" jelas Alice.


Nina lalu tersenyum pada Alice dan Aletta.


"Dia siapa kak? " tanya Aletta pada Alice.


"Dia calon istri abang Aslan" jelas Alice.


"Hah... abang mau menikah?" Aletta nampak terkejut dia lalu melepaskan pelukannya dari Aslan dan melihat ke arah kakaknya sendiri.


"Kenapa ngeliatin nya begitu?! " Alice sewot Alice pun langsung menarik tangan Aletta dan membawanya menjauh dari Aslan dan Nina.


Nina yang melihat itu tersenyum.


"Kak... itu adik dokter Alice? " tanya Nina.


"Iya dia sudah seperti adik ku sendiri jadi kamu jangan cemburu padanya bila dia bertingkah seperti tadi ya... " jelas Aslan.


"Ooo tidak kok" jawab Nina singkat padahal dia tadi sempat merasa kesal karena tiba-tiba ada seorang gadis yang memeluk kekasihnya di depan matanya dengan mudahnya.


"Dia kesayangan Zaed" Aslan lalu menjelaskan lagi.


"Hah kak Zaed? " Nina terkejut.


Aslan tersenyum dia sudah menebak reaksi Nina akan seperti ini bila dia mengatakan ini.


Aslan lalu menceritakan semua tentang Aletta dari mulai kelahiran Aletta hingga akhirnya Aletta tumbuh semakin besar, dan diantara mereka bertiga Zaed lah yang sangat menyanngi Aletta, bahkan Zaed pernah mengamuk saat Aletta dia ganggu oleh teman sekolah nya, karena Aletta selalu bercerita apa saja pada Zaed bahkan saat dia datang bulan pertama kali saja Zaed yang di beritahu duluan olehnya bukan kakak kandung nya tapi Zaed.


"Apa kak Zaed hanya menganggap Aletta itu adiknya atau... " ucapan Nina menggantung.


"Hihi menurut mu? " Aslan malah bertanya balik.


"Nggak tahu juga sih aku belum pernah melihat mereka berdua berinteraksi seperti apa, tapi yang aku tangkap dari cerita kakak Aletta sepertinya sangat menyukai kak Zaed"


"Aletta menganggap Zaed itu kakak dia masih polos, sekarang saja dia baru duduk di bangku SMA" jelas Aslan.


"Tapi kenapa semua dia cerita kan pada kak Zaed dari pada Alice? " tanya Nina bingung.


"Karena Alice itu cerewet dan Aletta tidak suka dengan itu berbeda dengan Zaed, Zaed itu tidak banyak bicara bila sudah berhadapan dengan si kecil Aletta" jelas Aslan.


Nina ter bengong saat mendengar perkataan Aslan yang mengatakan kalau Zaed menjadi pendiam saat dengan Aletta. Sedangkan yang dia tahu Zaed itu orangnya ceplas-ceplos sama seperti Aslan, oleh karena itu mereka bisa bersahabat karena se frekuensi.


Entahlah kenapa dengan Zaed bila berhadapan dengan Aletta dirinya menjadi seorang pria yang berwibawa dan bisa menjaga seorang Aletta, berbeda dengan Zaed yang biasanya yang sering berinteraksi dengannya atau dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Itulah cinta sayang bisa mengubah karakter seseorang, bila Zay biasanya friendly pada semua orang tapi bila dengan Aletta entah kenapa dirinya menjadi gunung es, alias tidak banyak berbicara dan tidak. sembarangan bertingkah entah lah aku juga bingung hihi" jelas Aslan yang kebingungan dengan tingkah temannya yang berbeda bila berhadapan dengan orang yang dicintainya.


Bersambung.


__ADS_2