
Mobil yang di kendarai oleh Aslan telah tiba di dekat kawasan pabrik tempatnya bekerja, begitu banyak orang yang berjalan menelusuri pinggir jalan khusus pejalan kaki.
Begitu banyak orang yang berjalan dari berbagai pabrik yang ada di kawasan tersebut, Nina melihat kearah samping kaca mobil dan dia melihat sahabatnya Wiwid sedang berjalan sendirian.
"Aslan berhenti itu ada Wiwid" Nina meminta Aslan menghentikan mobil nya.
"Sudah biarkan saja, nanti juga kalian akan bertemu di pabrik" ucap Aslan cuek.
"Ish.... ya sudah kalau kau tidak mau memberikan tumpangan turun kan aku disini aku mau berjalan bersama Wiwid" Nina ngambek.
"Sayang... bukan begitu... " Aslan mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya ini.
"Turunkan aku" Nina cemberut dia juga sudah melepaskan seat belt nya.
Aslan akhirnya mengalah dan membiarkan kekasihnya itu turun ditengah jalan dan membiarkan nya berjalan bersama sahabatnya itu.
Nina membuka pintu dan keluar dari mobil dengan wajah yang masih cemberut, dia marah karena Aslan tidak mau memberikan tumpangan pada sahabatnya, Aslan hanya menggeleng pelan saja melihat kekasihnya merajuk.
Aslan menjalankan mobilnya setelah memastikan Nina sudah bersama Wiwid.
"Wiwid... " panggil Nina.
Wiwid langsung menoleh ke arah panggilan tersebut wajahnya langsung berbinar senang saat melihat sahabatnya sekarang ini berada di jalan yang sama dengannya.
Dan dengan hati yang bahagia Wiwid langsung menghambur berlari ke arah Nina dan memeluk sahabatnya itu.
"Aaaaa Nina gue kangen sama elu, akhirnya kita kerja bareng lagi" ucapnya saat memeluk sahabatnya itu.
Orang-orang yang lewat dijalan yang sama dengan mereka melihat itu dengan tatapan yang aneh pada mereka, mereka berdua yang merasa di lihatin oleh orang-orang yang berlalu lalang disana pun akhirnya hanya tertawa saja tak memikirkan pandangan orang pada mereka.
"Elu nggak dijemput Aslan? " tanya Wiwid.
"Di jemput kok" Nina terlihat kurang bersemangat.
"Lah kok elu jalan sendirian? " Wiwid bingung.
"Aku minta turun di jalan tadi karena melihat kamu berjalan sendirian jadi aku minta turun dan berjalan bersama mu" jelas Nina.
"Aih... elu emang sahabat terbaik nggak rela liat sahabat nya jalan sendirian, maklum lah ya gue kan jomblo hihi"
Mereka pun berbincang dan bersenda gurau saat berjalan menuju pabrik.
Dan saat sampai di depan gerbang pabrik, Nina seolah melihat sekelebat banyangan, banyangan yang seolah diri nya pernah mengalami banyak kejadian di pabrik tersebut. hingga kepala Nina terasa pusing.
__ADS_1
"Nina... elu kenapa? " tanya Wiwid.
"Ehm nggak tau tiba-tiba kepala aku pusing begini ya" ucap Nina sambil memegang kepala nya.
"Sini duduk dulu" Wiwid mengajak Nina duduk di kursi taman pabrik.
"Ssshhhh" keluh Nina.
"Kok Elu tiba-tiba pusing begini elu dah sarapan belum sih? " tanya Wiwid yang memberikan minyak kayu putih yang dia bawa di dalam tasnya pada Nina agar pusing di kepala nya sedikit berkurang.
"Udah tadi sebelum berangkat kesini aku sudah makan roti lapis, nggak tahu nih pas sampe gerbang itu aku kaya ngelihat bayangan-bayangan yang nggak asing gitu Wid, apa ini memori ku ya? " jelas Nina.
"Hem... bisa jadi sih, mungkin karena disini banyak kenangan elu jadi banyangan itu muncul. karena seolah memori di ingatan elu itu ter refresh gitu Nina" jelas Wiwid.
Aslan yang sudah tiba di kantor sejak tadi, memasang wajah kesal karena dirinya tadi sempat tidak sependapat dengan Nina di jalan dan Nina tidak. mau menurutinya dan malah memilih sahabatnya dari pada dirinya.
Zaed masuk keruangan Aslan.
"Tuan muda sebentar lagi acara penobatan anda akan segera di mulai" ucap Zaed formal.
"Zay apa dia sudah tiba? " tanya Aslan.
Zaed tahu siapa yang di maksud oleh Aslan dan mengatakan kalau Nina dan Wiwid sudah tiba sejak tadi dan mereka juga sudah ada di aula bersama dengan karyawan pabrik yang lain.
Aslan pun akhirnya mengancingkan kancing jasnya yang terbuka dan berjalan keluar ruangannya untuk. menyambut kedatangan papahnya.
Dan ternyata tuan Herald tidak datang sendiri dia datang bersama dokter Ryan juga.
"Ck... gantengnya adik ku ini" goda dokter Ryan.
"Ryan jangan ganggu dia bisa gawat kalau moodnya berubah sebelum penobatan bisa-bisa kau juga yang akan di repotkan olehnya" ucap tuan Herald tegas.
Asisten tuan Herald memberitahu kalau acara dan semua persiapan sudah rampung dan acara sudah siap untuk di mulai.
Tuan Herald, dokter Ryan, Aslan dan kedua asistennya itu pun berjalan beriringan menuju aula yang bisa di jadikan tempat untuk acara di perusahaan ini.
Semua karyawan yang sedang berbincang-bincang satu dengan yang lain lansung terdiam ketika mendapatkan arahan dari seorang manager sekaligus panitia acara ini.
Sementara Nina celingukan kesana kemari dia mencari keberadaan Aslan, karena sejak diri nya masuk ke pabrik ini dirinya tak menemukan Aslan sama sekali. tapi tak lama dia mendengar seorang seniornya mengucapkan namanya.
"Itu bukannya Aslan sama Zaed ya? " bisik seniornya.
"Eh... iya mereka keren dan ganteng banget pake pakaian kantor begitu" ucap seniornya yang satu lagi.
__ADS_1
Nina langsung menoleh ke arah samping panggung dimana disana tempat para petinggi perusahan.
"Apa jangan-jangan gosip itu benar ya kalau Aslan itu calon CEO kita" ucap seniornya yang lain.
Nina hanya terdiam mendengarkan para seniornya bergosip, sedangkan Wiwid hanya santai saja karena dia sudah tahu lebih dahulu.
"Wid... " bisik Nina memanggil Wiwid.
"Hem" jawab Wiwid singkat.
"Apa yang di katakan mereka itu benar? " tanya Nina pada Wiwid.
"Apaan? " Wiwid pura-pura tidak mengerti.
Tiba-tiba ada seniornya yang nyeletuk pada Nina.
"Wih Nina... kamu beruntung banget sempat dekat sama Aslan kalau Aslan beneran CEO baru kita" ucap seniornya.
Nina hanya memiringkan kepalanya saja karena dia kurang mengerti perkataan yang di maksud oleh seniornya ini.
"Ck apaan sih mbak ini hehehe" Wiwid berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia tahu sekarang ini diri-Nya harus merahasiakan tentang hubungan Nina dengan Aslan karena status sosial mereka ditambah lagi Nina yang hilang ingatan membuat Nina jadi tidak mengerti dengan yang di maksud oleh para seniornya.
Wiwid akhirnya membawa Nina agak jauh dari para seniornya yang sedang bergosip, agar Nina tidak kepikiran dan kepala nya jadi pusing lagi.
Dan sebenarnya Aslan pun sedang gundah gulana karena memikirkan kekasihnya yang saat ini ada dimana karena dirinya tidak bisa menatap Langsung kearah karyawan yang berkumpul kare sofa yang dia duduki membelakangi para deretan karyawan.
"Siapa yang ngatur posisi sofa kaya begini sih Zay?! " bisik Aslan kesal.
gue tahu elu kesel bukan karena posisi sofa tapi karena elu nggak bisa lihat pacar elu kan dasar bucin.
"Zay... elu di tanya malah diam ajah" Aslan kesal.
"Maaf tuan muda saya tidak tahu" ucap Zaed sopan.
Aslan kesal dan berdecak karena jawaban Zaed yang sangat menyebalkan buat dirinya.
Disaat semua orang sibuk dengan acara penobatan CEO baru di aula, sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki gerbang pabrik dan menuju area parkir petinggi perusahan.
Dari dalam mobil keluar lah seorang wanita cantik memakai dress selutut berwarna kuning gading, memakai heels dan berjalan dengan anggunnya memasuki pintu masuk perusahaan, rambutnya yang berwarna merah keunguan dan keriting gantung membuat nya semakin terlihat elegen saat dirinya berjalan.
Wanita cantik itu pun di bawa oleh seseorang orang dan di minta untuk menunggu di sebuah ruangan tak jauh dari aula.
Bersambung.
__ADS_1