
Wiwid yang berjalan tergesa di lorong setelah pulang dan membawa semua keperluan Nina di rumah sakit, langkahnya yang tergesa terhenti ketika dia menabrak punggung seseorang hingga dia pun terjatuh dan bokongnya menyentuh lantai.
"Aw.... " keluh Wiwid yang kesakitan di bagian bokongnya.
"Eh... maaf mba... mba nggak apa-apa? " tanya seorang pemuda yang di tabrak oleh Wiwid.
"Eh iya nggak apa-apa" Wiwid bangun dari jatuhnya.
Pemuda itu memandang Wiwid dengan lekat Wiwid yang merasa di lihatin seperti itu jadi risih sendiri.
"Kamu kenapa ngeliatin nya begitu?! " tanya Wiwid ketus.
"Ehm... maaf mba tapi saya sepertinya pernah ketemu sama mba sebelumnya" pemuda itu nampak berfikir.
"Ck di dunia ini memang ada beberapa orang yang berwajah agak mirip mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang berwajah mirip dengan saya" Jelas Wiwid.
"Sudah ya... saya buru-buru ini" Wiwid pun berjalan kembali melintasi pemuda itu.
Tapi baru juga dua langkah pemuda bersuara lagi hingga membuat langkah Wiwid terhenti.
"Ah... saya ingat kamu gadis yang waktu itu membohongi saya" ucap pemuda itu.
Wiwid menoleh ke arah pemuda itu dengan wajah bingung.
"Membohongi mu? kapan kita ajah baru bertemu saat ini? " Wiwid seolah tak terima tuduhan pemuda itu.
"Mba yang waktu itu bohongin saya, waktu itu mba bilang mba habis lihat hantu di sini, saya sampai ketakutan waktu itu untung ada cowo ganteng yang bilang nggak ada hantu jadi saya nggak jadi takut deh" jelas pemuda itu polos.
Wiwid mencoba mengingat kejadian beberapa waktu lalu dan dia pun teringat dengan pemuda laundry ini, Wiwid pun terkikik mengingat hal itu.
"Hahaha maaf ya... kamu jadi ketakutan begitu, tapi maaf kali ini saya juga harus buru-buru karena pacar tuan muda anak pemilik rumah sakit ini dirawat disini lagi" jelas Wiwid.
"Oooo begitu jadi mba ini temannya tuan muda? " tanya pemuda itu polos.
"Bukan sih saya itu teman pacarnya tuan muda kalau sama tuan muda saya itu ya sama seperti kamu hanya bawahannya yang paling bawah hahah sudah ya... bye... " Wiwid pun pergi meninggalkan pemuda laundry itu di lorong dan menuju ruang rawat VVIP tempat dimana Nina di rawat.
Pemuda laundry yang ditinggalkan Wiwid di lorong berfikir dia jadi penasaran ingin tahu wajah tuan muda anak pemilik rumah sakit ini, karena yang dia tahu baru dokter Ryan saja.
Wiwid pun memasuki ruang rawat Nina tapi Nina masih belum bangun dan Aslan masih setia duduk di sisi brankar Nina.
Wiwid menaruh pakaian Nina di lemari kecil. yang tersedia di ruangan tersebut, dan karena dia harus dia pun mengambil minuman di dispenser yang tersedia disana, menghilangkan dahaga nya.
Sementara Zaed duduk di sofa sambil memeriksa pekerjaan di lap Topnya. dan Wiwid pun duduk di sofa seberang Zaed.
__ADS_1
Tak lama Nina pun mencoba membuka matanya perlahan.
"Ehm.... ssehhhh"
Semua yang ada di ruangan pun bangkit dari duduknya terutama Aslan mereka mencoba melihat keadaan Nina.
Nina yang sudah membuka matanya, nampak bingung saat melihat ke sekeliling nya dan lebih bingung lagi saat dia melihat Aslan ada di samping nya.
"Kak Aslan? " ucap Nina pelan.
"Iya... apa yang kau rasakan saat ini hem? " tanya Aslan lembut.
Zaed dan Wiwid hanya melihat Nina agak jauh mereka tidak berani mendekat karena tak ingin Aslan merasa terganggu.
"Kaki ku sakit sekali kak... hiks... hiks... " Nina menangis dia menangis bukan karena rasa sakit yang dia rasakan tapi mengingat dirinya tak bisa berjalan lagi, dan pupus lah sudah mimpinya untuk meraih pendidikan yang dia impikan selama ini.
"Jangan menangis, aku akan panggil Alice untuk memriksa mu ya" Aslan mengelus air mata yang menetes di pipi Nina dengan lembutnya.
Aslan menekan bel ruangan perawat dan meminta perawat memanggil dokter Alice untuk memeriksa Nina yang sudah sadar.
Aslan berusaha menenangkan Nina dia membelai rambut gadis itu.
"Sudah jangan menangis kamu masih bisa meraih impian mu,meski tidak saat ini" ucap Aslan lembut.
"Bisa kamu pasti bisa berjalan lagi kok tenang lah... aku akan bantu kamu" Aslan membelai wajah Nina lembut dan menatap wajah itu dengan tatapan lembut.
Nina melihat wajah Aslan yang menatap nya penuh dengan kasih sayang hingga tangis nya semakin menjadi, bukan karena apa dia jadi teringat dirinya yang selalu menyakiti Aslan menolak Aslan berkali-kali tapi Aslan masih saja selalu ada di sisinya bila dia membutuhkannya.
Nina menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena menangis. entah kenapa tangan Aslan terulur untuk memeluk kepala gadis itu, dan Nina pun menangis di dada Aslan menangis tersedu.
Wiwid yang melihat itu pun menitikan air matanya di ujung matanya tapi segera dia hapus karena tak mungkin dia ikut-ikutan menangis saat ini, sedangkan Zaed hanya menghela nafasnya dalam dan memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya saja.
Tak lama Alice datang bersama seorang perawat, Wiwid pun pamit keluar untuk mencari udara segar dan membiarkan semua yang ada disana menangani Nina.
Wiwid berjalan menulusuri lorong dan menuju taman di rumah sakit tersebut dia duduk di taman dan menatap lampu taman yang menerangi air mancur kecil yang ada di tengah-tengah taman tersebut.
"Beruntung nya Nina, mungkin inilah yang dinamakan buah dari kesabaran nya selama ini, setelah di usir oleh ayahnya dan mengalami banyak hal buruk tapi dia, selalu disayang oleh kita semua, dan yang terpenting dia punya Aslan yang tulus mencintainya" gumam Wiwid.
Wiwid yang sedang bengong dan berbicara sendirian tak sadar ada yang mendekati nya dan menyodorkan sebungkus roti di depannya.
"Mba baik-baik saja kan? " ucap pemuda laundry yang datang tiba-tiba dan memberikan sebungkus roti pada Wiwid.
Wiwid menoleh terkejut saat melihat pemuda tersebut.
__ADS_1
"Ish... elu ngegetin ajah?! gue kira hantu mana yang mau kasih roti ke gue malam-malam begini" Wiwid sewot.
"Hahaha mba... mba... mana ada hantu yang seganteng dan semanis saya" ucap pemuda itu dengan percaya dirinya.
Wiwid pun tertawa kecil saat melihat pemuda itu tertawa.
"Mba ngapain disini? " tanya pemuda itu.
"Seharusnya gue yang nanya elu ngapain disini bukan nya kerja nanti ketahuan tuan muda Aslan elu di maki-maki sama dia loh" Wiwid sewot.
"Oh... nama adik nya dokter Ryan itu tuan muda Aslan? " tanya pemuda itu polos.
"Iya emang elu baru tahu? " tanya Wiwid sewot.
"Iya saya baru kerja disini baru tiga bulan mba jadi belum tahu orang-orang atas seperti mereka" jawab pemuda itu sangat polos.
"Ooo begitu"Wiwid akhirnya mengerti.
" Saya lagi istirahat mba... pekerjaan saya sudah selesai sebentar lagi saya juga pulang, mba sendiri ngapain disini? "tanya pemuda itu.
" Itu temen gue lagi di periksa sama dokter Alice, gue nggak mau ganggu jadi gue kesini ajah lagi pula di sana ada tuan muda Aslan kok yang pastinya bakalan nemenin Nina sepanjang malam ini"jelas Wiwid.
"Sebegitu cintanya tuan muda sama temennya mba ya? " tanya pemuda itu.
"Hem... ya gitu deh"
"Sakit apa sih pacarnya tuan muda itu? " tanya pemuda itu polos.
"Dia kecelakaan tadi siang dan lututnya pecah padahal dia baru lulus ujian seleksi dapat beasiswa ke luar negeri tapi mungkin belum rezekinya dia kali ya... jadi dia mengalami kecelakaan ini" jelas Wiwid.
"Hem... bisa jadi sih mba"pemuda itu hanya manggut-manggut saja.
Saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba ada yang menegur dari belakang mereka.
" Ujang... astaghfirullah elu di cariin tuh sama pak Agus malah asik pedekatean sama penunggu pasien"ucap seorang wanita dari belakang mereka.
"Oh iya mba sebentar, saya kesana" Ujang si pemuda laundry itu pun beranjak dari kursi di taman.
"Mba saya tinggal dulu ya... supervisor saya nyariin saya"Ujang pun pamit pada Wiwid dan meninggal kan Wiwid sendirian di taman.
Wiwid tersenyum saat melihat punggung Ujang menjauh dari dirinya.
" Jadi namanya Ujang hihi, eh kenapa gue jadi seneng begini sih astagfirullah "Wiwid beristighfar dan memegangi pipinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.