
Setelah dua belas jam berlalu.
di sebuah ruang ICU, seorang pemuda mencoba membuka matanya perlahan, dari telinganya dia tak mendengar suara bising sama sekali hanya yang dia tangkap dari pendengarannya hanyalah suara pip... pip.. pip... suara yang tidak asing baginya.
Perlahan pria muda itu membuka matanya, sorot lampu di ruangan tersebut menyilaukan matanya yang baru saja terbuka.
"Sus.... pasien sadar" ucap seseorang yang asing baginya.
"Dimana ini? "tanya pemuda itu dengan suara serak.
"Hubungi dokter Ryan dia berpesan untuk menghubunginya bila adiknya sadar" ucap suster kepala.
"Baik dok"
Aslan melihat ke sekeliling nya semua dinding yang berwarna putih dan tirai berwarna hijau.
Dengan lemas dia baru tahu dirinya sedang berada dimana saat ini.
"Tuan... apa yang Anda rasakan saat ini? " tanya suster kepala.
Aslan hanya menggeleng pelan-pelan saja.
Dan setengah jam kemudian dokter Ryan datang langsung ke ICU dan memeriksa adiknya.
"Bagaimana bad boy enak rasanya? setelah hampir mati? " sindir kakaknya saat melihat adiknya sudah sadar.
"Ck.. apaan sih, siapa yang bawa gue kesini bang? "tanya Aslan.
"Teman-teman mu itu Zay dan siapa namanya aku lupa itu anak gadis yang manis itu" jelas dokter Ryan.
Aslan mengerutkan keningnya, mencoba berfikir siapa gadis yang dimaksud kakaknya.
"Dia yang menolong mu, mendonorkan darahnya untuk mu Aslan, kau harus berterima kasih padanya bila bertemu lagi nanti di pabrik" jelas dokter Ryan.
"Pabrik ?maksud abang? "
"Iya dia bilang kalian berteman karena satu kerjaan di pabrik Papah"
Aslan nampak berfikir siapa gadis baik hati yang menolong nya.
"Apa Zaed ada di luar? bisa aku bicara dengan nya? " tanya Aslan.
"Nanti saja setelah kau selesai di periksa dan di pindahkan ke ruang rawat" jelas dokter Ryan.
"Hem baiklah tapi tidak lama kan? " tanya Aslan.
__ADS_1
"Tergantung hehe"
"Ck abang ini" Aslan nampak kesal dan dokter Ryan senang menggoda adiknya bila sudah seperti ini.
"Aku tahu kau sangat penasaran dengan gadis yang menolong mu kan? hihi"
Aslan memalingkan wajah nya ke arah lain dia malas meladeni gurauan kakaknya.
sementara sang kakak setelah selesai memeriksa Aslan dirinya langsung memberitahu suster untuk. memindahkan adiknya ke ruang rawat yang sudah di persiapkan.
Brankar yang membawa Aslan pun keluar dari ruang ICU Zaed yang sejak semalam. hingga malam ini juga masih setia menunggu Aslan di kursi penunggu pun mengikuti para suster yang mendorong brankar hingga ke ruang VVIP.
Aslan melirik tajam kearah sahabatnya itu, dan Zaed yang tahu arti lirikan itu pun hanya mengangguk saja.
Saat di ruang rawat para suster memeriksa semua kelepkapan dan kondisi Aslan sebelum mereka kembali ke ruangan mereka dan menyerahkan laporan kepada perawat yang menjaga ruang VVIP tersebut. setelah selesai bertukar tugas Aslan pun di tinggal kan oleh para perawat.
Dan kini tinggal lah Aslan dan Zaed saja di ruangan tersebut.
Dengan rasa penasaran nya Aslan langsung bertanya pada Zaed siapa gadis yang menyelamatkan hidupnya dan rela menyumbangkan darahnya padanya.
"Ehmmm....itu... " Zaed ragu untuk memberi tahu Aslan.
"Zay... siapa orang yang udah nyelametin gue?! aw...akh..." sentak Aslan hingga dia merasa kan kesakitan di daerah luka nya karena mengeluh suara kencang.
Tiba-tiba Aslan menatap. ke arah meja sofa disana dia melihat ada jaket jeans yang berlumuran darah.
Zaed yang baru menyadari juga menoleh kearah yang di tunjuk Aslan.
Zaed mendekati meja dan mengambil jaket tersebut.
Ini kan jaket nya Nina yang dia buat untuk membungkus luka Aslan, kok ada disini apa dia semalam menginap disini ya?.
"Zay... sini coba gue lihat" Aslan penasaran.
Zaed pun memberikan jaket itu pada Aslan.
Aslan memperhatikan jaket itu.
"Kaya pernah lihat ini jaket tapi dimana ya? " fikir Aslan.
"Ya di tukang jualan baju lah Lan... " celetuk Zaed.
"Eh iya elu belum jawab pertanyaan gue, siapa yang nolongin gue? "tanya Aslan lagi.
" Tapi elu janji jangan kaget ya... "
__ADS_1
"Iya... siapa sih memang nya?! " Aslan kesal dan penasaran.
"Nina yang udah nyelametin elu" ucap Zaed pelan.
"Apa?! si cupu?! " Aslan kaget.
Zaed hanya mengangguk saja.
"Kok bisa ada dia sih? maksud gue kan kita semalam perang di.... " ucapan Aslan terhenti ketika dia ingat tempat mereka bertikai semalam, tempat tersebut memang dekat dengan sebuah kampus.
"Ah... jadi dia kuliah disana, eh tapi kenapa itu anak masih ngampus malem-malem? " tanya Aslan pada Zaed.
"Kata dia sih tadi dia itu lagi ada tugas dan diskusi gitu sama dosennya sampe akhirnya pulang nya kemaleman" jelas Zaed.
"Oo....begitu berarti sekarang dalam tubuh gue mengalir darahnya si cupu dong ya hehe" tanpa sadar Aslan tersenyum sendiri.
"Elu kenapa senyum-senyum? " tanya Zaed yang kebingungan karena sahabatnya ini tiba-tiba tersenyum sendiri.
"Ah... mau tau ajah lu, oia kasih tau semua anak geng habisin tuh si culas kurang ajar gara-gara dia gue hampir mati" Aslan ngomel.
"Iya udah di kerjain kok sama di Kodok dan Beni" jelas Zaed yang memilih duduk disofa.
"Oia kasih elu bisa bawa si cupu kesini nggak" ucap Aslan malu-malu.
Zaed yang melihat rona merah di pipi kawannya itu langsung tersenyum penuh arti.
"Jangan senyum-senyum sue lu, gue cuma mau bilang Terima kasih sama dia bego" omel Aslan lagi.
"Bilang Terima kasih boleh, bilang kangen boleh, bilang cin... " ucapan Zaed terputus saat Aslan membentaknya.
"Sue?! ngomong lagi gue pecat lu jadi temen" Aslan sewot.
Sementara Zaed terkikik melihat reaksi temannya.
"Cepet sana bawa si cupu kesini" perintah Aslan.
"Cupu-cupu tapi ngangenin kan? " ledek Zaed yang berjalan ke arah pintu untuk keluar.
"Sialan lu kunyuk" omel Aslan bila dirinya sehat dia tak akan membiarkan Zaed keluar dengan wajah ceria tanpa menerima bapao keras dari tangan Aslan.
Zaed pun keluar dari ruang rawat Aslan dia lupa membawa jaket Nina yang masih di pegang Aslan.
"Eh jaketnya" gumam Aslan saat melihat jaket Nina di tangannya.
Melihat jaket penuh noda darahnya Aslan menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Apakah dia yang disebut dewi penyelamat untuk gue? eh berarti dia tahu dong ya gue anak geng, ck tambah takut ajah dia nanti sama gue, eh tapi nggak sih kemarennya dia nggak takut sama gue dia berani ngelawan dan ngeledekin gue, sebenarnya karakter cewe ini tuh gimana sih ya? sikapnya suka berubah-ubah bikin bingung "gumam Aslan sendirian memikirkan sikap Nina padanya yang selalu berubah-ubah, tapi dia sendiri tak sadar kalau sikap dia pada Nina pun suka berubah-ubah.
Bersambung.