
Keesokan harinya.
Si sebuah mobil mewah kedua pria yang mengenakan pakaian formal kantor pun hanya duduk terdiam, dengan fikiran masing-masing, Aslan sedang memikirkan rencana pernikahannya yang secara mendadak di minta oleh papahnya, sedangkan Zaed sedang memikirkan apa yang dia lihat semalam di apartemen Laura.
kejadian semalam begitu membekas di ingatan Zaed hingga sampai pagi ini dirinya masih kepikiran tentang kejadian tadi malam.
Semalam saat dirinya sampai di basment untuk mengambil mobilnya, saat dia ingin membuka kunci mobilnya dia baru menyadari kalau kunci mobil tersebut tertinggal di unit apartemen Laura hingga dia pun memutuskan kembali lagi ke unit tersebut untuk mengambil kunci mobilnya.
Zaed menekan pintu unit milik Laura tapi tak kunjung dibuka oleh Laura, hingga Zaed pun akhirnya masuk sendiri karena sebenarnya dia sudah mengetahui kode kunci pintu unit Laura, bagaimana tidak karena apartemen itu dia yang mencarikannya untuk Laura.
Saat Zaed masuk ke dalam dan langsung berjalan ke ruangan tengah tempat dirinya dan Laura mengobrol, Zaed melihat pintu kamar Laura terbuka sedikit Zaed mengintip untuk memastikan Laura ada atau tidak di kamar nya, tapi saat Zaed mengintip.
Zaed melihat Laura memang berada di kamar nya tapi dia sedang melakukan hal yang di luar dugaan Zaed.
Laura sedang memegang pisau kecil dan ingin menggoreskan nya di urat nadi tangannya, Zaed yang panik langsung masuk ke kamar tersebut dan mencoba menghentikan tindakan Laura.
"Ra... elu apa-apaan?! " sentak Zaed yang berhasil menjatuhkan pisau yang di pegang Laura.
"Biarin gue mati Zay biarin gue mati?! " Laura histeris.
"Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi, di dunia ini bahkan elu sahabat gue dari kecil pun udah nggak anggap gue temen lagi, dan lebih ngebelain orang baru dari pada gue, mending gue mati ajah Zay... biarin gue mati" jerit Laura.
"Apa menurut lu kalo elu mati semua masalah elu selesai? nggak Ra... elu fikir, dengan elu mati elu bisa terbebas dari hukuman dunia begitu maksud elu? nggak Ra... seharusnya elu bertobat dan menyesali semua perbuatan elu bukan malah mati pas habis ngelakuin perbuatan jahat, bukan masuk surga langsung masuk neraka lu?! " ucap Zaed panjang lebar.
"Terus gue harus bagaimana Zay... hiks... hiks... Aslan pasti benci banget sama gue kalo dia tahu hal ini" Laura menangis.
"Ya elu bukannya mikir dulu sebelum bertindak, sekarang elu intropeksi diri lah kenapa semua orang sekarang ngejauhin elu jangan cari korban orang lain" Zaed mencoba menasehati.
"Apa salah gue Zay? apa? coba elu bilang ke gue apa gue salah mencintai Aslan sebab dia dulu juga mencintai gue"
"Tapi itu dulu Ra... sebelum elu khianati dia dengan Gio apa elu lupa itu hah?! " bentak Zaed.
__ADS_1
"Tapi Zay... gue begitu karena Aslan itu terlalu over protective sama gue, gue nggak suka dikekang Zay"
"Dia begitu karena dia sayang sama elu, tapi elunya emang nggak tahu diri" sentak Zaed lagi.
Zaed akhirnya mengambil pisau yang tadi di gunakan Laura dian pun menyingkirkan semua benda tajam dari dalam unit apartemen Laura agar Laura tak melakukan hal nekat lagi ketika dia pergi, tapi bila setelah ini Laura masih ingin melakukan percobaan bunuh diri Zaed sudah angkat tangan karena Zaed sudah berusaha semaksimal mungkin.
Kembali ke dalam mobil mewah yang sedang berjalan dan di kemudikan oleh sang supir.
"Zay... gimana apa udah ada perkembangan penyelidikan tentang kasus Nina? " tanya Aslan yang langsung memecahkan lamunan Zaed.
"Belum tuan muda saya belum mendapatkan laporan dari pihak penyidik" jelas Zaed.
"Hemm... tapi papah juga meminta bantuan temannya sih yang seorang penyidik juga semoga hari ini kita bisa segera menangkap pelakunya ya... " Aslan terlihat optimistis.
gimana reaksi elu ya Lan... pas tahu siapa. pelakunya, gue nggak bisa bayangin.
Zaed hanya bisa membatin.
"Elu kenapa sih dari tadi ngelamun mulu? " tanya Aslan.
"Eh tidak apa-apa tuan muda saya hanya memikirkan meeting nanti karena ini adalah project pertama anda saya takut saya melakukan kesalahan" jelas Zaed.
"Ooo itu kita kerja sama dan gue yakin project pertama kita akan berhasil" Aslan terlihat optimistis.
"Aura anda saat ini sungguh berbeda tuan muda ada apa gerangan, apa cinta anda sudah di Terima oleh Nina hihi" Zaed meledek.
"Mau tahu kenapa pagi ini gue jadi semangat begini? " tanya Aslan hingga membuat Zaed sedikit penasaran.
"Apa? " tanya Zaed polos.
"Gue akan segera menikah dan gue nggak perlu pacaran sama dia, kita pacarannya nanti setelah kita nikah" jelas Aslan.
__ADS_1
"Apa?! nikah?! " Zaed menjerit kaget.
"Biasa ajah sih?! " Aslan kesal.
"Maaf tuan muda tapi ini sungguh berita yang mengejutkan"
"Papah yang minta gue langsung menikah sama Nina" Aslan berkata sambil tersenyum-senyum.
"Terus Laura gimana bukanlah Tuan besar.... " Zaed tak melanjutkan kata-katanya saat melihat Aslan sudah melotot padanya.
"Maaf tuan muda" Zaed langsung tahu dirinya salah bicara karena menyebutkan nama Laura saat ini.
"Gue lagi bahagia jangan rusak suasana hati gue ngerti lu?! " ucap Aslan tegas.
"Iya tuan muda maaf" Zaed merasa bersalah.
Mobil yang mereka tumpangi itu pun akhirnya tiba di depan pintu kantor, mereka berdua pun turun dari dalam nya dan berjalan ke dalam kantor, tapi sebelum Aslan masuk kedalam kantor dia sempat melihat ke arah area pabrik, tempat penuh kenangan bersama Nina.
Seutas senyum menghiasi wajah Aslan saat dia mengingat bagaimana dia selalu mengomeli Nina, dia ingat dirinya dulu sangat tidak ramah pada Nina, padahal di belakang gadis itu Aslan selalu memperhatikan gadis itu dari jauh, tapi dia menyimpan perasaan itu dibalik perlakuan tidak ramahnya.
"Tuan muda maaf mau sampai kapan anda tersenyum disini? " tanya Zaed yang langsung membangunkan lamunan Aslan.
"Ck ganggu kesenangan gue ajah lu, gue lagi mengenang masa-masa gue kerja di pabrik sama calon istri gue hehe" dengan penuh percaya diri nya Aslan mengatakan hal itu.
"Jadi anda melangkahi pak dokter gitu? " tanya Zaed yang setahun dia kakanya sudah bertuangan sejak lama tapi belum kunjung menikah sampai saat ini.
"Papah yang minta begitu dia pengen cepet punya cucu yang lucu-lucu katanya" ucap Aslan sambil berjalan ke arah lift para petinggi.
"Apa cucu? astaghfirullah ternyata tuan besar menantikan kehadiran seorang cucu di rumah begitu? " tanya Zaed yang ikut masuk kedalam lift.
"Ya begitu lah... " jawab Aslan santai.
__ADS_1
Bersambung.