
Sore hari Wiwid berlarian di atas tangga dan langsung berlari ke arah kamarnya dia ingin memastikan bahwa berita yang dia dengar dari kawan-kawannya itu bohong, dia mendengar kalau Nina di pecat oleh Aslan, dia ingin tahu alasan Aslan kenapa bisa memecat Nina karena setahu Wiwid Aslan begitu mencintai Nina.
Bruk...
Dengan nafas yang ngos-ngosan hingga dadanya turun naik Wiwid membuka kasar pintu kamar nya, hingga Nina yang berada di kamar pun terkejut dengan kedatangan sahabatnya itu.
"Elu kenapa sih? " tanya Nina bingung.
Wiwid langsung merangsek dan duduk di depan Nina.
"Seharusnya gue yang tanya ke elu kenapa elu bisa di pecat sama si kirik?! " Wiwid kesal.
Nina tersenyum mendengar sahabatnya yang mengkhawatirkan nya.
"Kok elu malah senyum-senyum sih? sebenarnya apa sih yang terjadi semalam? elu balik sendirian nggak di temenin Aslan, udah gitu basah kuyup juga apa sih yang terjadi sama kalian semalam? kalian bertengkar tapi kenapa harus sampe mecat elu gini sih dasar nggak profesional deh dia sebagai atasan hubungan pribadi di bawa-bawa ke kerjaan"Wiwid terus nyerocos bak pletasan deret.
Sehingga membuat Nina tertawa mendengar ocehan sahabatnya ini, Nina lalu menuang air teko kedalam gelas dan memberikannya pada Wiwid agar sahabatnya itu lebih tenang.
Wiwid menerima segelas air tersebut dan langsung meminumnya dalam tiga kali tegukan.
"Makasih, sekarang bisa elu ceritain semua sama gue apa yang terjadi sama kalian, itu juga kalo elu mau cerita kalo nggak mau juga nggak apa-apa sih" ucap Wiwid sudah lebih tenang.
Dan akhirnya Nina pun bercerita bagaimana kejadian semalam saat Aslan melepaskan tangannya dan langsung berjalan mendekati Laura, Aslan seolah terhipnotis pada wanita itu dan melupakan Nina, dan Nina merasa Aslan seolah membuangnya seperti sampah yang tak layak sama seperti orang tuanya dulu membuangnya, hingga hati Nina seolah terasa sangat sakit bila mengingat itu semua karena Aslan seolah membuka luka lama nya dan Aslan malah marah karena semalam Nina di tolong seseorang pria yang memeluk dirinya dengan kasih sayang.
"Ooo jadi semua ini salah faham? kenapa elu nggak jelasin semuanya ke dia Nina? " ucap Wiwid lembut.
Nina hanya menggeleng saja.
"Kenapa kan biar Aslan tahu yang sebenarnya terjadi Nina... dan lagi pula seharusnya elu yang marah sama dia bukan dia yang marah sama elu" Wiwid sewot.
"Mungkin ini semua yang terbaik Wid, gue nggak mau punya ikatan sama dia" ucap Nina lirih.
__ADS_1
"Kenapa? elu nggak suka sama Aslan? " tanya Wiwid lagi.
Dan Nina hanya menggeleng lagi.
"Terus kenapa?? " Wiwid frustasi dengan kelakuan sahabatnya ini.ingin rasanya dia menangis karena frustasi.
"Karena aku mau ambil kuliah keluar negeri Wid dan minggu ini adalah ujiannya, aku sudah mendaftarkan diri dan di setujui oleh dosen dan pihak kampus, bila aku dan Aslan punya ikatan pasti dia melarang aku untuk meraih cita-cita ku" jelas Nina.
"Elu... mau keluar negeri? " tanya Wiwid ragu.
Nina hanya mengangguk.
"Terus gue sendirian lagi dong hiks.... Nina... gue sendirian lagi dong... hiks... hiks... tapi nggak apa-apa kalau itu semua demi meraih cita-cita elu dan jangan lupain ngue ya kawan... setelah di sana elu dapat teman baru" Wiwid memeluk Nina dan Nina pun membalasnya.
"Gue nggak akan lupa sama elu Wid elu sahabat terbaik gue yang selalu ada buat gue Terima kasih karena elu selalu ada untuk gue" ucap Nina saat memeluk Wiwid.
"Oia jadi Aslan belum tahu ini semua gitu? " tanya Wiwid yang melonggarkan pelukannya.
Wiwid hanya menghela nafasnya pelan saja tanpa berkata-kata lagi dia tahu keputusan Nina sudah bulat dan tidak bisa di patahkan lagi, karena dia tahu Nina itu berambisi untuk membuktikan kepada ayahnya kalau dirinya bisa berhasil di atas kakinya sendiri, jadi dia tetap mendukung keputusan Nina, lagi pula Aslan juga tak berhak menghalangi Nina untuk mencapai cita-cita nya karena mereka juga belum mempunyai hubungan apa-apa, begitulah fikiran Wiwid.
Sementara itu di sebuah mobil mewah tuan muda yang cintanya di tolak mentah-mentah oleh gadis yang selama ini dia hina memasang wajah yang datar tak ada ekspresi sama sekali sangat supir dan sang asisten hanya bisa menggeleng pelan saja, terutama sang asisten yang tahu penyebab perubahan sikap bosnya ini karena apa.
kalo masih cinta kenapa malah di pecat sekarang jadi begini kan lu... ga ada ekspresi sama sekali orang senyum sama dia sama sekali nggak di bales astagfirullah Aslan sebenarnya apa yang terjadi semalam sih, mau nanya tapi takut ngamuk yang ada habis muka gue babak belur.
Batin Zaed.
Mobil pun akhirnya tiba di rumah besar milik tuan Herald, tanpa menunggu supir membuka pintu Aslan langsung membuka pintu dan segera masuk kedalam dengan langkah tergesa.
Sang supir mencolek Lengan Zaed dan bertanya ada apa dengan tuan muda, tapi Zaed dengan wajah malas hanya menggidikan bahunya saja, dan sang supir pun hanya menggeleng saja.
Zaed masuk kedalam rumah dan menyusul Aslan yang sudah berada di depan pintu kamar nya.
__ADS_1
"Tuan muda maaf" ucap Zaed.
Aslan menoleh sebentar.
"Kalo bukan masalah kerjaan di kantor jangan bahas gue males dengernya" ucap Aslan ketus dan dia pun langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu itu keras hingga membuat Zaed terperanjat hingga mengalus dadanya.
"Ada yang nggak beres nih gue perlu tanyain sama Nina deh nanti malam, gue kesana lah, masalahnya kalo dia terus begini bahaya juga gue takutnya urusan kerjaan bisa ikut nggak bener dan ujung-ujungnya gue yang repot" gumam Zaed yang melangkah keluar rumah dan mencari motornya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Di dalam kamar Aslan langsung masuk ke kamar mandi dan dia langsung membasahi dirinya tanpa melepas kemeja dan celana kerjanya entah kenapa dia sangat frustasi saat ini, cintanya tak berbalas sebegitu sakitnya hatinya terlebih saat dirinya tahu kalau yang membuat cintanya tak berbalas itu adalah karena pria lain yang entah hadir sejak kapan di kehidupan gadis itu.
Aslan yang kesal pun memukul-mukul dinding yang ada di depannya dengan air yang terus turun dari shower yang membasahi seluruh tubuhnya, bahkan saat ini rasanya bayangan saat malam itu kembali di benaknya lagi di rasnya air yang turun dari shower sama seperti hujan deras kala malam menyedihkan itu terjadi.
Hingga malam pun tiba Aslan yang menyibukan dirinya dengan pekerjaan pun masih tidak bisa menghilangkan bayangan Nina di benaknya terutama bayangan saat gadis itu mengatakan kalau pria yang memeluknya malam kemarin itu adalah orang yang sangat berarti untuknya.
Dan dengan perasaan yang sedang tak karuan Aslan memutuskan untuk kekuatan rumah dengan motornya karena pekerjaan nya telah selesai dia kerjakan, dia ingin mencari, suasana lain yang mungkin bisa membuatnya bisa melupakan Nina.
Aslan memacu motornya entah kemana tujuannya malam ini.
Sedangkan Zaed yang malam ini sengaja datang ke kostan Nina mencari Nina untuk bertanya apa yang terjadi semalam pada mereka berdua nyatanya tak bisa bertemu Nina karena Nina pergi keluar dan yang ada disana hanya Wiwid saja, namun Wiwid tahu kemana sahabatnya itu pergi dan mengantar Zaed ke tempat Nina berada saat ini.
Sementara seorang yang sedang di derita kegalauan saat ini berjalan ke sebuah pasar seni, entah kenapa kakinya melangkah ke tempat ini saat ini, seolah ada yang menuntun kakinya untuk melangkah ke tempat ini.
Aslan melihat begitu banyak lukisan dan ukiran dan karya-karya seni lainnya di jajakan disana ada beberapa orang juga yang mengabadikan momen mereka berfoto-foto dengan gedung dan pahatan patung yang ada disana.
Aslan berjalan menyusuri pasar seni tersebut tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat pemandangan yang sangat tidak dia sukai, seorang pria yang dia lihat semalam dengan Nina ada disana bersama seorang wanita cantik dan sepertinya mereka cukup dekat karena pria tersebut pun memeluk wanita itu dari belakang dan mengecup pipi wanita itu.
Dan yang lebih membuat mata Aslan membulat sempurna itu adalah kehadiran Nina juga ada disana, saat pria itu telah melepas pelukannya dari wanita itu, dan entah kenapa langkah kaki Aslan melangkah cepat ke arah mereka wajahnya sudah merah karena marah dan tanpa bertanya dan tanpa tahu apa-apa Aslan langsung melayangkan pukulan di wajah pria itu hingga pria itu terjatuh ke tanah.
Bugh...
"Dasar bajingan beraninya kau membohongi gadis polos ini" Aslan marah bahkan saat ini terlihat begitu jelas kemarahan di wajah tampan itu.
__ADS_1
Bersambung.