My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Kesambet


__ADS_3

Brugh...


Aslan menjatuhkan dirinya diatas kasur lantai di sebuah kamar kostan nya.


Zaed yang sedang tiduran di sebelahnya sampai menyingkir karena Aslan menguasi kasur lantai berukuran hanya pas untuk dua orang itu.


Zaed melihat senyum merekah di bibir sahabatnya, membuatnya menjadi curiga ada apa dengan sahabatnya ini datang-datang seperti ini.


"Lan.... elu kenapa? " tanya Zaed ketakutan.


Aslan menoleh ke arah kirinya dan langsung melemoar bantal ke wajah sahabatnya itu.


"Mau tau... ajah lu dah diam lu" ucap Aslan masih berbaring dan terus menatap langit-langit kamarnya.


Aslan begitu senang hari ini setelah menghabiskan waktunya bersama Nina tadi di taman hiburan. begitu banyak hal yang mereka lakukan bertemu hingga mereka lupa waktu.


Namun ada yang mengganjal di fikiran Aslan saat mereka sedang berbincang tadi. kalau Nina sedang berusaha untuk dapat beasiswa keluar negeri, dia ingin menambah ilmu agar saat dia kembali ke negeri nya dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan dia akan buktikan pada ayahnya yang sudah membuangnya seperti sampah hanya demi istrinya yang jahat itu.


"Kenapa harus keluar negeri sih kan disini juga elu bisa kuliah dan dapat kerjaan yang lebih bagus asal elu berkopeten" Aslan seolah tak rela ditinggal oleh Nina.


"Sebenarnya tujuan aku kesana bukan hanya untuk belajar kak, aku kesana karena ingin jauh dan melupakan segala yang pernah mereka lakukan pada aku dan juga saudara-saudara ku, terlalu banyak kesakitan yang ada di negeri ini untuk di kenang" saat mengatakan itu mata Nina mulu berkaca-kaca seolah ingin menangis.


"Tapi dengan elu pergi jauh kengan itu tetap nggak akan terlupa Nina... karena itu ada dihati dan fikiran elu bukan berarti elu pindah ke negara lain lantas memori di otak elu itu juga akan hilang atau terhapus nggak Nina elu salah kalau berfikir begitu" jelas Aslan lembut.


Nina menatap Aslan baru kali ini dia mendengar seorang Aslan menasehati nya dengan penuh kedewasaan.


Nina tertegun hingga angin yang berhembus meniup rambutnya yang di gerai dan beberapa helai rambut itu menutupi wajah manisnya.


Dan entah kenapa tangan Aslan dengan reflek menyingkirkan rambut itu dari wajah Nina dengan penuh kelembutan.


Namun kejadian itu hanya berlangsung tak lama karena beberapa detik kemudian mereka tesadar dan malah memalingkan wajah mereka ke arah lain dengan rona merah yang terlihat jelas di wajah mereka.


Aslan tersenyum sendirian di dalam kamar kostnya hingga membuat Zaed ketakutan sendiri.


Begitu pula dengan Nina dia pun senyum-senyum sendiri dengan rona merah di wajah nya membuat Wiwid sahabat nya pun ketakutan dengan perubahan sikap sahabatnya ini.


"Elu nggak kesambet kan? " tanya Wiwid dan Zaed bersamaan di tempat yang berbeda.


"Elu habis dari mana sih pulang-pulang kaya orang nggak waras begitu? " Zaed dan Wiwid berkata sama ditempat yang berbeda dengan wajah dan fikiran yang sama karena ketakutan melihat teman sekamar mereka bersikap aneh setelah pulang malam-malam.


Tapi yang dintanya. dan di. khawatirkan. malah tidak mendengarkan dan mungkin tak menganggap mereka ada.

__ADS_1


Hingga Wiwid dan Zaed hanya gemas melihat kelakuan sahabatnya itu. ingin rasanya mereka mencubit pipi teman sekamar. mereka ini tapi tak di lakukan karena yang satu bisa marah besar dan yang satu bisa mengeluh kesakitan.


Hingga mereka berdua hanya menggaruk kepala mereka yang tidak gatal saat membiarkan mereka berdua asik dengan lamunan mereka di kamar kost yang berbeda.


...🌞🌞🌞...


Keesokan harinya.


Di pabrik Wiwid yang sedang menunggu pintu menuju ruang produksi di buka, dirinya yang sedang duduk di depan gudang di kejutan oleh tepukan di bahunya oleh Zaed.


"Woi... ngelamun ajah lu nanti kesambet loh" canda Zaed.


"Ck elu ngagetin ajah, kesambet nggak la yaw... si Nina noh yang semalam kaya orang gila senyum-senyum kaya orang kurang waras" Wiwid mengadu pada Zaed.


"Serius lu Nina begitu? " tanya Zaed tak percaya.


"Iya gue sampe ketakutan semalam gara-gara dia begitu" Wiwid bercerita.


apa jangan-jangan semalam mereka pergi berdua ya kok kasusnya bisa sama begitu?.


Fikir Zaed.


"Kok elu jadi bengong? " tanya Wiwid.


Dan tak. jauh dari sana saat mereka sedang mengobrol orang yang di bicarakan muncul


bersama orang yang sedang di fikiran Zaed.


Asli ini mah mereka kayanya jadian beneran.


fikir Zaed saat melihat Aslan berjalan dengan Nina beriringan dan di ringi canda tawa dari mereka berdua.


Bel masuk pun berdering dan semua karyawan pun masuk ke ruangan kerja Masing-masing, dan saat sedang bekerja pandangan Aslan terus ke arah Nina hingga dirinya tak berkonsentrasi bekerja.


"Ehm... " Zaed berdehem.


Hingga mengalihkan pandangan Aslan.


"Pindah meja ajah sekalian Lan"ucap Zaed menahan kesal.


" Ck apaan sih lu"Aslan mencoba menutupi perasaannya.

__ADS_1


"Semalem elu pergi sama Nina kan? " tebak Zaed.


Wajah Aslan langsung berubah gugup karena tebakan Zaed benar.


"Kata siapa lu? " tanya Aslan gugup.


"Nggak kata siapa-siapa tapi... muka lu yang bilang kalau omongan gue benar ya kan? " goda Zaed.


"Kalain jadian? " tanya Zaed penasaran.


"Nggak"jawab Aslan singkat.


" Hem... berarti sebentar lagi gitu? "goda Zaed lagi.


"Nggak tahu" Aslan keceplosan. hingga dia sampai menutup mulut nya sendiri.


Zaed tak tahan untuk menahan tawanya hingga tawa itu pecah saat itu juga.


Bugh.


"Diam nggak lu nggak ada yang lucu nyet" Aslan kesal karena ditertawi oleh Zaed.hingha dia memukul Zaed dengan kardus yang ada disana.


"Habis elu lucu ampun dah gua sama elu hhehe kalo suka ya bilang ajah sih nanti keburu di ambil orang loh hahhaa" Zaed masih terbahak.


Suara tawa Zaed terdengar sampai ke meja Nina hingga Nina dan Wiwid menoleh ke arah meja Zaed dan Aslan namun mereka langusng kembali berkonsentrasi kembali bekerja.


Sementara Zaed dan Aslan masih bergumul dengan candaan hingga mereka lupa dengan pekerjaan mereka hingga bel istirahat pun berdering.


Zaed sengaja meninggalkan Aslan sendiri dan menarik Wiwid bersama nya agar membiarkan Nina bersama dengan Aslan.


"Sini elu sama gue ajah biarkan kedua insan yang sedang jatuh cinta itu bersama" bisik Zaed.


"Maksud lu? " Wiwid bingung.


"Ya maksud gue biarin ajah mereka berdua biar pendekatan mereka bisa berlanjut ke tahap berikutnya" jelas Zaed yang membuat Wiwid terkejut hingga menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang di dengar nya.


"Serius? " bisik Wiwid.


Dan Zaed hanya mengangguk saja.


Wiwid tertawa tanpa suara dia tak mennyangka kalau Aslan terkena karma karena selalu meledek Nina dan sekarang Aslan jatuh cinta pada gadis yang selalu di katainya cupu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2