My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Ke Taman Hiburan


__ADS_3

Selesai melaksanakan shalat Dzuhur baik. Aslan maupun Nina keluar dari mushola bersamaan, saat pandangan mereka bertemu di pintu mushola keduanya pun segera mengalihkan pandangan mereka ke arah lain dan segera memakai sepatu mereka.


Nina langsung turun dan Aslan langsung menyusulnya, entah kenapa setelah kejadian waktu itu dirinya seolah tak bisa jauh dari gadis ini, apa lagi selama dua minggu ini mereka menghabiskan waktu bersama tanpa ada jarak sama sekali.


Aslan mengejar Nina dan itu di lihat oleh semua teman senior mereka yang tentu saja tak bisa tidak meledek mereka.


"Ciee... makin lengket ajah nih kayanya" ledek. para senior.


Aslan salah tingkah sedangkan Nina hanya tertunduk malu.


"Mangkanya jangan belagu lu kemakan omongan kan... " celetuk Wiwid dari belakang keduanya.


mendengar celetukan Wiwid Aslan langsung membalik badannya dan menatap tajam gadis itu, tapi Wiwid bukannya takut malah balik menantang Aslan.


"Oh ya ampun anak ini menyebalkan sekali" Aslan geram dan meninggalkan Nina akhirnya bersama Wiwid.


Wiwid tertawa saat melihat reaksi Aslan yang seperti itu, sedangkan Nina yang masih kurang peka masih kebingungan.


"Emang kenapa sih sama kak Aslan? " Nina terlihat bingung.


"Yeh ni anak emang nggak peka" gumam Wiwid gemas.


"Udah jangan dipikirin kita ke atas ajah kerja lagi, biarin si Aslan mah ga penting" Wiwid akhirnya mengajak Nina langsung ke lantai tas bagian produksi karena pintu masuk ke bagian produksi sudah dibuka.


Mereka pun manaiki anak tangga dengan teratur dan setelah sampai di lantai tujuan mereka pun kembali. ke meja masing-masing dan mulai bekerja.


...🌞🌞🌞...


Seminggu kemudian.


Di akhir pekan seperti biasanya Nina melakukan kegiatan nya yaitu berangkat kuliah dari pagi hingga sore.


Dan sore ini Aslan menunggu Nina di pintu gerbang kampusnya dengan menggunakan motor matic nya, hari ini dia sengaja tidak memakai motor gedenya karena dia tak ingin Nina merasa bahaya bila di bonceng olehnya.


Nina melangkah dengan langkah ringan saat keluar dari dalam kampusnya, diri nya masih belum. sadar kalau Aslan sedang menunggunya disana jadi dia hanya berjalan berlenggang tanpa lihat kanan maupun kiri hingga sebuah panggilan menghentikan langkahnya.


"Cupu... " tegur Aslan yang kesal karena sudah sejam lebih diri nya menunggu disana tapi. yang di tunggu hanya melenggang tanpa dosa.


Nina menoleh ke asal suara yang memanggil nya dan hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya seperti itu.


"Kak Aslan? " Nina mengerutkan dahinya saat melihat Aslan ada di depan kampus nya.


Aslan menatapnya sekilas setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tak ingin Nina melihat wajah kekinya saat ini.

__ADS_1


"Kakak ngapain disini? " tanya Nina yang langsung menghampiri dirinya.


nggak mungkin gue bilang sengaja jemput dia kan? mau di taruh dimana muka gue yang keren ini.


Batin Aslan.


"Apa kakak jadi tukang ojek kalau di akhir pekan? " tanya Nina polos.


Gubrak.


Astaga gue ketua geng motor di bilang tukang ojek sama si cupu, ya ampun selain cupu dia juga polos, eh polos apa lemot ya... hadeuh...


Aslan frustasi tapi dia akhirnya mengiyakan saja tebakan Nina. untungnya tidak ada anak buahnya disana jadi dia tidak perlu merasa malu karena gadis ini menyangka dirinya sebagai tukang ojek.


"Hihi kakak ini benar-benar ya... mandiri" ucap Nina.


"Hem maksud lu? " tanya Aslan bingung.


"Iya aku salut sama kakak, padahal kakak anak orang kaya tapi kakak masih mau kerja di pabrik sebagai buruh dan menjadi tukang ojek juga hebat" Nina mengacungkan kedua jari jempol nya.


Aslan tersenyum dan menggeleng pelan Melihat itu.


"Ya udah yuk naik" ajak Aslan.


"Oke.... " tanpa berfikir lagi Nina langsung naik ke belakang boncengan motor matic itu.


"Kak Kita mau kemana? " tanya Nina saat dirinya menyadari kalau arah Aslan tidak mengarah ke tempat kostan nya.


"Udah elu ikut ajah, kita senang-senang buang rasa penat selema seminggu" ucap Aslan santai.


"Oke... " jawab Nina dengan senyuman ceria itu terlihat jelas dari kaca spion motornya.


Entah kenapa melihat itu hati Aslan merasa bahagia di dalam hatinya seolah senyuman Nina adalah hal yang terindah yang dia lihat selama ini.


Motor berbelok kesebuah taman hiburan, wajah Nina langsung berbinar saat melihat lampu dari setiap permainan yang ada disana.


"Aaa kakak kenapa nggak bilang akan kesini kan aku bisa ambil uang dulu" ucap Nina kesal.


"Udah gue yang bayarin" ucap Aslan santai.


"Serius? ya udah nanti aku ganti uang kakak besok ya asik.... udah lama aku nggak kesini" jerit Nina.


Aslan tersenyum melihat gadis itu kegirangan.

__ADS_1


Mereka pun membeli tiket masuk dan langsung berlari ke arena permainan yang banyak memacu andrenalin, Nina menjerit kesenangan setiap menaiki setiap. permainan yang ada beban yang selama ini selalu mengganjal dihati nya seolah lepas begitu saja setiap dia menaiki wahana yang ada disana.


"Hahaha seru ya kak" Tawa Nina ceria namun terlihat gurat kesedihan yang selama ini di sembunyikan oleh gadis itu saat Aslan melihat tawa Nina agak berbeda karena dia tertawa tanpa henti.


sebegitu beratkah beban nya, ya pasti berat karena siapa juga yang tidak sedih di buang oleh orang tuanya sendiri.


"Nin... kita kesana yuk beli minum gue haus" Aslan menunjuk stand minuman yang tak jauh dari wahana yang habis mereka taiki.


Setelah selesai membeli minuman mereka pun duduk di bangku yang tersedia disana, wajah ceria Nina terlihat kembali oleh Aslan saat gadis itu melihat dengan senyum takjub kearah wahana di depannya.


Nina yang merasa di perhatikan oleh Aslan langsung menoleh kearah Aslan dan bertanya apa ada yang salah dengan dirinya karena Aslan melihatnya begitu.


"Kenapa kak apa ada yang salah di wajah ku?"tanya Nina.


" Eh... nggak kok"Aslan membuang pandangannya ke arah lain saat ditanya oleh Nina.


"Oh... hehe oia apa kakak sering datang kesini? " tanya Nina.


"Hem... " hanya itu jawaban Aslan sambil mnyedot minuman nya.


"Dengan pacar kakak ya? " tanya Nina menunduk.


Aslan langsung menoleh ke arah gadis itu dan melihat wajah Nina yang tertunduk.


"Gue nggak punya pacar" jawab Aslan ketus.


Nina langsung menoleh kearah Aslan melihat wajah pria itu yang terkena sinar lampu-lampu di arena permainan disana.


"Bohong banget" celetuk Nina.


"Beneran gua nggak ada pacar" Aslan menatap wajah Nina dengan dalam.


"Masa sih bukannya gebetan kakak itu banyak ya masa nggak ada yang nyangkut? " Nina terlihat berfikir wajah polos nya begitu nampak di mata Aslan.


"Gue cuma godain doang bukan berarti gue beneran suka apa lagi cinta sama mereka" ucap Aslan ketus.


"Ooo begitu ya... memang nya cewe seperti apa sih yang kakak suka? " tanya Nina polos.


"Kaya kamu" Aslan keceplosan.


"Hah apa?! " tanya Nina lagi yang kurang mendengar ucapan Aslan karena saat Aslan bicara berbarengan dengan teriakan orang-orang yang sedang naik wahana disana.


"Eh... naik permainan yang itu yuk, kayanya seru" Aslan langsung mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


astaga kenapa mulut ini bisa bicara begitu sih huft untung nya dia nggak dengar.


Bersambung.


__ADS_2