My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Aslan Bingung


__ADS_3

Motor melaju sekencang-kencangnya membelah angin malam itu, sang penunggang kuda besi itu mencengkram gas motor tersebut.


Sial jadi selama dua minggu ini dia ngejaga gue dia cuma anggap gue itu temen doang, temen dia bilang sialan, apa dia itu nggak ngerasa ya kalo gue itu beda ke dia ****** rawa....


Umpat Aslan di sepanjang jalan setelah mengantarkan Nina ke tempat kostan.


Terus kenapa kenapa dia mau nolongin gue, ngedonorin darahnya buat gue, menembus bahaya untuk bawa gue kerumah sakit akh...sialan.... kenapa sih sama gue kenapa gue sekesel ini sih sama dia cuma karena dia anggap gue temen doang.


Motor yang di bawa Aslan berhenti di sebuah gudang yang dia jadikan markas gengnya.


Aslan turun dari motornya dan mendobrak pintu dan langsung masuk merangsek kedalam dengan wajah yang kesal tak bisa disembunyikan.


Aslan kesal hingga membanting kursi kayu yang ada di gudang tersebut hingga patah bahkan Zaed yang ada di sana sampai loncat karena kaget dengan kedatangan Aslan yang tiba-tiba marah-marah nggak jelas.


di apain sama si Nina sih nih anak.


Batin Zaed dia tahu kalau Aslan menjemput Nina karena yang seharusnya bertugas mengawasi Nina setiap hari adalah Kodok dan tadi Aslan mengatakan kalau biar dia sendiri yang akan memantau Nina sekalian dia ingin menjemput gadis itu di kampusnya.


"ARRGHHH" Aslan bertriak kesal karena dia sendiri pun bingung dengan perasaannya sendiri.


kenapa kenapa gue seolah kecewa dengan kata-kata kata teman yang terlontar dari mulut dia dasar bego.


Aslan memaki dirinya sendiri.


Para anak buahnya yang ketakutan kena sasaran menggeser kaki mereka untuk keluar dari markas.


"Mau kemana elu semua setan! " Aslan kesal.


Semua yang ingin keluar langsung kaku tak bisa berkutik saat Aslan berteriak.


"Aslan elu kenapa sih kawan... Dateng-dateng udah kaya orang kesurupan gitu" Zaed bertanya santai.


Aslan langsung menatap tajam kearah Zaed, tapi yang di tatap tidak merasa takut malah menantang.


Aslan membuang mukanya ke arah lain dia tidak ingin Zaed tahu kalau saat ini perasaan nya sedang kecewa karena Nina.


"Elu di apain sama Nina? " tanya Zaed akhirnya.


"Diem nggak lu jangan sebut nama si cupu di depan gue lagi" Aslan langsung pergi meninggalkan markas dengan langkah cepat.


Zaed yang melihat sahabatnya sedang di luar kendali langsung menyusulnya dia takut terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Aslan bisa habis dia di pukuli oleh ayahnya lagi seperti waktu itu.


Zaed terus mengikuti kemana Aslan pergi meski jaraknya sangat jauh agar Aslan tidak marah karena di ikuti oleh Zaed.


mau kemana lagi dia ke daerah sini aih... dia dia berhenti disitu ngapain lagi ngeliat ke atas sana, astaga Aslan elu jangan bilang elu di tolak sama dia pas elu nyatain perasaan elu.


Zaed memperhatikan sahabatnya itu berhenti tak jauh dari tempat kostan Nina dan terus menatap ke arah atas dimana kamar Nina berada.


"Wid.... sabun muka gue kemana ya? " terdengar suara gadis yang saat ini sedang mengganggu fikiran nya.

__ADS_1


"Di kamar mandi kayanya" terdengar suara Wiwid.


"Oke... " Nina lalu melangkah keluar dari kamar nya dan menuju kamar mandi di luar.


Aslan langsung menurunkan penutup helmnya takut dirinya terlihat oleh Nina mau di taruh dimana muka nya itu kalau sampai tahu gadis cupu yang selama ini sering dia marahi,dia ejek dan dia ajak berdebat melihatnya sedang memantau dirinya.


Aslan akhirnya menjalankan motornya meninggalkan kostan tersebut.


Dentuman knalpot ciri khas motor besar membuat Nina menoleh kearah bawah dia memang sempat mendengar suara motor yang tidak asing bagi nya.


"Hem... " Nina hanya menggidikan bahunya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum tertidur


Zaed yang melihat itu dari kejauhan hanya menggeleng pelan saja saat mengetahui tingkah sahabatnya yang aneh malam ini.


Besok gue tanya Nina ngapain si Aslan sampe itu anak kaya begitu.


Batin Zaed.


Hingga ke esokan paginya.


Zaed yang sudah tidak sabar ingin tahu hal yang terjadi pada Aslan dan Nina menunggu kedatangan Nina di bawah tangga loker.


Saat Nina tiba langkahnya langsung terhenti saat Zaed menghalangi nya.


"Eh ada apa kak? " Nina heran karena tidak biasanya Zaed begini.


Mereka berdua saat ini duduk di bangku taman.


"Nin maaf semalam terjadi sesuatu atau apa gitu sama elu dan Aslan? " tanya Zaed.


"Ehm.... apa ya? semalam kita nggak sengaja ketemu di restoran pas aku diajak sama ayah aku dia ngebelain aku pas aku mau di pukul sama ayah" jelas Nina.


"Elu mau di pukul sama ayah elu Nin? " tanya Zaed tak percaya.


Nina hanya mengangguk saja.


"Tapi untungnya ada kak Aslan dia terus bawa aku pergi dari situ dan bawa aku ke pantai"


"Ke pantai terus terjadi apa di pantai? " Zaed penasaran.


"Nggak terjadi apa-apa, aku cuma bilang Terima kasih sama kak Aslan karena mau menjadi teman aku,setelah itu kak Aslan antar aku pulang" jelas Nina.


"Ooo jadi begitu ceritanya astaga Aslan" gumam Zaed.


"Kenapa kak memangnya? oia apa kak Aslan hari ini sudah masuk kerja? " tanya Nina.


"Nggak dia masih belum kuat kalo kerja di pabrik mungkin minggu depan baru dia bisa aktifitas seperti biasa" jelas Zaed yang langsung berdiri dari kursi taman dan mempersilahkan Nina mengganti pakaiannya dengan seragam pabrik.


Zaed tersenyum sendiri saat tahu apa penyebab kekesalan Aslan semalam.

__ADS_1


Astaga gue nggak nyangka sumpah gue sama si Wiwid jadi kenyataan hihi astaga Aslan kau akhirnya terjatuh di lubang cinta yang tidak kau inginkan hihi.


Hingga sore pun tiba Zaed mampir kerumah keluarga besar Aslan karena sejak kecelakaan Aslan belum kembali ke kostan mereka dan tinggal di rumah keluarga nya.


Aslan melihat kedatangan sahabat nya hanya menara malas saja dan melanjutkan memainkan game online nya.


"Lan... " sapa Zaed.


"Hem... " hanya itu jawaban Aslan tanpa memalingkan wajahnya dari ponselnya.


Zaed hanya tersenyum dan ingin sekali menggoda sahabat nya ini.


"Di tanyain Nina tadi" pancing Zaed.


"Ngapain dia nanyain gue? " tatapannya masih ke arah ponselnya.


Tapi asal kalian tahu hatinya seolah ingin berteriak benarkah dia menanyai ku, apa yang dia tanyakan tentang aku, begitulah isi hati sebenarnya Aslan.


Dan sebagai sahabat yang baik Zaed mampu membaca isi hati sahabatnya itu.


"Dia nanyain kapan elu masuk kerja gitu" Zaed masih memperhatikan ekspresi sahabatnya ini apakah berubah atau tetap dingin seperti itu.


"Ada urusan apa si cupu nanya kapan gue kerja? " Aslan masih dengan posisi yang sama menatap layar ponsel nya.


heuh... gue tahu sebenarnya elu seneng kan ditanyain Nina.


"Ya namanya juga temen kan ya... wajarlah dia nanyain elu kan selama dua minggu dia yang ngerawat elu" jelas Zaed.


teman ya... heuh gue lupa dia cuma anggap gue temen.


"Oia tadi gue lihat ada anak gudang yang mau kenalan sama dia" pancing Zaed padahal tidak ada kejadian seperti itu.


"Apa?! terus elu diam ajah dia kenalan sama cowo gitu?!" Aslan melempar ponselnya ke atas meja.


Zaed menahan tawanya setelah pancingan terakhirnya berhasil.


"Siapa yang mau kenalan sama si cupu hah Zay elu bukannya jagain dia biar nggak diganggu sama cowo lain" Aslan sewot.


"Elu tenang ajah kok, Nina cuma kenalan ajah nggak sampe kepincut" ledek Zaed.


"Tapi tetep ajah kan mereka kenalan pasti berjabat tangan dasar bego kerjaan elu ngapain ajah sih udah tahu cupu di pegang-pegang orang malah diam ajah, siapa yang berani pegang tangan cupu, besok elu kasih tahu gue" Aslan terlihat menggebu-gebu dia langsung berjalan ke lantai dua menuju kamar nya.


"Emang elu udah mau kerja besok? "tanya Zaed yang melihat sahabatnya itu melangkah ke kamar nya.


" Iya jadi besok elu tunjukin sama gue siapa yang berani ganggu cupu"teriak Aslan saat mau membuka pintu kamar nya.


Tanpa Aslan sadari Zaed tertawa terpingkal di bawah karena melihat reaksi kawannya yang sangat aneh menurut nya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2