
Dokter Ryan datang ke ruangan VVIP tempat Aslan di rawat, saat dokter Ryan masuk ke dalam kamar rawat adiknya, terlihat wajah adiknya yang nampak marah, Aslan sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya bila dia sedang marah.
"Ada apa? "tanya dokter Ryan lembut.
" Pasti abang kan yang ngelporin ke papah kalau gue masuk rumah sakit! "ucap Aslan ketus.
dokter Ryan bingung dengan ucapan adiknya yang tiba-tiba marah padanya.
" Kamu ini kenapa sih, abang datang langsung marah-marah ajah, siapa yang ngelaporin kamu, papah ajah masih diluar negeri "jelas dokter Ryan sesabar mungkin karena dia yang paling tahu cara menghadapi adiknya ini dengan sifatnya yang sangat susah ditebak, intinya sifat Aslan itu sangat lah keras dan tidak bisa di atur.
Entah bagaimana nantinya bila dia sudah menjadi seorang CEO.
" Lalu siapa yang lapor ke paman dia tadi kesini dan memukuk Zay lalu membawanya pada papah"Aslan sewot.
"Heuh... Aslan adik ku yang nakal... anak buah papah itu tersebar dimana-mana dia tahu pasti dari salah satu anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawasi kelakuan mu diluar sana" jelas dokter Ryan dengan penuh kesabaran.mendengar penjelasan adiknya dokter Ryan baru sadar kalau papahnya sudah kembali dariuar negeri.
Aslan terdiam dan membenarkan perkataan kakaknya karena memang meski dia bebas melakukan ini itu di luaran sana tapi dirinya tak mungkin bisa lolos dari pantauan mata-mata papahnya, oleh karena itu dia jarang turun ke lapangan bila sedang ada pertikaian antar geng karena dia takut kalau kelompoknya ini ketahuan dan ayahnya langsung menangkap semua anggotanya.
...🌞🌞🌞...
Sore hari seorang gadis berjalan menggunakan sepatu flat berwarna abu-abu, berpakaian casual dirinya hanya memakai kaos berwarna putih yang membentuk lekuk tubuhnya dan celana jeans ketat berwarna navy.
Senyum gadis itu terlihat merekah di tangan kanannya menjinjing goodie bag berisi sekotak cake.
"Semoga dia suka" gumamnya sambil tersenyum.
Gadis itu berjalan dengan riangnya di lorong rumah sakit menuju ruang VVIP tempat dimana seseorang yang ingin ia jenguk sore ini.
sesampainya dirinya di depan ruangan yang dia tuju dia menghela nafasnya dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut, saat dirinya ingin mendorong handle pintu ruangan tersebut tiba-tiba tangannya di tepis oleh seorang pria yang berpakain formal hitam-hitam.
Dan di belakang pria itu pun ada beberapa orang yang langsung di persilahkan masuk oleh pria yang menepis tangan Nina.
Nina bengong saat melihat beberapa pria paruh baya memasuki ruangan Aslan dan seorang pria berbadan besar menyenggol bahu Nina hingga gadis itu tersungkur ke lantai di ambang pintu.
Dan kotak cake yang. dia bawa pun jatuh dan tanpa sengaja terinjak oleh pria yang masuk tersebut.
ah... cake nya.
Ingin rasanya dia menangis saat melihat cake yang dia bawa di injak begitu saja bagai sampah.
dan karena dirinya masih terduduk di ambang pintu dia sempat melihat seorang pria paruh baya mendekat pada Brankar Aslan dan langsung melayangkan tamparan ke wajah Aslan.
Nina yang masih ada di sana langsung ditarik keluar oleh pria yang menginjak cake nya.
__ADS_1
Hingga kini dirinya berasa di luar ruangan tersebut.
"Dasar anak nakal kau berulah apa lagi hah?! " terdengar suara seorang pria dari dalam dan memaki.
Aslan yang di pukul papah nya hanya diam saja dan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Kenapa kau tidak ada jeranya Aslan tempo hari punggung mu yang terkena tebasan samurai dan sekarang perut mu besok-besok apa lagi hah leher mu hingga kepala dan tubuh mu terpisah begitu apa kau mau mati konyol hah?! " bentak papah hingga suara hati memenuhi ruangan tersebut.
"Papah bisa nggak sih dateng-dateng nggak marah-marah" Ucap Aslan menahan kesal.
"AS..." Tangan papah Herald sudah terangkat lagi bersiap untuk menampar wajah anaknya.
tapi Aslan bukannya takut malah semakin menantang ayahnya di tatap nya papah nya dengan mata yang tajam.
"Kenapa berhenti pah mau pukul lagi kan pukul pah" tantang Aslan karena kesal.
Pluk.
Papah hanya mengelepak kepala anak bungsu nya itu dengan pelan.
"Bisa kau itu tidak buat masalah Adam... papah tidak ingin ibu mu di alam sana merasa sedih bila terjadi sesuatu yang buruk pada mu" suara papah kembali normal.
Aslan yang masih kesal tidak mau mendengar kan perkataan papah nya, yang sangat klasik baginya, ayahnya pasti akan selalu membawa ibunya bila sudah menasehati Aslan namun anak kepala batu itu sangat sulit dinasehati hingga setiap. ayahnya menasehati nya pasti hanya akan di anggap angin lalu saja oleh Aslan.
Tak lama Nina dikejutkan oleh seseorang dari arah belakangnya saat dirinya menoleh ternyata orang itu adalah Zaed dengan wajah yang penuh dengan luka memar.
Nina langsung menutup. mulutnya karena terkejut melihat keadaan Zaed.
"Kak kenapa dengan wajah mu? " tanya Nina pelan.
"Oo ini biasa lah hehe, kenapa diluar" tanya Zaed.
"Itu di dalam ada... "
Belum sempat Nina menjelaskan siapa yang ada di dalam Zaed menarik tangannya dan membawa Nina kedalam ruang rawat Zaed.
Dan saat masuk Zaed tekejut saat melihat begitu banyak pengawal papah Herald ada di sana termasuk papah Herald.
Zaed langsung melepaskan tangannya yang memegang tangan Nina.
Aslan yang melihat kedatangan Nina langsung terkejut pasalnya disini sedang ada papahnya bisa habis dia di introgasi.
dan benar saja saat papah Herald melihat seorang gadis masuk ke ruangan tersebut bersama Zaed beliau langsung bertanya.
__ADS_1
"Siapa gadis ini? " tanya Papah pada Zaed.
"Ehm dia ini teman kami tuan" ucap Zaed ragu.
"Teman? kau berteman dengan wanita? " tanya papah nya melirik ke arah Aslan.
"Iya pah dia anak pabrik" jelang Aslan malas.
"Teman atau... "
ucapan papah Herald langsung terputus saat Aslan memotong nya.
"Teman pah... jangan mikir yang jauh deh" celetuk Aslan.
"Bukan begitu masalahnya baru kali ini papah tahu kau bisa berteman dengan perempuan masalahnya sifat mu itu hehe" papah hanya menggeleng saja dan tertawa kecil.
"Kenapa dengan sifat ku pah? "tanya Asalan sewot.
" Iya sifat mu yang angin-anginan itu loh bisa ada perempuan yang tahan sama kamu hem?"tanya papah meragukan.
Aslan kesal. dan hanya mencebik saja.
Tak lama dokter Ryan datang keruangan Aslan untuk. memeriksa keadaan adiknya, dirinya tak terkejut saat melihat papahnya beserta anak buahnya namun dia terkejut dengan kehadiran Nina.
"Hei... kau datang lagi? " tanya Dokter Ryan.
"Lagi? maksud nya apa Ryan? " tanya papah tiba-tiba.
Aslan menepuk keningnya sendiri karena kakak nya semakin membuat papahnya lama di ruangan tersebut.
"Iya pah gadis ini yang mendonorkan darahnya untuk Aslan kemarin malam, dia juga yang membawa Aslan kesini bersama Zay" jelas dokter Ryan.
"Ooo begitu... tak kusangka ada seorang gadis yang mau berkorban untuk mu Adam..."
Bila sudah nama depan Aslan yang di sebutkan oleh keluarga berarti itu adalah wujud kasih sayang mereka pada Aslan karena itu termasuk nama panggilan kesayangan di keluarga mereka.
"Terima kasih nak karena sudah menolong anak ku yang nakal ini, apa. kau menyukai putra ku? " tanya papah tiba-tiba hingga membuat Aslan dan Nina kebingungan.
"Papah... sudah sih pah... " Aslan merengek.
Papah dan dokter Ryan tertawa melihat reaksi Aslan yang menurut mereka itu lucu.
Bersambung.
__ADS_1