
Di tengah malam ketika semuanya telah terlelap, begitu pun Nina dan Aslan yang terlelap di sebuah ruang rawat rumah sakit, Aslan yang merasa kurang leluasa dalam tidurnya pun terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi.
Saat dirinya terbangun dia melihat ke arah brankar Nina, di lihat nya gadis itu terlelap dan dia pun hanya tersenyum saja, Aslan pun ke kamar mandi, setelah selesai ke kamar mandi Aslan mendekat pada brankar Nina di perhatian gadis itu dia takut kejadian kemarin terjadi lagi, tapi tidak Nina hanya tertidur lelap dan sepertinya sangat nyenyak.
Aslan membelai wajah Nina din singkirkan rambut-rambut yang menempel di wajah kekasihnya itu.
"Aku sayang kamu" bisiknya saat dia ingin kembali ke sofa.
Waktu trus berlalu.
Mentari pagi pun mulai muncul dan menampakan caranya meski masih malu-malu, namun kehangatan yang di bagikan nya sangat terasa untuk sebagian penghuni bumi ini.
Embun pagi yang sejuk membasahi rerumputan dan juga dedaunan pepohonan, burung-burung kecil yang hinggap di ranting-ranting pohon menikmati kesejukan pagi ini bersama dengan pepohonan, mungkin bila kita mengerti bahasa mereka mungkin mereka terdengar saling menyapa satu sama lain sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Aslan terbangun di pagi itu karena mendengar Nina memanggilnya.
"Kak... kak... bangun sudah pagi, apa kakak tidak bersiap untuk bekerja? " sapa Nina hingga membuat Aslan terbangun karena suara alarm yang sangat alami.
Aslan tersenyum saat membuka matanya melihat kekasihnya sudah terduduk di brankarnya dan tersenyum padanya.
"Kakak sarapan dulu ya... sebelum berangkat nanti, petugas dapur tadi sudah menyiapkan sarapan untuk kakak" jelas Nina dia juga menunjukkan ke meja depan meja sofa Aslan, di lihat Aslan ada sebuah piring yang berisi sandiwch berisi ayam dan sayuran dan juga secangkir teh hangat.
"Apa ini untuk ku? " tanya Aslan saat melihat itu ada di mejanya.
"Iya itu untuk kakak" jelas Nina.
"Lalu kamu sendiri sarapan apa? " tanya Aslan.
"Ini sarapan ku sudah ada di meja" Nina menunjuk meja yang sudah berisi nampan yang terdapat berbagai macam sarapan pagi untuknya.
Aslan mendekat pada meja tersebut dan melihat menu makanan pagi ini untuk Nina, ternyata menu sarapan untuk Nina adalah bubur ayam komplit dan juga susu putih hangat.
"Kau mau makan? " tanya Aslan.
"Hem... nanti saja aku bisa makan sendiri kok kak" Nina tahu Aslan ingin menyuapi nya saat Aslan menarik meja yang tersedia untuk makan pasien.
"Aku ingin lihat kau makan dulu, setelah itu aku akan bersiap-siap untuk bekerja" Aslan lalu duduk di sisi brankar Nina dan mulai menyendok bubur tersebut dan mulai menyuapi Nina.
__ADS_1
"Ayo baca doa dulu sebelum makan" ucap Aslan Nina pun menurutinya dia membaca doa dulu sebelum makanan di sendok tersebut meluncur masuk kedalam mulutnya.
"Kakak juga makan ya... kita makan bersama" ucap Nina lembut.
"Aku nanti saja" jawab Aslan cuek.
"Ck... aku nggak mau makan lagi kalau kakak nggak ikut makan juga bersama aku" Nina cemberut.
Aslan menggaruk tengkuk lehernya karena kekasihnya akhir-akhir ini mudah sekali cemberut, dan dia pun harus ekstra sabar menghadapi nya.
"Hemmm baiklah aku juga akan makan bersama mu, tapi gantian ya kamu juga suapin aku mau kan? " goda Aslan.
Nina pun tersenyum malu-malu dan mengangguk menyetujui apa yang di mau Aslan.
"Asik... " gumam Aslan tapi masih terdengar oleh Nina membuat gadis itu semakin tersenyum lebar.
Aslan bangkit dari kursi dan membawa sandwich dan menaruhnua di meja Nina dan Nina pun mengambil Sandwich tersebut dan menyuapi nya untuk Aslan, dan Aslan pun tanpa ragu langsung menggigit Sandwich tersebut dia pun tersenyum pada Nina saat memakan sarapan paginya.
Baginya pagi ini adalah pagi yang terindah karena bisa sarapan bersama calon istrinya, selesai suap-suapan Aslan pun bersiap untuk pergi ke kantor, Aslan membersihkan dirinya dahulu sebelum di jemput oleh Zaed, dia pun mengenakan pakaian formalnya di dalam kamar mandi dan saat sudah rapih dirinya pun ke luar dari kamar mandi.
Ya ampun... dia tampan banget sih...
Nina terkesima dengan sosok Aslan dipagi hari ini.
Aslan yang merasa di perhatikan oleh Nina akhirnya melihat ke arahnya hingga membuat Nina jadi gelegaban dan berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain, tapi Aslan malah tersenyum melihat reaksi kekasihnya seperti itu.
"Hihi kamu lucu sayang... " goda Aslan.
"Eh... lucu? lucu apanya? " tanya Nina polos.
"Hemmm lucu ajah dan aku suka itu" ucap Aslan lagi.
Nina terlihat bingung saat mendengar perkataan Aslan.
"Sudah... sudah... jangan di fikirkan hihi" Aslan masih terkikik.
Nina pun hanya tersenyum saat melihat Aslan tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Tak lama pintu ada yang mengetuk dan saat Aslan berkata masuk pintu pun terbuka dan munculah Zaed dari balik daun pintu tersebut.
"Tuan muda apa apa da sudah siap? " tanya Zaed.
"Hem... sebentar aku pamit pada calon istri ku dulu" Aslan pun mendekat pada Nina.
"Sayang aku berangkat dulu ya... nanti ada beberapa penjaga yang menjaga di depan pintu nanti aku pun akan meminta Wiwid menemani mu disini" ucap Aslan lembut.
"Hem... kakak hati-hati di jalan" ucap Nina lembut.
Aslan membelai lembut kepala Nina sebelum dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Aslan dan Zaed pun akhirnya keluar dari ruangan Nina mereka berdua berjalan di lorong rumah sakit, Aslan lalu menanyakan pada Zaed tentang pelaku perencanaan pembunuhan Nina.
"Zay... apa pelaku nya sudah di temukan? " tanya Aslan dingin.
"Hem... belum ruangan saya belum mendengar perkembangan kasus ini" Zaed berbohong.
"Ck... kenapa tim penyidik itu sangat payah sih kenapa kasus seperti ini saja harus selena ini pemecahannya?! " Aslan kesal.
Maafin gue Lan... tapi tuan besar pun masih merahasiakan ini dari elu, karena kita semua tahu bagaimana nantinya amarah elu saat tahu semua ini.
Batin Zaed.
Aslan tiba-tiba berhenti saat melangkah menuju area parkir dia menoleh ke arah Zaed yang ikut berhenti berjalan di sisi.
"Elu nggak nyembunyiin sesuatu kan dari gue? " tanya Aslan tiba-tiba.
Zaed langsung terdiam tapi dia menyembunyikan ekspresi wajahnya agar Aslan tidak curiga, Zaed memasang wajah santai seperti biasanya.
"Menyembunyikan apa tuan muda? saya mana bisa menyembunyikan apa pun dari anda" ucap Zaed dengan ekspresi datar.
"Ck... awas saja sampai aku tahu kau berbohong kau tahu sendiri akibatnya" Ancam Aslan.
Zaed hanya menelen slivanya saat mendapatkan ancaman dari Aslan karena dia tahu kemarahan seperti apa nantinya saat Aslan tahu semua kebenaran ini.
Bersambung.
__ADS_1