
Sore harinya Wiwid saat pulang berjalan ke kostan nya dia tak lupa mampir ke kedai penjual es buah langganan Nina dan juga dirinya, karena tadi siang dirinya berjanji akan membawakannya es buah kesukaannya saat pulang bekerja.
Wiwid melangkah ringan menuju kamarnya membawa satu kantong plastik bersisi dua bungkus es buah.
Sampai di depan pintu kamarnya, Wiwid langsung membuka pintu dan melongokan kepalanya di ambang pintu.
"Asalamualaikum Nina... es buah favorit lu dah tiba... " ucapnya sambil menunjukkan plastik bawaanya.
Nina menjawab salam Wiwid dan tersenyum pada sahabatnya itu.
"Wah... Terima kasih banyak ya Wid... " ucap Nina saat menerima plastik berisi bungkusan es buah tersebut.
Mereka berdua pun asik menikmati es buah tersebut dengan sensasi rasanya segar, asam manis bercampur menjadi satu dalam setiap tegukan dan gigitan saat mengigit buah dingin yang berada di dalam sirup yang bercampur didalamnya.
"Nin elu kenapa sih nggak mau bilang ke Aslan kalo ingetan elu dah balik? " tanya Wiwid bingung.
"Gue cuma ngerasa aneh ajah Wid... "ucap Nina sambil memyedot es buah tersebut.
"Aneh kenapa? " Wiwid memiringkan kepala nya.
"Ya aneh ajah Wid... elu tahu kan Aslan itu benci banget sama gue, dia tuh nggak suka kalo gue deket-deket dia eh... Tiba-tiba dia bisa bilang sayang, bilang suka sama gue kan aneh" fikir Nina.
"Hihihi" Wiwid malah cekikikan.
"Kok elu malah ketawa begitu sih Wid... " Nina bingung.
"Nina sebenarnya Aslan itu udah suka sama elu dari lama cuma gengsinya tinggi dan dia ngumpetin rasa sukanya di balik rasa bencinya sama elu" jelas Wiwid.
Nina memiringkan kepalanya karena bingung.
"Ck sok tahu lu" elak Nina.
"Ya elunya ajah yang emang nggak peka dan nggak pernah merhatiin dia itu suka diem-diem suka ngeliatin elu kalo lagi kerja hihi" Wiwid tertawa kecil.
"Emangnya elu nggak suka sama dia bukannya elu kayanya jatuh cinta pada pandangan pertama gitu sama dia? " tanya Wiwid mengingat wajah Nina saat pertama kali di tolong Aslan dan terlihat kesemsem pada Aslan.
"Gue kagum sama dia tapi gue nggak tahu itu rasa suka? rasa cinta atau cuma kagum doang ke dia tapi perasaan gue memang nggak bisa benci sama dia" jelas Nina.
__ADS_1
"Yakin nggak suka? yakin nggak cinta? yakin cuma rasa kagum doang? " tanya Wiwid lebih menjurus kemendesak.
Tapi Nina hanya menggidikan bahu saja dan itu membuat Wiwid jadi berdecak kesal.
"Dasar aneh elu berdua" Wiwid bangun dari duduknya dan mengambil handuk yang ada di gantungan dia pun mengambil keranjang peralatan mandinya untuk di bawa ke kamar mandi. dirinya ingin membersihkan diri setelah seharian beraktifitas.
Saat Wiwid mandi Nina pun menlanjutkan menikmati es buah yang di bawa oleh Wiwid sejak tadi, tapi saat sedang asik menikmati rasa asam manis es buah tersebut tiba-tiba Aslan muncul di ambang pintu, Nina yang terkejut dengan kedatangan Aslan sampai tersedak dan batuk-batuk.
"Uhuk... uhuk... Anda sedang apa disini Tuan Muda? " Nina ter batuk-batuk saat melihat Aslan ada di ambang pintu kamar nya.
"Kau tidak apa-apa?! " Aslan cemas dia langsung ingin melangkah ke dalam kamar Nina tapi langkahnya terhenti ketika Nina memberikan isyarat kepadanya dengan tangan ✋untuk berhenti dan jangan melangkah masuk ke dalam kamarnya, karena bisa terjadi salah faham bila ada orang yang melihat.
"Maaf tuan muda tapi jangan masuk kesini orang bisa salah faham nanti nya" ucap Nina ketika batuknya sudah reda.
"Ah... maaf aku hanya khawatir pada mu" ucap Aslan pelan.
"Ehm... anda tak perlu khawatir saya baik-baik saja" Nina berbicara lembut sebenarnya dia ingin tertawa melihat reaksi Aslan yang seperti itu karena Aslan sangat lah berbeda dari Aslan yang dia kenal sebelum dia hilang ingatan.
"Anda mau apa kesini? " tanya Nina lagi.
"Aku mengkhawatirkan mu karena kau kan tadi pingsan di kantor,apa kepala mu baik-baik saja? " tanya Aslan posisi mereka masih di tempat yang sama Aslan di ambang pintu dan Nina di dalam kamar.
manisnya.
batin Aslan saat melihat Nina tersenyum padanya.
Ck kenapa sekarang ini semua yang ada di dirinya itu terlihat manis dan menggemaskan ya?.
Aslan membatin lagi.
Nina beranjak dari duduknya dan menghampiri Aslan, dia lalu mengajak Aslan kelantai bawah yang tersedia kursi dan meja untuk para tamu yang datang berkunjung, tempat tersebut sengaja di sediakan oleh pemilik kostan untuk para tamu penghuni kostan yang ingin berkunjung dan mengobrol.
Tempat itu terletak di tengah ruangan dekat tangga dan di sekelilingnya ada beberapa kamar kost juga hingga para penghuni tak bisa melakukan hal yang di luar batas.
Nina dan Aslan pun duduk berhadapan di tempat tersebut, mereka pun berbincang-bincang tentang pekerjaan tapi tiba-tiba Nina membahas tentang Laura yang tadi sempat bertemu dengan nya di depan pintu ruangan Aslan.
"Tuan apa pacar Anda tidak marah bila tahu kalau anda ada di tempat saya? " tanya Nina sambil tertunduk.
__ADS_1
"Pacar ku kan kamu sayang" ucap Aslan lembut.
"Tapi kemarin... " Nina berhenti berbicara saat Aslan memegang tangannya.
"Papah ku belum tahu kalau saat ini yang ada di hati ku itu adalah kamu, maaf ya kemarin itu aku bohong pada mu kalau kau itu calon istri ku" Aslan menatap Nina intens.
Nina masih tertunduk ditariknya tangannya pelan dari pegangan Aslan.
"Tapi keinginan aku untuk menjadi kan mu calon istri ku itu bukan kebohongan Nina" lanjut Aslan.
Nina langsung menatap ke arah Aslan dengan pandangan sulit di artikan.
"Kau masih belum percaya? " tatap Aslan tajam.
Nina hanya menggidikan bahunya saja.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi semua yang aku katakan pada mu ini adalah hal yang sejujurnya, dan akhir pekan nanti aku kan ajak kau kerumah dan memperkenalkan mu pada papah ku" Aslan serius.
"Tapi bagaimana dengan... " ucapan Nina terpotong.
"Jangan kau bahas dia lagi, aku tak suka" Aslan menatap tajam pada Nina.
Nina yang di tatap seperti itu langsung tertunduk dia tak tahan melihat netra hitam itu menatap matanya seolah dirinya masuk kedalam lingkar hitam yang ada di mata tersebut, tapi dia menyukai mata itu.
"Tuan muda maaf sebelumnya tapi apa pantas nya aku kau perkenalkan dengan orang tua mu, aku kan belum menerima diri mu menjadi siapa-siapa diri ku? "ucap Nina polos tapi ucapan itu sungguh menohok untuk Aslan.
" Astaghfirullah Nina jadi selama ini kau kau akh.... "Aslan kesal dan langsung berdiri dari kursi.
" Aku pulang besok jangan lupa kerja datang tepat waktu"ucap Aslan ketus.
Dan dia pun langsung melangkah cepat keluar menuju gerbang kostan.
"Apa dia marah" gumam Nina saat melihat Aslan menghilang dari balik gerbang.
Tapi saat Nina kebingungan terdengar Wiwid tertawa cekikikan di atas tangga, dia tertawa karena sejak tadi dia melihat dan mendengarkan mereka berdua mengobrol😉Wiwid tertawa karena keplosan temannya itu menolak mentah-mentah Aslan.
"Elu balas dendam sama si sue Nin hihihi" Wiwid jadi ingat bagaimana perlakuan Aslan pada Nina yang begitu dingin dan sangat angkuh pada Nina seolah Nina itu bukan tipenya, tapi Tuhan berkehendak lain karena langsung membalikkan hati Aslan yang tadinya benci langsung berubah menjadi cinta.
__ADS_1
Bersambung.