
Sementara itu di pabrik tepatnya di bagian produksi, semua karyawan masih saja bergunjing tentang Nina, ada yang kasihan ada juga yang berkata pedas padanya seolah meledek.
Nina yang masih belum mengingat apa pun juga hanya bisa diam, tapi Wiwid sebagai sahabat tidak tinggal diam mendengar sahabatnya di gunjing oleh para seniornya.
"Woi bisa nggak sih itu mulut berhenti ngomong, apa nggak takut kena azab kali tuh ya oi seneng banget ngomongin penderitaan orang" celetuk Wiwid di mejanya.
"Lagian temen gue juga nggak demen tuh sama si Aslan kalian ajah yang pada bikin gosip murah tentang mereka pas Aslan nolongin Nina waktu itu" Wiwid sewot.
Nina yang mendengar Wiwid berkata seperti itu jadi bingung dan akhirnya bertanya pada Wiiwd sebenarnya hubungan dia dengan Aslan itu seperti apa.
Wiwid menutup mulutnya sendiri saat menyadari kalau dirinya keceplosan karena membela Nina.
"Wid... bisa cerita ke aku, kau tahu kan kondisi aku saat ini gimana plis cerita yang sebenarnya sama aku" Nina memaksa Wiwid untuk bercerita yang sebenarnya padanya.
Dengan menghela nafas akhirnya Wiwid pun menceritakan semuanya pada Nina meski tahu konsekuensi nya akan berat untuk nya karena Aslan pasti akan marah besar bila tahu Wiwid menceritakan semua kebenarannya pada Nina.
Nina meremas plastik kemasan yang ada di tangannya, dirinya benar-benar marah dan kecewa saat ini karena tahu kalau dirinya di bohongi oleh Aslan dan teman-temannya.
"Kenapa kalian tega sih, kenapa kamu setega ini sama aku Wid... " ucap Nina dingin dengan tatapan yang tajam dan menghujam ke arah Wiwid.
"Maaf Nin bukan maksud gue ikut ngebohongin elu, tapi ini semua karena Aslan beneran cinta sama elu" ucap Wiwid yang merasa bersalah pada sahabatnya ini.
"Heuh.... cinta kau bilang, kau lihat tadi di panggung siapa yang akan menjadi calon tuanangannya dan siapa aku, aku ini hanya mainannya saja Wid lantas kau bilang itu cinta?! " Nina kesal dia berusaha menahan emosi nya agar tak meledak saat jam kerja masih berlangsung.
"Jangan anggap aku sahabat mu lagi, karena kau pun sama saja dengan mereka" ucap Nina sinis.
"Ye... Nin jangan marah sama gue dong... gue kan nggak salah sepenuhnya" Wiwid mencoba membela diri.
"Tapi kau menyembunyikan semua kebenaran pada ku Wid, ah... sudah lah tak usaha di bahas aku sudah tak mau mendengar pembelaan apa pun lagi dari mulut kalian" Nina tetap tidak mau mendengar pembelaan Wiwid.
Dan akhirnya mereka berdua pun saling berdiam diri selama bekerja. Perang Dingin terjadi antar keduanya karena sebuah kebenaran yang di ungkap ka oleh Wiwid.
__ADS_1
Dan waktu trus berputar hingga jam makan siang hampir tiba, Zaed masuk ke area produksi dan langsung berjalan ke arah meja Nina, semua mata memandang ke arah Zaed yang berjalan ke arah meja Nina, Zaed memberitahu kalau Aslan meminta nya menemuinya di ruangannya.
Nina sebenarnya malas menemui Aslan lagi, tapi dia pun tak mungkin membiarkan Zaed berdiri terus karena menunggu nya pergi bersamanya, hingga akhir dia pun dengan terpaksa mengikuti kemana Zaed membawanya.
Nina berjalan di lorong kantor menuju ruangan Aslan dengan wajah yang masih tak berubah wajah yang dingin dan kaku, Zaed mengetuk pintu ruangan Aslan sebelum masuk dan ketika mendengar suara yang menyuruhnya masuk dia pun akhirnya membuka pintu dan mempersilahkan Nina masuk.
Nina berjalan masuk keruangan tersebut, Aslan yang melihat kekasihnya berada disana langsung menhampiri nya, namun Nina menatapnya tajam.
"Kau marah? " tanya Aslan.
"Maaf Pak anda ada keperluan apa memanggil saya kesini? " tanya Nina pada Aslan dengan nada dingin bahkan Nina berbicara tanpa melihat ke arah Aslan tatapan matanya mengarah ke arah lain ke arah sofa yang ada di ruangan itu.
"Sayang... aku akan jelaskan semua sama kamu jadi sekarang duduk lah dulu"
Nina mengejela nafas dan meniupkannya ke udara dan menuruti Aslan untuk duduk di sofa di ruangannya tersebut.
Aslan duduk di sebelah Nina saat Aslan ingin menggenggam tangan Nina, Nina langsung menarik tangannya.
"Sayang... ku mohon jangan marah seperti ini jangan panggil aku seperti itu" nada Aslan memohon.
Nina melipat bibirnya kedalam dan kemudian berbicara semua yang dia tahu.
"Aku memang hilang ingatan tapi setidaknya kau tidak mempermainkan hidup ku Aslan" ucap Nina lirih dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Maaf tapi aku tidak berniat membohongi mu, perasaan aku pada mu itu jujur apa adanya" jelas Aslan.
"Sudahlah sebaiknya kita sudahi saja permainan ini, anggap kita tidak pernah kenal, karena bagi mu saat ini kau adalah seorang CEO dan aku hanya buruh pabrik tidak pantas rasanya seorang CEO menjalin hubungan dengan seorang buruh, permisi pak" Nina bangkit dari duduknya Aslan berusaha menahan tangannya tapi ditepis oleh Nina dan Nina segera meninggalkan ruangan tersebut dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.
Nina berjalan ke toilet dahulu dia tidak mau kalau teman-temannya melihat nya menangis sehabis dari ruangan CEO mereka.
"Aku harus kuat aku harus bisa mengembalikan ingatan ku agar aku tahu semua yang terjadi pada sebelum kecelakaan itu terjadi" ucap Nina yang menatap bayangannya sendiri di cermin.
__ADS_1
Sementara itu Aslan kesal di ruang kerjanya karena tidak bisa berbuat apa-apa, Aslan kesal pada Wiwid karena menceritakan semuanya tapi dia juga tak bisa menyalahkan Wiwid begitu saja karena kesalahan memang terletak pada diri nya sendiri, karena dia sendiri lah yang mengarang semua cerita tentang hubungan mereka berdua.
"Tuan muda sebaiknya anda tenang, mungkin saat ini Nina memang sedang sulit di bujuk berkah dia waktu beberapa hari agar dia tenang setelah itu barulah anda menemuinua lagi" ucap Zaed.
"Huft elu bener juga Zay... gue. harus tenang kalo tahu jadi CEO bakalan seperti ini gue lebih milih jadi buruh pabrik seumur hidup dah dari pada di musuhin sama orang yang gue sayang" Aslan geram.
Zaed tersenyum.
"Tapi takdir tak mengijinkan anda untuk selalu menjadi buruh pabrik tuan muda... karena anda adalah seorang penerus perusahaan ini dan kakak anda penerus rumah sakit" Zaed mencoba membuka fikiran Aslan agar menyadari posisi sejak lahir.
"Kalau boleh milih gue mending lahir di keluarga biasa deh dari pada keluarga konglomerat begini" Aslan bersandar di kursi kerja nya.
"Oia gimana anak-anak geng? " tanya Aslan pada Zaed.
"Apa anda masih berniat untuk terjun kesana lagi tuan? setelah insiden terakhir itu? " tanya Zaed ragu.
Aslan terdiam saat mendengar ucapan asistennya itu, karena biar bagaimana pun juga geng motor itu adalah seperti keluarga keduanya dia tak mungkin melupakan para sahabatnya yang ada disana.
"Oia elu bilang tadi elu di ajak bicara sama Laura, apa yang dia tanya sama elu? " tanya Aslan lagi pada Zaed.
"Dia nanyain siapa cewe yang sekarang ngisi hati anda, dan saya tidak menberitahunya karena anda pasti tidak setuju bila dia mengetahuinya" jelas Zaed.
Aslan hanya mengangguk tanda setuju dengan Zaed.
"Oke Zay nanti malam bilang pada anggota geng kalau aku mengadakan pertemuan di markas seperti biasa" Aslan kembali berbicara tentang geng motor nya.
"Astaghfirullah Aslan elu masih mau jadi ketua geng motor? " Zaed akhirnya mengeluarkan kata-kata tidak formal karena kesal pada sahabat sekaligus bosnya ini.
Aslan hanya tersenyum miring saja saat mendengar temennya kesal karenanya.
Bersambung.
__ADS_1