
"Zay... " gumam Gio.
Gio menelan slivanya dengan susah payah saat melihat kemarahan di wajah sahabatnya itu, bahkan saat ini wajah Zaed berubah menjadi merah seperti tomat, bukan karena tersipu malu tapi karena marah, dan kemarahannya sudah memuncak saat ini bahkan rasanya kepalanya pun sudah mengeluarkan asap karena panas.
Zaed berjalan cepat ke arah Gio dan tanpa aba-aba lagi Zaed langsung melayangkan bakpao keras di wajah Gio hingga Gio terjatuh dari motornya.
Brugh...
"Dasar anjing gila lu setan kurang ajar sialan lu bangsat" semua cacian di keluarkan oleh Zaed untuk Gio.
Gio mengusap sudut bibirnya yang pecah dan berdarah karena hantaman pukulan dari Zaed, dia pun bangun dari posisi jatuhnya saat ini.
Dan karena kesal Gio pun memukul balik wajah Zaed dan terjadilah baku hantam antara keduanya di tepi jalanan itu. hingga keduanya berhenti saat keduanya ingin saling pukul dan saling tarik menarik kerah pakaian mereka, keduanya melepaskan cengkraman pada kerah baju mereka.
"Kenapa elu setega itu Gi... sama Laura? asal elu tahu gara-gara elu, dia berubah jadi psikopat bego... dia hampir ngebunuh anak orang kemarin gara-gara dia mau ngedapetin Aslan" jelas Zaed ngos-ngosan dia masih emosi.
Gio yang mendengar itu hanya mendengus sinis.
"Heuh... Aslan ya... dia lagi, gue nggak nyangka pelarian dia ke cowo payah itu" ucap Gio sinis.
"Jangan sembarangan lu kalo ngomong, kalo elu ketemu dia juga elu pasti udah ngacir duluan karena takut" Zaed membela Aslan.
"Bela ajah terus Zay... temen baru elu itu" Gio kesal pasalnya mereka kenal sejak kecil sedangkan dengan Aslan Zaed baru kenal sejak mereka sekolah di SMP yang sama.
"Mau baru mau lama tapi akhlaknya dia lebih baik dari pada elu sialan" Zaed kesal.
"Oia terus gimana Laura? dimana dia sekarang kemarinnya waktu gue baru balik dari luar negeri gue ngajak dia ketemuan di restoran tapi ketemu dia nggak gue kehilangan mobil iya" keluh Gio.
"Elu kehilangan mobil? mobil apaan? " tanya Zaed bingung.
"Mobil sedang hitam" jelas Gio.
"Sedan hitam? merek itu dengan plat nomor xxxxx" tanya Zaed.
__ADS_1
"Iya kok elu tahu? " tanya Gio heran.
"Mobil lu di ambil Laura bodoh, itu mobil dia gunakan untuk ngebunuh temen gue" jelas Zaed.
"Hah?! segila itukah dia?! " Gio terkejut.
"Ya begitulah, sekarang dia di penjara, dia berarti mau nemuin elu waktu itu di restoran tapi kayanya niatnya berubah pas lihat mobil elu dan dia akhirnya malah nekat" jelas Zaed.
"Iya sih ya kenapa gue nggak curiga ya waktu gue sempat lihat rekaman CCTV di restoran kalo yang nyuri mobil gue tuh punya kunci mobil gue, dan yang punya kunci mobil gue itu ya cuma gue sama Laura" jelas Gio.
"Nah itulah elu terlalu bodoh" celetuk Zaed.
"Terus sekarang Laura ada dimana?" Gio penasaran sebenarnya dia masih mencintai gadis itu hanya saja pertengkaran tempo hari membuat hubungan mereka jadi kandas.
"Dia di penjara sekarang, gue minta sama elu, bujuk dia buat berubah buat bertobat biar nggak gila gitu Gio... karena sebentar lagi Aslan itu akan menikah" jelas Zaed.
"Ck... bisa nggak ya... elu tahu sendiri watak Laura kerasnya minta ampun" keluh Gio.
"Bisalah... dia kan nurut banget sama elu, dia itu cinta banget sama elu, dan karena elu kecewain dia kemarin dia malah nekat mau deketin Aslan lagi buat pelarian doang, dia nggak tahu kalau Aslan sudah nggak cinta sama dia dan sudah punya perasaan sama calon istrinya ini" jelas Zaed agar Gio mau menemuiLaura di penjara dan membujuk Laura untuk bertobat.
"Gi.... tolong lah... kasihan dia sebenarnya, nanti gue akan coba bujuk Nina untuk nggak memperpanjang kasus ini, agar Laura bebas dari penjara" Zaed mengiba pada Gio.
"Ck elu kenapa ngebelain dia sampe sebegitu nya sih Zay... jangan bilang elu suka sama dia, Zay dia itu salah ya harus Terima hukuman nya lah... " Gio kesal.
"Gi... gue begini bukan karena gue suka sama dia tapi karena gue nggak tega lihat temen kecil kita menderita di penjara masa iya elu tega sih Gio... dia cewe yang pernah tinggal satu atap loh sama elu masa iya elu setega itu sama dia" Zaed kesal hingga menaikan suaranya.
Gio memghela nafasnya dalam karena sahabatnya itu begitu membela Laura.
"Nggak masuk di akal lu, heuh bilang ajah kalo elu suka sama dia Zay udah jangan munafik dah lu" Gio sewot dia pun berjalan ke arah motornya yang tergeletak di tepi jalan dan mendirikan motor tersebut dan langsung menaikinya.
"Gue nggak suka sama dia Gio, gue cuma anggap dia temen dan nggak lebih dari itu, ada orang lain yang gue suka tapi bukan dia" Zaed menatap tajam pada Gio.
Karena semua yang di katakan Zaed adalah kebenaran dirinya tidak menyukai Laura dirinya hanya kasihan dan menganggap Laura itu sahabatnya, terus terang saat ini dirinya itu sedang dilema karena harus memilih diantara kedua sahabatnya, antara Aslan atau Laura keduanya begitu berarti untuk Zaed.
__ADS_1
Dan untuk seseorang yang di sukai Zaed... hahaha sepertinya itu hanya kebohongan saja karena selama ini dirinya belum pernah terlihat menyukai lawan jenis nya.
Semoga Zaed bisa segera bertemu dengan seseorang yang benar-benar bisa mencuri hatinya.
Treeeeetttt....Tiba-tiba ada segerombol semut muncul di layar TV.
"Woi.... larat woi... gue itu beneran suka sama seseorang cewe tapi gue emang nggak pernah bilang sama siapa pun selama bertahun-tahun rasa itu hanya gue simpan di dalam hati sangat rapat hingga tak ada orang yang tahu dan menyadari hal itu, untuk orangnya siapa eits.... itu masih rahasia.... hihihi"begitulah ungkapan protes Zaed pada author.
"Hahaha maaf maaf Zay... saya kira kamu beneran nggak mau punya pasangan di karya saya hahaha" jawab author.
"Ye... jangan gitulah thor... masa semuanya punya pasangan cuma gue doang nanti yang jomblo gue juga kan pengen jatuh cinta 🥰" protes Zaed.
"Oke nanti author kasih kamu pasangan biar kamu nggak iri nanti sama Nina dan Aslan dan semua yang berpasangan di novel ini hahaha maunya kaya gimana cewek idaman mu itu? " tanya author.
"Kaya gimana ya.... 🤔" Zaed mikir.
"Ah.... kelamaan dah lah ikutan ajah jalan cerita dari author dah ya... yang jelas nanti cewe kamu itu.... hemmm eits masih rahasia hahaha"
"Dasar author pelit kasih clue gitu?biar para readers nggak penasaran" pinta Zaed kesal.
"Nggak ada clue ya... kamu fikir ajah sendiri dan nanti kirim ke mimpi saya agar saya bisa melukiskan wanita idaman mu seperti apa dalam tulisan oke Zay... bye.... "author kabur 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Lanjut ke cerita oke... maaf tadi cuma intermezo ajah oke biar nggak bosen ya...
Gio langsung menyalahkan mesin motornya dan langsung memutar gas kemudiannya dan berjalan menunggalkan Zaed sendirian di tepi jalan bersama mobilnya, Zaed menatap punggung sahabatnya itu hingga menghilang di kejauhan.
"Masa elu setega itu sih Gi... sama Laura" gumam Zaed.
Zaed pun membuka pintu mobilnya dan langsung masuk kedalam mobilnya, jalanan malam ini memang sepuluh hingga saat mereka baku hantam di pinggir jalan pun tak ada yang melerai pertengkaran mereka karena jalanan begitu sunyi.
Tapi Zaed salah karena Gio sebenarnya tidak benar-benar tega pada Laura dia pun kepikiran tentang gadis itu, gadis yang selama bertahun-tahun mengisi hati dan hari-harinya, gadis yang selalu menemaninya disaat dirinya sendirian di negeri orang untuk menimba ilmu.
Gadis yang banyak berkorban untuk dirinya, padahal dulu bisa saja Laura memilih Aslan yang lebih tampan dan lebih kaya dari pada dirinya tapi Laura lebih memilih untuk keluar negeri bersama Gio selain diri nya ingin menimba ilmu disana dirinya pun ingin menjadi orang yang selalu ada untuk Gio, hingga sampai ada kejadian dimana Gio terlibat skandal dengan seorang wanita di luar sana dan Laura sangat kecewa dan akhirnya memilih untuk pergi dari Gio dan kembali ke negeri nya sendiri dan berniat memanfaatkan Aslan untuk membalas perbuatan Gio, namun sayang semua itu diluar dugaan Laura karena Aslan sudah melupakannya dan sudah mempunyai cinta barunya.
__ADS_1
"Maafin gue Ra... tapi gue janji gue pasti akan bantu elu, akan gue usahain sekeras mungkin agar elu bisa keluar dari jeruji besi itu bahkan kalau perlu gue akan gantiin elu berada disana" gumam Gio pada angin malam yang ikut menemani perjalanan nya malam ini ke sebuah apartemen mewah milik nya.
Bersambung.