
Kembali lagi di ruangan dokter Ryan.
Tuan Herald terlihat menatap anak bungsunya dengan tajam, Aslan yang di tatap seperti itu langsung memutar matanya malas.
"Kenapa papah ngeliatin nya begitu? " tanya Aslan malas.
"Adam... apa kau sangat mencintai gadis itu?" tanya tuan Herald serius.
"Iya papah aku sangat mencintai nya" jawab Aslan.
"Yakin itu perasaan cinta bukan perasaan simpati saja? " tanya tuna Herald lagi.
"Yakin papah kenapa sih memangnya? " Aslan kesal. karena dia terlalu lama tertahan di ruangan kakaknya dan dia sangat mengkhawatirkan Nina.
"kalau kau benar-benar serius dengannya makan bawa papah kepada orang tuanya, papah akan melamar dia untuk mu" ucap papah tegas.
dokter Ryan dan Aslan langsung mangap karena tak menyangaka kalau papah mereka mempunyai pemikiran seperti itu.
"Papah serius pah? " tanya dokter Ryan ragu.
"Ya serius dong adik mu sudah serius kok, masa papah bercanda" ucap papah santai.
"Tunggu pah masalahnya nggak semudah itu pah" Aslan langsung berbicara.
"Kenapa memangnya? " tanya papah bingung.
"Masalahnya Nina itu sudah tidak berhubung dengan keluarga nya lagi sekitar satu tahun ini, sebab dia di usir oleh ayahnya karena ayahnya lebih memilih ibu tirinya dari pada dirinya pah" jelas Aslan.
"Anak itu diusir ayahnya? dan laki-laki itu lebih memilih istri barunya dari pada anak kandung nya sendiri?" tanya papah seolah tak percaya.
Aslan hanya mengangguk sajaenjawab pertanyaan papahnya.
"Astagfirullah ada orang sekejam itu" tuan Herald sampai beristighfar mendengar kemalangan Nina.
"Fix kau harus segera menikahinya dan membawanya pergi dari keluarga itu dan buatlah cucu yang lucu-lucu untuk papah" tuan Herald asal bicara saja.
"Tapi abang kan belum menikah pah masa aku harus mendahului abang, lagi pula aku dan Nina masih terlalu muda pah untuk menikah" Aslan masih berusaha menolak permintaan papahnya.
"Kami ingin anak itu di rebut orang lain? kalau kalian menikahkan tak ada orang lain yang bisa memiliki nya Adam Aslan" ucap Tuan Herald tegas.
__ADS_1
"Iya juga sih, tapi bisa kah aku bicarakan dulu dengan Nina maslah ini, karena ini termasuk membahas masa depan loh pah"
"Aku setuju dengan Aslan pah... kita jangan ambil keputusan secara sepihak kita harus tanya juga sama Nina apa dia mau menjadi istri Aslan, sebab untuk jadi pacarnya saja sampai sekarang status mereka belum jelas hihi" dokter Ryan terkikik.
"Jadi sebenarnya kalian belum berpacaran?" tanya tuan Herald.
Aslan melirik kakaknya dengan wajah kesal. dan akhirnya mengangguk ragu.
"Wah itu bagusemang sebaik seperti itu, kalian menikah dulu pacarannya nanti setelah kalian menikah" papah Herald nampak senang mendengar itu.
Sekarang kita temui gadis itu dan bertanya padanya bagaiamana dia setuju atau tidak dengan pernikahan ini.
Mereka bertiga pun keluar dari ruangan dokter Ryan dan langsung berjalan menuju ruang VVIP, dan saat mereka sampai di ruangan tersebut mereka bertiga pun melihat ke arah Nina yang sedang tergolek lemas di brankar.
Aslan mendekat pada Nina dia pun duduk di sisi brankar Nina, Nina tersenyum pada tuan Herald dan tuan Herald pun tersenyum pada Nina dan dia pun mendekat pada brankar Nina.
Aslan memegang tangan Nina sebelum dirinya bernicara, Nina menatap bingung padanya saat itu.
Tapi saat Aslan ingin bicara tiba-tiba tuan Herald langsung berbicara lebih dahulu pada Nina.
"Nak... maukah kau menjadi menantu ku? menjadi istri Aslan? " tanya tuan Herald tiba-tiba.
"Apa?! " Nina terkejut.
Nina langsung menatap ke arah Aslan.
"Apa yang kau katakan pada ayah mu, hingga beliau mengatakan itu pada ku? " tanya Nina pada Aslan.
"Aku hanya mengatakan kalau aku mencintai mu dan papah langsung menyuruh kita menikah" jawab Aslan polos.
"Tunggu tuan besar maaf kan saya bukan saya menolak niat baik anda tapi apa ini tidak terlalu cepat? " ucap Nina tegas.
"Tapi bukan kah lebih cepat lebih baik kenapa harus di undur-undur? " tanya tuan Herald.
"Bukan begitu tapi... "
"Tak usaha pakai tapi-tapi" tuan Herald langsung memotong ucapan Nina.
"Tapi kak... " Nina langsung melihat ke arah Aslan di meminta Aslan untuk menjelaskan semuanya kepada papahnya itu agar mereka tidak segera menikah begitu.
__ADS_1
"Nanti setelah kau sembuh dan keluar dari rumah sakit aku akan langsung mendatangi ayah mu itu dan melamar mu untuk menjadi istri Aslan" tuan Herald kukuh dengan pendirirannya.
"Kita turuti saja dulu nanti kita bisa memikirkan rencana kedepannya oke, untuk saat ini kita turuti saja permintaan papah, lagi pula tak ada buruknya kan bila kita menikah" Aslan dengan santainya mengatakan itu.
Ya Allah setelah berbagai penderitaan yang telah menimpa sahabat ku ini, dirinya langsung di timpa kebahagiaan yang tak terduga, siapa sangka kalau tuan besar langsung yang berbicara ingin melamar dirinya sebagai menantu, gue bangga sama elu Nin...
Batin Wiwid yang sungguh terharu dengan kabar bahagia ini.
"Ya sudah sekarang kamu pulang sama papah besok kamu ada meeting penting kan?"tuan Herald mengajak Aslan pulang.
Tapi Aslan menolak tidak mau pulang.
" Tidak mau aku mau disini biar besok aku berangkat dari sini saja bersama Zaed "tolak Aslan.
" Astaghfirullah Aslan... "sentak papahnya.
" Apa kau fikir penjahat itu akan kembali lagi kesini setelah penjagaaan cukup ketat di luar kamar ini bodoh?! "omel papahnya.
"Lagi puka kalian itu belum muhrimnya jadi bahaya kalau kalian satu ruangan begini apa. lagi malam-malam" oceh papah semakin panjang lebar.
"Iya Lan... sebaiknya kau pulang dulu ya... tenang saja kita nggak akan kecolongan lagi kok, percayalah" bujuk dokter Ryan.
"Bener ya... awas loh kalau sampai Nina kenapa-kenapa lagi" Aslan seolah seperti anak kecil yang merengek karena berat meninggal kan orang yang dia kasihi di luar pengawasan dirinya.
Akhirnya tuan Herald dan Aslan pun meninggalkan ruang rawat Nina, dan Nina tinggalah berdua saja dengan Wiwid di ruangan tersebut, Wiwid menjerit senang saat memastikan tuan Herald dan Aslan juga dokter Ryan meninggalkan ruanga tersebut.
"Aaaa gila Nin... alhamdulillah gue seneng banget dengar nya elu di lamar sama calon mertua Nina selamat ya... kawan" Wiwid memeluk tubuh Nina Karena senang.
"Apaan sih Wid... kalau gue nikah kuliah gue gimana? ck "
"Ya elu bisa kali sambil kuliah merangkap menjadi istri"
"Elu fikir gampang jadi istri sambil kuliah?! " Nina sewot.
"Ya elu ajah bisa kan kerja sambil kuliah, masa iya elu nggak bisa sambil jadi istri elu juga kuliah bisa lah bisa dong Nina gitu loh, eh... jodoh udah di depan mata jangan di tolak nanti nyesel loh, dah gitu jodoh lu berasal dari keluarga yang baik kurang apa coba" Wiwid memberikan saran.
"Gue cuma bingung nantinya kalau gue tiba-tiba balik ke rumah ayah gue dan bilang gue mau nikah yang ada mak Lampir itu nuduh gue yang bukan-bukan deh pasti deh itu orang kan nyebelin banget"
"Ck... elu kesana sama calon mertua elu dan calon suami elu lah Nin... jadi kalau ada apa-apa nantinya elu ada yang belain" saran Wiwid lagi.
__ADS_1
Nina pun hanya manggut-manggut saja membenarkan perkataan sahabatnya ini.
Bersambung.