
Malam hari tepat nya pukul 7malam, ada seorang petugas dapur yang membawa troli menuju lorong ruang VVIP, dia lalu masuk ke ruangan VVIP atau ruang rawat Nina.
Nina yang sudah terbangun dari pengaruh obat bius pun, masih di temani Aslan bahkan Aslan saat ini sedang menyuapi nya makan buah.
Petugas dapur yang memakai masker itu pun, berniat mengambil piring diruang tersebut piring, yang disajikan untuk makan pasien dan biasanya pada jam seperti ini pasien pasti telah menghabiskan makanan nya, namun karena ini kelas VVIP ditambah lagi di ruangan ini pasien yang sedang di rawat adalah orang spesial yang masih punya hubungan dengan pemilik rumah sakit, para petugas dapur pun tak bisa sembarangan, mengambil piring bekas makan pasien, terlebih lagi bila piring tersebut belum sama sekali di sentuh makanan nya.
Dan seperti malam ini makanan di piring tersebut masih utuh dan petugas dapur pun tak berani mengangkat nampan yang ada di meja makan pasien. hinga petugas dapur pun meninggalkan piring tersebut diruang tersebut.
Nina yang melihat petugas itu tak jadi mengambil nampan berisi jatah makanan nya pun berbicara pada petugas dapur tersebut.
"Ambil saja pak, saya tidak makan" ucap Nina dengan nada yang lemah.
"Kamu nggak mau makan sayang? nanti kamu lapar? " tanya Aslan lembut.
"Tidak kak... aku sudah makan buah saja, kasihan petugas nya nanti bolak-balik tapi aku tidak makan juga, lagi pula sayang makanan nya kalau sampai terbuang bila itu masih ada disini sampai besok pagi" jelas Nina dengan lembut.
"Ooo ya sudah pak ambil saja" ucap Aslan pada bapak-bapak petugas dapur.
Aslan berfikir kembali, saat melihat petugas dapur tersebut.
Setahu ku petugas dapur itu, tidak ada yang tua, kecuali juru masak kenapa ada orang tua menjadi penyaji.
Aslan curiga.
"Maaf pak bisa Anda membuka masker anda?"pinta Aslan.
Nina terlihat bingung saat Aslan meminta petugas dapur tersebut membuka masker nya.
Petugas dapur itu pun sedikit gugup. saat Aslan meminta membuka masker wajahnya.
" Maaf tuan tapi saya sedang terkena flu jadi saya takut menularkan sakit saya pada anda dan juga nona bila saya membuka masker saya "jelas petugas dapur tersebut.
" Hem tidak apa-apa buka saja, sistem kekebalan tubuh saya bagus kok jadi tidak mudah tertular penyakit "ucap Aslan santai.
__ADS_1
Dan Aslan semakin penasaran dengan petugas dapur tersebut karena, orang itu terlihat sangat gugup.
Aslan bangun dari kursinya dan mendekati petugas dapur itu, dia lalu menarik paksa masker yang digunakan petugas dapur tersebut. dan betapa terkejutnya Aslan dan Nina saat tahu wajah di balik masker tersebut.
"Ayah... " ucap Nina pelan.
"Anda? " Aslan menyipitkan matanya.
"Keluar dari sini?! " usir Aslan.
"Nak tolong lah aku hanya ingin melihat keadaan putri ku saja" tuan Sanders memohon.
Nina yang melihat ayahnya mengiba seperti itu jadi tak tega.
"Kak... biarkan ayah" pinta Nina.
"Tidak sayang aku tidak mau terjadi apa-apa lagi pada mu" Aslan khawatir.
Aslan tertegun mendengar perkataan Nina, dia tak menyangka sepercaya itu Nina pada ayahnya padahal. orang ini adalah orang yang telah menelantarkan dirinya selama dua tahun belakangan ini.
Tuan Sanders meneteskan air matanya saat mendengar perkataan putrinya, hingga dia mendekat pada brankar Nina dan memeluk tubuh putri bungsunya itu.
"Maafkan ayah Nak... maafkan Ayah Nina, karena ayah tidak percaya pada mu nak, padahal kau begitu percaya pada ayah maafkan ayah nak" ucap Ayah sedih saat memeluk tubuh putrinya.
"Tak apa ayah" ucap Nina pelan.
ayah melonggarkan pelukannya dan melihat wajah putrinya tersebut, putri yang telah dia usir dia tahun yang lalu karena istri baru nya.
"Ayah tahu dari mana aku disini? apa dari dia?"tanya Nina.
Tuan Sanders mengangguk saat Nina menyebutkan kata dia.
" Dia tadi datang ke kantor dan memberitahukan kalau kamu kaki mu hiks... hiks... "ayah malah menangis dan tak bisa meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
" Kaki ku baik-baik saja ayah... aku di tangani oleh dokter hebat namanya dokter Calvin dia yang mengoperasi ku, meski ada insiden saat diruang operasi tadi tapi dokter Calvin mampu mengatasinya, aku masih bisa berjalan normal ayah setelah aku sembuh nantinya "jelas Nina.
" Syukur lah... "tuan Sanders bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada putrinya.
Aslan melihat kesal pada tuan Sanders, meski itu ayah kandung kekasihnya tapi entah kenapa dia sangat tidak suka kalau Nina dekat-dekat dengan ayahnya sendiri.
Tuan Sanders melihat ke Arab Aslan dan akhirnya memintanya berbicara dengan serius.
Tuan Sanders berkata kalau dirinya tahu kalau Aslan sedang menyelidiki kasus kematian ibu kandung Nina.
"Maaf bukan aku menghalangi penyelidikan orang mu tapi aku pun sedang menyelidikinya, aku juga merasa ada yang tidak beres dengan kematian istri ku, hingga aku mengusir Nina dari rumah bukan benar-benar mengusirnya, tapi demi melindungi Nina dari ancaman bahaya aku harus membuat Nina meninggalkan rumah, aku curiga saat dia di pecat dari rumah sakit tempatnya bekerja, ada laporan kalau dia memberi obat yang mengakibatkan pasien tersebut mati bukan sembuh tapi meregang nyawa secara pelan-pelan, dia sangat pintar hingga tak ada bukti yang memberatkan dia, saat keluarga di minta melakukan outopsi keluarga tersebut menolak dan mengikhlaskan kematian orang tersebut hingga tak ada bukti, tapi temen sejawat nya menjadi saksi kalau dia memang selalu memberikan obat yang lain pada pasien tersebut, tapi teman sejawat nya itu sampai hari ini tidak di ketemukan keberadaan nya, hingga tak ada saksi mata atas kejahatannya "tuan Sanders bercerita.
" Aku saat ini sedang menyelidiki nya, hingga aku meminta seorang penyidik untuk membuka kuburan istri ku, oleh karena itu orang suruhan mu tak aku beri ijin untuk membongkar kuburan istri ku"jelas tuan Sanders.
Nina yang mendengar cerita ayahnya sungguh merasa terharu, karena dia tak menyangka dibalik sikap keri ayahnya ternyata itu semua demi melindungi nya.
"Lantas tempo. hari kenapa Anda sampai ingin memukul Nina di tempat umum?! " tanya Aslan ketus.
"Maaf nak itu adalah bagian rencana ku, saat itu ada Fika yang mengawasi kami disana, aku sengaja memancing emosi Nina hingga aku pun akhirnya berpura-pura emosi dan ingin memukulnya, dan aku tahu kalau ada kau disana yang akan melindungi putri ku" jelas tuan Sanders.
Nina terharu mendengar cerita ayahnya.
"Lantas kemana Anda selama ini dia telantar karena Anda" jelas Aslan kesal dia masih belum percaya dengan calon mertuanya ini.
"Aku tak membiarkannya terlantar begitu saja nak, selama dia masih sekolah aku diam-diam membuayi dia lewat konfeksi tempat kerja paruh waktunya, dan aku meminta pihak kampus untuk merahasiakan tentang beasiswa yang aku kirimkan untuknya" jelas tuan Sanders.
Nina semakin terharu dengan cerita ayahnya hingga air matanya menetes.
"Biar bagaimana pun dia adalah putri kandung ku nak, aku tak akan rela bila terjadi sesuatu yang buruk padanya, tapi demi menjebak Fika aku harus mengorbankan anak ku dan rela di benci oleh anak ku meski itu menyakitkan" jelas tuan Sanders.
"Ayah.... maafkan aku ayah... karena aku tak pernah mengerti ayah" ucap Nina lirih.
Bersambung.
__ADS_1