
Nina berjalan ke pantry dan dengan wajah sedih dia masuk ke pantry, Nike yang melihat wajah Nina berubah setelah mengantarkan minuman ke ruangan CEO pun bertanya padanya.
"Kenapa apa tuan muda marah sama kamu? " tanya Nike.
Nina hanya mengangguk dan membuatkan minuman lagi untuk Aslan, tapi baru saja dia membuka kitchen set dia teringat sesuatu dan dia pun berlari keluar Pantry.
"Nina kamu mau kemana? " tanya Nike yang kebingungan. melihat Nina Tiba-tiba berlari keluar.
"Sebentar nanti aku kembali lagi" Nina masuk ke dalam lift dan turun langsung ke lantai dasar sampai di lantai dasar Nina langsung berlari ke arah taman.
Dengan nafas yang ngos-ngosan Nina menatap sebuah bunga mawar yang sedang mekar, dia tersenyum saat itu dan langsung memetik bunga tersebut.
"Aw... " Nina terkena duri mawar tersebut tapi tak di hiraukan nya dia lalu memetiknya dan mengambil kelopaknya.
Setelah itu dia langsung berlari lagi ke dalam kantor dan masuk kedalam lift, setelah sampai di lantai yang di tuju Nina langsung berlari ke pantry, dari jendela ruangannya Aslan bisa melihat gadis itu sedang berlarian kesana kemari.
"Sedang apa dia bukannya buatkan aku minuman malah berlarian kesana kemari? " gumam Aslan saat melihat Nina melewati ruangannya.
Saat sampai di pantry Nina langsung membuat teh dan memasukan kelopak mawar yang sudah dia cuci terlebih dahulu di air mengalir, air panas yang di masak terlebih dahulu oleh Nina dan di masukan kelopak mawar ke dalam teh tersebut membuat aroma teh menjadi berbeda.
"Nina tuan muda menanyakan mana minumannya kenapa kamu lama sekali?! " sentak Marni tapi tak di dengarkan oleh Nina dia cuek saja dan terus membuat teh untuk bosnya itu.
"Wah.... wanginya" ucap Nike saat aroma teh mawar menyerbak di ruangan pantry.
"Kamu metik bunga di taman? " tanya Nike.
Nina hanya mengangguk saja.
"Si bos lagi badmood semoga setelah meminum teh ini dia bisa lebih realeks, aku antar dulu ke ruangannya ya" Nina meninggalkan pantry dengan membawa cangkir berisi teh mawar.
"Dasar anak baru suka se enaknya saja" gerutu Marni.
Nina mengetuk pintu ruangan Aslan dan setelah terdengar suara yang mengatakan masuk Nina pun membuka pintu dan masuk ke ruangan tersebut.
Tapi baru juga selangkah kakinya melangkah Aslan sudah menyemprot dirinya.
"Kemana saja kamu?! apa yang kamu kerjakan sejak tadi hah buat minuman saja lama sekali?! " bentak Aslan.
Nina berjalan mendekati meja Aslan dan menaruh teh itu di meja Aslan, Aslan melihat cangkir yang berisi teh lagi dan langsung protes lagi.
"Apa kau hanya bisa membuat teh hah, sudah aku katakan aku sedang tidak ingin minum teh?! " bentak Aslan lagi.
"Tapi di pantry hanya ada teh dan kopi instan tuan muda anda kan tidak suka dengan kopi instan karena rasanya kurang cocok di lidah anda" jelas Nina.
Aslan mengerutkan dahinya karena kenapa Nina bisa tahu kalau dirinya tidak suka kopi instan.
"Dari mana kau tahu kalau aku tidak suka kopi instan? " tanya Aslan penuh selidik.
"Dulu waktu di taman hiburan anda mengatakan pada ku saat kita sedang mencari munim... ups" Nina langsung menutup mulutnya karena dia keceplosan.
Aslan langsung mendekat padanya dia lalu menatap tajam mata Nina tapi gadis itu segera memalingkan wajahnya, Aslan meraih pipi Nina dan di arahkan padanya tapi Nina tetap tidak mau menatap nya.
__ADS_1
"Ingatan mu sudah kembali? " tanya Aslan pelan.
Nina terdiam.
"Sejak kapan? " tanya Aslan lagi.
Tapi Nina masih terdiam.
"Nina jawab aku?! " sentak Aslan.
Nina Tertunduk.
"Aku rasa tak penting juga anda tahu atau tidak ingatan ku ini kembali atau tidak" ucap Nina pelan.
"Kenapa tidak penting? oh iya aku lupa aku bukan siapa-siapa kamu dan aku juga bukan orang yang berartikan untuk mu hemft aku lupa itu" Kata-kata Aslan dingin.
Nina mengepalkan tangannya.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu tuan muda, apa anda lupa semalam apa yang sudah anda lakukan pada ku? oia aku lupa aku hanya mainan anda ya... hehe maaf kan aku yang tidak tahu diri ini, permisi" Nina langsung ingin meninggalkan Aslan tapi langkahnya terhenti ketika Aslan memegang tangannya.
Nina menatap wajah Aslan kesal.
"Apa karena pria itu hingga kau tidak pernah bisa mencintai ku? " tanya Aslan dengan tatapan tajam.
"Pria? siapa yang anda maksud? " tanya Nina bingung.
"Bukankah semalam kau berpelukan dengan seorang pria saat hujan deras di alun-alun? " Aslan sewot.
Nina nampak berfikir dan dia baru sadar siapa pria yang di maksud Aslan.
"Iya aku lihat semuanya aku melihat kau berpelukan dengan mesra di pinggir jalan dengan seorang pria dewasa" ucap Aslan sewot.
"Apa karena dia kau tak mau menerima cinta ku? " tanya Aslan kesal tangannya masih memegang pergelangan tangan Nina.
"Iya dia pria yang sangat berarti dalam hidup ku" ucap Nina tegas.
Dan pegangan Aslan pun mengendur saat mendengar perkataan itu dari Nina.
"Dan bukan kah anda juga punya orang yang berarti untuk diri anda tuan, permisi" Nina pamit keluar saat Aslan sudah melepaskan tangannya. dan membiarkan Aslan terdiam tertegun di ruangan tersebut.
Beberapa saat setelah Nina keluar dari ruangannya Aslan mangamuk di jatuhkan semua benda di meja kerjanya.
"Dasar wanita semua sama saja" geramnya.
Zaed yang masuk keruangan bosnya langsung terkejut saat melihat semua barang berserakan di mana-mana bahkan cangkir yang berisi teh buatan Nina pun sudah pecah dan berserakan di mana-mana.
"Tuan muda ada apa kenapa ruangan anda sangat berantakan? " tanya Zaed.
"Pecat dia sekarang juga Zay" sentak Aslan.
"Pecat siapa tuan? " tanya Zaed bingung.
__ADS_1
"Nina gue nggak mau lihat mukanya lagi, dasar wanita munafik dia ternyata sama ajah cuma pura-pura polos doang" Aslan marah-marah.
"Maaf tapi tuan muda apa setidaknya di bicara dahulu dengan baik-baik jangan asal pecat saja" ucap Zaed penuh kesabaran.
"Kalo gue bilang pecat ya pecat bodoh cepet pecat dia, gue udah nggak mau lihat muka dia lagi" bentak Aslan.
"Tapi tuan"
"Zay... elu masih mau jadi sahabat gue nggak? " tanya Aslan dingin.
Zaed menghela nafasnya dalam dan akhirnya dia pun menuruti kemauan Aslan untuk memecat Nina sekarang juga.
Dengan langkah yang berat Zaed melangkah ke ruang pantry untuk memberitahu kan Nina bahwa dirinya sekarang ini di pecat dari perusahaan ini.
"Maaf ya Nin... tapi sebenarnya apa sih yang terjadi semalam kenapa Aslan semarah itu? " tanya Zaed.
Tapi Nina hanya terdiam saja dia hanya tersenyum saja pada Zaed.
"Mungkin ini memang yang terbaik kak, maaf ya aku yang suka merepotkan mu" ucap Nina lembut.
"Kok jadi elu yang minta maaf sih seharusnya gue yang minta maaf karena nggak bisa bujuk Aslan untuk berubah fikiran" Zaed merasa bersalah.
Marni melihat sinis dan penuh kemenangan pada Nina saat tahu Nina di pecat oleh Aslan.
"Heuh... aku bilang juga apa mana mungkin CEO tampan seperti tuan Muda suka sama cewe kaya dia" sindir Marni.
"Heuh... tapi setidaknya aku pernah dekat dengannya, sementara kamu apa pernah dekat dengannya? " singgung Nina.
Dan itu jelas benar-benar membuat Marni tertampar oleh kata-kata Nina, karena dia tak bisa mengelak juga sebab satu pabrik juga tahu kalau Aslan dan Nina pernah dekat entah itu hanya gosip atau fakta tapi yang jelas mereka selalu terlihat bersama, pasca Aslan kecelakaan.
Marni terdiam saat mendengar ucapan Nina dia hanya bisa membalas kata-kata Nina.
"Tapi setidaknya aku tidak di pecat oleh tuan muda tidak seperti kamu" ucap Marni.
Zaed yang masih ada di sana pun kesal. mendengar ucapan Marni yang selalu memojokan Nina akhirnya turun tangan juga.
"Kau juga di pecat, perusahaan ini tak butuh karyawan yang punya penyakit hati seperti kamu" ucap Zaed tegas.
Marni memohon pada Zaed untuk tidak memecatnya karena dia masih punya tanggungan adiknya yang masih sekolah di kampung.
"Pak saya mohon pak jangan pecat saya, kalau saya tidak bekerja tidak berpenghasilan kasiah orang tua dan adik saya yang masih sekolah pak" Marni memohon pada Zaed.
Zaed membuang wajahnya dia malas melihat penjilat seperti Marni.
Nina menpuk pundak Zaed hingga Zaed menoleh ke arah Nina.
"Kak jangan di pecat kasihan, dia nggak ada masalah kok sama aku cuma memang ya begitulah hehe kaka ngerti kan orang sirik tanda tak mampu hihi" Nina tertawa kecil.
Zaed pun tersenyum pada Nina dan akhirnya tidak jadi memecat Marni, tapi Marni harus meminta maaf dengan tulus pada Nina kalau dirinya masih ingin bekerja di perusahaan itu.
Marni pun menuruti Zaed dia pun meminta maaf pada Nina dengan tulus dia bahkan mengulurkan tangannya dan mencium tangan Nina untuk meminta maaf, Nina merasa risih dan langsung memaafkan Marni.
__ADS_1
Setelah itu Nina pun berjalan ke arah Lift dia melewati ruangan Aslan dan hanya menoleh sebentar kemudian dia pun berjalan kembali ke arah lift dan menghilang di balik pintu berwarna silver itu.
Bersambung.