My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Bukan Kebohongan


__ADS_3

"Kau ini siapa?dan kalian ini siapa?" tanya Nina yang melihat kesemuanya.


Wiwid, Zaed dan Aslan tertegun saat Nina bertanya seperti itu.


Apa dia hilang ingatan?


Batin Aslan.


"Nin... elu nggak inget gue? " tanya Wiwid dan Nina hanya menggeleng saja.


"Aku fikir kalian keluarga ku" ucap Nina polos.


"Kayanya dia hilang ingatan" bisik Wiwid pada Zaed.


"Hem... " Zaed hanya mengangguk saja.


"Ah... parah dah kalo begini" Wiwid menunduk lemas.


"Kau belum tahu siapa aku? " tanya Aslan.


Nina hanya menatapnya bingung.


"Baiklah akan aku beritahu kau siapa aku sebenarnya" ucap Aslan yang menatap mata Nina dengan intens.


Wiwid dan Zaed menunggu Aslan yang seolah akan mengatakan sesuatu pada Nina.


"Aku calon suami mu" ucap Aslan.


Wiwid dan Zaed langsung terbelalak mendengar pernyataan Aslan.


Nina langsung memiringkan kepalanya karena bingung.


"Benarkah kau calon suami ku? " tanya Nina polos.


"Iya kalau tak percaya tanya saja pada mereka, mereka itu saksi cinta kita berdua" ucap Aslan lembut.


Wiwid seolah ingin pingsan saat mendengar Aslan berbicara seperti itu.


Saksi cinta kita berdua prett lah... elu cinta sepihak ajah Lan, dan sekarang ngambil kesempatan haduh... apa sih yang ada di otak anak ini.


Batin Zaed.

__ADS_1


"Saksi cinta sejak kapan? " bisik Wiwid yang tadi terhuyung karena serasa ingin pingsan.


Zaed hanya menggidikan bahu saja saat Wiwid berbisik.


Tak lama dokter Ryan datang keruangan Nina dan memeriksa keadaan Nina.


Aslan menatap abangnya dengan tatapan tajam, matanya seolah berkata kenapa abang nggak bilang kalau Nina amnesia. dan dokter Ryan pun menatapnya balik dan matanya seolah berkata tadi aku ingin bilang tapi kau sudah merangsek masuk ke dalam hingga kau tidak tahu kondisi sebenarnya. begitu lah bahasa mata yang hanya mereka saja yang faham.


"Pak dokter berkah orang ini calin suami saya? " tanya Nina tiba-tiba pada dokter Ryan.


dokter Ryan hampir saja terpeleset saat melangkah saat mendengar pertanyaan dari Nina. dan Saat itu juga dokter Ryan langsung melirik ke arah adiknya yang nakal ini.


Ini pasti kamu ini yang bilang seperti ini.


Batin dokter Ryan.


"Bukankah itu semua memang benar bang? aku memang calon suaminya kan? " ucap Aslan ringan seringan kapas.


dokter Ryan langsung menarik tangan adiknya dan membawa Aslan keluar dari ruang rawat tersebut.


"Sini ikut abang" dokter Ryan menarik tangan Aslan.


"Nggak mau aku mau nungguin calon istri ku ya kan sayang... " Aslan tersenyum pada Nina tapi Nina membalas senuma itu dengan senyuman yang kaku.


"Ikut abang sebentar" paksa dokter Ryan.


Dan akhirnya Aslan pun mau mengikuti langkah dokter Ryan.


saat di luar ruangan dokter Ryan menoleh ke kanan dan ke kiri dahulu sebelum berbicara agar pembicaraan mereka tidak ada yang mendengarkan.


"Kenapa kau bilang kau ini calon suaminya hah?! " bentak dokter Ryan dengan suara di tahan.


"Kau tau kalau papah dengar nanti bisa gawat bodoh" dokter Ryan geregetan dengan adiknya ini.


"Biarin dia tahu biar aku segera di nikahkan sekalian nggak usah pake tunangan kaya abang kelamaan" ucap Aslan dengan ringannya.


dokter Ryan menepuk dahinya sendiri saat mendengar pernyataan adiknya yang seolah memudahkan menikah.


"Adam.... kau ini masih terlalu muda untuk menikah sebentar lagi sebut mu sebagai seorang CEO akan di mulai"


"Terus memang salah ya... kalau aku nikah kan ngga menganggu karir ku juga bang, ck... pokok nya bilang ke Nina aku ini calon suaminya titik" tekan Aslan.

__ADS_1


"Tapi bila ingatan dia kembali gimana, nanti dia merasa kau tipu, kau bohongi gimana Aslan? " tanya dokter Ryan.


"Cuma status saja aku membohongi nya tapi tidak dengan hati ku bang... cinta ku jujur padanya" jelas Aslan.


dokter Ryan langsung terdian saat adiknya mengatakan isi hatinya, kalau hatinya benar-benar mencintai Nina.


"Oke bila itu memang mau mu, tapi abang nggak bisa belain kamu bila nanti ingatan dia kembali dan dia marah pada mu, kau urus sendiri maslah mu ya" dokter Ryan menepuk pundak adiknya sebelum dirinya masuk kembali ke ruang rawat VVIP itu dan memeriksa Nina.


"Kau mungkin akan merasa di bohongi dengan status ini tapi tidak dengan perasaan ku pada mu, aku sudah yakin kalau hati ku telah mencintai mu Karinina" gumam Aslan di depan pintu ruang VVIP tersebut.


Seminggu kemudian.


Nina masih dirawat di rumah sakit dan Aslan selalu setia menemaninya, meski kadang Nina bertanya pada Aslan dimana orangtuanya dimana keluarganya dan kenapa hanya Aslan yang menemani nya di rumah sakit. dan Aslan hanya menjawab kalau keluarga Nina itu sedang di luar negeri dan Nina disini itu bekerja di perusahaan milik papahnya Aslan, dan karena sering bertemu mereka pun akhirnya jatuh cinta dan mengikat hubungan ke jenjang yang lebih serius. begitulah cerita karangan Aslan..


Dan sore ini Aslan mengajak Nina berjalan-jalan di taman rumah sakit, Aslan memperlakukan nya dengan sangat lembut dan perhatian, kadang para perawat yang melihat mereka berdua selalu berbisik-bisik bergosip ria, tapi tak di hiraukan oleh Aslan.


Mereka berdua duduk di kursi taman dekat dengan air mancur kecil yang terletak di tengah taman.


"Kapan aku boleh pulang? kenapa lama sekali aku dirawat? dan siapa yang akan membiayai semua administrasi perawatan ku selama aku dirawat? " tanya Nina polos.


"Kau tidak usah memikirkan itu semua, semua biaya perawatan mu sudah di urus oleh abang ku" jelas Aslan.


"Dengan dokter Ryan? "tanya Nina.


" Hem jadi kau tenang saja ya... oia kau ingin makan apa malam ini nanti biar Zaed yang membelikannya di luar "ucap Aslan sambil memegang tangan Nina.


" Aku tidak mau makan apa-apa, aku sudah kenyang tadi sudah makan buah"ucap Nina pelan.


Aslan membelai wajah gadis itu dengan lembut, namun Nina merasa risih hingga dia memalingkan wajahnya ke arah lain, entah apa yang dia rasakan saat ini dirinya seolah merasa sangat asing dengan sentuhan-sentuhan Aslan.


"Kenapa? " tanya Aslan saat Nina memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Eh... tidak apa-apa kak" Nina gugup.


"Kak apa kita selalu seperti ini? ehm maksud ku apa kakak selalu seperti ini dulu pada ku sebelum aku hilang ingatan? "tanya Nina ragu.


nggak aku lebih suka marah-marah sama kamu dan nyembunyiin perasaan ku pada mu.


" Tentu saja sayang... kamu sangat suka bila aku membelai wajah dan rambut mu"Aslan tersenyum.


Maaf aku berbohong tapi sekarang ini perasaan ini dan semua yang aku lakukan pada mu ini bukanlah kebohongan sayang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2