
"Lan sebaiknya Nina pulang saja, sepertinya dia masih belum bisa bekerja" saran Alice.
"Ya sudah kalau begitu, kau tolong antar dia ya... " Aslan meminta Alice mengantarkan Nina.
"Oia kemarin gue beliin elu hadiah sebagai ucapan selamat karena sudah jadi CEO" Alice memberikan bag paper pada Aslan.
Aslan menerima nya.
"Eh thanks" ucap Aslan singkat.
"Ehm... " Tiba-tiba ada yang berdehem di ambang pintu mereka semua menoleh ke arah suara tersebut dan berapa terkejutnya Alice ketika melihat siapa orang yang ada di ambang pintu tersebut.
"Laura" gumam Alice.
Alice langsung melihat kearah Aslan, tapi Aslan nampak cuek saja.
"Lice thanks hadiahnya dan gue minta tolong anterin Nina ya" ucap Aslan santai seperti biasanya dia berbicara dengan Alice.Aslan meminta Alice segera meninggalkan ruangannya karena dia tahu Alice tidak menyukai Laura karena Laura pernah menjadi menyakiti Aslan.
"Oh... ya ayo Nina aku antar kau pulang" Alice membantu Nina bangun dari soffa.
"Aku bisa sendiri dokter, Terima kasih" ucap Nina pelan.
"Oh... baik lah" Alice pun beriringan berjalan dengan Nina menuju pintu.
"Lan gue balik dulu ya... " Alice pamit pada Aslan.
"Oke hati-hati" jawab Aslan santai.
Dan mereka pun bertemu dengan Laura di ambang pintu tersebut, Alice menatap tak suka pada Laura begitu pun sebaliknya.
Saat Alice dan Nina meninggalkan ruangan Aslan Laura pun masuk dengan melangkah elegan.
Aslan melihat nya tajam.
__ADS_1
"Siapa yang nyuruh lu masuk?! " tanya Aslan tegas.
"Nggak ada tapi karena tadi pintu terbuka ku fikir.... "
Laura tak bisa meneruskan kata-katanya karena langsung dipotong oleh Aslan.
"Kebanyakan mikir nggak bikin elu jadi tambah pintar" ucap Aslan ketus Zaed pun masih berada disana dia tahu kalau Aslan tak mungkin ingin ditinggal hanya berduaan saja dengan Laura.
"Dah sana pergi kalau nggak ada keperluan gue banyak kerjaan" usir Aslan.
"Kenapa kau jadi sedingin ini As... " ucap Laura lirih.
Aslan memalingkan wajahnya karena malas melihat wajah mengiba dari Laura.
"Zay... bawa dia keluar dan jangan pernah biarkan dia masuk lagi ke kantor ini" ucap Aslan tegas.
Zaed mengajak Laura keluar dengan sopan tapi Laura tak mau keluar juga.
"Keluar gue bilang?! " bentak Aslan.
"Keluar gue bilang atau gue panggil security buat ngusir elu" ucap Aslan kasar.
"Ra... sebaiknya elu keluar ajah jangan bikin keributan di kantor nanti nama elu juga yang jelek di mata presedir" ucap Zaed.
Mendengar nama presedir di ucapkan Zaed Laura pun akhirnya meninggalkan ruangan Aslan dengan hati yang kesal, kalau bukan karena menjaga nama baiknya di mata presedir dia tak akan mau menyerah untuk mengambil hati Aslan kembali.
"Eh tapi siapa wanita tadi yang bersama Alice dan tadi mereka membicarakan apa? sepertinya wanita itu hilang ingatan karena tadi aku dengar Aslan bertanya pada Alice mengenai ingatan wanita tersebut" Laura jadi penasaran dengan Nina karena dia berfikir kenapa Nina juga ada di ruangan Aslan.
"Apa itu wanita yang di sukai Aslan saat ini" Laura terus berfikir sambil berjalan ke area parkir.
"Sial ternyata selera Aslan tidak berubah dia masih suka dengan yang polos-polos rupanya" gumam Laura saat dirinya membuka pintu mobilnya.
Sementara itu Alice mengantarkan Nina ke tempat kostan nya.
__ADS_1
"Dokter Terima kasih karena mengantarkan aku pulang maaf jadi merepotkan anda" Nina menunduk pada Alice sebelum turun dari mobil.
"Tidak masalah Nina aku senang menolong mu dan sebenarnya aku lebih suka kamu bersama Aslan dari pada dia" Alice menekan kata dia di akhir kalimat nya.
Nina bingung saat mendengar Alice sepertinya kesal dengan seseorang, tapi Nina tidak mau ambil pusing karena Kepala nya saat ini masih sangat pusing.
"Nina... percayalah pada Aslan" Tiba-tiba Alice berbicara seperti itu, sebelum mobilnya berjalan meninggalkan Nina sendirian di depan Gerbang kostan nya.
Nina hanya tertegun dan melihat mobil yang di kendari Alice menjauh dari dirinya, Nina pun masuk kedalam kostannya dan saat diri nya memijakan kaki di anak tangga ada bayangan yang muncul lagi di kepalanya dan kontan kepala Nina terasa sangat pusing kembali. hingga dia berjalan dengan susah payah agar dirinya cepat sampai di depan kamarnya.
Dan saat dirinya tiba di lantai atas tepatnya di lorong dekat kamarnya bayangan saat Aslan meminta maaf padanya saat baru selesai operasi waktu itu terlihat begitu jelas di mata Nina.
"Ah... kepala ku sakit banget" Nina pun terduduk lemas di lantai menahan rasa sakit di kepalanya agar tidak terlalu sakit dia pun akhirnya dengan susah payah menuju pintu kamarnya dengan menyeret tubuhnya dengan tertatih hingga dirinya pun sampai di depan pintu kamarnya, para penghuni kos tinggi tak ada yang tahu kalau Nina sedang kesusahan saat ini karena Rata-rata para penghuni kost sedang bekerja di jam-jam seperti ini. hingga Nina harus bersusah payah sendirian untuk sampai ke kamarnya.
Nina memasukan kunci dan langsung membuka pintu tersebut dan saat masuk Nina langsung menjatuhkan dirinya di lantai kamarnya, dia masih sadar tapi tak berdaya untuk bangun juga.
Tapi saat di dalam kamarnya bayang-bayangan masa lalu yang telah dia lupakan berputar bagaikan rekaman video yang di putar ulang hingga akhirnya Nina tak sadarkan diri di dalam kamarnya sendirian.
Hingga 30 menit kemudian Nina akhirnya tersadar dari pingsannya dan dia masih sendirian di kamar itu.
"Astaghfirullah aku pingsan ya? " Nina melihat ke sekeliling kamarnya dan dia merasa dirinya sudah tak merasa asing bahkan dia merasa seperti habis tertidur sangat lama.
"Ah... aku ingat semuanya sekarang ini, ingatan ku sudah kembali" Nina mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat Nina akhirnya menekan nomor seseorang yang sekarang ini pastinya sedang sibuk.
"Apa?! elu sudah inget lagi? " jerit Wiwid dari mejanya hingga teman-teman yang berada di dekat mejanya melihat sinis ke arahnya hingga dia pun akhirnya mengecilkan cm suaranya dan bersembunyi di kolong. meja karena ini masih jam kerja jadi tidak boleh menelpon atau menerima telpon, oleh karena itu dia bersembunyi di kolong meja untuk menerima telpon dari Nina.
"Iya Wid... sudah deh nanti saja di bahasnya, kau kerja saja ya maaf ganggu oia jangan bilang sama kak Aslan ya kalau ingatan ku sudah kembali" ucap Nina lirih.
"Kenapa? dia pasti seneng denger berita ini Nina" Wiwid bingung.
"Sudah pokoknya nanti saja biar aku sendiri saja yang mengatakan padanya kalau ingatan ku sudah kembali" jelas Nina.
"Ooo baiklah kau istirahat lah dulu kalau kepala mu masih pusing, nanti pulang aku belikan kamu es buah kesukaan mu" ucap Wiwid sebelum mengakhiri sambungan telponnya.
__ADS_1
Bersambung.