My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Kedatangan Tuan Herald


__ADS_3

Di kediaman tuan besar telah menerima laporan dari orang kepercayaan nya yang telah mengikuti Aslan ke rumah sakit.


"Untuk apa dia kerumah sakit tengah malam begini?! " tanya Tuan Herald tegas.


"Teman tuan muda yang bernama Nina dirawat tuan dan tadi saya dengar ada percobaan pembunuhan di ruang rawatnya karena ada seseorang yang menyusup ke ruangan tersebut dan menyuntikan racun ke dalam kantung infusannya" jelas orang tersebut.


"Apa?! siapa yang berani melakukan itu di rumah sakit ku?! " tuan Herald marah saat mendengar berita tersebut.


Saluran telepon pun segera di akhiri oleh tuan Herald dan tuan Herald langsung mengganti pakaiannya tidur nya dengan pakaian santsinya dan langsung meminta supir untuk mengantarkan nya ke rumah sakit, dia ingin bicara langsung dengan putra bungsunya itu.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menembus angin malam ini,menuju rumah sakit milik tuan Herald.


Dan di sepanjang perjalanan Tuan Herald sudah menelpon dokter Ryan untuk mendengar semua cerita yang sebenarnya, tuan Herald pun tak tinggal diam dia pun langsung meminta penyelidik untuk segera menangkap pelaku kejahatan itu.


"Berani betul orang itu berbuat kriminal di rumah sakit yang telah aku dirikan untuk menolong orang-orang, tapi orang itu malah mau membunuh orang lain disana, keterlaluan" geram tuan Herald.


Mobil yang di di tumpangi tuan Herald pun tiba di rumah sakit, tuan Herald pun turun dari dalam mobil dan berjalan ke ruangan dokter Ryan tuan Herald meminta dokter Ryan memanggil Aslan untuk menemui nya di ruangan tersebut, saat Aslan di panggil oleh perawat dan memberitahu kalau tuan Herald ingin berbicara dengannya di ruang dokter Ryan, Aslan sama sekali tak bergeming dia tak ingin meninggalkan Nina sendirian lagi.


Perawat pun dengan ragu menyampaikan hal ini pada dokter Ryan, hingga dokter Ryan sendiri lah yang akhirnya turun tangan. Dokter Ryan langsung datang ke ruang rawat Nina dan meminta Aslan untuk menemui papah mereka dahulu, tapi bukan Aslan namanya kalau tidak keras kepala ucapan kakanya pun tak di indahkannya. hingga dokter Ryan sampai menggelengkan kepala nya pelan karena melihat kelakuan adiknya yang sangat menyebalkan ini.


Dan dengan berat hati juga dokter Ryan menyampaikan kepada papahnya kalau Aslan tak mau meninggalkan Nina, tuan Herald yang geram pun akhirnya bangkit dari kursinya dan langsung berjalan dengan langkah cepat ke ruang rawat VVIP tersebut.


Saat sampai disana tuan Herald melihat Aslan sedang memberikan minum pada Nina yang baru saja sadar dari pingsannya.


Dan tanpa aba-aba lagi tuan Herald langsung mendekat pada anak bungsu nya itu, dan langsung menarik rambut Aslan dengan kasar dan membanting tubuh Aslan ke lantai. Nina yang melihat itu langsung menutup mulutnya karena terkejut.


"Aduh... papah apa-apaan sih?! " Aslan kesal namun ini sudah biasa baginya papahnya memang selalu keras mendidik nya, tuan Herald tak segan-segan main tangan pada putra nya bila sudah keterlaluan.


"Papah mau bicara sama kamu?! " ucap Tuan Herald tegas.


"Ya sudah tinggal bicara saja" Ucap Aslan santai dia pun bangun dari posisi jatuhnya.


"Tidak disini ikut papah" ajak tuan Herald.


"Nggak mau, aku nggak akan ninggalin Nina sendirian lagi nanti ada orang jahat lagi" Aslan keras kepala.


Pletak.


Tuan Herald memukul kepala Aslan dan Aslan hanya mengusap-usap kepalanya saja.


"Disini sudah ada penjaga untuk apa kau khawatir bodoh?! " ucap Tuan Herald kesal.


"Tapi pah... " belum selesai Aslan menyelesaikan Kata-katanya kerah piama yang di gunakannya langsung ditarik oleh tuan Herald hingga dia pun mau tak mau akhirnya mengikuti langkah papahnya untuk berbicara di ruangan kakaknya.

__ADS_1


Dan saat ini mereka bertiga pun berkumpul di ruangan tersebut.


"Papah sudah mendengar semuanya kejadian malam ini yang membuat mu seperti orang gila datang kerumah sakit dengan masih pakai paiama tidur begitu" ucap tuna Herald sewot.


Sedang Aslan dengan malas mendengarkan ucapan papahnya.


"Kenapa kau se khawatir itu pada gadis itu? " tanya papah akhirnya.


"Ya karena anak papah ini sedang jatuh cinta pah" celetuk dokter Ryan.


Papah yang mendengar itu langsung menghelela nafas nya dalam.


"Kau jatuh cinta padanya karena dia pernah menolong mu waktu itu? " tanya papah.


"Bukan pah... tapi sebelum semua kejadian buruk menimpa ku, aku sudah jatuh cinta padanya" jelas Aslan.


"Jadi sejak kau masih bekerja di pabrik kau jatuh cinta padanya gitu? " tanya papah lagi.


Dan Aslan hanya mengangguk saja.


"Astaghfirullah Aslan papah itu menempatkan mu di pabrik untuk belajar bukan untuk jatuh cinta?! "


"Tapi cinta itu kan datang tiba-tiba dan tak di duga pah, aku pun tak mau jatuh cinta padanya tapi ribuan kali aku mencoba menolak fikiran itu, ribuan kali pula fikiran ku selalu di penuhi oleh dirinya, aneh memang tapi itulah kenyataannya" jelas Aslan.


dokter Ryan tergelak mendengar cerita adiknya sementara papah nya hanya menghela nafasnya dalam saja.


Ting....


Lift telah tiba di pantai tujuannya, pria itu pun keluar dari lift tersebut dan berjalan santai ke sebuah unit, ditekan nya bel pintu unit tersebut, dan tak lama terbukalah pintu apartemen tersebut dan muncullah seorang wanita cantik dari balik pintu tersebut, senyuman maut yang di tunjukan oleh wanita itu menyambut kedatangan pria tersebut.


Wanita tersebut pun mempersilahkan pria itu masuk dan pria tersebut pun melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen tersebut.


Mereka pun duduk berhadapan di sofa ruang tengah yang di gunakan sebagai ruang tamu.


"Ada apa elu datang tengah malam begini Zay? " tanya Laura yang duduk dengan anggunnya di depan Zaed.


Zaed sudah sangat muak sebenarnya dengan sahabatnya yang satu ini, melihat tingkah lakunya yang sangat berbeda dari dulu, saat ini Laura yang ada di hadapan nya tak lebih dari seorang penggoda bahkan Laura berlagak menggoda Zaed yang sedang duduk di depan nya, bagaimana tidak dia berfikir begitu saat ini Laura mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis dan minim.


Untungnya Zaed bukan tipe laki-laki yang mudah tergoda dengan kemolekan tubuh wanita, bahkan meski Laura tak memakai benang sehelai pun di tubuhnya saat ini Zaed pun tak akan tergoda karena Zaed bukan tipe laki-laki yang mudah tertarik dengan wanita-wanita yang seperti ini, entah wanita macam apa yang di sukainya karena selama bertahun-tahun berteman dengan Aslan mau pun dengan Laura dirinya tak pernah menujukan dirinya tertarik dengan wanita yang modelnya seperti apa.


"Ra... kenapa elu setega ini? kenapa elu bisa berubah jadi sejahat ini? " Zaed geram.


"Maksud lu? " Laura mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bego Ra" Zaed menatap Laura dingin.


Laura langsung sudah bisa menebak arah pembicaraan Zaed.


"Heuh... gue heran sehebat apa sih cewe itu sampai-sampai seorang Zaed membela dia dari pada teman kecilnya? " ucap Laura seakan meremehkan.


"Setidaknya dia berhati baik dan tulus nggak kaya elu, baik kalau ada maunya ajah" ucap Zaed ketus.


"Gue nggak nyangka Ra.... elu bisa sejauh ini Ra... tobat Ra... gue nggak bisa bela elu kalau sampai Aslan tahu ini"


"Tahu apaan maksud lu? " tanya Laura bingung.


"Kalau elu lah yang nyuntikin racun ke kantung infusannya Nina"


Laura langsung pucat saat Zaed mengatakan itu.


"Apa buktinya kalau gue ngelakuin itu semua, jangan asal tuduh lu sialan?! " Laura marah.


Tiba-tiba Zaed menunjukkan sebuah plastik yang sudah membungkus sebuah suntikan di depan wajah Laura. dan itu membuat Laura tertawa.


"Zay... Zay... apaan sih Zay memangnya ada sidik jari gue disitu hem? " Laura meremehkan Zaed.


"Heuh... sidik jari elu emang nggak ada tapi... wangi parfum elu yang selalu elu pake itu udah jadi bukti buat gue, kalau elu lah pelakunya" ucap Zaed yang membuat Laura langsung membelalakan matanya.


"Ra... bisa ya... elu jadi setega ini sama orang yang nggak elu kenal? " ucap Zaed seolah tak percaya temannya bisa berubah menjadi rubah betina seperti ini.


"Nggak Zay elu salah, bukan gue pelakunya, gue sejak tadi sore dirumah ajah nggak kemana-mana" elak Laura.


"Percuma Ra... polisi sudah nyelidikin elu Ra.... gue mungkin bisa nyimpen bukti ini sendiri tapi gue tetap nggak bisa belain elu dan nge benerin kalakuan elu karena elu udah bener-bener keterlaluan Ra"


"Zay... plis... Zay... plis... jangan biarin polisi nangkep gue Zay... plis... hidup gue udah hancur karena Gio, setelah gue ninggalin Aslan gue milih Gio tapi dia malah bikin gue hancur sehancur-hancurnya, oleh karena itu gue mau ngerebut hati Aslan lagi untuk balik sama gue karena gue tahu Aslan masih cinta sama gue ya kan Zay" Laura seperti orang bodoh mengatakan itu semua.


Zaed hanya tersenyum sini pada Laura.


"Ya bodohnya elu lah begitu, elu ninggalin Aslan demi Gio demi laki-laki bajingan kaya Gio, asal elu tahu elu nggak akan bisa gantiin Nina karena Nina sudah rela berkorban nyawa untuk Aslan nggak ada cewe setulus dia Ra... nggak ada" Zaed melangkah ke pintu keluar.


Tapi langkahnya terhenti ketika Laura memeluk kaki Zaed dan memohon pada Zaed agar Zaed tidak melaporkan nya pada polisi bahkan dia sampai menangis di kaki Zaed.


"Gue nggak bisa nolong elu Ra karena elu salah meski pun elu sahabat gue dari kecil, gue cuma minta elu bertobat dan intropeksi diri jangan selalu jadi egois Ra karena elu sendiri yang bakalan susah nantinya" Zaed lalu melepaskan tangan Laura yang memeluk. kakinya dan langsung meninggalkan apartemen sahabatnya itu.


Meski sedih dia rasakan karena dia menyadari sahabatnya bisa berubah menjadi sangat jahat seperti itu pada orang yang menghalangi dirinya dengan Aslan hingga sampai setega itu pada orang lain.


Dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat Zaed menahan marah dan juga sedih karena telah mengetahui sebuah kebenaran.

__ADS_1


"Nin.... maafin gue ya karena kelakuan sahabat gue elu hampir meregang nyawa lagi" sesal Zaed.


Bersambung.


__ADS_2