
Dokter Ryan meninggalkan ruangan dan kini tinggalah Nina dan Aslan hanya berdua saja di ruang rawat tersebut, mereka berdua terlihat canggung karena tak tahu harus bagaimana, yang lebih bingung adalah Nina karena dia takut salah bicara dan membuat Aslan marah lagi.
"Hei cupu... kenapa bengong ajah? " tanya Aslan.
"Ck... bisa nggak kamu itu nggak panggil aku ini cupu? " ucap Nina kesal.
"Nggak bisa karena memang elu cupu kan? " Aslan terus menghina Nina.
Nina yang kesal mengehentakan kakinya dan berjalan ke arah pintu.
"Eh elu mau kemana lagi? " tanya Aslan langsung mengehentikan langkah Nina
"Balik" ucap Nina singkat dia lalu menarik handle pintu.
"Stop Karinina atau gue akan nekat lari lagi dari sini" ancam Aslan.
Nina terdiam dan dia jadi teringat perkataan dokter Ryan saat di ruangan nya tadi.
"Kamu bertemu Aslan dimana? " tanya dokter Ryan
"Dia datang ke kostan saya dan hanya bilang minta maaf setelah itu dirinya langsung pergi, tapi karena melihat kak Aslan kesusahan berjalan jadi aku membantunya hingga kesini" jelas Nina
"A...Aslan? dia kesana hanya untuk bilang maaf pada mu? " tanya dokter Ryan tak percaya.
Nina hanya mengangguk saja.
"Astaga anak itu benar-benar" gumam Dokter Ryan.
dokter Ryan memandang ke arah Nina di tatapnya gadis manis itu sebelum dirinya menceritakan tentang adiknya ini.
dokter Ryan lalu bercerita tentang Aslan , sejak di tinggal ibu mereka meninggal waktu Aslan duduk di bangku SMP, sikap Aslan banyak berubah apa lagi papah semakin gila kerja dan Aslan jadi kurang perhatian dari orang tuanya, hingga Aslan jadi berubah menjadi lebih egois dan cepat marah dan ditambah lagi Aslan salah bergaul hingga sering terlibat tawuran dan perkelahian.
"Tapi aku melihat dia sangat berbeda bila di dekat mu, dia mengakui mu teman nya, dan itu sesuatu yang sangat langka baginya, apa lagi kau ini anak perempuan kau pasti special di fikiran nya"
"Heh... special? " tanya Nina ragu.
"Iya... bukti nya saja dia rela datang ke tempat mu dalam keadaan seperti itu" jelas dokter Ryan.
Nina hanya manggut-manggut saja.
"Jadi saya mohon pada mu, saya titip dia ya... jangan di masukan ke hati bila dia sedang berkata kasar karena sebenarnya dalam hati nya dia mengatakan hal. yang berlawanan dengan yang di katakan bibirnya" jelas dokter Ryan lagi.
"Tetaplah jadi temannya, kalau bisa menjadi temen seumur hidupnya" batin dokter Ryan hingga dia tersenyum sendirian.
Nina yang mengingat pembicaraan tersebut jadi mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruang rawat Aslan selain ingat perkataan dokter Ryan Nina juga tidak tegan bila Aslan benar-benar bertindak nekat lagi dan membuat lukanya semakin parah.
__ADS_1
Nina berjalan ke arah sofa dan Aslan terlihat lega saat melihat Nina tidak jadi keluar
Nina melirik kearah Aslan.
"Kenapa melihat ku seperti itu dasar cupa" ucap Nina sewot.
"Heh apa itu cupa? " Aslan mengerutkan keningnya.
"Culun parah" jelas Nina.
"Apa elu ngatain gue culun elu tuh yang culun" Aslan sewot.
Dan akhirnya mereka malah bertengkar mulut dan saling memaki, hingga akhirnya mereka kelelahan sendiri.
*Gue nggak nyangka kalo dia bisa berdebat juga heheh dasar cupu. (Aslan).
Ganteng-ganteng ngeselin beda banget sama kakaknya. (Nina*).
Nina yang kesal akhirnya memilih merebahkan dirinya di sofa ruangan tersebut dan memejamkan matanya, karena sebenarnya dia masih mengantuk tapi karena tidur nya di ganggu oleh kedatangan Aslan yang tiba-tiba akhirnya dia menunda tidur nya.
Dan dalam hitungan detik Nina pun akhirnya tertidur di sofa. Aslan memperhatikan gadis yang selelu membuatnya serba salah, bagaimana tidak serba salah karena entah kenapa dia selalu marah dan terlihat tidak suka dengan gadis ini tapi hatinya selalu merasa bersalah di waktu yang bersamaan bila melihat Nina kesal atau bahkan marah seperti tadi hingga akal sehatnya seolah hilang dan nekat kabur dari rumah sakit hanya untuk meminta maaf pada gadis itu.
Dan malam ini Aslan malah jadi tidak bisa tertidur karena melihat sesuatu yang tak pernah ia saksikan seumur hidup nya, yaitu melihat seorang wanita tertidur tepat di depan matanya.
"Tapi kalo nggak nginep nanti dia di deketin sama abang gue lagi" entah kenapa dirinya seolah tak rela melepaskan Nina bersama kakaknya.
"Hihi tapi dian lucu juga bilang gue juga cupu, orang keren kayanya dia bilang cupu, kayanya matanya beneran bermasalah nih anak hihi" Aslan malah cekikikan sendirian. saat mengingat pertengkaran nya bersama Nina tadi.
Hingga akhirnya Aslan bisa terlelap juga di pukul 3dini hari. setelah puas menatap gadis yang selalu membuat hatinya tidak tenang ini.
Hingga pagi pun tiba dan mentari sudah bersinar membagikan kehangatan pada setiap makhluk ciptaan tuhan di sebagian bumi ini.
Pepohonan yang rindang menikmati kesejukan embun pagi yang turun ke permukaan bumi pagi ini dan membasahi dedaunan dan rantingnya, burung gereja yang becicit bersahutan mencari makan dan terbang berkelompok hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya ikut meramaikan pagi yang cerah ini.
Seorang gadis meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku karena harus tertidur di sofa, namun dirinya terkejut saat melihat ada selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Eh... kok aku pakai selimut? padahal kan semalam aku nggak pakai? " Nina terlihat berfikir dia melihat kearah Aslan yang masih tertidur dan lengkap memakai selimutnya.
"Kemarinnya juga ada selimut pas aku bangun dan sekarang aku bangun juga ada selimut, siapa yang nyelimutin aku ya? yang jelas sih bukan dia" tatap Nina malas ke arah Brankar yang ada di depan nya.
Nina melihat pemuda tampan namun bersifat aneh itu masih terlelap di Brankar nya, Nina berdiri dari sofa dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan mukanya agar segar.
Saat Nina keluar dari kamar mandi dia menatap Aslan kembali dia berdecak pinggang.
"Hem mau sampai kapan dia mau tidur, aku kan harus kerja" gumam Nina.
__ADS_1
"Apa aku bangunin ajah ya? " fikir Nina dan dirinya sudah mendekat kearah Brankar Aslan dirinya ingin membangunkan Aslan dan bilang kalau dirinya harus berangkat kerja sekarang.
Saat Nina ingin menyentuh tangan Aslan pria tersebut membuka matanya perlahan, dan menatap Nina.
"Kenapa ngeliat nya begitu? hehe gue ganteng ya? " tanya Aslan.
Nina terlihat jengah meladeni Aslan.
"Aku mau pulang mau kerja, aku tadi baru mau membangunkan kakak eh kakak keburu bangun"
"Ooo eh elu mau kerja? udah nggak usah kerja dulu hari ini nanti gue ijinin" pinta Aslan.
"Ngijinin emang bisa? " tanya Nina ragu.
"Ya bisa lah sebab gue... " Aslan tak meneruskan kata-katanya karena Nina langsung memotong perkataan nya.
"Lagian ngapain aku disini, dan aku juga masih pakai baju tidur semalam, jangan aneh deh, sudah ya aku pulang karena aku harus kerja" Nina tetap kekeh untuk berangkat kerja.
"Nanti Zaed yang akan urus semuanya" Aslan pun kekeh untuk menahan Nina di ruangan nya.
"Kak... ngapain sih aku itu masih disini? "
"Karena... karena gue... "
"Takut sendirian? nggak punya teman gitu? " tebak Nina.
"Gue nggak takut, cuma emang gue butuh temen sih hehe" ucap Aslan.
"Terus gimana aku belum ganti baju kak"
"Udah di bilang jangan difikirin nanti biar Zaed yang urus, sebentar lagi juga dia dateng" jelas Aslan.
"Kalo kak Zaed dateng aku pulang ajah ya... "
"Nggak boleh" pinta Aslan paksa.
"Ish... disini lama-lama aku takut tahu kak, soalnya aku sudah dua kali tidur disini dan setiap aku bangun selelu ada selimut di tubuh ku" jelas Nina.
"Itu selimut gue yang minta keperawat buat selimutin elu soalnya semalam elu kelihatan kedinginan"jelas Aslan tegas meski dia saat ini merasa malu karena dia jadi terlihat perhatian pada Nina.
"Ooo ternyata itu kakak tapi yang sebelumnya saat kakak di ICU itu siapa yang selimutin aku? "
Pertanyaan Nina membuat Aslan jadi ikut berfikir dan penasaran siapa yang menyelimuti Nina kemarin malam saat Aslan masih berada di ICU.
Bersambung.
__ADS_1