
Untuk episode selanjutnya kita akan membahas percintaan antara sahabat-sahabat Nina dan Aslan ya... tapi tetap Aslan dan Nina juga kita bahas sebab mereka kan baru menikah dan nantinya akan mempunyai keturunan juga oke Happy Reading... dan maaf kalo up suka lama karena saya juga banyak kerjaan yang harus di kerjakan.
...🌞🌞🌞...
Di sisi lain Seorang gadis baru keluar dari sebuah mini market, dia membeli beberapa keperluan untuk dirinya sendiri dan juga beberapa cemilan untuknya malam ini.
Gadis itu berjalan sendirian menelusuri bahu jalan, mata dan pandangannya hanya tertuju pada aspal yang ada jalanan.
Tapi saat dirinya sedang berjalan sambil melamun Tiba-tiba ada sorot lampu motor yang menyoroti dirinya, hingga pandangan gadis itu pun terangkat dan menatap motor yang menyoroti nya.
Dia menyipitkan matanya karena cahaya lampu motor tersebut membuat matanya silau.
"Siapa sih? " gumamnya.
Motor itu pun mendekat padanya dan berhenti di depannya, seorang pengendara motor matic yang memakai helm hingga tak terlihat jelas wajahnya.
Saat pengendara motor tersebut membuka helmnya wajah gadis itu berubah terkejut.
"Ujang... " jerit Wiwid.
"Iya mba, mba ngapain disini? " tanya Ujang.
"Seharusnya gue yang nanya, elu ngapain disini? tempat kostan gue mah nggak jauh dari sini lah elu emangnya tinggal di dekat sini gitu? " tanya Wiwid panjang lebar.
"Hehehe iya mba rumah saya dekat sini, oia tadi siang ada kejadian heboh katanya ya dirumah sakit, teman mba dibawa kabur sama tuan muda katanya, oia saya juga lihat videonya loh mba ada suster yang sempat. ngerekam tuan muda gendong pacarnya ihhh romantis banget sih" Ujang menceritakan dengan antusias membuat Wiwid jadi tersenyum.
Padahal tadi dia sempat sedih karena di tinggalkan sahabatnya, karena Nina sekarang sudah di bawa keluar kota oleh Aslan setelah mereka menikah dadakan tadi siang, memang hal gila yang Aslan lakukan tapi Wiwid sungguh salut pada Aslan karena dia sangat berani dan membuktikan kalau dia itu benar-benar serius mencintai sahabatnya.
Tanpa sadar air mata Wiwid menetes di pipinya dia menangis terharu dan bahagia karena sahabatnya akhirnya menemukan kebahagiaan.
"Mba kok nangis sih? " tanya Ujang polos.
"Eh... heheh nggak apa-apa kok gue seneng sekarang mereka udah menikah dan bahagia" jelas Wiwid mengusap air matanya yang menetes.
"Menikah mereka kapan menikah nya? " tanya Ujang polos.
"Tadi siang sewaktu tuan muda bawa Nina dari rumah sakit tuan muda langsung menikahi teman gue secara ngedadak di depan orang tuanya, hebat ya... dia beneran sayang sama temen gua Jang... dan itu semua dia buktikan meski di bilang nekat hehe tapi gue salut sama Aslan" Wiwid bercerita seolah mengingat menerawang bagaimana dulu sikap Aslan pada Nina.
Wiwid dan Ujang pun akhirnya berhenti di warung di pinggir jalan yang mejajakan minuman dan juga camilan, mereka mengobrol disana.
Wiwid menceritakan bagaimana dulu sikap Aslan pada Nina hingga akhirnya dirinya menyumpahi Aslan agar jatuh cinta pada Nina sahabatnya, dan seolah saat dia mengatakan itu ada malaikat lewat dan langsung mencatat perkataannya dan akhirnya Aslan bukan hanya jatuh cinta pada Nina tapi jadi bucin pada sahabatnya itu.
Wiwid dan Ujang tertawa bersama saat mengobrol bersama.
__ADS_1
"Oo iya mba kita belum kenalan secara resmi, nama mba itu siapa sih? " tanya Ujang tiba-tiba.
"Eh... heheh iya ya kita sering ketemu tapi nggak pernah kenalan hehehe" Wiwid jadi salah tingkah sendiri.
"Kenalin nama saya Akbar alias Ujang" Ujang mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Wiwid.
"Nama gue Windi tapi semua orang biasa panggil gue Wiwid" Wiwid membalas ukuran tangan Ujang.
Kini mereka resmi berkenalan dan Ujang pun menawarkan diri untuk mengantarkan Wiwid pulang ke tempat kostnya, dan Wiwid pun bersedia, setelah dia tinggal Nina keluar kota dia dapat sahabat baru, dan sepertinya persahabatan mereka akan berubah menjadi cinta ❤.
Di sisi lain.
Seorang dokter muda sedang ber jalan ke area parkir, saat dirinya ingin menaiki mobil nya di lihatnya ban mobilnya ternyata kempes.
"Ya ampun... kok bisa sih kempes begini, aduh... apes amat udah malam begini ck" keluh nya.
Tiba-tiba ada seseorang dari belakang nya yang menawarkan untuk pulang bersamanya.
"Naik mobil ku saja" tawarnya.
Alice menoleh kearah belakang nya dia tersenyum melihat kakak seniornya yang memang selalu menjadi pahlawan baginya.
"Kak... Calvin" ucap Alice lembut.
Alice pun masuk kedalam mobil tersebut.
dokter Calvin berada di rumah sakit tersebut sebenarnya ingin memeriksa keadaan Nina tapi dia terkejut ketika mendengar pasiennya dibawa kabur oleh anak pemilik rumah sakit.
dokter Calvin sebenarnya sangat kesal dengan kelakuan Aslan yang semaunya saja karena bisa-bisanya dia membawa pasiennya setelah selesai operasi, dokter Calvin takut terjadi sesuatu pada kaki Nina, tapi saat melihat video yang di viralkan oleh salah satu perawat rumah sakit dia jadi tersenyum sendiri karena melihat bagaimana Aslan menggendong Nina dengan mesra nya melewati lorong rumah sakit, sungguh di luar dugaan nya, orang yang mulutnya suka seenaknya saja berbicara ternyata bisa bucin juga pada wanita.
dokter Calvin yang tersenyum sendirian saat mengingat kelakuan Aslan, tak sadar di perhatikan oleh Alice, dia sadar ketika Alice menegurnya.
"Kak... kakak kenapa tersenyum seperti itu? " tanya Alice bingung.
"Oh... tidak aku tidak apa-apa, oia kau sudah tahu keberadaan saudara sepupu mu itu dimana sekarang? " tanya Calvin.
"Mereka di luar kota Aslan membawa istrinya keluar kota, dia benar-benar marah pada kami, tapi seharusnya dia tidak marah pada ku?! aku kan juga tidak tahu apa-apa aku juga baru tahu tadi dasar bodoh?! " Alice kesal sendiri dan memaki sepupunya itu sendiri.
Tapi itu membuat dokter Calvin tertawa karena menurut dokter Calvin marahnya Alice itu sangat lucu dan menggemaskan.
"Kakak kenapa sih dari tadi tertawa terus aku ini lagi kesal kak, terutama sama Zaed gara-gara dia semuanya kacau, coba dia nggak ngebelain perempuan jahat itu kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi errrrr menyebalkan kau Zay... " Alice kesal dan geram dia bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya dan seolah memukul wajah Zaed di hadapannya, karena kesal dengan Zaed.
"Apa dia akan kembali? " tanya dokter Calvin.
__ADS_1
"Dia pasti akan kembali tapi entah kapan" nada Alice kembali normal lagi.
Walau sebenarnya saat ini perasaannya sangat sedih karena mengetahui semua ini, mengetahui pernikahan dadakan ini, mengetahui kepergian Aslan yang mendadak dan mengetahui kemarahan Aslan kepada semuanya, dia tahu Aslan pasti sangat marah dan kecewa pada semuanya terutama sahabat baiknya yaitu Zaed.
Tanpa sadar air mata itu menetes di pipinya tanpa perintah darinya padahal dia sudah menegaskan pada dirinya sendiri agar tidak menangis tapi perasaannya tak bisa di bohongi hingga air mata itu pun akhirnya mampu menembus bendungan di mata Alice.
Calvin yang melihat itu langsung mengusap lembut pipi Alice.
"Jangan menangis masih ada aku disini" ucap Calvin lembut.
Alice bahkan sampai tertegun saat Calvin mengatakan hal itu, dia tak menyangka kalau kakak seniornya ini yang sangat kamu dan sedingin gunung es ini bisa bertindak sehangat mentari pagi dan berkata sesejuk embun pagi.
Di sisi lain.
Zaed yang sedang melamun karena memikirkan ikatan persahabatannya dengan Aslan harus berakhir seperti ini, Tiba-tiba di kejutkan oleh sesuatu benda dingin yang menempel di pipinya.
"Eh... kompresan? " gumamnya saat melihat sebuah kompresan menempel di pipinya.
"Kenapa wajah kakak sampai memar seperti ini? " tanya Aletta polos.
"Biasalah, oia kapan kakak mu pulang sudah jam segini kenapa dia belum sampai juga" tanya Zaed dia menunggu Alice di apartemennya karena Alice tidak mau di temui di rumah sakit tadi.
Alice pun marah padanya karena gara-gara ulahnya dirinya juga di musuhin oleh Aslan.
"Katanya mobil kakak bannya kempes terus dia akhirnya pulang bersama kakak seniornya nama nya dokter Calvin" jelas Aletta.
"Ah... dokter Calvin mau kesini ya... aaaa dokter tampan itu akan kesini, aku lupa aku harus berdandan agar akun terlihat cantik dimatanya" Aletta mejerit ketika mengingat Calvin.
Zaed dengan mode cemburu akhirnya menarik tangan Aletta kencang hingga gadis itu terjatuh terjerembab di pangkuannya.
"Sejak kapan kau jadi genit? " tanya Zaed dingin pada Aletta.
Aletta yang melihat raut wajah Zaed tak bersahabat jadi ketakutan.
"Kak... lepaskan tangan ku sakit" ucap Aletta pelan dia takut dengan tatapan tajam Zaed.
Zaed pun melepaskan tangan Aletta karena tak mau membuat gadis kecilnya ketakutan.
"Ah... maaf hari ini sungguh hari yang berat untuk ku dan begitu banyak kejadian akhir-akhir ini yang sangat membuat kepala dan fikiran ku pusing Aletta" Zaed memalingkan wajahnya dari Aletta.
Aletta yang masih berada di pangkuan Zaed langsung meraih wajah Zaed agar menoleh ke arahnya.
"Kakak masih punya Aletta, kakak bisa cerita semuanya pada Aletta" ucap Aletta polos tapi itu sungguh membuat Zaed sangat nyaman bila bersama gadis kecilnya ini, hingga dia pun tersenyum kembali karena gadis kecilnya ini.
__ADS_1
Bersambung.