
Saat Aletta masih di pangkuan Zaed dan memegang wajah Zaed dengan lembutnya, tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan masuklah Alice dan dokter Calvin kedalam.
Mata Alice langsung membulat saat melihat adegan itu di dalam apartemennya, sontak Alice langsung menjerit kepada Zaed.
"Zay... apa-apaan lu sialan, elu ambil kesempatan ya pas nggak ada gue" pekik Alice.
Aletta bukannya beranjak dari pangkuan Zaed malah terpesona oleh ketampanan dokter Calvin, Zaed melihat itu dan akhirnya memindahkan Aletta ke sofa dan turun dari pangkuannya.
"Aletta masuk ke kamar mu! " sentak Alice.
"Nggak mau aku mau disini" rengek Aletta dan dia melirik ke arah Calvin sambil senyum-senyum.
Zaed yang melihat itu pun ikut kesal.
"Letta masuk ke kemarin mu sekarang" Zaed pun ikut memerintahkan Aletta untuk masuk ke kamarnya dia tak rela gadis kecilnya menyukai pria lain selain dirinya.
"Nggak mau... " Aletta manja.
Zaed kesal hingga dia akhirnya menggendong Aletta di pindaknha seperti menggendong beras dan membawa Aletta ke kamarnya.
"Aaaaaa kak turunkan aku aaaaaa" Aletta menjerit karena ketakutan.
Zaed tak mendengarkan jeritan Aletta dan terus membawanya ke kamarnya yang ada di lantai dua, setelah menurunkan Aletta dia langsung mengunci Aletta di kamarnya.
Alice hanya bengong saja melihat adiknya di perlakukan seperti itu oleh sahabatnya.
"Zay... elu apa-apaan sih adeknya elu apain hah?! " Alice kesal bahkan dia memukul baju Zaed.
"Gue cuma melindungi adek elu biar nggak maksiat oke... elu juga tumben banget ngajak pacar elu kesini sih?! " Zaed ikut kesal.
"Heh... pacar siapa yang elu maksud sialan" Alice kesal dan masih memukul lengan Zaed.
Zaed hanya tertawa kecil. melihat reaksi malu dari Alice yang menutupi mrasa malunya dengan cara memukul Zaed terus.
"Ya udah lah gue balik dulu takut ganggu elu pacaran dah.... hahaha oia jagain ade lu jangan sampe ngeliat adegan 18+ hahaha" Zaed tertawa lepas sebelum meninggalkan apartemen Alice.
"Dasar sialan lu Zay... " Maki Alice bahkan dia melemparkan tas yang di bawanya ke arah pintu namun terlambat karena Zaed sudah menutup pintu tersebut lebih dahulu.
hingga tas yang di lempar Alice hanya mengenai daun pintu.
Alice yang kesal. dengan sahabatnya itu tak menyadari kalakuan bar-barnya disaksikan oleh Calvin yang tersenyum saat melihat kelakuan Alice yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Alice baru menyadari kalau ada Calvin disana setelah mendengar suara tawa Calvin.
"Ah... kak maaf hehehe aku jadi lupa ada kakak disini hehehe" Alice nampak malu.
"Hehehe tidak apa, oia aku pulang dulu ya... kau tidrulah yang nyenyak, dan sepertinya perasaan mu sudah normal kembali, setelah bertemu dengan sahabat mu itu" ucap Calvin.
"Eh... hehehe kakak bisa saja, Terima kasih karena sudah mengantar ku sampai disini, dan maafkan tentang kejadian antar Zaed dan Aletta" ucap Alice malu.
"Hem tidak apa, aku pulang ya... " Calvin pun pamit dari apartemen Alice.
Saat Calvin pamit Aletta mengetuk-ngetuk pintu kamarnya meminta dikeluarkan dari kamar.
"Kakak.... keluar kan aku kak.... kakak... " rengeknya.
Cek lek.
Alice membuka pintu kamar Aletta dan muncullah dia dari balik pintu tersebut.
"Mana kak Zay dan dokter tampan itu kak? " tanya Aletta celingukan.
"Mereka sudah pulang, kau ini kenapa jadi genit begitu sih dengan Zay dan Calvin?! " omel Alice.
"Astaghfirullahalazim Aletta" Alice menepuj dahinya.
"Oia kenapa kakak tidak jadian saja dengan kak Calvin kalian nampak serasi loh kak" Aletta tiba-tiba berbicara seperti halnya Zaed saja.
"Ck kau ini sama saja seperti Zaed, kau sendiri kenapa tidak jadian sekalian dengan Zaed hah?! " omel Alice.
"Ck... kakak aku kan masih kecil mana mau kak Zay dengan aku, lagi pula dia hanya menganggap aku sebagai adik kecilnya tidak lebih dari itu" gerutu Aletta.
"Tapi kalau dia benar-benar mencintai mu gimana? apa kau mau? " tanya Alice serius.
"Nggak" jawab Aletta singkat.
"Kenapa? apa kau sudah punya laki-laki yang kau sukai? " tanya Alice penuh selidik.
"Tidak tapi... aku masih belum siap pacaran aku kan masih kecil aku ingin menggapai cita-cita ku terlebih dahulu baru setelah itu aku siap" jelas Aletta.
"Siap apa? " tanya Alice penasaran.
"Siap menikah heheh aku tidak ingin pacar-pacaran aku ingin segera menikah pacaran nya nanti saja setelah kita menikah hehehe" Aletta tertawa.
__ADS_1
Alice tersenyum mendengar perkataan adiknya setidaknya dia tenang karena mendengar prinsipnya Aletta, dia tidak perlu khawatir dengan hati adiknya ini, karena dia tahu hatinya sudah di miliki oleh siapa, semoga saja itu tidak akan berubah sampai saatnya tiba.
Zaed mengendarai mobilnya dia sampai lupa tujuannya datang ke apartemen Alice itu sebenarnya ingin meminta maaf pada Alice, tapi karena rasa cemburu nya pada Aletta dia jadi lupa untuk meminta maaf pada sahabatnya itu.
"Astaghfirullah gue sampe lupa, mau minta maaf sama Alice, gara-gara Aletta gue sampe lupa segalanya, bahkan gue tadi sampe lupa kalau gue lagi dapat masalah sama Aslan" gumam Zaed saat mengendarai mobilnya menuju rumahnya.
"Huft... Aslan semoga elu bisa bahagia bersama Nina, hanya itu harapan gue, gue juga nggak tahu elu bisa maafin gue apa nggak karena masalah ini Lan... meski elu bilang gue bukan sahabat elu lagi tapi bagi gue elu tetap sahabat terbaik gue" gumamnya sendirian di depan kemudi.
Mobil yang di kendarai Zaed pun akhirnya tiba di halaman rumahnya Zaed pun masuk kedalam rumahnya, dan berjalan menuju kamarnya, hari yang sangat menyakitkan dan melelahkan untuknya sungguh hari ini sungguh hari yang sangat berat untuknya.
Disisi lain.
Sepasang pengantin baru itu terlihat sedikit canggung karena baru pertama kali bagi mereka berdua sekamar dan satu tempat tidur, Aslan yang melihat istrinya canggung berusaha mencair kan suasana terlebih dahulu.
"Sayang... kesini lah... dekat dengan aku jangan di pinggir seperti itu nanti kamu jatuh ke lantai" pinta Aslan.
Nina hanya menoleh malu-malu pada suaminya.
"Jangan takut aku tidak akan berbuat sesuatu pada mu, bila kamu belum siap" ucap Aslan lembut.
"Eh... hehe bukan begitu kak tapi Aaaaa" Nina belum menyelesaikan perkataannya langsung ditarik tangannya oleh Aslan hingga dirinya terjermbab di atas kasur,Aslan gemas pada istrinya ini.
"Sudah ku bilang aku tidak akan ngapa-ngapain kamu, tapi sepertinya kamu yang minta di apa-apain hehe" goda Aslan berbisik di telinga istrinya.
"Hah.... tidak kak aku belum siap kaki ku juga masih sakit" Nina panik.
Aslan lalu tertawa geli saat melihat reaksi istrinya yang seperti itu.
"Hihi tidak sayang aku hanya bercanda, sudah tidur lah besok kita beli pakaian untuk mu ya" Aslan mengusap lembut wajah istrinya.
Cup...
Aslan mengecup kening istrinya sebelum tertidur, ini hal yang pertama kali yang di alami oleh Nina, bahkan dia sampai memegangi bekas kecupan suaminya di dahinya, Nina lalu tersenyum dan tiba-tiba....
Cup...
"Selamat malam kak" dia juga mengecup pipi suaminya saat ingin tidur.
Aslan terkejut dengan serangan dari Nina tapi tak lama dia pun menarik tangan istrinya agar mereka berpelukan saat tidur malam ini.
Bersambung.
__ADS_1