
Di Kantor polisi Gio sedang di interogasi oleh pihak kepolisian, Gio masih bersih kukuh berkata kalau dirinya tidak bersalah dan sebenarnya dirinya juga baru kehilangan mobilnya.
"Betul pak saya tidak bohong, saya juga baru kehilangan mobil saya kemarin sore saat saya mau bertemu dengan pacar saya, tapi mobil saya malah hilang, dan untuk percobaan pembunuhan itu?! saya tidak tahu menahu tentang si korban dan saya juga sebenarnya korban pak?! korban pencurian?!" jelas Gio membela dirinya.
"Untuk sementara waktu anda masih menjadi tersangka dulu selama kami melakukan penyelidikan hingga ada bukti bahwa anda kehilangan mobil anda di restoran seperti yang anda bilang pada kami" ucap petugas penyidik tegas.
Gio menghela nafasnya berat karena semuanya sungguh tak menguntungkan baginya.
"Apa saya bisa menghubungi pengacara saya pak untuk membantu saya memecahkan kasus ini" punya Gio.
"Silahkan" penyidik pun memperbolehkan Gio menghubungi seseorang yang bisa membelanya.
Tak lama seorang penyidik datang ke ruang interogasi dan menujukan sesuatu pada petugas yang sedang menginterogasi Gio.
"Baik tuan Gio sebelumnya saya meminta maaf karena sudah menuduh anda, kami baru saja mendapatkan laporan rekaman CCTV di restoran tempat dimana hilang nya mobil anda, dan kami sekarang mengalihkan status anda menjadi saksi, bukan tersangka lagi" ucap penyidik.
"Ah kalian sudah menemukan pencuri mobil ku? " tanya Gio penasaran.
"Sudah tuan tapi wajahnya tidak terlihat jelas dan kami pun masih belum bisa memastikan yang mencuri mobil anda itu laki-laki atau perempuan" jelas penyidik.
"Hem... begitu... " Gio hanya mengangguk-anggukan kepala nya saja.
Untuk sementara waktu anda tidak di perbolehkan keluar kota apa lagi keluar negeri karena anda adalah saksi bagi kami.
"Baiklah kalau begitu, apa saya boleh kembali ke apartemen saya? " tanya Gio.
"Silahkan tuan" polisi pun mempersilahkan Gio meninggalkan kantor polisi.
Gio pun meninggalkan kantor polisi, walau sebenarnya dia masih penasaran siapa yang berani mencuri mobilnya di restoran kemarin sore itu.
Sementara dirumah sakit.
Alice mengontrol keadaan Nina di ruang rawat nya, dia menjelaskan pada Nina kalau kakinya akan di operasi dan memasang alat di kakinya agar lutut nya bisa berfungsi seperti sedia kala.
"Apa aku bisa beraktivitas seperti biasa dok bila aku pasang pengganti lutut itu? " tanya Nina polos.
"Tentu Nina nanti dokter ortopedi dokter Calvin yang akan mengoperasikan mu, dan dia juga akan memeriksa mu nanti siang ya" jelas Alice.
Nina mencengram selimut nya dia sebenarnya takut dengan kata-kata operasi, dia sudah membayangkan bagaimana terjadi pembedahan dan lampu sorot yang selalu ada di ruang operasi.
"Jangan takut ruang operasi tidak semenakutkan itu kok" Alice berusaha menenangkan Nina.
__ADS_1
"Itu karena dokter sudah terbiasa masuk keruangan tersebut jadi, dokter bisa bilang tidak menakutkan tapi bagi ku tetap saja menakutkan" ucap Nina polos.
Alice tersenyum dia senang bila berbicara dengan Nina karena Nina selalu apa adanya dia tidak pernah berpura-pura.
pantas Aslan menyukai mu Nina... kau memang tidak pernah berpura-pura.
Alice menepuk punggung tangan Nina mencoba menenangkan Nina agar gadis itu tenang.
"Iya Nin... jangan takut inget sebentar lagi elu akan menikah sama tuan muda, jadi biar elu bisa jalan nanti di pelaminan" ucap Wiwid antusias.
Alice terkejut mendengar berita tersebut.
"Me-ni-kah? " tanya Alice ragu.
"Iya dok semalam tuan besar langsung meminta Nina menjadi menantunya" ucap Wiwid semangat.
Lutut Alice seolah langsung lemas saat mendengar itu semua.
Paman Herald langsung melamar Nina.
Alice memegang dadanya yang seolah terasa sesak saat mengetahui sebuah kenyataan yang dia dengar saat ini.
"Dok... dokter tidak apa-apa? " tanya Nina dan Wiwid.
Sungguh sebenarnya Alice ingin sekali menangis saat ini tapi tak mungkin dia lakukan itu di depan Nina dan Wiwid, karena dirinya juga sadar kalau cintanya ini sebenarnya adalah salah, dia mencintai sepupunya sendiri yang kemungkinan besar cinta itu memang mustahil untuk di miliki, karena Aslan selama ini hanya menganggap nya sebagai saudari perempuan nya saja tidak pernah lebih dari itu, meski Aslan selalu menjadi garda terdepan bila ada orang lain yang menyakiti Alice dan itulah yang membuat Alice jatuh cinta pada seorang Aslan saudara sepupu nya sendiri.
Alice melangkah cepat menuju ruangannya, rasa sesak di dadanya sudah tak bisa dia tahan lagi, Alice masuk keruangannya dan menguncinya dan dia pun langsung menangis di dalam ruangan tersebut, dia bersandar hingga terduduk di balik daun pintu ruangannya, Alice menangis tersedu.
Alice berdiri dan berjalan ke meja kerjanya di tatapnya bingkai foto yang ada sebuah foto dirinya dan Aslan saat mereka masih SMA, seragam putih Abu-Abu itu menjadi saksi kelulusan saat masa SMA dulu, waktu itu Aslan masih mencintai Laura tapi tak pernah lupa dengan Alice.
Air mata Alice menetes di atas kaca bingkai foto tersebut membasahi foto tersebut, Alice mengusap lembut foto tersebut.
"Selamat ya... kau telah menemukan jodoh mu, dia gadis yang baik, aku pun suka dengannya apa lagi kamu hiks... hiks... " ucap Alice lirih.
Wiwid yang melihat gelagat Alice yang sangat berbeda saat Wiwid mengatakan kalau Nina akan menikah dengan Aslan menaruh curiga.
"Dokter Alice kenapa ya? apa dia nggak suka kalau elu nikah sama Aslan ya? " fikir Wiwid.
"Hus... jangan ngomong sembarangan elu. nggak liat tadi dia semangatin gue, dia itu baik banget tahu udah baik cantik pinter lagi" puji Nina.
"Iya sih... tapi.... ah semoga gue salah sih kayanya dokter Alice suka sama Aslan" gumam Wiwid.
__ADS_1
"Apa?! elu ngomong apa Wid?! " tanya Nina yang kurang mendengar gumaman Wiwid.
"Eh... nggak bukan apa-apa semoga sehabis kalian menikah dokter Alice juga segera menikah dengan pria yang mencintainya" Wiwid berbohong.
"Iya semoga ya Wid... "
Wiiwd bernafas lega karena Nina tidak mencurigai dirinya berbohong.
Hingga siang menjelang dokter Calvin pun akhirnya menemui Alice yang sedang ada di ruangan nya dan membicarakan tentang kasus Nina, dokter Calvin nampak terpesona oleh penjelasan Alice yang menjelaskan dengan detail dan sangat terlihat sangat pandai, dokter Calvin adalah senior Alice di kampus mereka berbeda 4tingkat saat dokter Calvin hampir lulus kedokteran dan belum. mengambil spesialis ortopedi mereka suka membicarakan tugas, atau kebanyakan Alice yang selalu. minta bantuan pada dokter Calvin untuk menyelesaikan tugasnya.
"Begitu dok... dok... dok... anda melamun? " tanya Alice yang melihat dokter Calvin yang terlihat tidak konsentrasi.
"Ehm... ya aku mengerti bisa kita bertemu dengan pasien? " tanya dokter Calvin dengan caranya yang dingin.
"Ehm... bisa ayo kita temui dia, dia selalu saja dingin"
Alice dan Calvin pun berjalan ke ruang VVIP, dan saat sampai disana ternyata sudah ada Aslan dan Zaed yang langsung mampir ke rumah sakit setelah selesai meeting.
"Eh... kalian tidak bekerja? " tanya Alice pada Aslan dan Zaed yang bernada biasa seperti biasa saja seolah tadi pagi tidak terjadi apa-apa padanya.
"Nih... tuan muda minta kesini dulu sebelum. ke kantor kangen katanya sama ayang" singgung Zaed.
Alice tersenyum mendengar itu.
"Iya gue dah dengar tadi pagi dari mereka berdua kalau kalian akan segera menikah cie...yang bakalan jadi pengantin" ucap Alice menggoda.
"Apaan sih lu" Aslan langsung merangkul pundak Alice dan mengacak-acak rambut Alice.
Alice tertawa terbahak, Calvin yang baru pertama kali melihat hal itu pun merasa risih dengan itu semua.
"Ehm... " dokter Calvin berdehem hingga mengalihkan semua pandangan yang ada disana ke arah dokter Calvin.
"Apa kita bisa memeriksa pasien sekarang? " tanya dokter Calvin dingin.
"Oo iya kenalkan ini dokter Calvin dia yang nantinya akan mengoperasi Nina, dia kakak senior ku saat di kampus" jelas Nina.
"Hem... begitu mohon bantuannya dokter Calvin" Aslan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Calvin tapi tak di balas dengan Calvin dokter Calvin malah langsung mendekati Nina dan melihat ke arah kaki Nina.
Aslan tidak Terima begitu saja di perlakukan seperti itu, ditambah lagi Calvin langsung melihat kaki Nina, fikiran kotor Aslan langsung merasuki otaknya hingga dia tidak Terima dokter Calvin melihat kaki calon istrinya dengan cara seperti itu.
"Apa-apaan kau ini melihat kaki mulus kekasih ku seperti itu? " sentak Aslan.
__ADS_1
Alice langsung menepuk dahinya karena tak meyangka sepupunya segila ini pada Nina.
Bersambung.