
Zaed memarkirkan motornya di depan gerbang sebuah tempat kost, saat dirinya masuk ke tempat kost tersebut dirinya bertanya pada salah satu penghuni kostan tersebut.
"Maaf mas kamar Nina sama Wiwid yang mana ya? " tanyanya.
"Oh... di atas mas pintu paling pojok dekat pager" ucap si mas tersebut.
"O... Terima kasih ya" Zaed langsung berjalan manaki anak tangga dan mencari kamar Nina seperti yang ditunjukkan oleh mas-mas tersebut.
Tok... tok...
Zaed mengetuk pintu kayu triplek tersebut.
Cek lek.
pintu terbuka dan muncul lah Wiwid dari balik pintu tersebut. wajah Wiwid langsung terkejut seketika saat melihat siapa sosok yang ada dibalik pintu tersebut.
"Siapa Wid? " tanya Nina.
"Elu ngapain kesini? " tanya Wiwid bingung.bukan menjawab pertanyaan Nina Wiwid malah bertanya pada Zaed.
"Ck... gue nggak ada urusan sama elu, gue mau jemput Nina" ucap Zaed cuek.
"Heh.... " Wiwid bingung.
Nina yang merasa di sebut namanya langsung beranjak dari kasur lantai dan mendekati pintu, Nina pun terkejut saat melihat Zaed yang ada di luar pintu kamar nya.
"Kak Zaed? " tanya Nina.
"Nin yuk ikut gue" ajak Zaed langsung dan menarik tangan Nina.
"Kemana? " Nina bingung.
"Ck udah... ikut ajah ada yang kangen sama elu hihi" Zaed cekikikan.
"Kangen? " Nina tambah bingung.
Dan karena tidak mau Nina banyak berfikir Zaed langsung menarik tangan Nina untuk mengikuti nya dan membawa gadis itu pergi dari kamar kostnya.
"Kak tunggu aku belum pakai sendal" ucap Nina.
Zaed pun akhirnya melepaskan tangan Nina dan membiarkannya memakai sendal.
"Eh elu mau bawa kemana temen gue" teriak Wiwid.
"Ke suatu tempat lah" ucap Zaed acuh.
"Ke suatu tempat itu kemana, aman nggak? " tanya Wiwid karena dia mengkhawatirkan Nina.
"Aman kok tenang ajah, udah ya.... ayuk Nina" Zaed menarik lagi tangan Nina agar Nina mengikuti langkahnya.
Nina yang masih memakai setelan baju tidur pun ikut saja di belakang boncengan motor Zaed.
"Kak kita mau kemana sih? " tanya Nina lagi.
"Udah ikut ajah nanti juga elu tahu" ucap Zaed sambil tersenyum aneh.
__ADS_1
Nina pun hanya mengikuti Zaed kemana Zaed membawa nya, dia tidak curiga sedikit pun dengan tingkah Zaed.
Saat motor melaju ditengah perjalanan Nina sempat menanyakan keadaan Aslan, Zaed menjawab kalau Aslan sudah baik-baik saja, dan Nina tidak perlu khawatir.
nah ini gue mau bawa elu ke dia Nin... heheh kayanya dia udah kangen sama elu hihi.
motor pun melaju dengan kecepatan sedang, dan saat di jalan Nina memperhatikan jalanan yang sepertinya tidak asing baginya.
ini kan jalanan kerumah sakit.
"Kak kita mau kerumah sakit ya? apa kak Aslan sudah sadar? " tanya Nina tapi tak kunjung dijawab oleh Zaed.
Nina hanya mencebik karena kesal sebab pertanyaannya tidak kunjung di jawab oleh Zaed.
dan Benar saja motor melanju memasuki area rumah sakit dan Zaed pun memarkirkan motornya di area parkir.
setelah turun dari motor Nina bertanya lagi.
"Kak apa kak Aslan sudah sadar? "tanya Nina lagi.
"Hem"hanya itu jawaban Zaed.
" Ayok ikut gue"ajak Zaed dan Nina pun mengikuti langkah Zaed.
Mereka berdua berjalan menelusuri lorong rumah sakit, melewati taman rumah sakit yang tidak asing bagi Nina karena semalam dirinya juga di ajak berjalan ke tempat tersebut oleh dokter Ryan.
Mereka berdua pun sampai di depan ruang VVIP Zaed membuka pintu dan Nina pun ikut masuk kedalam nya.
Aslan yang melihat pintu di buka pun menoleh ke arah pintu dan...
Aslan dan Nina menatapnya bingung dan mereka hanya terdiam saat Zaed mengucapkan itu.
"Ck... kok malah pada diam sih? " Zaed kesal.
"Lan.... katanya elu kangen nih dah gue bawa orangnya" ucap Zaed santai dan berjalan kearah sofa.
"Anjir siapa yang kangen somplak" bentak Aslan.
"Aw... akh... ssh... sialan lu" omel Aslan lagi padahal dia sedang merasa kesakitan di daerah lukanya.
Nina yang melihat itu langsung panik dan mendekat pada Aslan.
"Ah.... kak... kenapa? " tanya Nina panik.
"Ck... diem lu" Aslan ketus.
Asli Aslan menyebalkan sekali menurut Nina.
Nina yang di ketusi oleh Aslan akhirnya terdiam.
Zaed yang melihat sikap Aslan pada Nina akhirnya bicara.
"Lan...nggak boleh gitu Lan dia loh Lan yang udah nolongin elu" Zaed mengingatkan.
Aslan terdiam dan menatap Nina sambil memegangi perutnya, Nina yang kesal pun membuang muka saat Aslan melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Ssshhh Zay bisa panggil suster kesini, luka gue kerasa sakit banget nih" pinta Aslan.
Zaed pun keluar dari ruangan tersebut padahal dia bisa saja menekan tombol ruangan untuk memanggil suster tapi Zaed seolah tahu apa yang ada di fikiran sahabatnya itu, Aslan terlalu gengsi bila ingin bicara baik-baik dengan Nina, hingga Zaed membiarkan Aslan dan Nina berdua. saja di ruangan tersebut.
Tapi Nina yang kesal dengan Aslan karena sikapnya yang selalu tidak ramah padanya malah mengikuti langkah Zaed, tapi. langkahnya terhenti ketika Aslan memanggilnya.
"Eh... elu mau kemana cupu" panggil Aslan.
"Keluar" Jawab Nina sewot.
"Jangan keluar plis temenin gue disini akh... ssshhh" Aslan menahan rasa sakit di lukanya.
Nina yang tidak tegaan akhirnya diam. di ruangan tersebut dan berdiri jauh dari Aslan.
Aslan yang melihat itu akhirnya menyuruh mendekat padanya.
"Kenapa berdiri disitu kesini lu" pintanya tapi dengan nada tidak ramah.
Nina dengan malasnya mendekat pada brankar Aslan.
Saat Nina mendekat Aslan menatapnya, dan entah kenapa Nina jadi salah tingkah saat di tatap oleh Aslan. hingga dia memalingkan wajahnya dari Aslan.
"Nin... " sapa Aslan.
eh dia panggil aku.
Nina menoleh perlahan pada Aslan.
"Terima kasih karena udah nolongin gue" ucap Aslan lembut.
Nina. bingung super duper bingung dengan sikap Aslan yang kadang galak kadang lembut padanya.
"Eh... iya sama-sama" ucap Nina menunduk.
"Kenapa elu mau nolongin gue? " tanya Aslan.
Dia tadi baru tahu cerita kalau Nina menerobos bahaya demi membawa nya ke rumah sakit bersama Zaed dari Kodok dan Beni yang menjenguk nya saat Zaed pergi.
"Nggak tahu" Nina menggeleng.
"Elu nggak takut gitu pas kerusuhan begitu samurai di mana-mana elu nggak takut mati?" tanya Aslan.
"Nggak" jawab Nina singkat.
"Serius elu nggak takut mati?! " tanya Aslan tak percaya.
"Aku mati juga nggak akan ada yang sedih kan? " ucap Nina lirih.
"Kata siapa? " ucap Aslan.
"Gue pasti sedih kalo elu mati kemarin cuma karena mau nolongin gue"
Nina yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap Aslan.
Aslan menatap Nina dan pandangan mereka pun bertemu.
__ADS_1
Bersambung.