
Wajah Aslan sudah tertekuk saat ini dan menatap Nina di depannya yang hanya berdiri agak jauh dari barankarnya.
Saat ini mereka hanya berdua saja di dalam ruang rawat, semua yang tadi datang pergi dari sana setelah puas mentertawakan Aslan, Zaed pun ikut rombongan pengawal karena masih harus berurusan dengan tuan besar Herald.
Dan Kini tinggal lah mereka berdua saja di ruangan ini.
"Kenapa elu pake dateng kesini sih?! " Aslan mulai berbicara ketus seperti biasa.
"Maaf karena aku datang di waktu yang tidak tepat" ucap Nina pelan.
"Maaf... maaf... dasar cupu" Aslan sewot.
Nina meremas jari-jarinya sendiri ketika mendapatkan omelan dari Aslan dia sungguh merasa kesal dengan sifat Aslan yang suka seenaknya saja bila berbicara.
"Kenapa elu diem ajah elu nggak suka gue ngomong begitu?! " tanya Aslan sewot.
Nina lalu menatap tajam ke arah Aslan dia mengepal tangannya karena kesal.
"Iya aku nggak suka kau bicara begitu pada ku dasar orang tidak tahu Terima kasih" ucap Nina sewot dan dia menghentakan kakinya dan berjalan dengan cepat menuju pintu.
"Eeee elu mau kemana? " tanya Aslan yang langsung menghentikan langkah Nina yang sudah hampir membuka pintu.
"Pulang dan aku nggak akan datang kesini lagi permisi" ucap Nina dingin.
"Nggak kesini lagi? " gumam Aslan dia seolah nggak rela Nina pergi meninggalkan nya sendirian.
"Stop... berhenti jangan bergerak selangkah lagi" Aslan meminta Nina berhenti agar tidak keluar dari ruangan nya.
Tapi Nina tak mau mendengarkan permintaan Aslan dia malah membuka pintu tersebut dan langsung keluar saja dari sana tanpa. menoleh kearah Aslan.
"Nin... Nina... Karinina sumpah elu beneran. marah sama gue gitu" Jerit Aslan.
"Oh... astaga ya ampun dia beneran marah, gue nggak nyangka dia ambekan juga" gumam Aslan ketika ditinggal Nina sendirian di ruang rawatnya.
Sementara itu Nina berjalan dengan langkah yang cepat menuju keluar dia meruntuki kebodohannya sendiri karena mau menjeguk Aslan sore ini, dia seharusnya tahu kalau hal. seperti ini pasti akan terjadi pada dirinya, Aslan hanya akan memgnhina dan marah-marah padanya.
"Dasar orang tidak tahu diri" umpat Nina.
Sementara Aslan yang di kamar sendirian jadi gelisah setelah melihat Nina marah padanya.
"Ck... kenapa gue jadi nggak enak hati begini sama dia sih, ck... biarin ajah dia marah lagi pula salahnya sendiri kenapa pake dateng segela kesini" gerutunya.
"Tapi bener kata dia gue orang yang nggak tahu Terima kasih, eh... nggak kok kemaren gue udah bilang Terima kasih kan sama dia tapi kenapa dia bilang gue orang yang nggak tahu Terima kasih dasar cupu aneh" gumam Aslan.
"Aaargh kenapa gue malah mikirin dia sih nyebelin dasar cupu" Aslan kesal sendiri.
__ADS_1
Hingga malam pun tiba pukul sembilan malam Nina yang tadi kesal dengan Aslan sudah telelap tidur di kamar kostnya bersama dengan Wiwid.
Tok... tok...
Terdengar suara pintu kamar kost Nina ada yang mengetuk.
Nina terjaga dan melihat jam di ponselnya yang berada di sisi bantalnya, pukul sembilan malam
"Jam segini siapa yang datang ya? " gumam Nina.
Nina terbangun dari kasur lantai nya dan membiarkan Wiwid tidur.
ceklek.
Pintu kamar kost terbuka.
saat pintu terbuka Nina sungguh terkejut saat melihat siapa yang ada di balik pintu tersebut.
"Kak kenapa kesini? " tanya Nina pada Aslan yang berada di balik pintu tersebut.
Wajah Aslan yang terlihat sedang menahan sakit berdiri di depan pintu kamar Nina dengan wajah yang pucat dan berkeringat.
"Maaf" Hanya itu yang di katakan Aslan saat melihat gadis itu dan kemudian pergi dengan langkah yang susah payah melangkah meninggalkan depan kamar Nina.
Nina langsung memapah Aslan.
"Aku bantu, kenapa kakak kesini sih, kakak itu aneh" oceh Nina.
"Bisa nggak ngomel dulu, perut gue sakit banget" ucap Aslan susah payah.
"Kakak naik apa kesini? " tanya Nina.
"Gue naik mobil Abang gue"
"Ya ampun kak... kakak ini... "
"Bisa nggak nggak ngomel dulu cupu ini sakit banget" Aslan kesal.
"Iya... iya... " Nina lalu mengantarkan Aslan ke dalam mobil nya.
Aslan melihat Nina duduk di belakang kemudi.
"Elu bisa bawa mobil? " tanya Aslan.
"Bisa" jawab Nina singkat.
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit terjadi kehebohan karena tuan muda melarikan diri padahal luka operasi nya masih basah.
dokter Ryan langsung menghubungi Zaed untuk mencari keberadaan adiknya yang nakal itu.
"Dasar bad boy... Asalan apa yang kau lakukan sih sampai senekat ini? " dokter Ryan frustasi dengan kelakuan adiknya yang sangat diluar dugaan itu.
Nina mengemudikan mobil dengan lihai.
Aslan tersenyum melihat gadis yang di samping nya ini ternyata bisa mengendarai mobil ini di luar dugaannya.
"Apa masih sakit kak? " tanya Nina tiba-tiba yang menoleh kearah Aslan.
Aslan yang terkejut karena Nina tiba-tiba menoleh kearahnya langsung gelagapan karena malu kalau dirinya ketahuan kepergok Nina sedang melihat ke arah gadis itu.
"Pake nanya ya sakit lah" ucap Aslan sewot untuk menutupi rasa malunya.
"Ck... kakak ini kenapa sih lagian udah tahu masih sakit pake jalan-jalan pake mobil lagi" oceh Nina.
"Terus kenapa kakak datang ke kostaan aku dan cuma bilang maaf dan langsung pergi kakak ini aneh" omel Nina lagi.
"Bisa nggak elu nggak ngomel dulu cupu" bentak Aslan dia menyembunyikan rasa malunya karena kekonyolan nya dia datang hanya karena ingin minta maaf pada gadis itu.
Dia pun sebenarnya merasa heran kenapa dia selalu gelisah dan merasa bersalah kalau bersikap tidak baik pada Nina, padahal kalau dengan yang lain dirinya tidak seperti ini.
Mobil yang di kendari Nina pun akhirnya tiba dirumah sakit petugas keamanan yang melihat mobil dokter Ryan kembali langsung memberi tahu dokter Ryan, hingga dokter Ryan pun berjalan ke arah area parkir mobilnya.
dokter Ryan tak menyangka saat dia melihat Nina yang turun dari arah pintu kemudi.
"Gadis itu" dokter Ryan langsung berjalan mendekati mobilnya.
Nina yang sedang membantu Aslan untuk keluar dari dalam mobil terkejut saat dokter Ryan muncul di belakangnya.
"Bagus... belum sembuh benar sudah jalan-jalan sebenarnya apa sih yang ada di fikiran mu itu Aslan" omel dokter Ryan.
"Udah deh Bang jangan banyak ngomel luka ku terasa sakit banget ini" keluh Aslan.
dokter Ryan meminta bantuan petugas keamanan membawakan kursi roda kedekat mobilnya dan meminta petugas keamanan itu mengantarkan adiknya ke ruangan nya.
Sementara Aslan di antar petugas keamanan dokter Ryan mengajak Nina berbicara.
"Bisa kita bicara? " pinta dokter Ryan.
Nina hanya mengangguk saja.
Bersambung.
__ADS_1