
"Berhenti berdetak" gumam Aslan seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.
beberapa detik kemudian Aslan berlari mengejar dokter Ryan yang sudah melangkah memasuki ruang ICU.
"Nggak Nin kamu nggak boleh mati nggak Nina jangan tinggalin aku kaya begini" gumam Aslan saat berlari mengejar dokter Ryan.
"Bang... bang... tolong bang... tolong selamatkan dia bang aku mohon" Asaln menarik jas putih dokter Ryan dan menatap wajah kakaknya dengan mata yang memohon.
"Akan abang usahakan yang terbaik untuk teman mu itu" dokter Ryan mengangguk dan melepaskan tangan adiknya yang mencengkram jas bagian tangan nya.
dokter Ryan masuk keruanh ICU dan langsung melakukan tindakan pada Nina.
Jantungnya benar-benar berdetak, mesin EKG menunjukkan garis lurus.
dokter Ryan di bantu oleh beberapa perawat mencoba melakukan PCR pada Nina agar detak jantungnya kembalikan lagi, dan langsung memasang alat pemacu jantung.
"Ayo Nina kembalilah ku mohon karena adik ku sangat mencintaimu ku mohon Nina kembalilah manis ayo kau kuat kau pasti bisa" ucap dokter Ryan saat memacu detak jantungnya .
Tapi mesin EKG masih menunjukkan garis lurus Nina masih tidak bernafas dan jantung Nina benar-benar berhenti berdetak.
Sementara di luar ICU Zaed melihat Aslan yang begitu cemas bahkan kaki Aslan nampak gemetar saat ini.
"Lan... tenang Lan... do'ain ajah yang terbaik buat Nina" Zaed mencoba menenangkan sahabatnya.
"Diem lu elu nggak dengar barusan abang gue bilang apa jantung Nina berhenti berdetak Zay... " Bentak Aslan.
Zaed yang melihat kemarahan di mata sahabatnya memilih diam akhirnya karena percuma saja bila bicara dengan Aslan saat ini yang ada mereka bisa baku hantam nantinya.
Aslan duduk disebelah Zaed.
"Kamu nggak boleh mati seperti ini Nina... nggak boleh masih banyak hal yang ingin aku lakukan bersama mu plis aku mohon jangan mati" ucap Aslan lirih hingga tak sadar air matanya menetes Aslan menangis lagi.
hari ini udah dua kali gue lihat dia nangis dan itu karena Nina, Nin... sahabat gue beneran suka ah nggak dia bukan cuma suka dia cinta sama elu jadi bangunlah dan buat sahabat gue ini tersenyum lagi.
__ADS_1
Batin Zaed.
Saat dokter Ryan sudah berusaha sebaik. mungkin dan hasilnya tetap sama dia pun akhirnya tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengharapkan keajaiban.
dokter Ryan melangkah dengan lemas keluar dari ruang ICU. dan saat pintu dibuka Aslan langsung merangsek tubuh kakaknya menanyakan dengan tidak sabar kepada kakaknya keadaan wanita yang dicintainya itu.
dokter Ryan tertunduk lemas, Aslan dapat melihat itu.
"Bang.... jangan bercanda bang... nggak lucu Nina selamat kan bang... dia nggak mati kan bang? " tanya Aslan bertubi-tubi.
dokter Ryan hanya diam.
"Bang jawab gue bang kenapa elu diam ajah?!" bentak Aslan.
"Maaf Lan abang sudah berusaha tapi dia tidak mau kembali" ucap dokter Ryan lirih.
"Nggak nggak mungkin" Aslan menggeleng pelan "Zay.... bilang sama gua kalo gue salah dengar Zay" Aslan seolah hilang akal.
Zaed yang melihat itu hanya diam saja tak berani berkata-kata.
"Aslan tenang lah" dokter Ryan mencoba menenangkan adiknya.
Tangan dokter Ryan di tepis keras oleh Aslan saat ini diri nya tak mau di sentuh oleh siapa pun.
Aslan akhirnya memaksa masuk ke ruang ICU dia ingin memastikan sendiri keadaan Nina.
Aslan masuk ke ruang ICU dan melihat Nina yang sudah tergeletak di brankar nya terlihat tak ada pergerakan sama sekali dari tubuh gadis itu.
Aslan melangkah dengan berat mendekati brankar Nina, air matanya langsung tumpah saat itu juga saat melihat wanita itu seolah tertidur dengan nyenyak nya.
"Nina bangun Nin.... plis... aku mohon Nina bangunlah jangan begini hiks... jangan tinggalkan aku begini Nina plis.... hiks... aku belum mengutarakan isi hati ku sama kamu sayang... ku mohon bangunlah" Aslan terisak membelai wajah gadis itu hingga air mata Aslan menetes di wajah gadis itu.
Tapi Nina tak kunjung berkreasi sedikit pun kondisi nya masih sama seperti itu terdiam.
__ADS_1
Aslan mendekat kan wajahnya di dekat wajah gadis itu dan membisikan sesuatu di telinga Nina.
"Maafkan aku karena aku kau jadi begini, aku mencintaimu Karinina Van Sanders" bisik Aslan.
Saat Aslan membisikan kata-kata itu tiba-tiba mesin EKG yang masih terpasang di tubuh Nina menunjukkan beberapa garis yang naik turun tak beraturan.
Aslan langsung menyadari hal itu dan langsung memanggil kakaknya.
"Bang.... abang... jantungnya berdetak lagi bang abang... " teriak Aslan.
Semua perawat yang ada disana melihat sangat miris saat melihat reaksi tuan muda yang seperti itu. karena yang mereka tahu gadis itu sudah tak bisa di selamat kan lagi nyawanya.
dokter Ryan segera masuk ke dalam ruang ICU agar adiknya tidak membuat masalah di ruangan tersebut tapi saat dokter Ryan masuk tangan nya lagsung di tarik oleh Aslan dan Aslan langsung membawa dokternya Ryan ke brankar Nina dan menunjukkan kondisi gadis itu alat yang tadinya tidak berhasil saat ini menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Ah... alhamdulillah ternyata dia masih ingin kembali dan menunggu mu Lan" dokter Ryan segera melakukan tindakan di bantu oleh beberapa orang perawat disana.
"Lan... dia selamat tapi masih dalam masa kritis kita doa kan saja agar dia cepat keluar dari masa kritisnya dan segera bangun dari komanya" jelas dokter Ryan.
Aslan hanya mengangguk dan dia langsung memeluk tubuh kakaknya, dokter Ryan pun membalas pelukan adiknya dan tersenyum di pelukan adiknya.
"Aku titip dia ya bang... " ucap Aslan lirih.
"Iya... abang akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan teman mu ini"
"Terima kasih bang" Aslan melepas pelukannya dan beralih ke brankar Nina.
"Cepatlah sadar karena ada sesuatu yang ingin aku sampai kan langsung pada mu" ucap Aslan lembut bahkan dia membelai wajah gadis itu dengan sangat lembut.
dokter Ryan yang melihat itu pun ikut tersenyum, beberapa menit yang lalu Aslan terlihat marah karena diri nya menyebutkan nama seseorang di masa lalunya ditambah lagi tadi saat mengetahui nyawa Nina tak bisa di selamatkan membuat Aslan semakin kacau dan kini saat detak jantung Nina kembali Aslan tersenyum kembali meski gadis itu belum sadar dari komanya.
Kau benar-benar merubah nya gadis manis, aku harap kau bisa membuat nya bertobat dan meninggalkan gengnya karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang CEO.
Batin dokter Ryan menatap Nina.
__ADS_1
Aslan keluar dari ruang ICU Zaed yang melihat itu langsung bertanya padanya bagaimana keadaan Nina Aslan tersenyum dan menepuk pundak sahabatnya, Zaed terlihat lega saat mendapatkan tepukan di pundak nya ditambah melihat senyum di wajah Aslan karena itu berarti pertanda baik darinya.
Bersambung.