My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Berhenti Berdetak


__ADS_3

Di ruangan dokter Ryan Zard yang duduk di depan meja kerja dokter Ryan merasa tertusuk oleh pandangan sangat dokter yang terlihat sangat mengintimidasi.


"Zay... bisa kau ceritakan bagaimana kejadian sebenarnya hingga terjadi kejadian seperti ini hem? " tanya dokter Ryan dengan nada tegas.


"Maafkan saya pak dokter" Zaed meminta maaf dahulu sebelum menceritakan kejadian dan semuanya yang terjadi.


Zaed pun akhirnya menceritakan awal mula kejadian ini mulai dari penculikan Nina hingga penyerangan ke markas musuh namun Zaed tidak tahu bagaimana Nina bisa terluka seperti itu, yang Zaed saksikan saat itu Nina sudah bersimbah darah dan Aslan menyerang ketua geng The Crow dengan membabi buta.


dokter Ryan nampak terlihat berfikir karena mendengar perkataan adiknya tadi yang mengatakan kalau gadis itu menyelematkan nya untuk yang kedua kalinya.


"Apa jangan-jangan waktu itu Aslan yang ingin di serang tapi gadis itu lalu melindungi Aslan hingga dia yang terkena pukulan di kepalanya" fikir dokter Ryan.


Zaed hanya manggut-manggut saja membenarkan fikiran dokter Ryan.


"Sekarang kau keluar lah dan bila Aslan sudah keluar dari ICU tolong suruh dia ke ruangan ku, aku butuh bicara dengan anak itu" pinta dokter Ryan.


"Baik dok" Zaed bangun dari kirsinya dan pergi meninggalkan ruangan dokter Ryan.


Zaed berjalan menuju ruangan ICU dia melihat Aslan masih sudah duduk di depan bangku penunggu.


"Lan...di tunggu sama kak dokter di ruangan nya" ucap Zaed saat dirinya mendekat pada Aslan.


Aslan bangun dari duduknya dan menitipkan Nina pada Zaed.


"Tolong jagain dia ya... kalo ada apa-apa langsung kabarin gue sama abang gue" pinta Aslan.


"Hem... elu tenang ajah, oia sekalian elu nganti baju tuh darah semua" Zaed melihat baju Aslan yang terkena noda darah Nina.


"Iya... " jawab Aslan dan dia pun berjalan menelusi lorong rumah sakit tersebut dan menaiki lift untuk menuju lantai tempat petinggi rumah sakit ini yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


Tok... tok...


Aslan mengetuk pintu sebelum dirinya masuk, saat mendengar seseorang menyuruhnya masuk maka dia pun membuka pintu tersebut dan masuk kedalam nya.


Aslan berjalan ke depan meja kerja kakaknya dan langsung duduk di kursi padahal belum di suruh oleh dokter Ryan.

__ADS_1


"Ada apa bang? " tanya Aslan.


dokter Ryan melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersandar di kursi kerjanya.


"Kenapa kau masih saja belum tobat hem? " dokter Ryan langsung bertanya to the poin.


Aslan langsung memutar matanya malas.


"Aslan... kau dengar abang, sekarang ini bukan hanya nyawa mu yang selalu jadi taruhan bila kau terlibat perkelahian, sekarang kau lihat siapa orang ada di ICU dan dia begitu karena siapa hem? " dokter Ryan berusaha mengontrol emosinya karen bila menghadapi Aslan tidak bisa dengan emosi bisa tidak dianggap olehnya bila emosi yang berbicara.


Aslan menunduk saat dokter Ryan berkata seperti itu.


"Bertobatlah bila kau memang benar-benar mencintainya" ucap dokter Ryan pelan.


Aslan langsung mengangkat kepala nya yang tertunduk.


"Abang apaan sih?! " Aslan masih mencoba mengelak.


"Kenapa? kau masih mengelak juga setelah semua reaksi mu itu hem? " tatap dokter Ryan tajam.


"Aslan jangan berbohong pada dirimu sendiri tidak baik untuk kesehatan mu" singgung dokter Ryan.


"Abang... aku juga sebenarnya nggak ngerti dengan perasaan aku ini, tapi sejak aku mengenal dirinya memang ada sesuatu yang berbeda di hati ini ada satu kepedulian pada Nina, di tambah lagi saat ini didalam tubuh ini ada sebagian darahnya entah aku jadi semakin tidak bisa jauh dari nya "Aslan akhirnya mengatakan semua isi hatinya.


dokter Ryan bangkit dari kirsinya dan mendekat pada Aslan di tepuknya pundak adiknya, hingga Aslan menoleh menatap ke arah dokter Ryan.


" Apa dia tahu kau mencintai nya? "tanya dokter Ryan.


" Sepertinya tidak"jawab Aslan pelan.


"Apa kau selalu marah-marah padanya hingga dia tidak menyadari kalau kau mencintai nya?" tanya dokter Ryan.


Aslan hanya tergelak dan mengangguk.


"Astaga Aslan di usia kain yang sekarang ini kenapa masih saja kaki dengan wanita sih... dulu kau pun begitu saat mendekati Laura dan sekarang kau... "

__ADS_1


ucapan dokter Ryan terputus saat Aslan menatapnya tajam, dokter Ryan tahu apa yang membuat reaksi adiknya ini berubah yaitu karena dokter Ryan menyebutkan satu nama di masa lalunya.


"Ups... maaf abang nggak maksud ngebuka luka lama" jelas dokter Ryan.


"Sudah lah bang abang sudah selesai bicara? aku mau kembali ke depan ICU" Aslan berdiri dari kursinya karena dia kesal dengan kakaknya.


"Lan... " panggil dokter Ryan hingga menghentikan langkah Aslan ketika ingin membuka pintu.


"Aku dengar dari Vena Lau... " ucapan Dokter Ryan terputus karena Aslan langsung keluar dari ruangan tersebut bahkan dia membanting pintunya hingga membuat dokter Ryan terperanjat dan mengelus dadanya karena terkejut.


"Ya ampun ternyata dia masih tidak bisa melupakan masa lalu begitu saja, kufikir dengan kehadiran gadis itu dia bisa melupakan Laura" gumam dokter Ryan.


Aslan berjalan dengan kesal karena mengingat apa yang di bicarakan oleh abangnya, masa lalunya yang sangat membuat nya sangat marah bila dia mengingat hal itu.


Laura seorang gadis lebih tepatnya cinta pertama Aslan gadis tomboy yang ceria tapi bisa membuat luka di hati Aslan begitu parah dan dalam saat gadis itu lebih memilih keluar negeri untuk menempuh pendidikannya dari pada bersama Aslan.


Aslan yang merasa terhiayanati oleh keputusan Laura tak bisa memaafkannya begitu saja apa lagi saat tahu Laura pergi dengan sahabatnya kecilnya yang bernama Giovano keluar negeri dan kuliah di kampus yang sama di tambah lagi mereka juga tinggal di apartemen yang bersebelahan, memang Aslan sangat egois karena tidak percaya dengan Laura hingga Laura yang juga sepupu dari Vena tunangan dokter Ryan pun akhirnya memilih putus dari Aslan dan berpacaran dengan Denis sahabat kecilnya.


Aslan kecewa dan tak pernah mau mendengar nama itu di sebut-sebut lagi oleh siapa pun juga.


Saat Aslan berjalan dan mengingat masa lalu yang menyakitkan hatinya tiba-tiba tubuhnya ditabrak dari belakang hingga hampir saja dia terjatuh.


"Eh... maaf Lan... aku buru-buru" ucap dokter Ryan yang langsung berlari ke arah ruang ICU.


Aslan yang melihat itu langsung mengejar langkah kakaknya.


"Abang kenapa buru-buru? " tanya Aslan yang mengejar langkah kakaknya.


"Jantung gadis itu berhenti berdetak" ucao dokter Ryan sambil berlari.


"Apa?! " Aslan terkejut.


"Maaf Lan Abang harus bergegas kalau tidak dia bisa lewat" dokter Ryan langsung berlari meninggalkan Aslan yang terbengong di lorong menuju ICU.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2