
Hingga akhirnya malam ini Aslan sudah berada di kediaman papahnya, karena biar bagaimana pun papahnya sudah membesarkannya dengan susah payah meskipun sendirian, meski pun jarang perhatian, tapi Aslan tahu kalau papahnya tak se acuh itu papahnya selalu mengawasinya dengan menyuruh dan membayar orang untuk mengawasi Aslan dari jauh.
Dan malam ini setelah sore tadi tiba di kota ini, Aslan dan Nina menginap di kediaman tuan Herald.
Tuan Herald sani senang melihat keberadaan menantunya apa lagi mendengar saat ini Nina sedang mengandung anak Aslan, harapan nya untuk cucu akan segera terwujud.
Dan malam ini Nina sedang berada di taman samping rumah, dia sedang menikmati angin malam yang sangat sejuk, Tiba-tiba ada seseorang yang baru saja datang ke rumah tuan Herald, Nina tak memperdulikan siapa yang datang karena yang dia tahu begitu banyak orang di rumah ini yang keluar dan masuk, hanya untuk bertemu dengan papah mertuanya itu.
Tapi dirinya terkejut saat mendengar seseorang menegurnya.
"Nina... " sapanya.
Nina menoleh kearah suara yang memanggik namanya, Nina lalu tersenyum saat tahu siapa yang menyapanya itu.
"Kak Zaed... apa kabar? " tanya Nina lembut.
"Baik... kau sendiri bagaimana sehat? aku dengar kau sedang mengandung? " tanya Zaed dengan sopan.
"Iya... baru 4bulan kak" ucap Nina membelai perut nya yang sudah terlihat membuncit.
"Wah... selamat ya... semoga kalian sehat dan persalinan nya lancar" doa Zaed pada Nina dan jabang bayinya.
"Iya Aamiin" Nina mengaminkan.
"Kakak ada apa kemari malam-malam? " tanya Nina.
"Biasa lah urusan pekerjaan, tuan besar kan sedang sakit jadi aku harus menghendle semuanya dan memberikan laporan juga pada ayah ku yang asisten tuan Herald" jelas Zaed.
"Ooo begitu"
Tanpa mereka sadari Aslan menatap kesal kepada mereka berdua yang mengobrol dengan akrabnya, lembut dadanya panas. Aslan berjalan cepat mendekati mereka berdua dan tanpa basa-basi lagi Aslan langsung memukul wajah Zaed hingga Zaed hampir terjatuh.
"Aaaa kak... kenapa kakak memukul kak Zaed? " Nina menjerit.
"Sudah aku bilang jangan bicara dengan orang asing" ucap Aslan geram.
__ADS_1
"Tapi kak.... dia bukan orang asing" Nina berusaha mengingat kan Aslan.
"Tapi bagi ku dia orang asing Nina" Aslan menarik tangan istrinya dan membawanya menjauh dari Zaed.
Zaed hanya tersenyum saat melihat reaksi Aslan, yang hanya dengannya saja dia cemburu seperti itu.
Zaed bukan sedih tapi dia sebenarnya senang karena dia sangat tahu sifat Aslan seperti apa, dia selalu menunjukan rasa yang berbalik dengan isi hatinya, bila dia berkata dia benci di mulutnya bukan berarti itu benci sebenarnya, terkadang Aslan terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya yang sebenarnya, dia tahu sebenarnya Aslan juga merindukan persahabatan mereka dan memukul dirinya itu sebagai wujud melepaskan rasa rindunya pada persahabatan ini.
"Kau masih tak berubah tuan muda, masih Aslan yang selalu aku kenal, mungkin kau bisa membohongi orang lain tapi tidak untuk diri ku yang sangat mengenal diri mu" Zaed mendengus saat melihat kepergian Aslan yang membawa Nina ke lantai dua tepat di mana kamarnya berada.
Hingga waktu berlalu dan tak terasa pernikahan Alice dan Calvin pun telah tiba, semua keluarga dan sanak saudara dan kerabat pun hadir menghadiri pernikahan ini, pernikahan antara kedua dokter.
Pesta di adakan di sebuah hotel berbintang, bahkan Wiwid dan Ujang pun ikut diundang karena permintaan Aslan pada Alice.
Aslan ingin Alice mengundang Wiwid dan Ujang ke pesta pernikahan nya karena istrinya merengek ingin bertemu dengan sahabatnya disana, dan ingin melihat sahabatnya punya pacar, Aslan saja sampai pusing di buatnya karena permintaan istrinya yang aneh ini.
Dan Alice yang tahu kondisi Nina pun akhirnya mengundang secara pribadi Wiwid dia juga mengenal Wiwid walau tidak dekat tapi dia tahu Wiwid karena selama Nina di rawat Wiwid lah yang menunggu Nina bila Aslan tidak ada.
Dan untuk Ujang Alice tidak begitu mengenal nya tapi karena Aslan meminta dirinya mengundang Ujang ke pestanya Alice pun mengundangnya.
Nina menarik tangan Wiwid dan membawanya duduk di sisi ruangan, mereka melepaskan rindu karena sudah beberapa bulan tak bertemu sejak kejadian yang sangat mendadak itu, saat Aslan tiba-tiba membawa kabur Nina secara terang-terangan di rumah sakit.
"Gimana kabar elu aaaa gue kangen" ucap Wiwid antusias.
"Baik, semuanya baik gue punya suami yang sayang banget sama gue, gue bersyukur dan beruntung Wid" ucap Nina lembut.
"Aaaa syukur lah... oia gue dengar ibu tiri elu udah di penjara kan ya... dan denger-denger di berita dia berulah terus di penjara jadi masa hukumannya malah bertambah" ucap Wiwid.
"Biarin lah itu urusan dia, gue dah nggak perduli lagi, yang jelas sekarang ayah gue juga dan nyerein dia dan fokus sama bisnis dan kak Elang juga sekarang bantu ayah di perusahaan, karena hanya kak Elang saat ini yang bisa meneruskan bisnis ayah, gue kan udah punya suami" jelas Nina.
Wiwid tertawa karena mendengar sahabatnya ini sekarang bahagia.
"Sekarang giliran elu kapan mau nyusul gue sama kak Aslan? " ledek Nina.
"Ck Apaan sih... gue sama dia mah mungkin masih lama Nina.... kita belum siap apa pun" jelas Wiwid.
__ADS_1
"Rezeki bakalan ngikutin kok Wid jangan takut" Nina berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Tapi adeknya dia banyak Nina dan masih butuh biaya, gue nggak mau ikut ngebebanin dia juga" jelas Wiwid.
"Cie... yang udah cinta berat sampe nggak mau jadi beban begitu hihi" goda Nina.
"Apaan sih Nin" Wiwid malu.
Tak lama Ujang mendekat pada Wiwid dan memberikan Wiwid cake dan minuman, Ujang pun mengangguk sopan pada Nina karena yang dia tahu Nina bukan hanya sahabat kekasihnya tapi dia adalah istri dari tuan muda tempatnya bekerja.
Aslan pun mendekat pada istrinya setelah berbicang-bincang dengan Alice dan suaminya, dia mendekati istrinya karena dia melihat Zaed pun ingin mendekatinya, dia malas karena Alice pasti nanti akan sengaja meninggalkan mereka berdua untuk berbicara, sebelum itu terjadi Aslan langr menghindar dari mereka berdua.
Aslan berjalan dan mendekati istrinya yang sedang asik kangen-kangenan dengan sahabatnya, dan ikut berbincang disana dengan Wiwid sesekali Aslan menggoda Wiwid yang baru punya pacar itu, dan mereka bertemu juga pada saat Nina di rawat di rumah sakit entah kebetulan atau memang sudah jodoh, tapi Aslan senang mengetahui itu karena selain dirinya yang bisa bersatu dengan Nina, sahabatnya istrinya ini juga bisa mendapatkan kekasih di rumah sakit milik ayahnya.
Aslan akhirnya mengajak Nina pulang lebih awal karena melihat Nina sepertinya kelelahan dia takut istrinya kenapa-kenapa karena sedang hamil.
Aslan dan Nina pun berjalan keluar dari gedung hotel, dan menuju area parkir disana, Zaed pun berjalan ke area parkir karena ingin mengambil hadiah yang sudah dia persiapkan untuk Alice namun hadiah tersebut masih tersimpan di mobilnya.
Dan Tak sengaja mereka bertemu di sana, Asu masih acuh dengan sahabatnya itu, tapi Zaed hanya tersenyum saja melihat kelakuan sahabatnya itu.
Zaed membiarkan Aslan berjalan di depan nya bersama istrinya, tapi saat Aslan berjalan ke arah mobil nya Zaed melihat ada sebuah mobil melaju kencang ke arah Aslan dan Nina.
Zaed langsung berlari ke arah Aslan dan Nina dan mendorong kedua orang itu.
"Lan.... Awas..... " Teriak Zaed dan dia pun berlari dan mendorong Aslan dan Nina.
Tapi....
Bruk....
Tubuh Zaed tertabrak dan terpental jauh karena hantaman mobil yang begitu kencang.
Aslan yang berusaha menjaga istrinya agar tidak terjatuh dan menyingkir dari arah mobil yang ingin menabrak mereka pun, langsung melihat ke arah sahabatnya yang tubuhnya sudah terpental jauh.
"ZAY..... " teriak Aslan panik hingga suaranya menggema di area parkir tersebut.
__ADS_1
Bersambung.