
"Dasar bodoh kalian ini benar-benar tidak bisa diandalkan aku menyuruh kalian untuk menggoda mereka dan memberikan pelajaran pada mereka kenapa malah kalian jadi ikut tertarik dengan gadis itu dan akhirnya terlibat pertengkaran dengan kekasih ku sih" maki Laura pada ketiga brandal itu.
"Nih... aku beri kalian setengah saja karena pekerjaan kalian tidak beres kalian malah membuat Aslan semakin dekat dengan gadis itu saja" ucap Laura melemparkan uang pada para brandal itu.
"Tapi Nona gadis itu benar-benar masih polos, saat kami menggoda nya untuk berkenalan dengannya dia hanya diam tanpa ekspresi dan itu jadi membuat kami malah jadi semakin penasaran dan semakin suka dengan dia hingga kami memaksa dia" jelas salah satu brandal tersebut.
Laura sampai menepuk dahinya sendiri saat mendengar penjelasan salah satu brandalan tersebut dia tak menyangka kalau daya tarik gadis polos itu sangat kuat juga, hingga bisa membuat pria-pria jadi semakin penasaran dengannya, mungkin karena itulah Aslan jadi menyukai gadis itu, begitulah fikiran Laura saat ini.
"Dasar orang-orang tak berguna" umpat Laura saat melangkah meninggal ketiga brandalan yang wajahnya sudah memar-memar karena perkelahian dengan Aslan di tambah lagi dengan pukulan beberapa orang yang membantu Aslan dan Nina tadi.
Laura merenung di dalam mobilnya dia mencengkram stir mobil tersebut dengan kencang dan memikirkan bagaimana caranya untuk menarik perhatian dan hati Aslan lagi.
"Apa aku harus berubah penampilan seperti dulu lagi ya? " gumam Laura di dalam mobilnya.
Sementara itu di sisi lain.
Nina sedang mengobati luka di wajah Aslan yang lebam karena perkelahian, Alice dan Wiwid yang melihat mereka berdua yang seolah tak menganggap mereka berdua itu akhirnya menggeser kaki mereka dan membiarkan Nina dan Aslan berdua saja.
Nina dan Aslan pun tak menyadari kalau Alice dan Wiwid sudah tidak berada di dekat mereka, Aslan terus menatap wajah polos gadis yang ada di depannya ini yang sedang berkonsentrasi mengobati lebam di wajahnya.
Aslan tersenyum saat mengingat bagaimana Nina membantunya saat dirinya di keroyok oleh para brandalan itu, dia tersenyum karena masih begitu jelas bayangan Nina saat memukul salah satu brandal dengan sendal karet yang dia gunakan saat ini.
"Ehm... kenapa anda tersenyum seperti itu tuan muda? " tanya Nina polos.
"Hem... tidak, tidak apa-apa hihi" tapi Aslan malah terkikik sendirian membuat Nina semakin bingung.
"Apa ada sesuatu di wajah ku? apa ada kotoran di mata ku atau di hidungku? " Nina mencoba memeriksa wajahnya mencoba meraba bagian mata dan hidupnya dan itu sontak membuat Aslan semakin tergelak.
"Hahaha kau ini lucu" Ucap Aslan yang tanpa sadar membelai kepala Nina dengan sayang.
Nina yang mendapatkan sentuhan seperti itu terdiam tertegun tanpa sadar matanya melihat wajah Aslan yang sedang tertawa padanya tapi beberapa detik kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tak ingin terhipnotis dengan ketampanan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Tanpa mereka sadari ada tiga orang yang diam-diam mengabadikan momen tersebut di dalam sebuah jepretan kamera ponsel tak jauh dari kursi yang mereka duduki saat ini, ketiga orang tersebut bersembunyi di belakang semak tanaman taman yang ada disana.
__ADS_1
Mereka bertiga cekikikan saat melihat bagaimana interaksi antara Aslan dan Nina yang malu-malu tapi mau.
Mereka bertiga adalah Alice, Wiwid dan Zaed yang baru saja tiba menyusul Aslan dan Alice ke alun-alun kota ini.
"Sudah jangan ganggu mereka sebaiknya kita menjauh dari sini biarkan mereka berdua agar bisa lebih dekat" bisik Alice.
dan Kedua orang itu pun memberikan isyarat dengan jari mereka yang seolah mengatakan oke 👌.
kembali ke Aslan dan Nina.
"Kenapa kau malu atau kau marah karena aku tertawa? " tanya Aslan lembut.
Nina hnaya menggeleng saja.
"Lalu kenapa kau memalingkan wajah mu dari ku hem? " tanya Aslan lembut.
Nina menoleh ragu ke arah Aslan dan tersenyum canggung pada pria tampan di samping nya ini.
kenapa dia jadi selembut dan semanis spons cake begini sih padahal beberapa bulan yang lalu pahitnya bagaikan sambiloto hihi.
tanpa sadar seulas senyum terlukis di bibir gadis itu dan Aslan pun tersenyum padanya.
Dan tak lama mereka baru menyadari kalau saat ini mereka hanya berdua saja, Alice dan Wiwid yang entah kemana saat ini.
"Kemana dokter Alice dan Wiwid ya? " Nina celingukan.
Tapi Aslan hanya santai saja.
"Biarkan saja mereka pasti sedang berjalan-jalan, kita juga ikut jalan dan mencari mereka yuk" ajak Aslan yang bangkit dari kursi dan mengulurkan tangannya pada Nina.
Nina melihat tangan itu terukur begitu tulus pun menyambut tangan Aslan, Saat tangan Nina membalas uluran tangan Aslan, Aslan pun langsung menggenggam tangan itu dan menariknya lembut dan mereka pun berjalan berdua sambil berpegangan tangan mencari keberadaan teman-teman mereka yang meninggalkan mereka berduaan saja.
Tapi saat sedang asik berjalan dan menikmati berbagai pemandangan malam di alun-alun kota ini Aslan tertegun saat melihat seseorang dari masa lalunya yang berpenampilan sama persis seperti empat tahun yang lalu, penampilan yang sangat disukai oleh Aslan waktu itu.
__ADS_1
"Laura" guman Aslan dan entah kenapa genggaman tangan itu mengendur saat melihat sosok masa lalunya muncul di hadapan nya saat ini seolah dirinya kembali ke masa lalu saat pertama kalinya dirinya mengenal cinta.
Bahkan saat ini Aslan sudah tak menggenggam tangan Nina lagi dan berjalan perlahan mendekat pada Laura.
Nina melihat tangannya sendiri yang terlepas dari genggaman Aslan, entah kenapa ada rasa kecewa dan sakit di dadanya saat ini.
Nina langsung membalik tubuh yang kearah berlawanan dari mereka dan mulai berjalan perlahan meninggalkan Aslan.
Nina menghela nafas dalam saat mengingat bagaimana Aslan meninggalkan nya begitu saja demi wanita lain.
Nina berjalan pulang menuju kostan nya tanpa mencari Wiwid lagi, dia takut bila mencari Wiwid dirinya malah akan kecewa karena akan melihat Aslan berjalan dengan wanita lain, yang memang seharusnya bersama nya.
Nina berjalan menelusuri baju jalan dengan perlahan, kepalanya tertunduk melihat bebatuan yang menghiasi jalanan tersebut.
Nina mengayunkan kakinya seolah menendang batu-batu kecil yang ada di atas aspal tersebut, perasaannya tak menentu saat ini, dia tak ingin jatuh cinta pada Aslan tapi entah kenapa dadanya terasa sakit saat melihat laki-laki tersebut meninggalkan nya begitu saja dan memilih wanita lain.
Nina menengadahkan telapak tangannya saat merasa ada yang menetes di pipinya.
"Hujan" gumam Nina.
Dan tak lama hujan pun turun deras Nina medengakan kepalanya ke atas langit hingga air hujan membasahi wajahnya saat ini dan tak terasa air matanya pun menetes bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
"Kenapa rasanya sesakit ini, kenapa rasanya sesedih ini hiks... hiks... " Nina menangis tersedu.
dia merasa sendiri lagi saat ini, sama seperti dua tahun yang lalu saat ayahnya mengusirnya dari rumahnya demi wanita yang telah menghiyanati ibunya.
"Hiks.. hiks... hiks... " Nina menangis tersedu bahkan saat ini dirinya berjongkok dan menutupi wajahnya dan membiarkan seluruh tubunya terguyur hujan hingga basah kuyup.
Sepasang kaki berhenti di depan nya, Nina yang merasa ada sepanjang kaki yang berhenti di depannya pun mendengak ke arah atas memastikan siapa pemilik kaki tersebut, tapi sang pemilik kaki pun berjongkok dan membantu Nina untuk bangun saat keduanya telah berdiri sejajar tubuh Nina langsung di tarik kedalam pelukan orang tersebut dan Itu membuat tangis Nina semakin pecah Nina menangis di dada orang tersebut.
Tanpa mereka sadari Aslan melihat Nina yang di peluk seorang pria dengan begitu hangat di derasnya hujan malam ini hanya mengepalkan tangannya saja, dan dia pun membalik tubuhnya karena sudah tak tahan melihat adegan mesra itu.
Bersambung.
__ADS_1