
Aslan melepaskan pegangan tangannya dari Nina,ini untuk kesekian kalinya dirinya di tolak oleh gadis ini, dia pun berjalan meninggalkan Nina sendirian baginya, ini sudah cukup dirinya ditolak berkali-kali, dirinya sudah tak ingin lagi mengejar cinta Nina apa lagi sampai harus mengemis cinta gadis itu, hatinya sudah hancur dan tak bisa di obati lagi.
Tanpa Aslan sadari air mata Nina menetes di pipinya tanpa dia mau, entah kenapa perasaannya sangat sedih begitu sedih saat Aslan melangkah menjauh darinya, melepaskan pegangan tangannya, sakit melihat orang yang dia kagumi selama ini tersakiti olehnya.
"Kak... maaf" gumam Nina lirih menatap punggung Aslan yang semakin menjauh.
"Tapi bagi ku ini semua yang terbaik, aku yakin kau pasti bisa menemukan wanita yang baik untuk diri mu" ucapnya lirih.
Nina berjalan sendirian menyusuri jalanan kota, perasaan nya yang sedih karena telah menyakiti hati Aslan membuat nya jadi tidak tenang, hingga dia berjalan sambil melamum dan tak sadar dirinya kini berjalan di tengah jalanan, hingga suara klakson mobil membangunkannya.
Tinnnnnnnnnnn.
Surat klakson mobil membangunkan lamunan Nina yang akhirnya menyadari kalau dirinya sudah berada di tengah jalan, Nina sendiri pun kebingungan bagaimana dirinya bisa berada ditengah jalanan seperti ini, Nina pun perlahan menyingkir ke sisi jalan yang aman.
Tapi saat diri nya menepi ada mobil mewah berwarna merah yang berhenti di depan nya dan keluar lah seorang wanita cantik dari dalam mobil tersebut dan mendekat pada Nina.
Nina menatap malas pada wanita itu.
"Kenapa lu ada di tengah-tengah jalan mau mati?! " tanya wanita itu ketus yang tak lain adalah Laura.
"Bukan urusan anda" ucap Nina tak kalah ketus dan dia berjalan lagi tak menghiraukan kehadiran Laura.
"Apa kau masih patah hati dengan Aslan? " tanya Laura dengan nada mengejek.
Langkah Nina terhenti dia lalu menoleh ke arah Laura.
__ADS_1
"Bukan aku yang patah hati tapi kak Aslan lah yang patah hati karena selalu aku tolak" ucap Nina dengan penuh percaya dirinya.
"Heuh kau menolak Aslan? dasar bodoh, tapi bagus lah berarti tak ada saingan untuk ku mendekati Aslan kembali, jalan ku akan lebih mudah" cibir nya.
"Silahkan lakukan apa saja yang anda mau" Nina berjalan kembali tanpa permisi pada Laura.
Laura kesal dengan ketidak sopanan Nina yang bersikap seperti itu.
"Dasar wanita tidak tahu adab" sentaknya.
Tapi tidak di hiraukan oleh Nina dan dia terus berjalan menyusuri jalanan, saat ini dirinya mentalnya sudah tak ada yang bisa menghentikan kemauannya lagi untuk mencapai cita-cita nya, hingga dia tidak menghiraukan cinta seorang Aslan dan lebih memilih cita-cita nya, bukan karena Nina egois atau sok jual mahal tapi tujuan hidupnya saat ini adalah yang utama baginya, dia ingin membuktikan pada ayahnya kalau dirinya bisa berhasil dan dia akan membuktikan pada ayahnya kalau selama ini ayahnya salah memiliki pengganti ibunya.
Sementara Aslan yang kebut-kebutan mengendarai motor di jalanan kare kesal dan kecewa atas penolakan Nina yang kesekian kalinya.
"Astaghfirullah jadi itu sebabnya Nina selalu nolak Aslan? " ucap Zaed.
Wiwid hanya mengangguk pelan saja.
"Tapi bener juga sih Aslan nggak akan ngebiarin Nina keluar negeri kalau sampe mereka pacaran, Aslan itu nggak akan kuat nahan rindu berkepanjangan hahaha" Zaed ganya tertawa dan Wiwid pun hanya tersenyum saja saat melihat Zaed malah mentertawakan sahabatnya.
"Nina itu mau berkonsentrasi dalam pendidikan nya Zay, jadi dia rela melepaskan cintanya dan memilih cita-cita nya" jelas Wiwid.
"Tapi huft... ya bener juga sih lebih baik begini mereka nggak punya hubungan apa-apa dari pada nantinya lebih menyakitkan dari ini, tapi gara-gara ini Aslan pasti berubah lagi jadi gunung salju siap-siap ajah di kantor gue nggak ada canda dan tawa seperti dulu lagi"gerutu Zaed.
"Hem... emangnya sebelum ini Aslan pernah patah hati juga? " tanya Wiwid.
__ADS_1
"Pernah tapi waktu itu lebih parah karena waktu itu dia diselingkuhin sama Laura" jelas Zaed.
"Apa waktu itu dia berubah jadi es batu juga? " tanya Wiwid polos.
"Iya begitulah dia tapi itu nggak berlangsung lama cuma setahun dia balik lagi moodnya, tapi kalau untuk yang sekarang ini kayanya lebih lama"
"Kenapa lebih lama? " tanya Wiwid polos.
"Karena dia belum berhasil memiliki Nina, cuma Nina yang berani nolak dia berkali-kali" jelas Zaed.
"Aaaa iya elu bener juga Zay, eh elu inget nggak sih kita pernah nyumpahin dia semoga dian jatuh cinta sama Nina dan sepertinya waktu itu omongan kita di catat malaikat yang sedang ada disana dan perkataan kita akhirnya jadi kenyataan hihi" Wiwid cekikikan.
"Bukan begitu teori nya Wid, sebenarnya Aslan itu udah suka sama Nina sejak lama, cuma dia ajah gengsi, dia itu nutupin perasaannya sama Nina dengan cara kaya benci banget sama Nina padahal mah sebaliknya bukan benci tapi cinta banget hahaha"
Wiwid pun ikut tertawa mereka tertawa dalam obrolan mereka berdua saja, tanpa mereka sadari yang menjadi objek pembicaraan mereka itu saat ini sedang mencari masalah di jalanan lagi.
Aslan yang kebut-kebutan akhirnya di tantang oleh geng motor yang sedang berkumpul dia di tantang untuk balapan motor tanpa basa-basi lagi Aslan pun menerima tantangan tersebut tanpa memikirkan resiko nya.
Hingga balapan liar pun di adakan oleh geng motor tersebut, saat mereka memulai tiba-tiba ada sekawanan polisi yang langsung mengepung mereka, sebagian kocar-kacir karena tak mau di tangkap begitu pun Aslan tapi dirinya kali ini benar-benar sial hingga polisi berhasil menghentikannya dan membawanya ke kantor polisi untuk di mintai pertanggung jawaban.
Di kantor polisi Zaed yang mendapat kan telpon dari pihak berwajib langsung meluncur kesana dan mengurus masalah Aslan dan mencoba mengeluarkan Aslan dengan jaminan.
Aslan dengan wajah tanpa ekspresi mengikuti Zaed yang sudah berhasil membebaskan nya, untuk saat ini Zaed tak berani bicara apa pun juga pada Aslan karena akan percuma tak akan ada omongannya yang di dengar kan olehnya yang ada nanti bisa babak belur diri nya saat itu juga, hingga Zaed hanya diam dan menemani Aslan untuk pulang ke rumahnya.
Bersambung.
__ADS_1