My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
dokter Ryan


__ADS_3

diruang lain Nina di periksa tensi darahnya sebelum dirinya menodonorkan darahnya untuk Aslan. dan ternyata darah Nina normal dan bisa mendonorkan darahnya untuk Aslan, setelah proses transfusi darah selesai, perawat meminta Nina untuk beristirahat dahulu karena Nina nampak lemas setelah kehilangan banyak darah dari tubuh nya.


Suster mengantar kantung darah ke ruang operasi dan operasi pun langsung di lanjutkan kembali dan berjalan lancar, dokter yang menangani Aslan atau lebih tepatnya. kakak kandungnya itu tersenyum lega saat dia berhasil. menyelamatkan nyawa adiknya, dan tak lupa dia juga akan berterima kasih pada Nina karena berkat dirinya yang suka rela mendonorkan darahnya untuk adiknya yang sangat nakal ini.


dokter keluar dari ruang operasi dan memberitahu kalau operasi berjalan lancar. NIna dan Zaed terlihat lega. saat mendengar kabar tersebut


Selesai operasi Aslan masih harus di observasi di ruang ICU, untuk memantau perkembanganya.


Zaed menyuruh Nina untuk pulang lebih dulu, tapi Nina bingung karena jam sudah hampir pagi dia jadi tidak berani untuk pulang sendirian.


Saat dokter tersebut mendengar Zaed menyuruh Nina pulang sendirian di dini hari dokter tersebut langsung memarahi Zaed.


"Zay... apa kau gila menyuruh seorang wanita pulang di waktu jam segini, dan apa kau tidak kasihan padanya dia habis mendonorkan darahnya untuk. sahabat mu yang gila itu dan berkat dia nyawa Aslan dapat tertolong dasar bodoh, mungkin karena kau terlalu. banyak bergaul dengan anak nakal itu, jiwa kemanusiaan mu jadi berkurang"omel dokter tersebut.


Nina hanya melihat dokter itu mengomeli Zaed dan Zaed hanya terdiam saja menerima omelan dari dokter tersebut.


apa dokter ini yang di sebut kak Zaed adalah saudaranya kak Aslan?


Nina ingat tadi saat di jalan Zaed berkata kalau Aslan mempunyai saudara yang bekerja di rumah sakit ini.


"Nona... sebaiknya kamu istirahat dulu di ruangan pasien, mari aku antar" ucap dokter tersebut sangat ramah dan lembut.


aih kak Ryan... nggak tahu kalau adiknya itu sangat membenci wanita yang telah menyumbangkan darahnya itu untuk adiknya yang nakal, gimana reaksi Aslan ya kalau tahu si Nina yang udah nyelametin nyawa nya?.hihi mungkin ini karma buat elu juga kali Lan karena benci tanpa alasan sama si Nina, eh tapi itu anak kok. bisa ada di daerah sana malam-malam ya.... ngapain dia.


Zaed terus berfikir keras tentang Aslan dan Nina, sesekali dirinya tertawa kecil bila ingat bagaimana perlakuan Aslan pada Nina dan membayangkan wajah Aslan saat tahu sekarang di dalam tubuhnya mengalir darah Nina.


akh... gue nggak bisa bayangin muka itu anak hihi.


Zaed cekikikan sendiri di depan ruang ICU dirinya setia menunggui Aslan sampai sahabatnya itu bisa di pindahkan ke ruang rawat. hingga raa lelah akhirnya mengalahkannya dan dia pun tertidur di bangku penunggu yang ada di depan ruang ICU.


dokter Ryan mengantarkan Nina kesebuah ruang rawat VVIP dirumah sakit tersebut.


"Istirahat lah kamu disini" ucap dokter Ryan lembut.


"Em... dok apa tidak apa-apa kalau saya beristirahat disini? nanti kalau ada pasien gimana? " tanya Nina polos.


"Tidak akan paling yang menempati kamar ini nanti Aslan" ucap dokter Ryan santai.

__ADS_1


"Oo...begitu"


"Oiya kata mu kamu temannya Aslan? teman apa ya? " tanya dokter Ryan menyelidik.


"Saya teman kerja satu pabrik nya dok" jelas Nina tulus.


"Ooo jadi kamu kerja di pabrik spare part juga? " tanya dokter Ryan.


Nina mengangguk.


"Oo... begitu baiklah istirahat lah dulu, besok pagi bila keadaan mu sudah segar baru kamu pulang ke rumah mu ya... dan Terima kasih telah menolong adik ku" ucap dokter Ryan sambil tersenyum sebelum meninggalkan Nina sendirian di ruangan pasien.


Nina yang belum menyadari benar perkataan dokter Ryan, dan baru sadar saat dokter Ryan sudah meninggalkan nya sendirian di ruangan tersebut.


"Adik ku? " gumam Nina sambil berfikir.


"Kalau di lihat memang mereka sangat mirip sih.... astaga ternyata dia kakaknya Aslan wah... kak Aslan hebat juga ya... punya kakak seorang dokter" Nina baru menyadari perkataan dokter Ryan.


Hingga kantuk pun memderanya malam ini diriny harus begadang karena menolong Aslan, dan Nina pun tertidur di sofa ruangan tersebut.


Hingga pagi menyingsing.


Udara dingin yang keluar dari pendingin ruangan membuat seorang gadis yang semalam tertidur di sofa sebuah ruang rawat menjadi mengkerut hingga dia tertidur dengan posisi seperti bayi dalam perut.


dokter Ryan yang datang keruangan tersebut hendak membangunkan Nina, dan hendak pamit karena jam kerja nya sudah selesai saat ini jadi tidak tega membangunkan gadis manis itu. hingga dia mengurungkan niatnya membangunkan Nina dan malah menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut pasien dan keluar dari ruangan tersebut.


dokter Ryan mampir keruang ICU sebelum. dirinya pulang dan melihat sahabat adiknya juga berposisi sama seperti yang dia lihat di ruang VVIP, Ryan tersenyum melihat itu.


astaga Aslan tak ku sangaka kau punya teman-teman yang setia. seperti mereka, kau beruntung adik ku yang nakal.


Ryan pun membiarkan Zaed yang tertidur di kursi penunggu dan masuk ke ruang ICU untuk memastikan kondisi adiknya.


Sebagai anak pemilik rumah sakit ini Aslan tentu mendapatkan pelayanan dan perawatan yang lebih dari pasien pada umumnya.


"Beritahu aku perkembanganya ya... dia masih belum sadar, bila dia sudah sadar telpon aku dan aku akan segera datang" ucap dokter Ryan pada kepala ruang ICU.


"Baik dok"

__ADS_1


dokter Ryan mendekat ke bangsal adiknya menatap wajah adiknya yang terlelap itu, dan menggelengkan kepalanya pelan.


dia sungguh tak menyangka kalau adiknya masih saja terlihat dengan kawanan geng motor ini kedua kalinya Aslan masuk. rumah sakit karena terkena tebasan senjata tajam, dan semalam memang kondisinya yang paling parah hingga nyawa adiknya ini hampir saja tak tertolong.


"Untung ada gadis itu Lan... kau beruntung karena punya temenan yang peduli dengan mu, oia apa jangan-jangan gadis itu juga anggota geng mu? " gumam Ryan.


setelah itu dia pun keluar dari ruangan ICU, dan pulang ke rumahnya untuk beristirahat, namun. saat di jalan dirinya terus memikirkan Nina, karena dia berfikir Nina adalah anak geng motor juga.


"Tapi nggak mungkin ah... sepertinya anak itu anak baik-baik dan terlihat lebih muda dari Aslan" gumam Ryan sambil mengendarai mobilnya.


drrtt... drttt...


Getar ponsel yang ada di meja sofa membangunkan Nina yang tertidur di ruangan tersebut, Nina dengan malasnya meraih ponsel di meja tersebut dan mengangkat panggilan yang masuk.


"Halo... " jawabnya malas.


"Nina elu kemana ajah semalam nggak balik? terus sekarang kenapa elu nggak kerja elu baik-baik ajah kan? " Wiwid memberondong semua pertayaan karena. khawatir dengan teman sekamarnya ini.


"Hem.... iya gue baik-baik ajah kok cuma..."Nina menggantung kata-katanya.


" Cuma apa? "tanya Wiwid cemas.


" Nggak apa-apa cuma semalam gue pulang kemaleman dari kampus dan nginep di rumah temen gue kuliah "bohong Nina.


" Ooo ya udah kalo elu baik-baik ajah, gue sampe nggak bisa tidur gara-gara mikirin elu"ucap Wiwid.


"Hehe Terima kasih teman ku yang baik hati karena mengkhawatirkan ku" ledek Nina.


"Ish... elu mah gue serius tahu, oia si Aslan sama si Zaed juga nggak masuk hari ini kok bisa ya... elu pada barengan gini nggak kerja?"tanya Wiwid.


" Ck... ya kebetulan ajah kali Wid"


"Hem... iya juga sih ya udah yah gue kerja dulu elu nanti balik kan? " tanya Wiwid.


"Iya... " jawab Nina santai.


Setelah itu panggilan pun berakhir, Nina yang baru terbangun. dari tidurnya baru sadar kalau di tubuhnya ada selimut.

__ADS_1


"Apa semalam gue pake selimut ya? " fikir nya.


Bersambung.


__ADS_2