
Acara penobatan dan perkenalan CEO baru pun di mulai, presedir memulai pidatonya di atas panggung, semua karyawan terdiam mendengarkan pidato sangat presedir.
"Ya saya perkenalkan CEO baru kita Adam Aslan" Tuan Herald memperkenalkan anak bungsunya itu di atas panggung.
"Mungkin kalian semua sudah mengenal putra ku ini, dan sangat mengerti karakter nya bagaimana" ucap Tuan Herald saat Aslan ada di atas panggung bersama nya.
Aslan pun memberikan sedikit sambutan dan mengucapkan Terima kasih kepada semua pihak yang sudah berprilaku baik padanya selama ini meski dirinya hanya seorang buruh pabrik kemarinnya.
Dengan senyum tulus dia menyapa semua teman-temannya saat dirinya menjadi buruh pabrik. Namun satu wajah yang dia perhatikan dari atas panggung wajah gadis polos yang mencuri hatinya, wajah itu nampak seolah tak percaya saat melihat kekasihnya adalah seorang anak presedir perusahaan tempatnya bekerja.
ku fikir jabatannya tidak setinggi ini, ku fikir dia hanya anak orang kaya biasa.
batin Nina menatap tak percaya pada pemandangan yang dilihatnya saat ini. Nina langsung memalingkan wajahnya ke arah lain saat sadar Aslan menatap ke arah nya.
Kenapa dia melihat ke arah lain? apa dia masih marah pada ku?.
Batin Aslan yang belum menyadari kalau Nina itu belum tahu latar belakang dirinya yang sebenarnya.
"Baiklah kebetulan saya juga akan memberikan kabar bahagia pada kalian semua, saya ingin mengumumkan sebuah berita penting pada kalian semua yang ada disini" ucap tuan Herald lagi.
Aslan yang masih melihat ke arah Nina tak menghiraukan perkataan papahnya.
Kenpa dia melihat kesini terus sih....
Batin Nina yang merasa kalau Aslan terus menatapnya. padahal dirinya sudah membuang wajahnya ke arah lain, tapi bukannya Aslan berpaling malah terus melihat ke arahnya.
"Aslan ada kabar baik untuk mu nak, ada seseorang yang sengaja papah undang kesini saat peresmian penobatan mu nak" ucap Tuan Herald.
"Seseorang siapa papah?" ucap Aslan bingung dia langsung memalingkan wajah nya kearah papahnya.
"Bawa kemari dia" ucap Tuan Herald pada asistennya.
Sang asisten pun menjemput seseorang yang berada di luar aula, Wanita cantik yang memakai dress berwarna kuning gading itu pun berjalan dengan anggun mengikuti langkah asisten presedir menuju Aula.
"Kemarilah nak" Presedir meminta wanita itu menaiki tangga ke atas panggung.
Laura.
batin Aslan dan Zaed.
semua karyawan pun berbisik-bisik seolah mempertanyakan siapa wanita yang baru saja tiba itu.
"Perkenalkan ini adalah Laura calon tunangan Aslan"
"Apa?! " Aslan, Zaed, Dokter Ryan dan Wiwid terkejut berbarengan. bahkan Wiwid langsung menutup mulut nya agar tidak berteriak.
__ADS_1
"Kenapa sekaget itu Aslan? " tanya Tuan Herald.
Nina yang mendengar itu langsung terpaku melihat Aslan dari bawah panggung dan benar saja dirinya tak lepas dari gunjingan seniornya yang tidak menyukai nya.
"Tuh kan gue bilang juga apa mana mau Aslan sama dia"sindir seniornya.
dan akhirnya banyak lagi yang bergunjing tentang Nina, Wiwid yang tahu situasi sudah tak beres dan tak baik untuk Nina memegang erat tangan gadis itu dan menepuk bahu sahabatnya agar Nina tetap sabar berasa disana.
Aslan langsung turun dari panggung tanpa basa-basi lagi dan langsung keluar dari aula padahal acara belum selesai, hingga Tuan Herald bingung dengan tingkah anaknya.
Zaed pamit pada presedir dan mengejar Aslan, begitu pun dokter Ryan ikut mengejar adiknya yang entah berlari kemana.
"Lan... tunggu Aslan.... " Zaed memanggil Aslan saat mengejar nya tapi tak di dengarkan oleh Aslan dia terus berlari keruangannya.
Aslan membuka pintu ruangannya dan menutup pintu tersebut dengan membanting pintu tersebut hingga hampir saja wajah Zaed terkena sambutan daun pintu tersebut.
"Astaghfirullah Aslan" Zaed langsung membuka pintu kembali dan masuk kedalam ruangan Aslan.
"Keluar lu nyet... sialan lu pasti tahu kan cewe itu mau datang sialan" maki Aslan.
"Lan... sumpah Lan gue nggak tahu kalo Laura mau di undang sama papah lu" Zaed membela diri.
"Bohong banget lu nyet... mana bisa elu nggak tahu hah" bentak Aslan.
cek lek.
Aslan langsung menatap tajam kearah kakanya itu.
"Abang juga pasti tahu kan kalau dia di undang kesini, kenapa kalian setega ini sih sama aku, kalian kan tahu kalau aku... " Aslan tak bisa meneruskan kata-katanya.
Dia ingat bagaimana wajah Nina saat tadi di aula.
"Abang juga nggak tahu apa-apa Adam... " jelas dokter Ryan.
Aslan mencengkram kencang kursi kerjanya.
"Zay bawa Nina kesini" perintah Aslan.
"Tapi Tuan Muda? "
"Nggak ada tapi, elu nggak lihat tadi mukanya sedih banget gue mau jelasin semua ke dia biar dia nggak salah faham"Aslan kesal.
"Aslan jangan sebaiknya kau bicarakan dulu semua ini dengan papah agar semua tidak salah faham" dokter Ryan mencoba menenangkan adiknya yang sedang kalut.
"Aku malas bicara sama papah, dia pastinya maksa aku bersama Laura nantinya" wajah Aslan nampak kesal.
__ADS_1
Tak lama Tuan Herald pun datang keruanhan Aslan dan saat itu juga Aslan langsung di semprot habis-habisan oleh papahnya karena meningalkan panggung begitu saja.
"Kau ini punya sopan santun tidak?! " bentak Tuan Herald.
Aslan yang kesal menatap tajam ke arah ayah nya.
"Aku nggak suka papah mengumumkan hal seperti itu disana, dan lagi pula kenapa papah mengundang dia kenapa aku harus dengannya?! " Aslan ketus.
"Bukan kah kau mencintai Laura sejak dulu? " tanya papahnya.
"Iya itu dulu sekarang ini hati ku sudah milik orang lain" jawab Aslan ketus dia sama sekali tidak mau melihat ke arah Laura yang kebetulan berada di sana.
Tuan Herald melirik kearah asistennya dan memintanya untuk membawa Laura pergi dari ruangan Aslan, dan Tuan Zanul pun membawa Laura ke ruangan Presedir.
Laura berjalan di lorong kantor dan berpapasan dengan Zaed yang sedang berjalan menuju aula, tapi langkah Zaed terhenti saat Laura memanggilnya.
"Zay... bisa kita bicara? " ucap Laura dengan anggunnya.
Zaed terdiam dan melihat perubahan Laura yang begitu banyak perubahan, Laura yang dulu dia kenal adalah gadis tomboy yang selalu pakai celana jeans, kaos longgar dan kemeja dan mengenakan sepatu kets bila kemana-mana.
Dan saat ini di depan nya ini dia melihat Laura yang bermetamorfosis menjadi seorang wanita dewasa yang sangat anggun dan cantik.
"Ada apa? " ucap Zaed santai.
Laura tersenyum sinis.
"Paman maaf saya boleh berbicara dengan anak paman terlebih dahulu? " ucap Laura sopan dia memang wanita berkelas hingga tutur katanya sangatlah teratur.
"Ya silahkan, Zay nanti kamu antar dia keruangan presedir ya, ayah masih banyak urusan yang harus ayah selesaikan" ucap Tuan Zainul pada anaknya.
"Baik ayah" Zaed mengangguk hormat.
setelah Tuan Zainul meninggalkan mereka berdua saja di lorong kantor, Laura langsung mengajukan pertanyaan pada Zaed tanpa basa-basi lagi Laura langsung to the point menanyakan siapa wanita yang saat ini mengisi hati Aslan.
Namun Zaed tak menjawab dan memberitahu pada Laura siapa wanita yang di cintai oleh Aslan saat ini, itu semua karena Zaed sanagt mengenal Laura, karena Laura pasti akan merebut Aslan dengan cara apa pun juga,Laura paling tidak suka penolakan dan Laura paling tidak suka sesuatu yang dia sukai disukai oleh orang lain atau tidak menyukainya, apa lagi sampai memiliki.
"Ayolah Zay... kau tahu kan Aku dan Aslan bagaimana? aku hanya tak ingin ada butiran debu yang menghalangi pandangan Aslan hingga dirinya berpaling dari ku" ucap Laura santai.
"Maaf La... tapi beneran gue nggak tahu siapa cewe yang Aslan suka sekarang ini" Zaed berbohong.
Laura tahu orang yang di hadapannya ini berbohong dan memang sangat sulit mengorek informasi dari Zaed tentang Aslan karena Zaed pasti akan merahasiakan semuanya dari siapa pun bila Aslan merahasiakan apa pun juga.
"Oke kalau kau tidak mau bicara aku akan tetap cari cara lain, siapa wanita itu, seperti apa wanita itu, dan kenapa Aslan bisa menyukainya" ucap Laura dengan santai tapi terdengar angkuh.
Zaed hanya tersenyum miring saja melihat sahabat lamanya ini sama sekali tidak berubah sifatnya, penampilan luaranya saja berubah tapi hati Laura tak berubah.
__ADS_1
Aslan memang tidak tahu kepribadian Laura yang sebenarnya, yang egois dan licik, yang Aslan tahu Laura itu tomboy, ceria, baik dan pintar karena Laura tak pernah menunjukkan sifat aslinya bila di depan Aslan karena dia tahu Aslan menyukainya. jadi dia hanya menunjukan sifat manisnya saja di depan Aslan.
Bersambung.