My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Aslan Gelisah


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil mewah terlihat senyuman merekah dari sebuah bibir yang tak pernah pudar sejak keluar dari sebuah ruang rawat VVIP, Zaed yang berada di sebelahnya hanya menggeleng pelan saja memperhatikan sahabatnya yang telah jatuh cinta lagi, tapi sepertinya jatuh cinta kali berbeda, karena Aslan lebih sering terlihat seperti orang gila saja.


"Lan... elu baik-baik ajah kan? " tanya Zaed.


"Sialan lu ya gue baik-baik ajah kenapa emangnya?! " Aslan sewot.


"Nggak-nggak apa-apa sih hehe" Zaed hanya tertawa kecil saja.


"Elu pasti mikirnya gue gila ya? " tebak Aslan yang langsung menunjuk wajah Zaed.


"Nggak kata siapa sih? siapa yang bilang begitu? " ucap Zaed yang seolah mencari siapa pelaku yang bilang kalau bosnya ini gila.


Plak.


Aslan memukul bahu Zaed karena gemas.


"Bisa nggak elu nggak bertingkah nyebelin gue lagi senang nih, jangan bikin gue bad mood gara-gara elu ya? " Aslan kesal.


"Iya... iya maaf tapi hihi sumpah muka elu lucu banget Lan... kaya anak ABG baru jatuh cinta hihi"


"Biarin ajah berarti gue awet muda dong kan kalo elu bilang gue kaya ABG" dengan percaya dirinya Aslan mengatakan itu.


Membuat Zaed jadi berdecak malas.


Hingga akhirnya Zaed membiarkan sahabatnya ini asik dengan lamunannya sendiri, malamuni pujaan hatinya yang dulu sangat dia benci.


Di sisi lain.


Wiwid mengajak Nina berbicara mengenai perasaannya pada Aslan.


"Nin... elu udah yakin mau nerima Aslan? " tanya Wiwid.


"Hem.... iya Wid sebab gue betul-betul merasa kalo kak Aslan bener tulus sama gue, padahal gue udah sering nolak dia cuma karena obsesi gue doang" jelas Nina lembut.


"Iya sih... tapi sebenarnya elu emang perlu sih begitu ke Aslan, sebab kalo inget kelakuannya dulu sama elu hadeuh... nyebelin banget kan hihi"


Nina pun tertawa kecil saat mengingat perlakuan Aslan dulu padanya, dan saat ini perlakuannya sangat berbanding berbalik.

__ADS_1


"Mungkin itulah namanya yang di sebut karma ya Nin hihi" Wiwid terkikik lagi.


"Bisa jadi hihi" Nina pun tertawa kecil.


Mereka berdua pun mengobrol sampai malam menjelang Nina pun mengantuk dan akhirnya tertidur di brankarnya sementara Wiwid tertidur di sofa.


Saat tengah malam tiba mereka yang terlelap karena kelelahan pun tak sadar kalau ada yang memasuki ruangan tersebut, tengah malam hampir semua orang lengah dan tak terjaga hingga begitu mudahnya bagi orang tersebut memasuki ruangan pasien mana pun juga.


Langkah yang tanpa suara itu pun akhirnya berhenti di sisi brankarnya Nina.


"Dasar kurang ajar aku tak sangka saat ku buat dirinya cacat pun Aslan malah semakin mencintai dia bukan malah meninggalkan nya" ucap Laura dengan suara sangat pelan.


Laura yang berdandan bak maling itu pun, mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang dia gunakan sebuah suntikan yang sudah berisi racun di dalamnya dan di suntikan nya racun tersebut ke kantung infusan Nina.


"Maaf Nina tapi aku tak ingin ada penghalang antara aku dan Aslan" ucap Laura dengan suara kecil. dan hanya dirinya saja lah yang dapat mendengar itu.


Setelah aksinya berhasil Laura pun keluar dari ruangan tersebut, dengan senyum kemenangan.


Sementara itu di sebelah kamar Aslan tak mampu tertidur pulas malam ini, dia gelisah dan terus memikirkan Nina yang sedang di rawat.


"Ck... kenapa gue terus mikirin dia terus ya... huft" Aslan mengacak-acak rambutnya karena kesal.


Dulu dia sangat gengsi untuk menanyakan nomor gadis itu hingga sampai saat ini diirnya jadi sulit untuk menghubungi langsung pujaan hatinya itu.


Zaed yang terbangun karena suara ponselnya, dengan mata yang berat dirinya melihat layar ponselnya yang menunjukan nama Aslan sebenarnya malas sekali dia mengangkat telpon tersebut tapi, apa mau di kata dia juga takut ini sesuatu yang penting untuk nya dan dia juga akhirnya menggeser tombol hijau tersebut dan mengangkat telpon tersebut.


"Ya... Lan ada apa? " tanya Zaed dengan suara ciri khas orang mengantuk.


"Elu udah tidur? " sentak Aslan.


"Ya udah lah Aslan ini tuh jam berapa masih nanya udah tidur? " jawab Zaed kesal.


"Ck.... dasar eh elu coba hubungi si Wiiwd deh kok perasaan gue nggak enak ya? "ucap Aslan.


" Bukan nggak enak itu namanya elu kangen sama Nina"Zaed asal bicara.


"Beda nyet... ini beneran nggak enak gitu, gue takut Nina kenapa-napa" Aslan serius.

__ADS_1


"Nina baik-baik ajah Aslan... udah sih elu jangan overthinking gitu hoam" Zaed menguap.


"Zay... elu temen gue kan sejak kecil masa iya elu nggak pernah faham sih sama apa yang gue rasain" ucap Aslan serius.


Iya juga sih nggak biasanya dia kaya begini.


"Ya dah sabar ya gue telpon Wiwid dulu ya" Zaed pun menyambung kan sambungan dua arah dia langsung menelpon Wiwid agar Aslan bisa langsung tahu tanpa menunggu.


Bunyi suara ponsel di meja membangunkan Wiwid yang sedang terlelap disofa malam ini, gadis itu meraih ponselnya dengan mata yang masih berat dan tanpa melihat siapa yang menelpon dia pun langsung menggeser tombol hijau itu.


"Haloo siapa nih? " tanya Wiwid dengan suara malas.


"Wid si Aslan nanyain keadaan Nina, dia baik-baik ajah kan? " tanya Zaed.


Wiwid melihat layar ponselnya setelah mendengar suara sang penelpon dan dia baru sadar kalau yang menelpon adalah Zaed.


"Iya dia baik-baik ajah dia lagi tid.... " mata Wiwid langsung terbelalak saat melihat Nina di brankarnya kejang-kejang.


"Astaghfirullah Nina" jerit Wiwid.


Wiwid langsung berdiri dari sofa dan berlari ke sisi brankarnya Nina dan menekan tombol. darurat.


Sementara itu Aslan yang mendengar jeritan Wiwid langsung panik.


"Apa yang terjadi sama Nina Wid...wid...Wiwid" teriak Aslan tapi tak ada jawaban karena Wiwid menaruh ponselnya di meja sofa.


Tanpa banyak fikir lagi Aslan langsung loncat dari ranjangnya dan berlari keluar kamarnya dia masih mengenakan piama tidurnya dan langsung meraih kunci mobil tanpa banyak bicara dia langsung berlari ke garasi dan masuk kedalam mobil dan menyalahkan mesin dan langsung mengendarai mobil tersebut, kebisingan di rumah pada tengah malam membuat tuan Herald terbangun dari tidurnya, karena Aslan menekan klakson mobil dengan brutal saat meminta satpam rumahnya segera membuka pintu gerbang utama.


Pintu gerbang utama telah terbuka dan Aslan langsung tancap gas dengan kecepatan penuh.


"Mau kemana anak itu tengah malam begini dengan mengendarai mobil seperti seorang pembalap saja" guman tuan Herald yang melihat putra bungsu nya itu dari balkon kamarnya.


Tuan Herald pun meraih ponselnya dan meminta salah satu orang suruhannya untuk mengikuti Aslan malam ini pergi kemana.


Di dalam mobil Aslan yang sangat cemas memikirkan Nina tak bisa berkonsentrasi menyetir dia sangat cemas dengan keadaan gadis itu.


"Nina.... apa yang terjadi pada mu sayang... seharusnya aku memang tidak meninggalkan mu disana meski dengan Wiwid, mungkin bila aku yang menjaga mu akan lebih mudah bagi ku untuk mengawasi mu" Aslan terus berbicara sendirian di depan kemudinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2