My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Cinta Memang Aneh


__ADS_3

Aslan, Zaed dan Wiwid langsung meluncur ke rumah sakit tempat Nina mendapatkan perawatan, Aslan gelisah sepanjang perjalanan bahkan dia menggetar-getarkan kakinya karena cemas.


"Tuan muda tenanglah" Zaed berusaha menenangkan Aslan.


"Gimana bisa tenang, Nina kecelakaan Zay... kecelakaan?! " sentak Aslan.


"Iya... saya tahu tapi bisakah anda tenang dan doakan yang terbaik untuk Nina" ucap Zaed berusaha sesabar mungkin.


Saat Zaed berusaha menenangkan Aslan ponsel Wiwid berdering dilihatnya nomor Nina yang menghubungi.


"Apa Nina histeris?! " Wiwid mejerit ketika menerima telpon tersebut.


"Pak tolong jaga teman saya dulu ya... saya dan bos saya sedang menuju kesaa, maaf merepotkan" ucap Wiwid penuh sopan santun.


"Kenapa Nina histeris? " tanya Aslan semakin cemas.


"Dia tidak Terima dirinya tidak bisa berjalan lagi tuan muda" jawab Wiwid ragu.


"Separah itulah lukanya? " tanya Aslan lirih.


"Begitulah yang di sampaikan oleh orang yang menolong Nina tuan Muda" jelas Wiwid.


Aslan memjambak rambutnya sendiri karena kesal dia kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa melindungi orang yang dia sayang.


"Nina pasti kecewa karena tidak bisa berangkat keluar negeri, karena mengalami kecelakaan ini tuan muda dan itu lah yang pasti membuat nya histeris" jelas Wiwid.


"Apa?! " Aslan terkejut. mendengar penjelasan Wiwid.


"Iya tuan muda dan sebenarnya itu juga alasan dia tidak mau berpacaran karena dia tidak ingin anda melarang nya untuk meraih cita-cita nya" jelas Wiwid lagi.


"Jadi itu alasan dia selama ini menolak ku?"tanya Aslan lirih.


Wiwid hanya mengangguk saja.


" Sebenarnya dia sangat mengagumi anda sejak awal anda menolongnya waktu itu, hanya dia sembunyikan di dalam hati saja, dan saat dia tahu anda adalah CEO dan anda adalah anak presedir itu membuat nya semakin tidak percaya diri untuk menjadi kekasih anda"jelas Wiwid lagi.

__ADS_1


Aslan jadi mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi setelah mendengar semua kebenaran dari Wiwid tentang perasaan Nina yang sebenarnya.


"Kenapa Nina kenapa kau begitu pada ku? aku menerima mu apa adanya Nina apa kau tak melihat ketulusan dimata ku ini? " Aslan berbicara sendiri Zaed dan Wiwid hanya menghela nafasnya saja melihat kelakuan bos mereka.


Mobil yang di kendarai Supir pun terlah tiba di rumah sakit tempat merawat Nina dan saat tiba di IGD Aslan langsung berlari dan mencari Nina sedangkan Wiwid menemui seseorang yang tadi menelponnya, dan dia pun menunjukan dimana Nina berasa, saat mereka sampai di brankar Nina, terlihat Nina sudah telelap.


"Tadi dokter kasih obat penenang karena dia histeris" jelas ibu dan bapak yang menolong Nina.


"Terima kasih karena sudah menolong teman saya" ucap Wiwid.


Aslan melihat prihatin pada Nina yang terlelap. dia membelai rambut Nina dengan lembut.


"Zay cepat urus kepindahan perawatan Nina ke rumah sakit papah, dan berilah mereka imbalan karena sudah menolong Nina" ucap Aslan dengan pandangan masih menatap Nina.


"Pasti ini pacarnya si eneng ya... " celetuk ibu tersebut.


Aslan hanya terdiam saja.


"Si eneng beruntung karena punya pacar sayang banget dan ganteng lagi" puji ibu tersebut.


Setelah mereka menerima uang tersebut mereka pun pamit pulang dan meninggalkan Nina bersama Aslan, Wiwid dan Zaed.


Zaed pun mengurus semua administrasi Nina dan mindahkan Nina ke rumah sakit milik. keluarga Aslan.


Nina yang masih belum. sadarkan diri langsung di bawa dengan Ambulance Aslan ikut bersama nya didalam ambulans, Zaed pun memberitahu pihak rumah sakit keluarga Aslan kalau Nina ingin di pindahkan di rumah sakit tersebut dan meminta di persiapkan ruang VVIP untuk perawatan Nina disana.


Di dalam Ambulans Aslan terus memegang tangan Nina mengelus-elus dengan lembut punggung tangan Nina yang terpasang jarum infus.


"Kenapa kau itu selalu menyimpan semua maslah mu sendiri hem? kenapa Nina kenapa? apa kau benar-benar tak percaya pada ku?" ucapnya lirih.


Aslan tahu Nina sangat ingin sukses dalam berkarir karena ingin membuktikan pada ayahnya yang jahat itu yang telah membuang nya demi istri barunya.


"Aku akan membantu mu meraih cita-cita mu sayang... bila keinginan mu ingin tetap kuliah di sana maka akan aku wujudkan impian mu" ucap Aslan lembut.


Ambulans pun tiba di rumah sakit milik keluarga Aslan tapi Nina masih belum juga sadar, Brankar Nina pun langsung di turun kan di depan IGD dan langsung di bawa ke ruang VVIP, Zaed memberi catatan kesehatan dari dokter dari rumah sakit sebelumnya.

__ADS_1


Saat Alice membaca hasil catatan tersebut Alice langsung meminta perawat yang mendorong brankar Nina membawa Nina keruanh endoskopi untuk melakukan rontgen pada kaki Nina karena yang Alice baca dari hasil catatan tersebut Nina mengalami keretakan pada tulang lutut nya.


Alice pun langsung meminta petugas endoskopi untuk melakukan rontgen pada kaki Nina setelah selesai, Nina yang masih belum sadar juga akhirnya di bawa keruang rawat oleh dua orang perawat.


"Kenapa dia bisa kecelakaan seperti ini? " tanya Alice pada Zaed.


"Dia di jambret waktu pulang dari kampusnya, dia terseret motor yang menjambret nya" jelas Zaed.


Alice langsung menutup mulutnya saat mendengar cerita Zaed.


"Kenapa dia tidak, melepaskan saja tas yang di jambret itu dan malah nekat seperti itu? " tanya Alice.


"Karena di dalam tas itu ada dokumen yang penting untuk nya"


"Dokumen apa yang sepenting itu? " Alice penasaran.


"Dia baru di nyatakan lulus dan mendapatkan bea siswa keluar negeri dan semua dokumen itu dia simpan di tasnya" jelas Zaed.


Alice akhirnya mengangguk saja.


"Apa penjambret itu sudah tertangkap? " tanya Alice.


"Sudah dia dikeroyok oleh masa saat berhasil tertangkap oleh orang-orang yang membantu Nina" jelas Zaed.


"Bagus kalau begitu, hem... orang sekarang nekat-nekat dan kejam-kejam ya... tidak memandang pria atau wanita yang menjadi korbannya" ucap Alice.


"Kita ke ruangan Nina yuk" ajak Alice dan Zaed pun mengikuti langkah Alice yang menuju ruang VVIP itu.


saat sampai disana mereka melihat pemandangan yang sangat memilukan karena Aslan duduk di samping Brankar Nina sambil memegang tangan Nina sesekali tangan itu dia cumbui dan di elusnya lembut.


Alice dan Zaed hanya tersenyum meski itu padahal kemarinnya Aslan sama sekali tak mau mendengar nama Nina di sebut-sebut karena dirinya masih kesal dengan gadis itu karena berkali-kali dirinya di tolak.


Dan saat ini setelah tahu semua alasan Nina tidak mau menerima Aslan sebagai kekasih Aslan pun langsung berubah fikiran dan berubah sikap lagi.


"Cinta memang aneh" guman Alice.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2