
Malam hari tepatnya pukul 8 malam, Alice telah bersiap dia memutar-mutar tubuhnya di depan meja rias nya, malam ini dia mengenakan dress merah marun selutut dan berkerah sabrina hingga menunjukan bagian bahu putih mulus miliknya, Alice pun meng curly gantung rambutnya berhias dengan make up tipis, wajah imutnya membuat nya semakin terlihat cantik dan terang malam ini karena perpaduan warna dress yang dia kenakan.
Tak lama bel pintu unit apartemen nya berbunyi dia pun langsung mengambil tas kecilnya dan menggunakan high heels nya yang berwarna senada dengan dress yang dia gunakan.
Alice berjalan dengan anggunnya ke arah pintu dan membuka pintu, saat membuka pintu dia tersenyum pada seseorang yang memang sudah berjanji dengannya untuk pergi malam ini.
Calvin tersenyum saat melihat seorang wanita bakal boneka Barbie ini muncul dari balik pintu.
Cantiknya.
Batin dokter Calvin dia terpesona oleh kecantikan seorang Alice malam ini bahkan dia merasa malam ini Alice lebih cantik dari biasanya.
"Sudah siap? " tanya dokter Calvin.
"Hem... " Alice tersenyum ceria.
Calvin pun langsung mengajak Alice keluar dari apartemennya menuju lift dan menuju basement tempat mobilnya di parkir.
Saat telah di basement mereka pun menaiki mobil dan dokter Calvin pun menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju suatu tempat yang belum dia beritahukan pada Alice.
"Kita mau kemana kak? " tanya Alice lembut saat mobil sudah melaju.
"Hem... kau ikut saja ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada mu" jelas dokter Calvin singkat, tapi cukup membuat Alice bertanya-tanya.
Mobil yang di kendarai dokter Calvin pun melewati jalanan yang asing bagi Alice.
Sepertinya ini jalanan menuju pegunungan, dia tidak berniat buruk kan pada ku, ya Allah lindungilah aku, aku percaya kak Calvin orang baik dia pria yang baik.
Batin Alice berdoa tapi dia sangat tahu pria yang berada di sampingnya ini adalah pria yang baik.
Dan benar saja mobil yang di kendarai dokter Calvin memasuki pegunungan dan mobil itu pun menelusuri daerah lereng gunung, kecemasan mulai melanda hati Alice.
"Kak... kita mau kemana ya? " tanyanya sedikit takut.
"Kau jangan takut aku tidak berniat jahat kok, jadi tenang dan percayalah pada ku oke" ucap dokter Calvin dengan lembut dia berbicara tanpa melihat ke arah Alice dia tetap fokus mengemudi karena jalan yang berkabut membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak masuk kedalam jurang.
__ADS_1
Alice hanya mengangguk pelan saja, dia berusaha untuk tidak takut dan tetap percaya pada kakak seniornya itu, dia tak mau berburuk sangka pada Calvin, dia terus men sugesti dirinya sendiri agar tidak takut dan berfikir positif pada Calvin.
Mobil yang di kendarai Calvin pun memasuki sebuah gerbang dimana disana terdapat restoran kecil namun sangat mewah.
Astaga dia mau mengajak aku makan saja sampai sejauh ini dan se misterius ini dasar gunung es.
Bantin Alice Menggerutu.
Mobil pun berhenti di parkiran oleh dokter Calvin di sebuah taman yang mana disana sudah ada meja makan yang berhiaskan sebuket bunga dan dua buah lilin berwarna merah muda.
Ya ampun dia romantis banget sih sayangnya kita nggak pacaran kalau pacaran aku pasti sudah melayang ini di bawa pada suasana romantis seperti ini hihi.
Batin Alice.
Calvin memgulurkan tangannya dan memegang tangan Alice menuntunnya berjalan ke meja tersebut.
Ini sebenarnya adalah vila keluarga Calvin tapi dia sulap menjadi restoran mendadak karena malam ini dia ingin menyampaikan sesuatu pada gadis tersebut, di tempat yang sudah dia rancang dengan sebaik mungkin sejak satu minggu yang lalu.
Begitu banyak orang yang terlibat untuk membantunya merencanakan ini semua, dan semoga dengan begini harapannya bisa terwujud, kerja keras nya dengan banyak orang yang dia libatkan bisa membuahkan hasil yang memuaskan.
Calvin mempersilahkan Alice untuk duduk di kursi yang telah disediakan, dan mereka pun duduk berhadapan.
"Kak... apa kakak hari ini ulang tahun? setahu ku ulang tahun kakak masih 3 bulan lagi? " tanya Alice.
"Kau tahu hari ulang tahun ku? " tanya Calvin dia sendiri pun heran sejak kapan Alice hafal tanggal ulang tahunnya.
"Iya hehe aku hafal karena dulu tak sengaja membaca kartu mahasiswa kakak dulu hehe" Alice tertawa kecil.
"Ooo begitu" dengan nada datar nya Calvin berbicara padahal dalam hatinya dia berteriak dan berjingkrak kegirangan karena gadis pujaan hatinya hafal tanggal lahir nya, suatu hal yang sulit di percaya olehnya karena Alice diam-diam. memperhatikan nya.
Tak lama hidangan pun di antar ke meja mereka dan tak lama iringan nada dari sebuah biola berpadu dengan nyanyian seorang penyanyi laki-laki bersuara merdu pun mengiringi makan malam mereka berdua.
"Makanlah kau pasti lapar, karena boleh di bilang perjalanan kita tadi cukup jauh" ucap Calvin dengan lembutnya.
Alice pun hanya tersenyum dan memakan makanan nya.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Calvin mengulurkan tangannya kepada Alice dia mengajak Alice ke sebuah kolam dekat meja mereka, Alice pun hanya mengikuti saja kemana Calvin mengajaknya berjalan.
Dan saat tiba di kolam tiba-tiba semua lampu padam, Alice panik dan hampir saja terjatuh untung Calvin dengan sigap menangkap tubuhnya dengan memeluk pinggang nya.
"Kau tidak apa-apa? "tanya Calvin lembut.
" Ah... iya... "ucap Alice pelan.
Tiba-tiba dari sebrang kolam ada lampu warna-warni mmenyala membentuk bentuk hati dan di tengahnya ada tulisan.
Will you marry me.
Mata Alice langsung terbelalak, posisi mereka masih sama Alice masih dalam pelukan Calvin, dan ini kesempatan bagi Calvin untuk mengutarakan isi hatinya.
" Will you marry me Alice? "ucap Calvin lembut.
Alice menoleh ke arah Calvin dan menatap Calvin seolah tak percaya kalau si gunung es ini akan mengatakan hal seperti ini.
" Kak... aku tidak salah dengar kan barusan kau bilang kau... "Alice tak bisa meneruskan kata-katanya.
" Iya barusan aku bilang seperti yang ada di tulisan itu, bagaimana Alice mau kah kau menikah dengan ku? "ucap Calvin sekali lagi.
Alice tersipu malu, dia tak menyangka kalau kakak seniornya yang selama ini selalu dia mintai pertolongan tiba-tiba melamarnya.
Wanita mana yang tak terkesan dengan lamaran seromantis ini, merasa menjadi wanita special dalam kehidupan seorang pria, Alice sungguh merasa tersanjung dengan semua perlakuan Calvin padanya.
"Bila kau benar-benar sungguh-sungguh berniat baik pada ku, pintalah aku pada kedua orang tua ku kak" ucap Alice lembut.
"Baiklah kapan kau akan membawa ku kepada kedua orang tua mu? " tanya Calvin serius.
"Minggu depan mereka baru kembali dari luar negeri mereka ada di rumah utama, dan aku akan membawa kakak pada mereka" ucap Alice pelan.
Calvin pun tersenyum saat mendengar perkataan Alice.
"Jadi kau menerima cinta ku? " tanya Calvin.
__ADS_1
Alice hanya mengangguk malu dan Calvin melihat itu pun hanya tersenyum saja, laki-laki dingin ini memang sulit sekali mengekspresikan dirinya merasa senang atau tidak semuanya selalu sama datar, tapi kali ini senyuman selalu menghiasi dirinya hingga Alice tahu pria yang ada di hadapan nya ini tidak seperti gunung es selamanya.
Bersambung.