My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Di Tolak


__ADS_3

"Wiwid... " Pekik Nina saat melihat temannya itu tertawa dan bilang dia balas dendam pada Aslan.


Nina mendekat pada Wiwid tapi Wiwid masih belum selesai juga tertawa.


Nina menghela nafas dan mencebik malas dan akhirnya dia menaiki anak tangga ke atas dan menuju kamar nya.


"Nin tunggu" Wiwid mengejar langkah Nina ke kamar mereka.


Saat di dalam kamar Nina merapihkan bungkus es yang tadi dia minum untuk di buang ke tempat sampah, dan Wiwid duduk di kasur lantai sambil memperhatikan wajah Nina yang terlihat datar saja.


"Nin elu seriusan nggak suka sama Aslan? " tanya Wiwid.


"Nggak tahu" jawab Nina singkat.


"Elu ragu sama dia? " tanya Wiwid lagi.


"Nggak, gue percaya sama dia kok"Nina juga duduk di samping Wiwid.


" Terus kenapa elu nggak Terima Aslan?"tanya Wiwid bingung.


"Huft... gue mikir lagi emangnya gue cocok ya sama dia? dia itu sekarang CEO kalau dulu sih gue pasti langsung Terima dia tanpa mikir lagi karena kita sama-saam buruh pabrik tapi sekarang dia itu CEO anak Presdir dan gue sekarang ini cuma OB doang mana bisa di samain derajatnya coba sama dia" jelas Nina.


Wiwid akhirnya hanya manggut-manggut saja setelah tahu alasan Nina yang sebenarnya.


"Tapi Nina elu kan kuliah, elu pinter elu bisa kali ngajuin ke dia buat jadi sekertaris dia nantinya biar status sosial kalian nggak jomlang ya kan? " Wiwid memberikan saran.


Nina nampak berfikir dengan perkataan Wiwid barusan yang sepertinya masuk akal juga, tapi mengingat Nina baru semester awal membuat nya berfikir kembali apa dia bisa mengajukan kenaikan jabatan secepatnya itu.


Nina tertunduk lesu.


"Kenapa elu malah jadi lesu begitu? " tanya Wiwid.


"Gue kan baru smester awal Wiwid mana bisa ngajuin jadi sekertaris CEO huft" Nina menjatuhkan dirinya di atas kasur lantai.


lagi pula gue juga ada niat mau ambil. beasiswa ke luar negeri biar bisa dapat kerja yang lebih baik, dari segi gaji dan juga jabatan, mungkin ini memang jalan yang terbaik kali biar gue sama dia nggak terlibat kasih hingga akhirnya gue bisa konsentrasi belajar disana nantinya.


Batin Nina.

__ADS_1


"Kok elu bengong? " tanya Wiwid.


"Ck gue ngantuk mau tidur sebentar" Nina berkilah agar tidak di tanyakan terus oleh Wiwid.


Dan itu berhasil membuat Wiwid terdiam dan tidak banyak bertanya lagi padanya, Wiwid memilih keluar kamarnya entah dia pergi kemana yang jelas dia meninggalkan Nina sendirian lagi di kamar.


Nina yang merasa hawa keberadaan Wiwid sudah tidak ada pun membuka matanya dia lalu terlentang dan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih dan ada beberapa bercak air di atas sana.


"Maafkan aku kak tapi tekad ku sudah bulat aku ingin meneruskan kuliah di luar negeri" gumam Nina.


Nina jadi teringat saat dirinya mengatakan akan kuliah di luar negeri pada Aslan, Aslan nampak kurang setuju dengan keputusan yang di rencanakan oleh Nina, padahal saat itu mereka hanya jalan saja belum. jadian tapi Aslan sudah berani melarangnya dan ditambah lagi keputusan Aslan yang secara sepihak yang mengatakan kalau dirinya adalah kekasihnya. membuat Nina semakin takut untuk menjalin hubungan dengan Aslan karena tujuan Nina sebenarnya belum tercapai.


Sementara itu di kediaman tuan Herald.


Anak bungsunya yang tampan itu terlihat sangat kesal. dari raut wajahnya saja sudah nampak tak enak di lihat,sang kakak yang baru tiba dari rumah sakit melihat adiknya yang berjalan cemberut sedang bermain game di ponselnya.


dokter Ryan duduk. di depan sofa yang ada diruang tengah tepat di depan Aslan, memperhatikan wajah adiknya itu.


"Ada apa? " tanya dokter Ryan.


"Nggak ada apa-apa" jawab Aslan ketus.


Kemarinnya waktu belum hilang ingatan cuma anggap gue teman sekarang pas ilang ingetan langsung to the point belum nerima gue jadi pacarnya, dasar reseh cupu reseh.


Aslan kesal hingga dia menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal dengan Nina, karena seolah dirinya tak. diberi harapan sama sekali oleh gadis itu.


dokter Ryan yang melihat adiknya yang terlihat kesal hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan saja, dia sangat tahu watak. adiknya tak akan mau cerita padanya meski di paksa yang ada berkelahi karena Aslan emosi.


Hingga akhirnya dokter Ryan menghubungi Alice dan juga Zaed untuk menemani adiknya yang sedang gundah gulana ini dirumah.


Dan tiga puluh menit kemudian orang-orang yang dihubungi dokter Ryan pun tiba di rumah dan langsung menghampiri Aslan yang masih bermain game di ruang tengah.


Alice menyenggol siku Zaed dan melirik ke arah Aslan seolah bertanya ada apa dengan bos mu.


Zaed hanya menggidikan baju saja.


Aslan yang merasa di perhatikan oleh kedua orang yang baru muncul ini pun melihat tajam ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa lu berdua, kalo nggak ada urusan penting mending lu berdua balik sana, gue nggak pengen diganggu" ucap Aslan ketus.


"Aih... beneran ini mah kayanya ada masalah sama si Nina Bobo ya lu" tebak Alice.


"Namanya Karinina bukan Nina Bobo Alice" sentak Aslan.


Tapi itu bukannya membuat Alice takut malah membuat Alice tertawa kecil karena dia berhasil memancing Aslan.


"Iya deh maaf jadi kenapa elu di apain sih sama Nina hem? " tanya Alice yang langsung mendekat pada Aslan dia langsung duduk di samping Aslan.


"Ck mau tau ajah lu urusan orang?! " Aslan hanya melirik Alice sebentar lalu kembali fokus main game lagi.


"Ya... barang kali kita bisa bantu gitu... "


"Nggak ada yang bisa bantu dan gue juga nggak butuh bantuan elu berdua" ucap Aslan kesal.


Dan dia lebih terlihat kesal lagi saat melihat kedatangan seseorang dengan calon kakak iparnya kerumah.


Aslan langsung melirik kepada Alice dan Zaed.


"Kalo mau bantuin gue singkirin nyamuk yang baru dateng itu" bisik Aslan.


"Jiah elu udah tahu gue paling nggak suka sama dia, mending kita cabut ajah gimana biar Zaed yang urus dia hihi" Alice memberikan saran.


"Gue setuju ide elu" Aslan langsung melirik. ke arah Zaed dan Zaed dengan malasnya pun akhirnya mau menuruti Aslan, sementara Alice dan Aslan sudah bersiap untuk pergi.


Saat mereka melangkah Laura menegur mereka berdua.


"Kalian mau kemana kami baru saja tiba tapi kalian dengan tidak sopannya malah ingin pergi" ucap Laura ketus.


Alice menatap sinis pada Laura begitu pun Laura.


"Udah ayo Lice ngapain elu melototin nyamuk yang berisik sih" Aslan menarik tangan Alice agar segera keluar dari rumah.


Tapi langkah mereka berdua terhenti ketika Laura menyebutkan nama Nina.


"Karinina itu kan gadis yang kau sukai saat ini?" ucap Laura.

__ADS_1


Aslan langsung menatap Laura dengan tatapan tajam karena dia tak ingin gadis itu di usik oleh wanita masa lalunya ini.


Bersambung.


__ADS_2