My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Hanya Berteman


__ADS_3

Aslan menghubungi Zaed untuk menyelidiki keluarga Nina, karena dia penasaran dengan. apa. yang menimpa gadis itu sehingga Nina sepertinya sangat ingin membuktikan pada ayahnya kalau dia bisa sukses tanpa ayahnya.


Nina yang baru kembali dari minum market pun duduk di sofa dan membuka plastik pembungkus roti gandum yang dia beli, Aslan melihatinya terus tanpa bicara, Nina yang merasa di lihatin oleh Aslan akhirnya menoleh kearah Aslan.


"Kakak mau? " Nina menawarkan satu roti lagi untuk Aslan.


Aslan hanya menggeleng saja.


"Eh cupu... " panggil Aslan.


"Ya... " jawab Nina malas.


"Nggak jadi deh elu terusin ajah makan gue mau tidur dulu elu Jangan berisik ya" Aslan lalu berbaring dia atas Brankarnya.


Nina hanya terdiam saja sambil memakan roti nya.


"Bisa nggak sih dia nggak panggil aku itu cupu" gumam Nina.


Aslan yang berpura-pura tidur dapat mendengar gumaman Nina, dia tersenyum saat mendengar itu.


Maaf ya Nin tapi gue nggak bisa ngerubah panggilan elu hihi.


Aslan sendiri pun bingung dengan perasaan nya pada Nina karena entah kenapa dirinya selalu khawatir pada Nina dan kesal bila Nina di dekati laki-laki lain selain dirinya, jangankan orang lain kakak kandung nya saja dia kesal bila dokter Ryan datang dan menggoda Nina.


Hingga hari terus berlalu.


Dan tak terasa sudah dua minggu sudah sejak kejdian kecelakaan itu, Aslan sudah di perbolehkan pulang ke rumahnya namun dia masih belum bisa bekerja dan Nina, sudah kembali ke rutinitas keseharian nya. menjadi buruh pabrik dan menjadi mahasiswa bila di akhir pekan.


Dan malam ini saat dirinya telah keluar kampus dirinya di tunggu oleh seseorang yang sangat dia benci di pintu gerbang kampusnya.


"Ikut" ucap pria paruh baya yang bersandar di mobilnya.


"Nggak mau" tolak Nina.


"Ayah bilang ikut dan masuk Nina" ucap Ayah Sanders.


"Heuh... ayah kau bilang bukan kah kau sudah membuang ku setahun yang lalu" ucap Nina sinis.


"Masuk lah dulu kita perlu bicara" ucap Ayah Sanders pelan.


Nina yang melihat ke sekitarnya akhirnya menuruti ayahnya dia ikut masuk kedalam mobil ayahnya, entah akan di bawa kemana dirinya saat ini oleh ayahnya itu.


Tanpa Nina sadari kalau saat ini dirinya telah di ikuti oleh seseorang dari belakang.


Ayah Sanders membawa Nina ke sebuah restoran, dan meminta Nina untuk memesan makanan.

__ADS_1


"Pesanlah apa yang kamu mau" ucap ayah.


"Tidak usah ayah, aku tidak lapar aku hanya menunggu ayah ingin berbicara apa dengan ku, katakanlah secepatnya aku lelah ingin pulang dan istirahat" ucap Nina dingin.


"Nak... maafkan ayah karena ayah baru sadar kalau ayah selama ini telah menelantarkan mu, tapi bisakah kau kembali ke rumah dan berbaikan dengan ibu mu" ucap ayah Sanders.


"Hahaha ayah ini lucu" Nia tertawa hambar.


Ayah Sanders benar-benar melihat kebencian di mata putrinya itu.


"Kenapa aku harus kembali ke rumah apa alsan dibalik ini sebenarnya? " tanya Nina dengan tatapan tajam.


"Nina... ayah benar-benar menyesal nak sekarang ini hanya kamu anak ayah yang bisa ayah percaya"


"Percaya hahaha oh astaga apa ayah percaya saat aku mengatakan kalau istri ayah itu yang meracuni ibu ku hingga akhirnya mati, tidak kan? " singgung Nina.


"Nina kau sudah keterlaluan wanita itu sudah merawat ibu mu bertahun-tahun dan juga membesarkan mu tapi mana balasan mu padanya kau malah menuduhnya meracuni ibu mu?! " bentak ayahnya.


"Heuh... sudah aku duga ayah masih tidak percaya dengan ku, sudah lah ayah jangan cari aku lagi, nikmati saja masa tua ayah dengan wanita jahat itu" Nina berdiri dari kursinya.


"Apa kau bilang dia wanita jahat?! " ayah Sanders pun bangkit dari kursinya dan hendak memukul Nina karena keaal dengan ucapan anaknya karena menilai istrinya adalah wanita jahat.


Saat ayah melayang akan tangannya tiba-tiba tangannha berhenti di udara karena ada yang menahan tangan itu.


"Siapa kau? kau pasti pacar anak ini, ayah tak menyangka Nina kau sekarang berpacaran dengan berandalan" ucap ayah Sanders saat melihat penampilan Aslan yang memang seperti berandalan malam ini.


"Kak... Aslan" ucap Nina pelan dia tak menyangka kalau Aslan akan datang dan melindunginya.


"Siapa aku tak penting untuk mu kan? " singgung Aslan.


"Ayo Nin kita pergi" Aslan menarik tangan Nina untuk pergi dari tempat itu.


"Nina dasar anak durhaka lihat saja nanti kau pasti akan menyesal karena tak dapat mewarisi harta dan juga perusahaan ayah" ancam ayahnya.


"Hahaha ayah ini lucu mana bisa aku mewarisinya pasti wanita jahat itu akan mengambil semuanya dari ku dengan segala cara" singgung Nina.


"Kau... dasar anak tidak tahu di untung" maki ayah Sanders.


Nina terus melangkah dengan Aslan keluar dari restoran tersebut, Aslan mengajak Nina menaiki motor gedenya.


Nina yang di bonceng di belakang termenung hatinya sedih karena ayahnya masih saja membela wanita jahat itu.


Motor dinyalakan mesinnya oleh Aslan, sebelum motor melaju Aslan meminta Nina berpegangan dengannya.


"Pegangan yang kencang karena gue nggak bisa jalan lambat kalau naik motor ini" ucap Aslan sebelum melaju.

__ADS_1


Dan...


Brummm...


motor langsung melesat membelah keramaian kota malam itu Aslan membawa motor dengan kecepatan tinggi hingga Nina terpaksa memeluk tubuh Aslan dari belakang nya.


mata Aslan mengernyit menahan sakit karena luka di perutnya belum sembuh benar dia masih suka merasa sakit di bagian itu bila tertekan seperti sekarang inj, namun dirinya tak bisa mencegah Nina melepaskan pelukannya karena dia menyadari Nina menangis di punggungnya dia merasakan getaran di belakang tubuhnya, Nina menangis tersedu dan sesegukan hingga Aslan bisa mendengar isak tangus gadis itu.


Ternyata hidupnya lebih berat dari gue, maaf ya Nin kalo gue suka buat elu sedih dan kesal.


Aslan melajukan motor nya dan membawa Nina kesebuah pantai di pinggiran kota.


Saat motor berhenti di tepi pantai mereka pun disambut oleh angin pantai yang malam itu membelai wajah keduanya, mata Nina sembab karena menangis tadi.


"Jangn cengeng" Aslan menepuk baju Nina.


Nina hanya menoleh kearah Aslan.


"Ada gue yang selalu ada buat elu" ucap Aslan sambil menatap ombak di depannya yang sedang berderu.


Nina tersenyum.


"Apa kakak sudah benar-benar sehat? kenapa kakak ada disana? " tanya Nina tiba-tiba.


Aslan bingung harus menjawab apa karena dia tidak mungkin bilang kalau dirinya mengikuti Nina dan menunggu nya pulang dari kampus untuk memastikan keselamatannya.


Aslan hanya menggaruj tenguknya yang tidak gatal bingung mencari alasan apa.


"Apa kakak sedang makan ya disana? wah kebetulan banget ya hehe, Terima kasih ya kak karena sudah mau berteman dengan ku, aku beruntung punya teman seperti kalian" ucap Nina dia tersenyum saat ini.


"kalian itu maksud mu? " tanya Aslan.


"Iya kalian itu maksud ku adalah Wiwid, Zaed dan kak Aslan Terima kasih karena kalian ingin menjadi teman ku" Nina tersenyum tulus saat mengatakan itu.


jadi dia hanya anggap gue temen ya... sama kaya Wiwid gitu.


Aslan cemberut.


Nina yang melihat Aslan cemberut pun bertanya, kenapa Aslan tiba-tiba cemberut begitu.


Aslan yang kesal akhirnya bukan menjawab pertanyaan Nina malah langsung mengajak gadis itu pulang karen hari sudah malam.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi mereka dari seberang jalan sambil tersenyum sinis.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2