My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Menjadi Diri Sendiri


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain.


Di sebuah penjara Gio datang untuk menemui Laura yang telah di tahan di jeruji besi tersebut.


Gio menunggunya di ruang tunggu, saat Laura datang ke ruang tunggu dirinya terkejut saat melihat siapa yang datang mengunjunginya.


"Kau?! " tanya Laura terkejut.


"Ya... ini aku" ucap Gio tegas.


"B... ba.. bagaimana kau tahu aku? " ucapan Laura terputus.


"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau berada disini begitu? " tanya Gio.


Laura hanya terdiam.


"Mobil yang kau curi itu mobil ku, jadi aku tahu dari pihak kepolisian kalau mobil ku digunakan untuk melakukan aksi kejahatan" ucap Gio datar.


Laura hanya terdiam dia tak berkata-kata sama sekali, bahkan dirinya terlihat tak menyesal sama sekali, malah sebaliknya Gio lah yang terlihat menyesal. karena melihat wanita yang dicintainya saat ini harus mendekam di penjara.


"Ra... aku akan berusaha membebaskan mu, aku janji, tapi berjanjilah pada ku, kau akan memaafkan ku setelah kau bebas dari penjara ini" ucap Gio lembut.


"Heuh... setelah semua yang kau lakukan pada ku, kau dengan mudahnya ingin aku memaafkan mu begitu saja heuh... dasar tak tahu malu" ucap Laura sinis.


Laura bangkit dari duduknya dan berkata.


"Lebih baik aku mendekam di sini selamanya dari pada harus memaafkan mu bajingan" ucap Laura sinis.


Laura pun pergi masuk kedalam ruang penjara lagi setelah dirinya mengatakan itu pada Gio.


Gio hanya bisa terdiam saat melihat punggung Laura menghilang dari pandangan nya.


Rasa sesal di dalam hatinya saat ini benar-benar tak bisa terbendung lagi, dia benar-benar menyesali semua perbuatan nya pada Laura waktu itu hingga membuat gadis itu semakin keras kepala saja.


Gio berjanji dalam hatinya kalau dirinya akan mengusahakan membebaskan Laura dari dalam penjara, itu semua dia lakukan untuk menebus semua kesalahan nya pada Laura.


"Aku akan meminta orang yang menghukum mu ini untuk membebaskan mu Ra meski aku harus berlutut di bawah kakinya, meski setelah ini kau tetap tak memaafkan ku, tapi sungguh aku tak rela bila melihat wanita yang aku cintai terpenjara seperti ini" gumam Gio.


Gio pun pergi dari penjara tersebut dan menghubungi Zaed dia menanyakan keberadaan Aslan dia ingin membicarakan masalah ini pada Aslan, sebab yang dia tahu korban dari Laura adalah kekasih Aslan hingga yang bisa membebaskan Laura hanya Aslan, begitulah fikiran Gio saat ini.

__ADS_1


"Apa?! elu mau ketemu Aslan buat bebasin Laura?! " Zaed panik.


"Iya Zay... cuma Aslan yang bisa bebasin Laura nggak ada cara lain, meski gue harus berlutut di kakinya gue bersedia asal dia cabut tuntutan nya pada Laura" jelas Gio.


"Gila lu, Aslan belum tahu siapa pelakunya, kita semua nggak ada yang berani kasih tahu ke dia, sebab kita semua nggak bisa ngebayangin bagaimana murkanya dia saat tahu siapa yang berbuat setega itu pada calon istri nya" jelas Zaed.


"Aslan belum tahu? " tanya Gio.


"Iya... gue belum kasih tahu dia karena belum siap ngeliat reaksi kemarahannya kaya gimana sama gue apa lagi sama Laura" jelas Zaed pelan.


"Gue nggak peduli mau Aslan bunuh gue sekali pun gue cuma mau minta ke dia buat bebasin Laura, karena dia begitu juga karena gue Zay" jelas Gio terdengar sangat menyesal.


"Jangan Nekat Gi... gue nggak tahu apa yang akan terjadi sama Laura bila dia tahu ini semua, kalau sama gue atau elu paling kita cuma babak belur tapi kalau sama Laura? gue nggak tahu tindakan gila apa yang akan dia lakukan, karena sudah berapa kali Laura mengecewakan dia dan kali ini adalah yang paling parah" jelas Zaed.


"Pokoknya gue akan cari cara buat bebasin Laura, meski gue harus mati di tangan Aslan" ucap Gio serius dan dia langsung mematikan sambungan telpon tersebut.


"Halo.... halo.... Gio... akh... gila tuh anak ck bikin tambah masalah ajah" Zaed kesal karena dia juga tadi mendengar kasus operasi Nina yang hampir gagal karena sabotase ibu tirinya yang baru dia tahu bekerja di rumah sakit tuan Herald.


Zaed mengacak-acak rambutnya karena kesal memikirkan semua maslah yang berkaitan dengan Nina dan Aslan, dan juga kedua sahabat kecilnya itu.


"Akh... dasar bodoh coba elu nggak berulah di luar negeri Gio... pasti Laura nggak senekat ini dan Nina dan Aslan juga baik-baik saja aa arrrggghhh menyebalkan kalian semua" jerit nya.


Tak lama ponselnya berdering.


"Halo... " ucap Zaed datar.


"Kak.... tolong jemput aku, di bandara" terdengar suara seorang gadis dari seberang sana suara yang tak asing baginya.


Bukan sabit muncul di bibir Zaed, saat mendengar suara gadis yang selama ini dia rindukan keberadaan nya.


"Kak... kakak... apa kakak masih hidup? " tanya gadis itu.


Zaed hanya tersenyum mendengar perkataan konyol gadis itu.


"Kak... kakkkkkk" jerit gadis itu di telpon karena tak kunjung ada jawaban dari Zaed.


"Ya... aku masih hidup Aletta" jawab Zaed datar nadanya terdengar biasa saja di telpon tapi tanpa sepengetahuan Aletta Zaed tersenyum lebar saat ini.


"Ooo aku kira kakak mati saat menerima telpon dari ku" ucap Aletta asal.

__ADS_1


"Kau ini kebiasaan, baiklah tunggu aku disana" Zaed langsung mematikan ponselnya.


Sedangkan Aletta yang masih ingin berbicara dengan Zaed jadi kesal karena Zaed tiba-tiba memutuskan saluran telpon nya.


"Errrgghh dasar tembok berlin, dia itu kamu sekali sih tak pernah bisa di ajak bercanda" gerutu Aletta.


Setahu Aletta Zaed itu orang yang sangat kamu, padahal tidak seperti itu, Zaed seperti itu bila berhadapan dengan Aletta saja tapi lain bila sedang berhadapan dengan Alice kakak Aletta, bila dengan Alice Zaed sangat friendly, Aletta menganggap Zaed sudah seperti kakaknya sendiri, karena Zaed adalah sahabat dari kakak-kakaknya yaitu Alice dan Aslan.


Aletta tak pernah tahu kalau Zaed menyukai nya, karena Zaed selalu dingin padanya tapi Zaed selalu ada untuknya bila dirinya membutuhkan pertolongannya.


Di dalam mobil Zaed yang sedang melanjukan mobilnya ke arah bandara tiba-tiba ponselnya berdering kembali, dilihat nya tertera nomor Alice, langsung lah di Terima oleh Zaed.


"Ya Alice ada apa? " tanya Zaed dengan nada malas.


"Zay... Aletta di bandara tolong jemput ya.... gue lagi kerja nggak bisa jemput dia" Alice meminta tolong pada Zaed.


"Dia baru ngubungin elu apa gimana? " tanya Zaed.


"Iya barusan dia telpon gue minta jemput, gue nggak bisa mangkanya gue minta bantuan elu" jelas Alice.


Dasar gadis bodoh, dia fikir aku tidak akan menjemputnya apa hingga menyuruh kakaknya menelpon ku.


Batin Zaed.


"Ya gue jemput dia, terus gue harus bawa dia kemana nih ke apartemen elu atau ke rumah sakit? " tanya Zaed.


"Kesini jangan macem-macem sama adek gue sialan" Alice kesal dia sebenarnya tahu kalau sahabatnya ini menyukai adiknya.


"Hahah galak amat tenang ajah sih Lice kalo gue apa-apa ini juga gue bakalan tanggung jawab kok" Zaed bergurau.


"Sialan lu, nggak akan gue biarin ya... adek gue di apa-apain elu dia masih sekolah SMA Zay.... inget itu usianya baru 16tahu sialan, jalannya masih panjang" oceh Alice.


Zaed tertawa mendengar omelan Alice.


"Jangan ketawa lu dah bawa adek gue kesini dengan selamat tanpa cacat sedikitpun" ancam Alice.


Alice langsung memutuskan sambung telpon karena kesal dengan Zaed.


Tapi Zaed hanya tertawa saja mendengar ocehan Alice.

__ADS_1


Entah kenapa dari sekian banyak gadis Zaed malah jatuh cinta pada anak remaja seperti Aletta, dia menyukai Aletta karena selain Aletta cantik, Aletta juga sangat polos dan sangat enerjik, bahkan dia itu sangat berisik dan cerewet tapi dia tidak bar-bar,entah kenapa Zaed menyukai nya mungkin karena Aletta tidak pernah berpura-pura imut dan lembut seperti kebanyakan cewe yang selalu dia temui, Aletta itu selalu menjadi dirinya sendiri kapan pun dimana pun dia berada.


Bersambung.


__ADS_2