My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Koma


__ADS_3

Lan.... Lan... tenang Lan... kita bawa Nina dulu ke rumah sakit, biar Kodok dan Beni yang urus dia.


Bugh.


Aslan masih memukul dan Zaed akhirnya menarik tangannya agar menjauh dari ketua The Crow dan segera membawa Nina ke rumah sakit.


Aslan menggedong tubuh Nina hingga ke luar gudang Zaed langsung loncat ke atas motornya sementara Aslan menaruh Nina di belakang boncengan bersamanya.


"Pegangin si Nina Lan takut jatuh" ucap Zaed saat akan menjalani motornya.


"Iya sue buruan gue juga ngerti, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga" Aslan cemas.


Mesin motor dinyalakan oleh Zaed dan motor langsung melesat menembus angin malam itu, di perjalanan yang cukup jauh Aslan terus memeluk tubuh Nina bajunya pun bersimbahndarah karena darah terus mengalir dari kepala nya yang terluka.


"Nin Plis jangan mati Nina.... plis... kamu kuat ya... kamu kuat ya sayang... " Aslan memeluk tubuh itu dengan eratnya.


Zaed dapat merasakan bagaimana Aslan begitu bersedih saat ini, saat tahu orang yang di kasihinya harus meregang nyawa di pelukannya.


Iya Nina elu jangan mati gue nggak tahu gimana nantinya reaksi Aslan kalo elu sampe mati di hadapan dia.


Zaed lalu menekan kemudian dengan kencang agar motor lekas sampai di rumah sakit.


Hingga lima belas menit kemudian, motor yang di kendari Zaed pun tiba di depan IGD Aslan langsung menurunkan Nina dari boncengan motor dan mengangkat tubuhnya ke ruang IGD.


"Cepat tolong dia! " teriak Aslan pada semua petugas IGD.


Semua dokter yang sangat mengenal tuan muda mereka membawa seseorang yang terluka langsung dengan sigap menangani Nina.


Masalah baru apa yang di bawa oleh anak pemilik rumha sakit ini, kemarinnya dia yang jadi korban sekarang diantara perempuan kesini dengan luka cukup parah di kepalanya.


batin seorang perawat wanita.


Dokter Ryan yang kebetulan juga sedang berjaga di IGD langsung memeriksa kondisi Nina..

__ADS_1


"Bang plis selametin dianya bang gue mohon" Aslan memohon dengan lirih pada dokter Ryan.


"Iya kamu tenang ajah doa kan yang terbaik buat teman mu ini ya" ucap dokter Ryan lembut.


Dokter Ryan memeriksa Nina dan segera meminta timnya untuk membawa Nina keruang Operasi, karena luka di kepala Nina sangat serius di tambah lagi Nina kelilangan banyak darah.


Aslan dengan gelisah menunggu di depan ruang operasi, dia selalu berharap Nina selamat dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu ada di sisi Nina apa pun yang terjadi nanti.


"Lan... duduk lah dulu" Zaed menyuruhnya duduk karena sudah hampir satu jam Aslan mundar-mandir kesana kemari menunggu di depan ruang operasi.


Aslan pun duduk tapi itu hanya sebentar tak lama dia bangkit lagi dan melakukan hal yang sama kembali yaitu mundar-mandir dengan gelisah di depan ruang operasi.


Zaed hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan memilih untuk diam karena bila dia bersuara dan menyuruh tuan mudanya untuk diam maka dirinya akan terancam di pukul oleh Aslan, oleh karena itu dia membiarkan Aslan seperti itu.


Hingga pintu ruang operasi terbuka Aslan langsung merangsek kedepan kakaknya dan bertanya bagaimana keadaan Nina.


"Luka di kepalanya sangat serius, dia seperti di hantam benda tumpul yang cukup keras, masa kritisnya belum lewat hingga dia harus di rawat diruang ICU" jelas dokter Ryan.


"Dia koma Aslan" dengan berat hati dokter Ryan mengatakan itu.


"Dan kemungkinan besar bila dia bangun dari koma dirinya tidak bisa kembali normal" jelas dokter Ryan.


"Mak... sud abang? " tanya Aslan ragu.


"Kemungkinan dia bisa hilang ingatan dan lebih parahnya dia akan lumpuh karena luka syaraf di kepala nya" jelas dokter Ryan.


seketika kaki Aslan lemas dan dia pun terkulai di lantai.


"Lan... bangun Lan kita do'ain ajah semoga semua itu nggak terjadi sama Nina"Zaed berusaha mensuport Aslan.


Aslan menangis dan baru kali ini kakanya dan juga sahabatnya melihat Aslan menangis lagi setelah sekian tahun terakhir dia menangis itu saat kematian ibunya.


"Adam... benar kata Zay kita harus banyak berdoa agar teman mu itu selamat dan keajaiban datang bersama nya" dokter Ryan mencoba mensuport Aslan.

__ADS_1


"Tapi bang dia begitu gara-gara gue bang... dia yang udah nyelametin gue hiks dua kali bang dua kali dia berkorban untuk nyelametin gue bang dua kali hiks... kalo sampe dia kenapa-kenapa pasti gue sedih banget bang hiks" dokter Ryan langsung memeluk tubuh adiknya meski dia belum mengganti pakaian operasi nya dengan pakaian yang lain tapi saat ini adiknya sedang butuh pelukan hangat dari dirinya.


"Tegar lah aku yakin gadis itu pun tak suka bila melihat kau menangis Adam" dokter Ryan mengusap kepala adiknya agar Aslan sedikit tenang.


dokter Ryan membawa Aslan dan Zaed ke ruangannya agar Aslan tenang, dia belum menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nina hingga gadis itu sampai terluka parah seperti itu, saat ini yang terpenting adalah menenangkan Aslan agar Aslan tidak merasa bersedih.


Dokter Ryan meninggalkan Aslan dengan Zaed di ruangannya dia kembali ke ruang operasi untuk melihat keadaan Nina setelah itu baru dian bisa beristirahat di ruangannya sejenak.


Dokter Ryan memeriksa semua alat yang sudah terpasang di tubuh Nina saat di ruangan ICU, setelah itu dirinya langsung berjalan keruangan nya untuk menemani adiknya yang sedang bersedih.


"Bagaimana Nina bang? " tanya Aslan.


"Dia sudah di pindahkan keruang ICU dan di awasi oleh para perawat disana, kau tenang lah" jelas dokter Ryan.


"Boleh kau melihatnya? " tanya Aslan lirih.


"Boleh ayo abang temani" dokter Ryan mengulurkan tangannya tapi tidak di sambut oleh adiknya itu Aslan malah menepis tangan kakaknya.


"Memang nya aku cewe kakak perlakukan seperti itu" Askan sewot dan itu kontan mengundang tawa di wajah dokter Ryan.


Mereka pun berjalan ke ruang ICU.saat di lorong rumah sakit Dokter Ryan mencolek tangan Zaed dan memeberikan isyarat pada Zaed dirinya ingin berbicara dengan Zaed saat nanti Aslan masuk ke ruang ICU, Zaed hanya mengangguk saja dan bersiap untuk kena semprot oleh dokter Ryan.


Aslan pun masuk keruang ICU dia berjalan ke brankar Nina, terlihat gadis itu terkulai lemas dengan beberapa selang yang terpaksa di tubuhnya.


"Maafkan aku ya" ucpanya lirih dia pun menggenggam tangan gadis itu dan mengecupnya.


"Cepatlah sadar aku janji saat kamu sadar nanti aku nggak akan kasar lagi sama kamu, jadi sadar ya sayang" Aslan menaruh telapak tangan Nina di pipinya.


"Aku akan selalu ngejagain kamu apa pun yang terjadi sama kamu nanti aku janji aku akan selalu ada di sisi mu sayang jadi cepat sadar ya... nanti kita pergi ke taman hiburan lagi" ucap Aslan lirih.


Para perawat yang melihat Aslan begitu menyayangi gadis itu pun ikut merasakan pilu, sebab mereka baru pertama kali mekihat seorang Aslan yang keras kepala itu bersikao sangat lembut pada seorang gadis.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2