My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Kesedihan


__ADS_3

Ke esok anda harinya di kantor seorang CEO muda yang berwajah tampan itu nampak dingin sedingin salju, tak ada senyum sama sekali di wajahnya saat dirinya baru saja memijakan kakinya di pintu lobi kantor.


Sementara seorang gadis muda melangkah santai menuju lift sempat berpapasan dengan CEO itu namun sangat CEO memalingkan wajahnya seolah tak mengenal gadis itu sama sekali.


Aslan memasuki lift khusus petinggi perusahaan sedangkan Nina memasuki lift karyawan dan berdesakan di dalam lift tersebut.


Di lift para petinggi perusahaan, Aslan tetap terdiam seribu bahasa, dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali, meski hatinya berdenyut saat dirinya berpapasan dengan Nina saat di lobi tadi.


Dia ini kenapa sih dari semalam langsung berubah jadi kaku begini gara-gara kena hujan atau gimana ya...


Batin Zaed yang kebingungan dengan kelakuan bosnya yang berubah 180°setelah kehujanan semalam.


Kejadian semalam.


Aslan yang menghampiri Laura yang merubah penampilannya seperti dirinya yang dulu, tertawa sinis diri nya belum menyadari kalau tangannya telah melepas pegangan dari tangan Nina.


Dia pun belum menyadari kalau saat ini Nina sudah berbalik badan dan berjalan menjauh darinya.


Laura tersenyum penuh kemenangan saat melihat Nina menjauh dari Aslan, meski wajah Aslan saat ini menatapnya tajam.


"Heuh ada apa dengan mu heuh? kau mau menarik perhatian ku lagi hem?! " ucap Aslan dingin.


"Tapi kau menyukai aku yang seperti ini kan? " tanya Laura.


Aslan tertawa mendengar ucapan Laura.


"Astaga apa kau fikir perasaan ku masih sama dengan yang dulu kau salah" ucap Aslan sinis.


"Tapi kau sempat tertegun kan melihat aku yang seperti ini? " ucap Laura dengan penuh percaya dirinya.


"Hemft percaya diri sekali kau ini, aku memang sempat terkejut dengan penampilan mu yang sekarang ini, tapi tetap tak bisa merubah hati ku" Aslan dengan tegas mengatakan hal itu.


"Ooo ya... tapi sepertinya hati gadis itu berubah pada mu lihat dia sudah menghilang saat melihatmu mu mendekat pada ku" Laura berkata sombong.


Aslan baru menyadari kalau saat ini tangannya sudah tak menggenggam tangan Nina, Aslan langsung meninggalkan Laura di sana tanpa pamit dia mencari keberadaan Nina.


"Kemana anak itu, dia pasti salah faham" Aslan berlarian mencari Nina.

__ADS_1


Tak lama hujan turun dengan derasnya. Aslan terus berlari mencari Nina, tak peduli hujan membasahi tubuhnya genangan air yang besar pun dia injak dan tetap mencari gadis yang dia cintai itu.


Sampai akhirnya dirinya melihat Nina dipelukan seorang pria, dia hanya melihat itu saja tapi tak melihat gadis itu menangis. untuk kedua kalinya Aslan merasa di khiyanati oleh orang yang dia cintai.


Aslan berjalan meninggalkan tempat dimana Nina sedang berpelukan dan mencari Alice dengan langkah terburu-buru dia pun menemukan Alice bersma dengan Zaed yang sedang berteduh, tanpa basa basi lagi Aslan langsung meminta Alice mengantarkan nya pulang saat itu juga, dan di dalam mobil Aslan sama sekali tak berbicara dia diam seribu bahasa, bahkan auranya sangat dingin Alice pun bahkan tak berani bertanya pada sepupunya ini.


Apa yang terjadi sih kenapa dia nampaknya marah sekali, kalau sudah begini aku nggak bisa asal bicara sama dia nih sebelum dia tenang mending diam lah dari pada monster di dalam tubuhnya keluar.


Batin Alice.


Kembali ke kantor.


Aslan berjalan ke ruangannya dan disana Zaed memberikan dokumen yang harus di periksa oleh Aslan, Aslan langsung memeriksa dokumen-dokumen tersebut sebelum ditanda tangani.


30 menit kemudian tenggorokannya merasa kering, dia ingin meminun sesuatu dan akhirnya menelpon ke pantry dan meminta OB membawakan minuman untuk nya.


"Anda ingin minum apa tuan muda? " tanya Marni lembut.


"Terserah cepat saya harus" ucap Aslan ketus dan langsung menutup telponnya dan memeriksa dokumen lagi.


"Nina tuan muda Aslan meminta mu mengantarkan minuman untuk nya" ucap Marni.


"Nggak tahu gue tanya dia malah nyolot katanya cepetan dia haus tuh" Marni kesal.


Dengan langkah malas Nina pun membuatkan Aslan teh manis hangat dan segera dia antarkan ke ruangan CEO.


Aslan melihat jam di tangan nya.


"Kenapa lama sekali membuat minum saja apa saja kerjaan OB itu sih? " gerutu Aslan.


Dan tak lama terdengar suara ketukan pintu dan Aslan pun langsung berteriak masuk, pintu terbuka dan terlihat lah seorang yang sejak semalam membuat dirinya menjadi berubah sikap seperti ini.


Nina berjalan mendekati meja Aslan dan menaruh cangkir teh tersebut.


Aslan melihat minuman yang di taruh di mejanya dan langsung protes.


"Memang nya aku meminta teh?! " ucap Aslan ketus.

__ADS_1


"Hem... tapi tadi tuan tidak bilang ingin minum apa jadi ku fikir anda ingin minum teh hangat" jelas Nina.


Dengan wajah datar Aslan menarik cangkir teh itu dan baru saja dirinya menempelkan bibir nya di ujung cangkir itu Aslan langsung marah.


"Puah... kau ini mau membakar mulut ku ya, teh ini panas sekali ganti" omel Aslan.


Dan Nina hanya bisa pasrah dan mengambil cangkir itu dari meja tapi saat tangannya sudah meraih cangkir itu Aslan merebutnya kembali hingga air di dalam cangkir goyang dan tumpah ke meja.


"Dasar bodoh kau ini bisa kerja nggak sih?! " Aslan marah.


"Maaf tuan muda tapi saya tadi mau ambil cangkir itu untuk mengganti minuman anda tapi anda malah menariknya lagi hingga... " ucapan Nina terputus.


"Jadi kau menyalahkan ku hah?! " Aslan makin marah.


"Tidak tuan" ucap Nina pelan sebenarnya dia tidak suka di salahkan seperti ini oleh Aslan tapi karena dia sadar diri jadi dirinya hanya terdiam saja mendengarkan ucapan-ucapan Aslan yang seperti peletasan.


"Apa kau bilang apa barusan aku tidak dengar? " tanya Aslan lagi.


"Tidak tuan maaf tapi kalau anda tidak suka dengan cara kerja saya anda boleh memecat saya" ucap Nina tegas.


Aslan langsung tersenyum sinis pada Nina.


"Tak kusangka ku fikir kau itu benar-benar polos tapi ternyata kau cukup lihai juga menyembunyikan kebenaran tentang mu" ucap Aslan dingin.


Deg...


Dada Nina berdegup dia fikir Aslan sudah mengetahui kalau ingatan dirinya sudah kembali dan Aslan marah karena itu.


"Keluar dari ruangan ku" usir Aslan.


Nina pun berjalan menuju pintu tapi langkahnya terhenti ketika Aslan berbicara padanya lagi.


"Aku tidak akan memecat mu sampai aku puas mempermainkan mu, seperti halnya kau mempermainkan perasaan ku" ucap Aslan dingin.


"Apa anda masih kurang puas mempermainkan perasaan ku tuan? apa anda lupa dengan semua kebohongan yang anda katakan pada ku? " Nina menoleh ke arah Aslan saat mengatakan itu.


kemudian dia pun berbalik lagi dan keluar dari ruangan Aslan dengan perasaan yang sedih sangat sedih karena Nina akhirnya tahu kalau Aslan selama ini hanya mempermainkan perasaan nya saja, kelakuan Aslan semalam dan perkataan nya pagi ini membuat Nina menyadari keberadaan nya di kehidupan Aslan hanya sebuah permainan saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2