
Visko menuju ke depan caffe dimana kedua sahabatnya sedang duduk dan memakan pesanan mereka. Melihat kedua sahabatnya membuat Visko tersenyum kesal, tentu saja karena kedua sahabatnya itu rencananya mengerjai Vlavia batal begitu saja.
" Nah... Nih anak muncul, Lo dari mana Man?." Tanya Dendry melihat Visko yang duduk di sebelanya dengan muka kesalnya.
Tidak ada jawaban dari Visko, membuat Harry dan Dendry tersenyum, mereka tau jika sudah membuat lelaki tampan di depannya ini kesal, tapi apa sebabnya mereka belum mengetahui.
" Jangan bilang Lo lagi kencan ma cewek terus Lo umpetin." Ucap Dendry sekenanya tapi cukup membuat Visko terkejut. Tentu saja karena apa yang Dendry katakan memanglah benar, Visko ngumpetin Vlavia yang merupakan seorang wanita atau cewek, melainkan bukan teman kencannya. Tapi bukan Visko namanya kalau tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya di depan kedua sahabatnya itu.
" Serah kalian lah mau pada ngomong apa, ngapai kalian ke sini?." Tanya Visko dengan bodohnya.
Astaga... Visko ini aneh sekali, bukankah dia sendiri melihat kedua sahabatnya yang sedang menikmati makan malamnya.
" Ha...ha...ha.... Gue semakin yakin Lo ngumpetin cewek dari kita." Jawab Harry melihat gelagat Visko yang tidak begitu suka dengan kedatangan kedua sahabatnya di caffe itu.
Harry da Dendry tidak lagi bertanya mereka memilih untuk melanjutka makan malamnya, sedangkan Visko duduk dengan santai dengan sesekali meneguk minuman yang sudah di pesankan oleh Dendry tadi.
" Lo nggak sekalian Vis?." Tanya Harry yang di jawab Visko dengan gelengan kepala.
" Lo nggak jalan sama Marisa kan?." Tanya Harry lagi yang sukses membuat Visko semakin kesal bukan main. Harry begitu banyak bertanya. Pikir Visko.
" Diam Lo kalau nggak pengen kena amuk anak malang ini." Sambung Dendry membuat Harry dan dirinya tertawa. Sedangkan Visko menatap mereka dengan senyum miringnya.
Visko memang begitu malang rasanya, mempunyai banyak harta tapi kehidupannya tidak ada kebahagiaan sama sekali. Jauh dari kasih sayang Orang Tua, tentu saja karena dirinya dan Om Albert yang sama-sama keras kepala.
Sedangkan di kamar mandi. Vlavia begitu gusar, sungguh rasanya Vlavia sudah ingin sekali keluar dan pergi dari tempat itu.
" Duh... Sampai kapan Gue di sini?." Gumam Vlavia berharap Visko segera kembali.
Seperti doa yang langsung terjawab, tidak lama ada gedoran dari arah luar. Tentu saja membuat Vlavia yang berada di dalamnya tersentak kaget dan takut. Vlavia takut jika bukan Visko yang menggedor pintu kamar mandi yang sekarang sedang dia tempati.
" Vi, buka !!." Ucap seseorang dari arah luar.
Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya membuat Vlavia semakin yakin jika itu Visko, terlebih suara itu adalah suara seorang cowok, memangnya siapa lagi kalau bukan Visko? Bukankah yang menyuruh Vlavia untuk ngumpat di dalam kamar mandi adalah Visko sendiri.
Tanpa beripikir lagi, Vlavia langsung membukakan pintu kamar mandi itu.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Vlavia melihat Kristan yang sudah berdiri di depan kamar mandi. Kristan memakai topi juga mantel yang cukup besar untuk menutupi tubuhnya. Bahkan sampai terlihat seperti detektif menurut Vlavia.
" Kak Kristan." Ucap Vlavia dengan bengongnya.
Kristan segera masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Vlavia bertambah bingung tapi juga takut, Vlavia takut jika Kristan akan berbuat yang tidak-tidak seperti dirinya.
" Tenang Vi, nggak usah takut, Gue nggak akan macam-macam." Jelas Kristan yang bisa menebak isi pikiran Vlavia sekarang ini.
" Eh... Enggak Kak, aku kaget aja kenapa Kak Kristan bisa di sini? Dan ini... Kenapa Kak Kristan tau aku di sini?." Tanya Vlavia yang tanpa dia sadari di depan Kristan memanggil dirinya dengan sebutan aku bukan Gue lagi. Dan itu sukses membuat Kristan tersenyum ke arahnya dengan begitu tampan.
Udah gue duga... Lo emang beda Vi Batin Kristan tersenyum.
" Kak... Kak Kristan !." Sambung Vlavia membuyarkan lamunan Kristan.
" Ah iya, Gue mau bantu Lo buat keluar dari sini." Jawab Kristan membuat Vlavia semakin terkejut.
" Kak Kristan tau aku di sini sama Kak." Ucap Vlavia terhenti karena sudah di sambung oleh Kristan.
" Visko, Gue tau kalian makan di sini, dan Gue tau Lo di umpetin ke sini sama Visko, makanya Gue nawarin bantuan siapa tau Lo pengen keluar dari kamar mandi ini." Jelas Kristan sambil melirik ke sekitar kamar mandi.
Vlavia masih dengan bengongnya, dia belum menjawab tawaran dari Kristan barusan jika ingin menolongnya ke luar.
" Eh iya Kak, aku mau ." Jawab Vlavia membuat Kristan tersenyum.
Dengan segera Kristan melepaskan mantel besar yang melekat pada tubuhnya. Tentu saja untuk di pakaikan kepada Vlavia agar tidak terlihat jelas oleh Visko saat nanti mereka akan ke luar.
" Tunggu Kak, berati Kak Kristan tau aku tadi sama Kak Visko? " Tanya Vlavia sekali lagi memastikan.
Kristan menatap Vlavia yang sedang menatapnya dan menunggu jawaban darinya.
" Iya... Kan tadi sudah Gue bilang." Jawab Kristan semakin membuat Vlavia tidak enak aja.
Vlavia takut jika Kristan mengira dia sama halnya dengan cewek-cewek yang biasanya bersama dengan Visko, tentu saja Vlavia tidak mau jika teman barunya itu memikirkan tentang Vlavia yang tidak-tidak.
" Tapi ini nggak seperti apa yang Kak Kristan lihat." Jelas Vlavia yang malah terdengar seperti wanita yang sedang menjelaskan kepada pacarnya.
__ADS_1
" Lo bisa jelasin nanti, sekarang ayo kita ke luar dulu dari tempat pengap ini." Jawab Kristan yang ntah kenapa membuat Vlavia mengangguk dan menuruti apa yang di katakan oleh Kristan.
Dengan segera Kristan memakaikan mantel juga topi yang tadi di gunakannya kepada Vlavia. tubuh Vlavia yang lebih kecil dari Kristan membuat Vlavia terlihat semakin lucu memakai mantel yang Kristan kenakan tadi.
" Lo manis sekali Vi." Gumam Kristan tanpa di dengar oleh Vlavia yang sedang harap-harap cemasnya dengan aksi kaburnya dari Visko.
Hufh...
Vlavia menghela nafasnya, dia menatap Kristan yang sedang tersenyum ke arahnya.
" Kak Kristan ayo, aku sudah siap." Jelas Vlavia membuat Kristan lagi-lagi tersadar dari lamubannya.
Dengan segera Kristan membuka pintu kamar mandi.Tentu saja dalam hari Kristan meminta agar tidak ada Visko di depan kamar mandi itu. Dan benar saja semua masih aman terkendali, membuat Kristan bernafas lega sambil mengaba-aba Vlavia untuk segera keluar.
Setelah mereka keluar dari kamar mandi. Valvia dan Kristan masih berdiri tepat di dekat lorong yang menghubungkan kamar mandi da depan caffe.
Vlavia melihat Visko yang sedang duduk bersa kedua sahabatnya. Astaga... Melihat wajah Visko yang begitu tampan membuat Vlavia hampir lupa tujuan utamanya untuk kabur dari Visko.
Tersadar dengan lamunannya, membuat Vlavia senyum sendiri dan di ketahui oleh Kristan.
" Lo siap? " Tanya Kristan yang di angguki oleh Vlavia dengan mantab.
Ini saatnya mereka beraksi untuk melewati Visko dan kedua sahabatnya tanpa di ketahui oleh mereka
Dengan segera Kristan merangkul Vlavia agar mereka terlihat seperti orang yang sedang pacaran, juga wajah Vlavia yang tidak di lihat oleh Visko.
Saat mereka melewati tempat di mana meja Visko dan kedua sahabatnya, tiba-tiba Vlavia kembali bersin, sama seperti tadi ketika dia masih berada di dalam kamar mandi bersama dengan Visko.
Huacim...!!!
Membuat Visko dan kedua sahabtanya menoleh ke arah Vlavia dan Kristan yang terlihat seperti orang asing itu.
Vlavia menutup mulutnya, dalam hatinya merutuki dirinya bersin di waktu yang tidak tepat. Tapi beruntung Visko, Harry, dan juga Dendry hanya menoleh ke arah mereka sekilas saja, tanpa curiga sama sekali dengan aksi kabur Vlavia. Dan itu merupakan suatu keberuntungan untuk Vlavia karena bisa langsung pergi dari caffe itu.
Vlavia dan Kristan kini sudah berada di depan. Dan aman karena tanpa di ketahui oleh Visko. Sedangkan Visko baru tersadar jika suara yanh bersin tadi sama seperti suara Vlavia. Astaga... Suara Vlavia bersin saja Visko begitu hafal.
__ADS_1
Dengan segera Visko pamit untuk menuju ke kamar mandi kepada kedua sahabatnya. Tentu saja Visko akan memastikan jika Vlavia masih berada di dalam kamar mandi atau suara bersin tadi benar-benar suara Vlavia.
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya gaes... Big Thanks